<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Sufi</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/tag/sufi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Diantara Jalan Sufi Gusdur</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH.M. Luqman Hakim</strong><br />
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.</p>
<p>Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali  ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.</p>
<p>Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.</p>
<p>Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial,  dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.</p>
<p>Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.</p>
<p>Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.</p>
<p>Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.</p>
<p>Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy,  maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.</p>
<p>Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?</p>
<p>Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.</p>
<p>Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”</p>
<p>Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.</p>
<p>Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.</p>
<p>Sumber : <a href="http://sufinews.com" target="_blank">SufiNews.com</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;t=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;annotation=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;bodytext=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 04:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani :: Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani ::</p>
<p>Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk menampung pengalaman dan rasa. Bahasa adalah hasil dari konvensi, kesepakatan. Bahasa ditetapkan secara arbitrer. Penanda dan petanda, atau signifier/signified, ditetapkan secara arbitrer sebagai hasil kesepakatan. Adakah alasan mengapa tempat duduk dikatakan kursi dan tempat tidur dikatakan ranjang? Kalau nenek moyang kita berabad-abad lalu menyebut tempat duduk sebagai onde-onde, maka mungkin kita sekarang mengatakan, “Sang pengantin duduk di Onde-Onde pelaminan,” bukan “duduk di kursi pelaminan.”</p>
<p>Karena itu, pada titik di mana kita harus mengabarkan pengalaman dan rasa kita, maka pada saat itulah kita menggunakan “tafsir.” Kita menafsirkan pengalaman kita. Tetapi, celakanya, kadang-kadang kita kesulitan mengabarkan pengalaman kita dengan penafsiran yang canggih dan filosofis sekalipun. Saat kita hati kita senang karena jatuh cinta, apa yang harus kita ampaikan kepada orang untuk mengabarkan apa yang sedang kita rasakan? Pada akhirnya kita terpaksa menggunakan kiasan, perlambang, simbol, yang kemungkinan besar bisa mewakili perasaan kita. Jaman dulu orang mengatakan, “hatinya sedang berbunga-bunga,” untuk menunjukkan betapa bahagianya seseorang yang jatuh cinta. Titik Puspa bahkan hanya bisa bilang, “Jatuh cinta, berjuta rasanya.” Tetapi “rasa cinta” itu sendiri tetap tak terungkapkan, tak bisa dirasakan oleh pendengarnya, kecuali si pendengar itu erasakan sendiri “jatuh cinta.”</p>
<p>Dan bahkan, dua orang yang sama-sama sedang jatuh cinta, bisa jadi berbeda dalam menafsirkan pengalamannya sendiri. Orang yang pernah patah hati, lalu kemudian cintanya diterima, akan merasakan dan menafsirkan cinta secara berbeda dengan orang yang kisah cintanya lancar-lancar saja.</p>
<p>Pengalaman sufi barangkali mirip dengan keadaan seperti ini. Tak mengherankan sufi ssangat sering menggunakan perlambang dan jangan heran jika sufi juga sering berbeda pendapat dalam menafsirkan pegalaman “persatuannya.” Dalam konteks sufistik ini, hadits “perbedaan adalah rahmat” menunjukkan makna uniknya – bukan sekedar perbedaan debat rasional atau akal atau sekedar perbedaan mahzab. Beragamnya pengalaman, dan beragamnya tafsir atas pengalaman sungguh merupakan “rahmat” tersendiri bagi para “pencari” Tuhan. Dengan memahami ini, sang pencari bisa tercegah untuk mengambil kesimpulan bahwa pengalaman dirinyalah yang paling valid. Dalam analisis terakhir, para sufi menyadari bahwa Allah tak bisa dipahami hanya melalui satu cara saja, dan karenanya tidak ada klaim tafsir tunggal tentang Tauhid atau ajaran Islam pada umumnya.</p>
<p>Ibn ‘Arabi, sepengetahuan saya, adalah sufi paling jenius dalam soal ini. Dia mengobrak-abrik tafsir tunggal kita tentang Tuhan. Kita sering mengatakan, berdasarkan pengetahuan dari buku dan tafsir eksoteris, bahwa Tuhan adalah ini dan itu. Tetapi, pengetahuan adalah kekuasaan, dan kekuasaan selalu membatasi atau melingkupi obyek pengetahuan. Bagaimana mungkin kita membatasi Tuhan dalam pengetahuan kita? Tuhan senantiasa tak terjangkau, sebab bila Dia bisa dijangkau, berarti Dia bisa dipahami, dan berarti Dia berada dalam kekuasaan pengetahuan kita, dan karenanya Dia menjadi terbatas. JIka kita menggunakan alur ini, maka secara epistemologis, bangunan tesis ini menjadi rapuh, dan mudah untuk diragukan.</p>
<p>Inilah yang namanya sifat dari akal. <strong>Aql</strong> dalam bahasa arab juga berarti <em>membatasi, mengikat</em>. Karenanya, sekeras apapun akal berusaha memahaminya, maka ia hanya memahaminya secara sangat terbatas. Akal adalah seperti jaring ikan. Setiap jaring ada lobangnya. Bayangkan kita punya jaring seluas samudera dengan lobang-lobang jaring berdiameter 10 meter. Maka yang kita bisa ambil mungkin hanya ikan paus. Tetapi jika lobang itu diperkecil, maka hiu bisa tertangkap. Semakin kecil, semakin banyak yang tertangkap – ubur-ubur, teri, plankton dst. Jaring akal hanya menangkap pengetahuan yang umum, yang sesuai dengan pra-struktur pengetahuan yang telah terakumulasi dalam otak/akal kita. Bisa jadi ia bertambah, atau berkurang (mungkin karena lupa atau yang lainnya). Akal adalah jaring. Lalu, adakah jaring yang tak berlobang, yang bisa menciduk seluruh isi samudera? Tuhan pernah bilang, “Semesta tak bisa menampung-Ku, tapi hati orang beriman bisa.” Hati adalah jaring tak berlobang. Bukan sembarang hati, tetapi hati orang beriman. Lalu siapakah orang beriman itu?</p>
<p>Dalam kenyataan banyak orang (mengaku atau diakui) beriman. Karenanya, orang beriman di sini lebih dari sekedar beriman KTP. Sufi selalu memahami lebih dari dalam dari yang tersurat, bahkan lebih halus dari yang tersirat. Iman adalah sebentuk kepasrahan. Tetapi, paradoksnya kepasrahan adalah sebentuk perjuangan, sebab jika tak ada perjuangan, maka ia jatuh menjadi putus asa. Batas antara pasrah dan putus asa sedemikian halus – inilah titian sirathal mustaqim, bagai rambut dibelah tujuh. Orang kadang susah membedakan mana itu pasrah, mana itu putus asa. Ah, saya jadi melantur.</p>
<p>Baik mari kita kembali ke hati. Hati orang beriman manakah yang bisa “menampung” Tuhan? Agar sebuah wadah bisa menampung sesuatu, ia harus kosong dulu. Seorang guru zen pernah menuang air ke gelas yang sudah ada isinya, dan karenanya, airnya meluber sia-sia. Hati kita telah penuh dengan hal-hal selain Tuhan, dan karenanya, bagaimana mungkin ia bisa menampung (pengetahuan) Allah? Jadi hati harus dibersihkan, demikian kata para sufi. Inilah <em><strong>Takhali</strong></em>. Sesudah bersih, hati harus diisi dengan hal yang baik. Ini adalah <em><strong>Tahalli</strong></em>. Apa itu hal yang baik? Pantulan asma Allah, asma al-husna. Dalam terminologi sufi, “hati adam itu laksana cermin.” Jika cermin itu bersih, maka ia akan memantulkan asma Allah. Ibn ‘Arabi mengatakan alam, kosmos, adalah cermin, tapi cermin yang sempurna adalah adam (yang juga bermakna kekosongan). Karena itu semua yang ada di alam memantulkan asma Allah dalam tingkat tertentu, dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda. Dan yang paling jernih dan jelas pantulannya adalah hati adam, yakni insan kamil, hati yang sudah dibersihkan sebersih-bersihnya. Jika sudah begitu, maka <em><strong>Tajalli</strong></em>.</p>
<p>Secara simbolis, sufi mengatakan kita harus melebur titik di atas (huruf kha) menjadi kekosongan (hurf ha) hingga titik itu bisa berada di tengah-tengah (huruf jim) – <em>takhali</em>, <em>tahalli</em>, <em>tajalli</em>. Dengan kata lain, titik adalah simbol pusat dari segala pandangan. Pusat harus dipindah dari benak nalar kepala ke “nalar” hati yang fitrah, sampai muncul realisasi bahwa “kemana pun engkau menghadap, disitulah wajah Allah.” Agar bisa sampai realisasi, maka pertama-tama titik itu harus lenyap (huruf ha yg tak ada titiknya). Pelenyapan ini adalah fana, lalu fana fi fana, yakni fana itu harus di-fana-kan lagi, hingga baqa, langgeng, hingga akhirnya titik berada di tengah – simbol keseimbangan.</p>
<p>Maka, ini barangkali tafsir sufi untuk pernyataan “umat Islam adalah umat yang berada di tengah-tengah.” Selama kita masih berada di ruang dan waktu, di mana layar kesadaran (laufh al-mahfudz – papan yang terjaga) kita belum terjaga benar, kita harus berhati-hati, harus berpegang kepada “tali Allah” agar tetap menjaga “titik lingkaran hidup” selalu berada di tengah. Miring sedikit, maka lingkaran hidup menjadi tak imbang. Bagaimana titik agar bisa istiqamah berada di tengah? Masuklah ke alam keabadian, ketika lingkaran hidup tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ketika lingkaran menjadi tak bertepi (atau pinjam istilah Ibn Arabi, “Samudera tak berpantai”) maka di manapun anda berada, anda selalu berada di tengah-tengah. Maka, para sufi berusaha memperluas “lingkaran” kehidupannya, bahkan sebelum mereka masuk alam keabadian. Mereka menghilangkan batas lingkaran bahkan saat mereka masih berada di alam yang terbatas, masih hidup di dunia ini.Maka, inilah barangkali makna dari “matilah kamu sebelum mati.”</p>
<p>Contoh dahsyat dari layar kesadaran tak bertepi ini adalah Nabi Khidr.Karena ia dianugerahi ilmu ladunni, ilmu dari sisi Allah, Khidr telah bisa menggapai khazanah Lauf al-Mahfudz, dan karenanya ia adalah titik poros itu sendiri. Di manapun khidr berada, ia selalu berada di tengah. Maka, Khidr dengan enteng membunuh seorang anak kecil. Dari perspektif kesadaran ruang dan waktu, ini adalah tindakan bodoh dan kejam. Tetapi,jika anda telah melampaui batasan ini, maka tindakan itu adalah sah,sebab pengetahuan Allah, ilm ladunni, tidaklah dibatasi oleh sebab-akibat atau baik dan buruk, sebab bagaimana mungkin Ia dibatasi sementara Ia sendiri adalah Sumber dari Segala Sumber? . Tetapi, terlalu sulit secara epistemologis untuk menopang argumen ini, sebab ini bukan wilayah akal. Karenanya, Khidr memperingatkan Musa as agar bersabar sebab Khidr tahu bahwa Musa masih berlandaskan pada “sebab-akibat.” Tetapi Musa tak bisa bersabar, sebab layar kesadarannya masih bertepi. Maka ia ditinggalkan oleh Khidr.</p>
<p>Tafsir spekulatif seperti di atas bisa jadi memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya, kalau begitu, ini sama artinya dengan mengatakan bahwa sufi atau para wali Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding Musa, yang nabi. Jelas para penentang tasawuf akan menggunakan penjelasan semacam ini sebagai senjata untuk menghantam para sufi. Ini adalah salah satu kasus, di mana ketika pengalaman diungkapkan, yang muncul adalah paparan yang reduksionis – selalu ada yang luput dari jaring kata dan akal. Para penentang tasawuf sering lupa bahwa Sufi dan para wali Allah selalu lebih mengunggulkan Musa di atas mereka sendiri, sebab Allah telah berkenan berdialog dengannya di bukit Sinai. Episode Khidr adalah salah satu fase saja dari seluruh fase kenabian Musa, dan karenanya tak bisa dipakai untuk menjustifikasi bahwa kedudukan sufi lebih tinggi dari pada nabi. Ibn ‘Arabi pernah dikecam habis karena dalam salah satu esainya dalam futuhat (atau fusuh? Saya agak lupa) dia mengkritik metode dakwah Nabi Nuh. Menurut Ibn’Arabi, Nuh terlalu menekankan transendensi (tanzih) dan karenanya dakwahnya yang ratusan tahun tak bisa dipahami. Menurut Ibn ‘Arabi, dakwah akan efektif jika menyatukan transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Apakah ini sebentuk “kesombongan” Ibn ‘Arabi? Tidak, sebab syaikh al-akbar tak pernah mengklaim lebih tinggi dari nabi. Konsep Ibn ‘Arabi tentang wali, walayah, khataman awliya, nabi, dan seterusnya, adalah sebuah konsep yang rumit, sebab ia didasarkan pada ilham rabbaniyah, dan karenanya, jika kita berusaha memahaminya dari segi teksnya, atau maknanya berdasarkan “sudut pandang” kita, maka kesan “pelecehan” atas nabi pasti muncul. Bagi saya, syaikh al-Akbar tak pernah melecehkan<br />
siapapun, apalagi nabi (ah, barangkali ini kesan subyektif saya saja, karena saya sangat kagum kepada as-Syaikh ini hingga saya sulit “berjarak” dengannya…wallahu a’lam)</p>
<p>“Tali Allah” begitu kokoh dan karenanya tak boleh dibuang supaya kita bisa tetap berada di tengah-tengah. Ini adalah syari’at. Maka, siapapun yang mengaku bertarekat tanpa syariat, maka ia bisa dipastikan tersesat. Syariat adalah informasi yang valid, sedangkan tarekat adalah proses transformasi, dan hakikat-ma’rifat adalah afirmasi. Jika informasinya salah, atau inputnya keliur, prosesnya juga akan keliru. Jika sepeda motor diberi minyak tanah, maka mesinnya akan rusak, atau proses pembakaran di mesin kacau, sebab inputnya tidak benar, dan karenanya motor tidak bisa jalan, dan bahkan rusak.</p>
<p>Tetapi, banyak orang yang telah bersyariat tetapi tetap tidak naik-naik kedudukan spiritualnya. Dalam bahasa sufi, banyak orang beriman mengikuti syariat, tetapi tetap tak sampai pada hakikat – yang terbatas tak sampai-sampai juga pada kesadaran yang tak terbatas, kepada ma’rifat Allah. Lalu, bagaimana agar yang terbatas ini bisa “sampai” kepada yang tak terbatas.</p>
<p>Salah satu cara tahalli adalah dengan zikir, yang oleh nabi dikiaskan sebagai “membersihkan (menggosok) karat di hati” agar hati bisa menjadi cermin yang memantulkan asma al-husna dan karenanya menjadi layar kesadaran yang tak terbatas. Para sufi, kita tahu, sangat menekankan praktik zikir yang benar.</p>
<p>Sesudah zikir merasuk ke ingatan, pintu ke organ batin akan terbuka.Dan dari sana, zikir bisa masuk ke dalam lathifah. Berapa jumlah lathifah itu? Ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan sepuluh, tujuh atau lima. Imam al-Ghazali menyebut lathifah ini hakikat insan – tempat ma’rifat kepada Allah dan tempat bersemayamnya Nur Ilahiah. Ini adalah<br />
sirr, atau rasa yang rahasia, seperti disebut dalam hadits qudsi yang kerap dikutip Syaikh sufi, sanu sirri wa ana sirrhu, manusia itu rasa (rahasia) Ku, dan n Aku dirasakan manusia. Sirr itu semacam inti, seperti dikatakan dalam hadits lainnya yang kira-kira artinya begini —</p>
<p>Aku jadikan pada anak adam itu ada istana, di situ ada dada dan didalamnya ada <strong><em>qalbu</em></strong>, tempat bolak-baliknya ingatan, dan di dalam qalbu ada <strong><em>fu’ad</em></strong>, kejujuran dalam ingatan, dan di dalamnya ada <strong><em>syaghaf</em></strong>, atau kerinduan dan di dalamnya ada <strong><em>lubbun </em></strong>atau kerinduan yang amat membara, dan di dalamnya ada <strong><em>sirr</em></strong>, kemesraan, dan dalam sirr ada <strong><em>Aku</em></strong>.</p>
<p>Sedangkan Imam Qusyairy meringkasnya menjadi tiga urutan, dari <strong><em>qalb </em></strong>ke <em><strong>ruh </strong></em>lalu ke <em><strong>sirr</strong></em>.”</p>
<p>Dalam tarekat qadiriyah wa naqshabandiyah, misalnya, zikir nafi-itsbat,atau kalimat tahlil, dilakukan dengan cara tertentu sehingga aliran zikirnya menyentuh semua lathifah, dari latifah <em>qalb</em>,<em> ruh</em>, <em>sirr</em>, <em>khafi</em>, <em>akhfa</em>, <em>nafsi</em> dan akhirnya ke seluruh tubuh, sehingga tercapai apa yang difirmankan bahwa seluruh keberadaan orang mukmin akan gemetar ketika asma Allah disebut. Zikir itu akan menimbulkan getaran pada lathifah dan orang yang sudah kasyaf bisa melihat lathifah itu akan memunculkan cahaya ilahiah yang tak terhingga. Tapi karena zikir menyentuh semua lathifah, maka semua lathifah itu akan bercahaya, ada yang merah,hijau, putih, hitam dan kuning. Jika beruntung dikaruniai pembukaan mata hati, kita akan bisa melihat tubuh orang yang berzikir akan bercahaya warna-warni.</p>
<p>Tetapi zikir saja, meski banyak bermanfaat, belumlah cukup untuk sampai ke ketakterhinggaan. Harus ada ikhlas. Uniknya, ada proses yang terbalik dalam zikir. Zikir justru bisa menciptakan rasa ikhlas dan ihsan. Ikhlas itu mengembalikan semua keberadaan kita kepada adam, kekosongan, ketiadaan, sebab sesungguhnya hanya ada Allah, la maujuda illa Allah, dan karenanya semuanya kembali kepada Allah.</p>
<p>Orang yang terikat pada keduniawian berpikir bahwa dengan mengumpulkan banyak harta, ketenaran, menumpuk-numpuk kebaikan tanpa mengembalikannya hakikatnya kepada Allah, seolah-olah mereka adalah pemilik kebaikan itu sendiri, maka mereka pikir itu akan membuat merka mencapai ketinggian martabat. Tetapi, mereka lupa bahwa penjumlahan, akumulasi, tidak akan mengantarkan kepada ketakterhinggaan. Ada sebagian orang lain yang secara tak sadar mendasarkan diri pada ‘perkalian.’ Mereka percaya bisa hidup berkali-kali, dalam wujud yang berbeda berkali-kali, seperti paham reinkarnasi, inkarnasi,transmigrasi ruh dan sebagainya. Ini keliru. Sebab perkalian tidak akan<br />
membawa kita kepada ketakterhinggaan. Lalu apa? Pembagian nol! Jika bilangan dibagi dengan nol, hasilnya tak terhingga. Dengan kata lain, segala tindakan dan amal saleh kita jika dilambari dengan ikhlas, akan menghasilkan ketakterhinggaan.</p>
<p>Seorang wali Allah pernah berkata jika kita berzikir dengan kalimat tahlil dengan benar, maka dunia akan berada di genggamanmu, tetapi dunia tidak akan pernah bersemayam di hatimu. La illaha illa Allah sangat dahsyat, sebab ia diwariskan dari jiwa yang senantiasa hidup, sebab ia diteruskan melalui mata rantai silsilah keruhanian yang tak terputus. Menurut Qur’an, Islam adalah agama sempurna, dan sesudah Muhammad tak ada lagi nabi dan rasul. Tetapi, Nur Muhammad tak akan lenyap. Ia akan senantiasa ada. Karenanya, kalimat tahlil adalah satu-satunya kalimat yang terjamin kesinambungan manfaat ruhaniahnya.</p>
<p>Hanya Rasulullah Muhammad yang diberi hak sebagai pembawa risalah yang berlanjut hingga akhir zaman. Melalui beliaulah nikmat Tuhan dicukupkan dan syariat disempurnakan. Karena itu kita bisa memahami mengapa, misalnya, meski Islam dan para terutama Sufi menghormati keyakinan dan jalan agama lain, mereka tidak lantas jatuh dalam sinkretisme. Meski para Sufi memahami ada banyak jalan menuju Allah, tetapi para Sufi tidak pernah mencampuradukkan agama, tak pernah meninggalkan shalat – pendeknya, mereka tak pernah meninggalkan syariat Islam. Ketika sufi agung Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa agamanya adalah agama cinta, dan hatinya terbuka untuk semua hal yang membawa ke jalan cinta, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Sampai akhir hayatnya, Ibn ‘Arabi adalah muslim yang taat pada syariat.</p>
<p>Wa Allahu a&#8217;lam bi ash-shawab<br />
Sumber : <a href="http://www.facebook.com/triwibs.kanyut" target="_blank">Mbah Kanyut al-Kenthirikhwan TQN</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;t=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;annotation=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;bodytext=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akar kata istilah Tasawuf &#8220;Tashawwuf&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 10:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[1. Shafa/Shafwun = bersih Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]). Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8]. 2. Ahl Al-Shuffah (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Shafa/Shafwun = bersih</strong><br />
Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]).<br />
Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8].</p>
<p>2. <strong>Ahl Al-Shuffah</strong> (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid Nabi saw. selama beliau masih hidup (Q.S. al-Kahfi [18]:28)</p>
<p>3. <strong>Al-Shuf </strong>yang berati bulu domba, karena orang saleh di Kufah terbiasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.</p>
<p>4. <strong>Shuffa al -kaffa</strong> yang berarti spon halus. Kata ini dikaitkan dengan kaum sufi yang saking bersihnya hati meraka menjadi begitu lembut</p>
<p>Sumber: Tasawuf dan Ihsan &#8211; Syeh Muhammad Hisyam Kabbani &#8211; Serambi</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;t=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;annotation=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;bodytext=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temukan Diri Lewat Pintu Tasawuf</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 06:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Soffa Ihsan Sumber : GusMus.net Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi? Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Muhammad Soffa Ihsan<br />
Sumber : <a href="http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&amp;sub=2&amp;id=1010" target="_blank">GusMus.net</a></p>
<p>Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi?</p>
<p>Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk terunggul. Dimana letak keunggulan itu? Tantangan ini muncul dalam buku Jalan Kebahagiaan, Tasawuf Kalbu Islam, karya Syeikh Khaled Bentounes, Pemimpin Tarekat Alawiyyah. Pelaku sufisme yang tinggal di Perancis ini pernah berkunjung ke Yogyakarta 2008 lalu.<br />
Pemikiran sufisme itu berujung pada penemuan manusia atas dirinya sendiri. Manusia tidak terasing dari dirinya, sehingga terbebas dari segala insting, kecuali menjadi pelayan Tuhan. Itulah manusia universal yang bisa melihat dirinya sendiri. Kehidupan, nalar, dan ajaran pada dasarnya untuk seluruh manusia. Ini karena manusia berasal dari unsur yang sama, yaitu tanah dan kedudukannya sama bak gigi sisir. Yang membedakan ada pada tataran tindakan. Jadi, dalam dunia materi, kehidupan sosial kehidupan sehari-hari dan di lingkungan sekitar harus selalu ditanyakan akan peran kita, apa yang kita perlukan dan apa yang bisa kita berikan.</p>
<p>Syeikh Khaled memaparkan pemikiran itu melalui diagram lingkaran. Setiap lingkaran menunjukkan tingkatan kehidupan manusia, seperti dalam lingkaran yang dipakai oleh para sufi untuk melihat manusia. Lingkaran terluar adalah mineral dan lingkaran di dalamnya adalah tumbuhan, binatang, dan lingkaran sebagai sentral adalah dunia manusia. Di atas lingkaran sentral itu, ada tataran metafisika dari yang terluar pencarian diri, kemudian manusia tak dikenal dan berakhir di lingkaran sentral, yaitu manusia yang dikenal. Kita semua berasal dari mineral dan air di mana air adalah sumber kehidupan.</p>
<p>“Kita semua berisi mineral, tetapi juga berasal dari dunia tumbuh-tumbuhan. Lalu, muncul dunia binatang yang masih membekas di pikiran dan perilaku kita,&#8221; ujar Syeikh Khaled. Di dunia fisik manusia, semua terasa bila dipegang, tetapi di balik itu ada yang tidak terasa bila dipegang. &#8220;Itulah manusia yang belum dikenal. Karena itu, saya harus tahu siapa diri saya,&#8221; katanya. Dalam pencarian itulah masuk pengetahuan ilmiah untuk mencari diri manusia.</p>
<p>Setelah manusia menemukan dirinya, manusia menjadi lingkaran penuh yang memiliki sifat yang sangat mulia, yaitu kemanusiaan. &#8220;Itulah yang disebut manusia universal, yang tahu diri sendiri dan hanya menjadi pelayan Tuhan. Kesadaran itu yang akan membebaskan manusia dari segala nafsu,&#8221; tutur Syeikh Khaled.</p>
<p>Untuk mencapai tingkatan kesadaran itu, manusia tidak bisa lepas dari agama yang menuntun ke dunia spiritual yang mencerahi tataran tindakan. Untuk memahami ajaran agama, Bentounes menampilkan kembali diagram lingkaran. Lingkaran terluar adalah unsur ibadah, di dalamnya unsur budaya dan inti lingkaran adalah spiritual. Setiap agama memiliki tuntunan masing-masing. Dan, dalam mengajarkan agama, sering hanya sampai lingkaran luar, yaitu ibadah. Manusia lupa kalau agama itu juga mengajarkan perilaku, sikap, dan cara hidup.</p>
<p>“Ada aspek budaya dalam agama,&#8221; kata Syeikh Khaled. Bila manusia berhenti di tingkatan ibadah, manusia hanya melakukan satu visi saja. Ibadah biasanya dikaitkan dengan emosi, budaya dikaitkan dengan penalaran, dan spiritual terkait dengan intisari ibadah, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa. &#8220;Pelajaran pada tingkatan-tingkatan itu akan membebaskan dari sektarian, komformis dan dogmatisme. Pelajaran itu yang membuat kita mampu mengerti sesuatu yang hidup,&#8221; ujar Syeikh Khaled, yang lahir 57 tahun lalu di Mostaganem, sebuah kota kecil di pinggiran Aljazair.</p>
<p>Syeikh Khaled kembali menampilkan diagram lingkaran untuk menjelaskan pencapaian ihsan. Lingkaran pertama adalah Islam yang bersisi kumpulan aturan yang diturunkan ke bumi dan untuk dijalankan oleh manusia, dan yang utama adalah syariah yang berarti aturan hukum dan jalan. Lingkaran kedua adalah iman. Syariah adalah jalan menuju iman. Dalam tasawuf, jalan itu semacam energi bukan hanya kepercayaan yang diwariskan. Lingkaran ketiga adalah ihsan. Jalan itu mengantar ke tingkatan ihsan, yaitu akhir dari tujuan.</p>
<p>Di tingkatan ihsan inilah manusia bisa merasakan kehadiran Allah. Bagi para sufi, pada tataran Islam, Saya adalah Saya, Kamu adalah Kamu. Pada tataran Iman berisi Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku. Pada tataran Ihsan, Tidak ada Aku tidak ada Kamu. Semuanya tidak ada, ego manusia hilang. Para sufi bertutur, siapa yang mengenal alam absolut itu tidak hanya kelu, tetapi juga lumpuh. Karena itu, mereka selalu berusaha dengan rendah hati melihat dirinya sendiri.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;t=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;title=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf&amp;annotation=Oleh%3A%20Muhammad%20Soffa%20Ihsan%0D%0ASumber%20%3A%20GusMus.net%0D%0A%0D%0APenempatan%20manusia%20di%20bumi%20sekarang%20ini%20sama%20seperti%20udara%20berbau%20busuk%2C%20laut%20tercemar%2C%20penebanan%20hutan%20yang%20ganas%2C%20percobaan%20nuklir%20dan%20seterusnya.%20Jika%20manusia%20melakukan%20hal%20itu%2C%20mereka%20akan%20sekali" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F14%2Ftemukan-diri-lewat-pintu-tasawuf%2F&amp;title=Temukan%20Diri%20Lewat%20Pintu%20Tasawuf&amp;bodytext=Oleh%3A%20Muhammad%20Soffa%20Ihsan%0D%0ASumber%20%3A%20GusMus.net%0D%0A%0D%0APenempatan%20manusia%20di%20bumi%20sekarang%20ini%20sama%20seperti%20udara%20berbau%20busuk%2C%20laut%20tercemar%2C%20penebanan%20hutan%20yang%20ganas%2C%20percobaan%20nuklir%20dan%20seterusnya.%20Jika%20manusia%20melakukan%20hal%20itu%2C%20mereka%20akan%20sekali" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/temukan-diri-lewat-pintu-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RUH MERDEKA DI ALAM BARZAH</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/13/ruh-merdeka-di-alam-barzah/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/13/ruh-merdeka-di-alam-barzah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 09:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Barzah]]></category>
		<category><![CDATA[Ruh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang yang gugur di jalan Allah, (mati Syahid) ternyata mereka tidak mati. Mereka hidup, bahkan hidup dengan mendapatkan kenikmatan dan derajat yang Agung di sisi Allah. Di antara mereka, sejak di alam barzah itu ada yang mendapatkan kebebasan untuk keluar masuk surga dengan sesuka hati dan bahkan berdialog langsung dengan Allah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : <a title="Ruh di alam barzah" href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=130972725358&amp;ref=nf" target="_blank">Facebook Muhammad Luthfi Ghozali&#8217;s Notes</a></p>
<p>Berikut ini habar ghaib dari Allah dan rasul-Nya tentang keadaan RUH yg merdeka di alam barzah.</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : لَقِيَنِى رَسُوْلُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقَالَ &#8220;يَا جَابِرُ . أَلاَ اُبَشِّرُكَ بِمَا لَقى اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِهِ اَبَاكَ ؟ . قُلْتُ بل يا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : إِنَّ اللهَ أَحْيَا اَبَاكَ وَ كَلَّمَهُ كفاحا. (أَىْ مُوَاجَهَةً بِدُوْنِ حِجَابٍ وَلاَ رَسُوْلٍ) . وَمَا كَلَّمَ اَحَدًا قَطُّ إِلاَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ . فَقَالَ لَهُ : يَا عَبْدَ اللهِ تَمَنِّ أُعْطِكَ. قَالَ يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ أَنْ تُرَدَّ نِى اِلَى الدُّنْيَا فَأَقْتُلُ فِيْكَ ثَانِيَّةً . فَقَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَ تَعَالى : إِنَّهُ قَدْ سَبَقَ مِنِّى أَنَّهُمْ لاَ يَرْجِعُوْنَ . قَالَ يَا رَبِّ : فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِى. فَأَنْزَلَ اللهُ ( وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا ) .صفوة التفاسير 1/244.</p>
<p><strong>Dari Jabir bin Abdillah RA berkata</strong>: &#8220;Aku bertemu dengan Rasulullah SAW beliau berkata: “<em>Hai Jabir, apakah kamu mau aku beri kabar tentang keadaan bagaimana Allah Azza wa Jalla menemui ayahmu?</em>”. Aku menjawab: “<em>Ya, yaa Rasulullah</em>”. Rasul SAW bersabda: “<em>Sungguh Allah telah menghidupkan ayahmu dan Allah berkata-kata dengan ayahmu secara langsung (Kafaafan, berhadapan langsung tanpa hijab atau utusan) dan Allah tidak pernah sekali-kali berkata-kata dengan siapapun kecuali dari belakang hijab</em>”. Maka Allah barfirman kepadanya: “<em>Hai Abdullah, mintalah, aku akan mengabulkan permintaanmu</em>”. Abdullah menjawab: “<em>Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikan aku ke dunia supaya aku gugur di jalan-Mu untuk kedua kalinya</em>”. Maka Tuhannya Tabaaroka wa Ta’ala. berfirman: “<em>Sesungguhnya telah terdahulu keputusan dari-Ku bahwa orang yang sudah mati tidak akan kembali hidup di dunia lagi</em>”. Abdullah berkata : “<em>Ya Tuhanku sampaikanlah keadaanku ini kepada orang yang di belakangku</em>”. Maka Allah menurunkan ayat ini&#8221;.<br />
(Ali ash Shobuni, “Shofwatut Tafaasir”; 1/244).</p>
<p style="text-align: right;">
عَنْ مَسْرُوْقٍ. قَالَ: سَأَلَنَا عَبْدُ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ. عَنْ هذِهِ الأَيَةِ . (وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا ) . قَالَ أَمَّا أَنَا قَدْ سَأَلَنَا عَنْ ذَالِكَ . فَقَالَ : اَرْوَاحُهُمْ فِى جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيْلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ . ثُمَّ تَََأْوِىْ اِلَىَّ تِلْكَ الْقَنَادِيْلُ. فَأَطْلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ إِطِّلاَعَةً. فَقَالَ: هَلْ تَشْتَهُوْنَ شَيْئًا . قَالُوْا اَىُّ شَيْئٍ نَشْتَهِى وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا . فَفَعَلَ ذَالِكَ بِهِمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ . فَلَمَّا رَاَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوْا مِنْ أَنْ يَسْأَلُوْا . قَالُوْا يَا رَبِّ نُرِيْدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِى جَسَادِنَا حَتّى نقتل فِى سَبِيْلِكَ مَرَّةً أُخْرى . فَلَمَّا رَاى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ يُتْرَكُوْا (رواه مسلم)</p>
<p>Dari Masruq berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah SAW perihal ayat ini: &#8220;<em>Wa laa tahsabannal ladziina qutiluu fii sabiilillaahi amwaatan</em>”, Abdullah menjawab : “Bahwa sesungguhnya saya telah bertanya kepada Rasululah SAW perihal ayat tersebut, beliau menjawab : “<em>Ruh-ruh mereka berada di dalam paruh burung hijau yang bertempat di lampu yang bergantungan di Arsy. Mereka terbang dari kebun (surga) yang satu ke kebun yang lain dengan sesuka hati, kemudian mereka kembali lagi ke sarangnya. kemudian Tuhan mereka menampakkan diri secara langsung</em> dan berfirman: “<em>Adakah kalian menginginkan sesuatu</em>?”. Mereka menjawab: “<em>Adakah kami menginginkan sesuatu lagi padahal kami sudah bebas sekehendak hati terbang dari satu kebun ke kebun yang lain</em>”. Tuhannya berbuat yang demikian sampai tiga kali. Maka ketika mereka merasa bahwa tidak akan ditinggalkan melainkan sesudah meminta, maka mereka berkata : “<em>Ya Tuhan kami, kami ingin agar Engkau kembalikan ruh kami ke jasad kami sehingga kami gugur lagi di jalan-Mu untuk yang kedua kali</em>”. Ketika terlihat bahwa mereka sudah tidak mempunyai hajat lagi, maka mereka ditinggalkan. (HR. Muslim)
</p>
<p style="text-align: right;">
رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ قَالَ : إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَجِئُ قَوْمٌ لَهُمْ أَجْنَحِةٌ كَأََََََجْنِحَةِ الطَّيْرِ . فَيَطِيْرُوْنَ بِهَا (مِنَ الْمَقْبَرَةِ) عَلى حِيْطَانِ الْجَنَّةِ . فَيَقُوْلُوْنَ لَهُمْ خَازِنُ الْجَنَّةِ . مَنْ أَنْتَ. فَيَقُوْلُوْنَ نَحْنُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. فَيَقُوْلُوْنَ هَلْ رَاَيْتُمُ الْحِسَابَ .فَيَقُوْلُوْنَ لاَ.ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَلْ رَاَيْتُمُ الصِّرَاطَ فَيَقُوْلُوْنَ لاَ . بِمَ وَجَدْتُمْ هذِهِ الدَّرَجَةَ. يَقُوْلُوْنَ عَبَدْنَا اللهَ تَعَالى سِرًّا فِى الدَّارِ الدُّنْيَا وَأَدْخَلَنَا الْجَنَّةَ سِرًّا فِى الدَّارِ الأخِرَةِ
</p>
<p style="text-align: left;">Diriwayatkan dari Nabi SAW Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: left;">“<em>Apabila hari kiamat telah tiba, akan datang suatu kaum yang mempunyai sayap seperti sayap burung, mereka terbang dengan sayapnya dari kuburnya ke kebun-kebun surga.</em>Maka penjaga surga bertanya kepada mereka: “<em>Siapa kalian </em>?”. Mereka menjawab: “<em>Kami dari umat Muhammad SAW</em>”, Penjaga surga bertanya: “<em>Apakah kalian sudah melihat hisab?</em>”,Mereka menjawab: ”<em>Tidak</em>”. Penjaga surga bertanya lagi: “<em>Apakah kalian sudah melihat Shiroth?</em>”. Mereka menjawab: “<em>Tidak</em>”.<em> Dengan apa kalian mendapat derajat ini?</em>”. Mereka menjawab: “<em>Kami beribadah kepada Allah dengan Rahasia di dunia, dan Allah memasukkan kami ke surga dengan rahasia pula di akherat</em>”.</p>
<p style="text-align: right;">عَنِ إبْنِ عَبَّاسٍ . عَنِ النَّبِىِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيْهِ الْمُؤْمِِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ .</p>
<p style="text-align: left;">Dari Ibnu Abbas ra.. dari Nabi SAW : “ <em>Barangsiapa berjalan di kubur temannya yang beriman yang ia kenal dan ia mengucapkan salam, maka temannya itu akan mengetahui dan menjawab salam</em>” .</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ فَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلاَّ إِسْتَأْنَسَ بِهِ حَتّى يَقُوْمَ (الروح لإبن القيم</p>
<p style="text-align: left;">Dari A&#8217;isyah RA beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “<em>Barangsiapa berziarah ke kubur temannya maka temannya itu akan merasa senang sampai ia berdiri</em>”. (Ibnul Qoyim “Ar-Ruh”)</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">أَكْثَرُ شُهَدَآءُ أُمَّتِىْ اَصْحَابُ الفَرْشِ وَرُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ. (رواه أحمد عن أبى مسعد)</p>
<p style="text-align: left;">“<em>Sebagian besar Syuhada&#8217; umatku adalah Ashhaabul Farsy. (orang yang matinya di tempat tidur). Kadang orang yang terbunuh diantara dua barisan, Allah lebih mengetahui niatnya</em>&#8220;. (HR. Ahmad bin Abi Mas&#8217;ud).</p>
<p style="text-align: left;">Dari dalil-dalil di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Orang-orang yang gugur di jalan Allah, (mati Syahid) ternyata mereka tidak mati. Mereka hidup, bahkan hidup dengan mendapatkan kenikmatan dan derajat yang Agung di sisi Allah. Di antara mereka, sejak di alam barzah itu ada yang mendapatkan kebebasan untuk keluar masuk surga dengan sesuka hati dan bahkan berdialog langsung dengan Allah.</li>
<li>Permintaan para Syuhada&#8217; untuk dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat gugur di jalan Allah untuk kedua kalinya—dari isi dialog antara Allah dengan orang yang mati syahid tersebut, itu menunjukkan bahwa dialog tersebut terjadi di alam yang sekarang ini (alam barzah) sebelum hari kiamat, dan menunjukkan pula bahwa antara alam barzah dan alam dunia adalah dua alam yang sangat berdekatan dan terjadi di dalam dimensi zaman yang sama.</li>
<li>Ada segolongan kaum dari umat Nabi Muhammad yang bukan gugur di dalam peperangan akan tetapi mendapatkan derajat sama dengan derajat para Syuhada&#8217;.</li>
<li>Seorang muslimin, apabila masuk di pekuburan muslim disyari’atkan mengucapkan salam kepada Ahli kubur. Yang demikian itu mengandung arti; Sendainya salam itu tidak terjawab oleh ahli kubur maka tidak mungkin ada syari’at agama yang memerintahkan demikian. Ternyata dari Hadits-Hadits tersebut di atas terbukti bahwa orang yang sudah mati dapat menjawab salam orang yang masih hidup. Padahal mengucapkan salam kepada orang lain berarti mendo’akan, maka artinya bahwa orang yang sudah mati dapat memberikan kemanfaatan kepada orang yang hidup dengan do’a-do’anya.</li>
<li>Allahu A&#8217;lam</li>
</ol>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F13%2Fruh-merdeka-di-alam-barzah%2F&amp;t=RUH%20MERDEKA%20DI%20ALAM%20BARZAH" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=RUH%20MERDEKA%20DI%20ALAM%20BARZAH%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F13%2Fruh-merdeka-di-alam-barzah%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F13%2Fruh-merdeka-di-alam-barzah%2F&amp;title=RUH%20MERDEKA%20DI%20ALAM%20BARZAH&amp;annotation=Orang-orang%20yang%20gugur%20di%20jalan%20Allah%2C%20%28mati%20Syahid%29%20ternyata%20mereka%20tidak%20mati.%20Mereka%20hidup%2C%20bahkan%20hidup%20dengan%20mendapatkan%20kenikmatan%20dan%20derajat%20yang%20Agung%20di%20sisi%20Allah.%20Di%20antara%20mereka%2C%20sejak%20di%20alam%20barzah%20itu%20ada%20yang%20mendapatkan%20kebebasan%20untuk%20keluar%20masuk%20surga%20dengan%20sesuka%20hati%20dan%20bahkan%20berdialog%20langsung%20dengan%20Allah." title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F13%2Fruh-merdeka-di-alam-barzah%2F&amp;title=RUH%20MERDEKA%20DI%20ALAM%20BARZAH&amp;bodytext=Orang-orang%20yang%20gugur%20di%20jalan%20Allah%2C%20%28mati%20Syahid%29%20ternyata%20mereka%20tidak%20mati.%20Mereka%20hidup%2C%20bahkan%20hidup%20dengan%20mendapatkan%20kenikmatan%20dan%20derajat%20yang%20Agung%20di%20sisi%20Allah.%20Di%20antara%20mereka%2C%20sejak%20di%20alam%20barzah%20itu%20ada%20yang%20mendapatkan%20kebebasan%20untuk%20keluar%20masuk%20surga%20dengan%20sesuka%20hati%20dan%20bahkan%20berdialog%20langsung%20dengan%20Allah." title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/13/ruh-merdeka-di-alam-barzah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
