<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Tasawuf</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/tag/tasawuf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Diantara Jalan Sufi Gusdur</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH.M. Luqman Hakim</strong><br />
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.</p>
<p>Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali  ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.</p>
<p>Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.</p>
<p>Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial,  dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.</p>
<p>Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.</p>
<p>Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.</p>
<p>Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.</p>
<p>Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy,  maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.</p>
<p>Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?</p>
<p>Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.</p>
<p>Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”</p>
<p>Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.</p>
<p>Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.</p>
<p>Sumber : <a href="http://sufinews.com" target="_blank">SufiNews.com</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;t=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;annotation=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;bodytext=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akar kata istilah Tasawuf &#8220;Tashawwuf&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 10:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[1. Shafa/Shafwun = bersih Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]). Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8]. 2. Ahl Al-Shuffah (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Shafa/Shafwun = bersih</strong><br />
Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]).<br />
Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8].</p>
<p>2. <strong>Ahl Al-Shuffah</strong> (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid Nabi saw. selama beliau masih hidup (Q.S. al-Kahfi [18]:28)</p>
<p>3. <strong>Al-Shuf </strong>yang berati bulu domba, karena orang saleh di Kufah terbiasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.</p>
<p>4. <strong>Shuffa al -kaffa</strong> yang berarti spon halus. Kata ini dikaitkan dengan kaum sufi yang saking bersihnya hati meraka menjadi begitu lembut</p>
<p>Sumber: Tasawuf dan Ihsan &#8211; Syeh Muhammad Hisyam Kabbani &#8211; Serambi</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;t=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;annotation=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;bodytext=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temukan Diri Lewat Pintu Tasawuf</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 06:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Soffa Ihsan Sumber : GusMus.net Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi? Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Muhammad Soffa Ihsan<br />
Sumber : <a href="http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&amp;sub=2&amp;id=1010" target="_blank">GusMus.net</a></p>
<p>Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi?</p>
<p>Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk terunggul. Dimana letak keunggulan itu? Tantangan ini muncul dalam buku Jalan Kebahagiaan, Tasawuf Kalbu Islam, karya Syeikh Khaled Bentounes, Pemimpin Tarekat Alawiyyah. Pelaku sufisme yang tinggal di Perancis ini pernah berkunjung ke Yogyakarta 2008 lalu.<br />
Pemikiran sufisme itu berujung pada penemuan manusia atas dirinya sendiri. Manusia tidak terasing dari dirinya, sehingga terbebas dari segala insting, kecuali menjadi pelayan Tuhan. Itulah manusia universal yang bisa melihat dirinya sendiri. Kehidupan, nalar, dan ajaran pada dasarnya untuk seluruh manusia. Ini karena manusia berasal dari unsur yang sama, yaitu tanah dan kedudukannya sama bak gigi sisir. Yang membedakan ada pada tataran tindakan. Jadi, dalam dunia materi, kehidupan sosial kehidupan sehari-hari dan di lingkungan sekitar harus selalu ditanyakan akan peran kita, apa yang kita perlukan dan apa yang bisa kita berikan.</p>
<p>Syeikh Khaled memaparkan pemikiran itu melalui diagram lingkaran. Setiap lingkaran menunjukkan tingkatan kehidupan manusia, seperti dalam lingkaran yang dipakai oleh para sufi untuk melihat manusia. Lingkaran terluar adalah mineral dan lingkaran di dalamnya adalah tumbuhan, binatang, dan lingkaran sebagai sentral adalah dunia manusia. Di atas lingkaran sentral itu, ada tataran metafisika dari yang terluar pencarian diri, kemudian manusia tak dikenal dan berakhir di lingkaran sentral, yaitu manusia yang dikenal. Kita semua berasal dari mineral dan air di mana air adalah sumber kehidupan.</p>
<p>“Kita semua berisi mineral, tetapi juga berasal dari dunia tumbuh-tumbuhan. Lalu, muncul dunia binatang yang masih membekas di pikiran dan perilaku kita,&#8221; ujar Syeikh Khaled. Di dunia fisik manusia, semua terasa bila dipegang, tetapi di balik itu ada yang tidak terasa bila dipegang. &#8220;Itulah manusia yang belum dikenal. Karena itu, saya harus tahu siapa diri saya,&#8221; katanya. Dalam pencarian itulah masuk pengetahuan ilmiah untuk mencari diri manusia.</p>
<p>Setelah manusia menemukan dirinya, manusia menjadi lingkaran penuh yang memiliki sifat yang sangat mulia, yaitu kemanusiaan. &#8220;Itulah yang disebut manusia universal, yang tahu diri sendiri dan hanya menjadi pelayan Tuhan. Kesadaran itu yang akan membebaskan manusia dari segala nafsu,&#8221; tutur Syeikh Khaled.</p>
<p>Untuk mencapai tingkatan kesadaran itu, manusia tidak bisa lepas dari agama yang menuntun ke dunia spiritual yang mencerahi tataran tindakan. Untuk memahami ajaran agama, Bentounes menampilkan kembali diagram lingkaran. Lingkaran terluar adalah unsur ibadah, di dalamnya unsur budaya dan inti lingkaran adalah spiritual. Setiap agama memiliki tuntunan masing-masing. Dan, dalam mengajarkan agama, sering hanya sampai lingkaran luar, yaitu ibadah. Manusia lupa kalau agama itu juga mengajarkan perilaku, sikap, dan cara hidup.</p>
<p>“Ada aspek budaya dalam agama,&#8221; kata Syeikh Khaled. Bila manusia berhenti di tingkatan ibadah, manusia hanya melakukan satu visi saja. Ibadah biasanya dikaitkan dengan emosi, budaya dikaitkan dengan penalaran, dan spiritual terkait dengan intisari ibadah, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa. &#8220;Pelajaran pada tingkatan-tingkatan itu akan membebaskan dari sektarian, komformis dan dogmatisme. Pelajaran itu yang membuat kita mampu mengerti sesuatu yang hidup,&#8221; ujar Syeikh Khaled, yang lahir 57 tahun lalu di Mostaganem, sebuah kota kecil di pinggiran Aljazair.</p>
<p>Syeikh Khaled kembali menampilkan diagram lingkaran untuk menjelaskan pencapaian ihsan. Lingkaran pertama adalah Islam yang bersisi kumpulan aturan yang diturunkan ke bumi dan untuk dijalankan oleh manusia, dan yang utama adalah syariah yang berarti aturan hukum dan jalan. Lingkaran kedua adalah iman. Syariah adalah jalan menuju iman. Dalam tasawuf, jalan itu semacam energi bukan hanya kepercayaan yang diwariskan. Lingkaran ketiga adalah ihsan. Jalan itu mengantar ke tingkatan ihsan, yaitu akhir dari tujuan.</p>
<p>Di tingkatan ihsan inilah manusia bisa merasakan kehadiran Allah. Bagi para sufi, pada tataran Islam, Saya adalah Saya, Kamu adalah Kamu. Pada tataran Iman berisi Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku. Pada tataran Ihsan, Tidak ada Aku tidak ada Kamu. Semuanya tidak ada, ego manusia hilang. Para sufi bertutur, siapa yang mengenal alam absolut itu tidak hanya kelu, tetapi juga lumpuh. Karena itu, mereka selalu berusaha dengan rendah hati melihat dirinya sendiri.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;t=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;title=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf&amp;annotation=Oleh%3A%20Muhammad%20Soffa%20Ihsan%0D%0ASumber%20%3A%20GusMus.net%0D%0A%0D%0APenempatan%20manusia%20di%20bumi%20sekarang%20ini%20sama%20seperti%20udara%20berbau%20busuk%2C%20laut%20tercemar%2C%20penebanan%20hutan%20yang%20ganas%2C%20percobaan%20nuklir%20dan%20seterusnya.%20Jika%20manusia%20melakukan%20hal%20itu%2C%20mereka%20akan%20sekali" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;title=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf&amp;bodytext=Oleh%3A%20Muhammad%20Soffa%20Ihsan%0D%0ASumber%20%3A%20GusMus.net%0D%0A%0D%0APenempatan%20manusia%20di%20bumi%20sekarang%20ini%20sama%20seperti%20udara%20berbau%20busuk%2C%20laut%20tercemar%2C%20penebanan%20hutan%20yang%20ganas%2C%20percobaan%20nuklir%20dan%20seterusnya.%20Jika%20manusia%20melakukan%20hal%20itu%2C%20mereka%20akan%20sekali" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
