<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Kampus Pasca Mataram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=dawah-kampus-pasca-mataram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh dan berkembang seiring dengan da&#8217;wah di luar kampus. Kenyataan ini, sekali lagi membuktikan, bahwa Islam tidak dapat ditekan dan dilenyapkan dalam keadaan sulit macam apapun.</p>
<p><strong>Dinasti Mataram<br />
</strong>Jika diamati, ada kaitan erat antara perkembangan historis Ummat Islam dengan dunia perpolitikan Indonesia. Sejak keruntuhan Majapahit dan dimulainya kekuasaan Mataram, hingga saat ini, kasusnya sama saja. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki inti kekuasaan Jawa. Mereka mencoba merangkui Islam sebagai bagian dari Jawa, tapi dengan syarat, kebudayaan Islam yang murni harus diblokade sedemikian rupa sampai batas tertentu. Boleh salat, puasa dan seterusnya. Bila mengganggu kekuasaan jawa, Islam akan dihapus.</p>
<p>Pada zaman Mataram, sebagai misal, Islam tidak dilawan secara frontal. Namun justru dijadikan bagian dari kekuasan dinastik dengan kondisi kebudayaan Islam yang mandeg. Meskipun da&#8217;wah dewasa itu cukup berkembang, tapi sejarah tak bisa melupakan tragedi pembunuhan terhadap para ulama dan kiai pada zaman Amangkurat II.</p>
<p>Saat ini keadaannya tidak banyak berbeda. Meski formatnya lain, substansinya tetap sama. Artinya, secara politis, ideologis dan kultural, terdapat usaha-usaha yang ingin menghentikan pertumbuhan Islam. Bahkan ada kelompok yang bersikeras: Islam harus mandul di bumi Indonesia.</p>
<p>Islam dalam sejarah Indonesia, selalu dipakai pemberontak untuk merebut kekuasaan. Bila pemberontakan telah berhasil, maka Islam ditekan. Pada giliran berikutnya, Islam kembali dipakai pemberontak baru untuk merebut kekuasaan baru. Bila pemberontak yang ini berkuasa, maka Islam kembali ditekan dan dicampakkan. Demikian seterusnya, daur pemberontakan menjadi arus sejarah yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Penjelasan tersebut sesungguhnya diperlukan untuk memberikan latar belakang bagi pertumbuhan Islam yang begitu pesat saat ini. Fenomena da&#8217;wah di kampus atau gerak jilbabisasi, sesungguhnya tidak dikehendaki oleh gelombang kekuasaan&#8221;. namun mengapa .semua itu justru berkembang? Alasannya-sederhana. Justru ketika sekelompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya .</p>
<p><strong>Dewa Pemikiran</strong><br />
Selama ini, arena da&#8217;wah disemaraki dengan tema-tema pembaharuan atau pertumbuhan pemikiran Islam. Artinya, ada usaha mempelajari Qur&#8217;an dan Sunnah kembali. Hal ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang khas dalam sistem politik, ekonomi dan kebudayaan yang menganut garis kanan, seperti Indonesia. Dalam rumusan politik internasional, pada keadaan seperti sekarang akan tampil dua alternatif: gerakan kiri atau gerakan Islam militan. Bila di negeri Syi&#8217;ah bisa berkembang, maka radikalisme agama akan bangkit dengan mudahnya. Gerakan kiri dalam waktu 5-10 tahun belakangan ini, juga tumbuh pesat, waIau tidak memilki kekuatan yang pasti.</p>
<p>Keadaan seperti sekarang sebagian dari mekanisme sosial, kultur politik dan kekuatan ekonomi menghendaki jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian; apa yang harus diperbuat? Ada kelompok yang mencoba mencari jawaban Marxis. Tapi kita mencari jawaban dari Islam. Kita pelajari kembali Islam sebagai filsafat, tata nilai dan sistem kehidupan. Kita buka kembali Qur&#8217;an dan Sunnah untuk merumuskan keadaan.</p>
<p>Buku-buku tentang Islam terbit secara membludak. 0leh karena, begitu banyaknya buku-buku yang dipelajari, kita menjadi pintar mendadak. Namun, sebenarnya kita &#8220;bodoh&#8221;. Dalam arti, kita mengenali informasi tentang realitas Islam yang beraneka ragam melalui kata-kata dan pernyataan-pernyataan verbal. Padahal, akan berbeda, jika kita melihat dan memahami realitas itu melalui pengalaman nyata. Umpamanya, kita mengenal kemiskinan struktural atau kemiskinan kultural. Kita begitu fasih berbicara tentang problema kemiskinan dalam berbagai seminar dan diskusi, tetapi, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang siapa itu orang miskin dan bagaimana persisnya keadaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Islam kehilangan keramatnya sebagai pembebas kaum dhu&#8217;afa.</p>
<p>Ummat Islam Indonesia makin hari makin disibukkan oleh pembahasan pemikiran Islam yang kadang-kadang terlalu &#8220;Tinggi&#8221; tapi kadang-kadang juga terlalu &#8220;Sepele&#8221;. Dalam konteks tersebut, kita perlu memegang suatu prinsip. Dalam Figh aturan keagamaan yang formal kita perlu panutan yang luas, Namun dalam Syari&#8217;at &#8211; aturan yang luas meliputi ibadah muamalah, termasuk &#8220;Dak&#8217;wah sosial&#8221;, &#8220;puasa sosial&#8221;,puasa struktur&#8221; dan seterusnya kita tidak perlu mencari &#8220;dewa pemikiran &#8220;. Artinya kita tidak perlu menggabungkan diri dalam satu panutan.</p>
<p>Kita harus bersikap kritis terhadap diri kita, kakak-kakak kita dan bapak-bapak kita. Terhadap Gus Dur, Cak Nur, atau Cak Menteri Agama, kita tak boleh kehilangan sikap kritis. Kita harus kritis terhadap mereka, para pakar yang terlalu yakin menjamin kebenaran yang hendak kita can. Sikap kritis itu berguna. Agar kita sungguh-sungguh menjadi pemimpin bagi kita sendiri. Agar kita tidak terperangkap dalam perkara yang kita sendiri tidak mengerti ujung pangkalnya. Dengan demikian, kita tidak taqlid kepada orang yang tidak pantas untuk ditaqlidi.</p>
<p><strong>Berhitung Secara Politis</strong><br />
Dalam gerakan da&#8217;wah, terdapat dua dimensi. Yakni, dimensi intelektual dan dimensi politis-stategis. Kedua dimensi tersebut perlu dibedakan. Selama ini, kita terlalu mengkonsentrasikan diri pada dimensi intelektual. Kita terlalu sering terpaku untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dianggap politis-strategis dalam rangka intelektual. Misalnya, pertanyaan bahwa di dalam Islam tidak ada konsep kenegaraan. Mengapa hanya &#8220;negara Islam&#8221; saja yang ditolak, sedang &#8220;negara nasional&#8221; tidak? Secara intelektual itu tidak obyektif.</p>
<p>Da&#8217;wah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. Dalam hal ini, kita bisa terjebak. Karena sesungguhnya kita tidak hanya melakukan studi-studi Islam yang steril, namun juga sedang melakukan perjalanan proses gerakan sejarah, sebuah gerakan kebudayaan baru, kebudayaan agama namanya.</p>
<p>Gerakan tersebut juga dapat disebut gerakan sosial, karena merupakan mekanisme baru dalam dinamika sosial. Juga dapat dikategorikan gerakan politis, karena pertumbuIan gerakan kebudayaan baru. Maaf, kita tidak sedang nendiskusikan da&#8217;wah dalam kerangka politik praktis. Biar bagaimanapun, tetap saja diperlukan untuk memperhatikan dimensi-dimensi politik dalam aktivitas da&#8217;wah, termasuk dalam lembaga da&#8217;wah kampus. Gerakan da&#8217;wah di kampus tidak dapat dihentikan jika kita sendiri mengetahui dosis yang tepat untuk memfungsikannya.</p>
<p>Dalam rangka menemukan dan memahami seberapa dosis yang tepat itu, kita perlu memperhatikan blokade-blokade yang menghadang. Blokade tersebut mungkin tidak hanya berasal dari lapisan kekuasaan yang ada namun justru dari struktur di dalam kepemimpinan ummat Islam.</p>
<p>Dalam &#8220;organisasi ummat&#8221; yakni suatu bayangan tentang bangunan masyarakat Islam di Indonesia terdapat lapis massa, lapis elit, dan lapis di antara keduanya. Pelapisan memiliki varian-variannya sendiri.<br />
Orang-orang muda di kampus termasuk lapis tengah yang masih magnetis terhadap ummat dan sekaligus juga bergaul dengan elit di atas, sesungguhnya kebangkitan Islam yang sedang berlangsung, tercermin dalam lapis bawah dan menengah. Bukan lapisan atas. Sedangkan gairah ummat untuk mempelajari Islam kembali adalah suatu hal vang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sementara, mahasiswa yang belum terikat secara sosial-ekonomi, atau politis, masih memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Namun bila sudah bekerja, menikah, dan mapan dalam struktur kekuasaan, maka para mahasiswa itu akan berbenturan dengan idealis yang digembar-gemborkannya.</p>
<p>Khalayak mahasiswa yang sedang bergerak naik ke atas akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang over dosis atau dosis tinggi, yakni mereka yang akan segera berbenturan dengan struktur atas sehingga akan diamankan atau dilenyapkan. Kedua, kelompok yang menguap dalam arti tidak menjadi apa-apa, mujahid bukan dajjal pun bukan. Ketiga, kelompok yang kompromistis yang akan mengingkari segala sesuatu yang telah digembar-gemborkannya di masjid kampus. Akan masuk kemanakah kita nanti?</p>
<p><strong>Tema Pemikiran Yang Aneh</strong><br />
Para mahasiswa diijinkan untuk berbicara tentang tema-tema Islam struktural seperti ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya. Namun ketika pemikiran tersebut dibawa ke lapis atas, situasi jadi macet. Karena lapis elit telah terikat pada struktur dan menjadi bagian dari sistem yang mapan. Keadaan macam ini mungkin akan terulang; apabila mahasiswa nanti menjadi bagian dari lapis atas atau partner kekuasaan yang ada. Pemikiran Islamnya akan tersaring menuju tema-tema tertentu yang tidak penting dengan keadaan ummat, seperti tema-tema : &#8220;sekularisasi, Laailaaha ullaha&#8221;, &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; dan lain-lain. Tema-tema tersebut mungkin relevan jika dipaksakan. Tapi, jelas tidak urgen skala prioritasnya jadi aneh.<br />
Saya terus terang khawatir, jangan-jangan apa yang sedang hangat diperdebatkan saat ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh ummat. Memang ada pakar yang dengan sombong berkata, bahwa dia sedang bicara di kalangan akademis. Namun, siapa yang bisa menghilangkan eksistensi ummat. Hal semacam ini mungkin disebabkan, karena lapis atas atau elit muslim Indonesia secara relatif telah menjadi bagian dari kekuasaan yang besar.</p>
<p>Sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi penjelajah untuk menghubungkan lapis atas dengan lapis bawah. Mahasiswa diharapkan mampu mengisi kekosongan dengan menjelaskan maksud kelompok elit kepada ummat. Dan pada saat yang sama menyampaikan aspirasi umat kepada lapis atas. Jika saling pengertian dan pemahaman telah terjalin, maka kita akan mampu mendorong ummat ke arah tujuan yang dikehendaki bersama.(selesai)</p>
<p>Surabaya, 28 Januari 1988<br />
Ceramah di Forum Silaturahmi Lembaga Da&#8217;wah Kampus se-Jawa. Di masjid Universitas Airlangga Surabaya.<br />
(Emha Ainun Nadjib/ &#8220;Nasionalisme Muhammad&#8221; &#8211; Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;t=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;annotation=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;bodytext=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 10:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak? ‘Alamat’ dan ‘Jurusan’ Syahadah. Salah satu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?</p>
<p><strong>‘Alamat’ dan ‘Jurusan’</strong></p>
<p><strong>Syahadah</strong>. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.</p>
<p>Pandangan tentang ’<em>sangkan paran</em>’, semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi <em>wahyu</em>, <em>mawaddah wa rahmah</em>, juga <em>huda, bayyinat, wa furqan) </em>menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.</p>
<p><strong>Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan</strong></p>
<p>Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.</p>
<p>Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.</p>
<p>Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.</p>
<p>Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.</p>
<p>Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.</p>
<p>Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.</p>
<p><strong>Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil</strong></p>
<p>Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.</p>
<p>Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.</p>
<p>Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.</p>
<p>Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (’air hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).</p>
<p>Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.</p>
<p><strong>Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan</strong></p>
<p>Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.</p>
<p>Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.</p>
<p>Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.</p>
<p>Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.</p>
<p>Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.</p>
<p>Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.</p>
<p>Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.<br />
<strong><br />
Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal</strong></p>
<p>Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?</p>
<p>Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.</p>
<p>Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.</p>
<p>Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.</p>
<p>Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.</p>
<p>Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.</p>
<p>Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.</p>
<p>Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.</p>
<p>Melampiaskan dan Mengendalikan</p>
<p>Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.</p>
<p>Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.</p>
<p>Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.</p>
<p>Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.</p>
<p>Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.</p>
<p>Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.</p>
<p>Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’&#8211;kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.</p>
<p>Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa. []</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=127192446563&amp;ref=nf" target="_blank">Keduri Cinta</a><br />
Oleh: MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;t=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;annotation=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;bodytext=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Mus Dianugerahi Gelar Doctor Honoris Causa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/gus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/gus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 02:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Detik.com Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam. Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : Detik.com</p>
<div id="attachment_34" class="wp-caption alignleft" style="width: 279px"><a href="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/Gus-Mus.PNG"><img class="size-full wp-image-34" title="Gus Mus" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/Gus-Mus.PNG" alt="KH Ahmad Mustofa Bisri" width="269" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">KH Ahmad Mustofa Bisri</p></div>
<p>Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di <strong>Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta</strong>. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam.</p>
<p>Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan di kampus<strong> UIN Sunan Kalijaga</strong> di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Sabtu (30/5/2009). Acara itu dipimpin langsung Rektor Prof Dr H. Amin Abdullah. Turut hadir dalam acara itu diantaranya budayawan asal Madura D. Zawawi Imron, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan M. Sobari.</p>
<p>Dalam penganugerahan gelar itu, Gus Mus mengambil pidato berjudul &#8216;Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam&#8217;.</p>
<p>Seusai pidato kepada wartawan, Gus Mus mengaku merasa senang meski sebelumnya sempat menolak gelar tersebut. Dia menolak ketika tim Senat Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bertemu untuk menyampaikannya. Tim Senat menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Setelah itu Gus Mus pun berkenan menerima anugerah tersebut.</p>
<p>&#8220;<em>Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak memakai toga</em>,&#8221; ungkap Gus Mus.</p>
<p>Menurut dia, orang Islam di Indonesia masih terjebak oleh Fiqih halal dan haram. Namun tidak memahami Islam itu sendiri. Islam di Indonesia lebih ke fiqih.</p>
<p>&#8220;<em>Selalu terdengar, halal-haram, rokok haram, facebook haram. Padahal Islam itu perlu tidak hanya halal-haram saja, tapi bagaimana Islam bisa memberi ketentraman kehidupan manusia</em>,&#8221; kata Gus Mus</p>
<p>Dia mengatakan kalau pendekatan fiqih, itu sangat kaku. Pergaulan antara manusia menjadi tidak akur. Ada persaudaraan, agama kasih sayang sangat diperlukan perlu.</p>
<p>Sementara itu menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Dr Amin Abdullah, Gus Mus sangat pantas untuk mendapatkan anugerah tersebut. Dia memiliki pemikiran, kepribadian dan kehidupan yang sama dengan visi UIN.</p>
<p>Kesamaan itu terletak pada pemikiran bagaimana membuat ajaran agama Islam memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan umat. &#8220;<em>Dia membumikan Islam dengan pendekatan budaya. Sehingga nilai-nilai Islam merasuk dan membudaya dalam perilaku masyarakat</em>,&#8221; pungkas Amin.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fgus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa%2F&amp;t=Gus%20Mus%20Dianugerahi%20Gelar%20Doctor%20Honoris%20Causa%20" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Gus%20Mus%20Dianugerahi%20Gelar%20Doctor%20Honoris%20Causa%20%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fgus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fgus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa%2F&amp;title=Gus%20Mus%20Dianugerahi%20Gelar%20Doctor%20Honoris%20Causa%20&amp;annotation=Sumber%20%3A%20Detik.com%0D%0A%0D%0A%0D%0A%0D%0ABudayawan%20sekaligus%20kiai%2C%20KH%20Ahmad%20Mustofa%20Bisri%20atau%20lebih%20dikenal%20dengan%20Gus%20Mus%20mendapat%20anugerah%20gelar%20doctor%20honoris%20causa%20%28HC%29%20di%20Universitas%20Islam%20Negeri%20%28UIN%29%20Sunan%20Kalijaga%20Yogyakarta.%20Gus%20Mus%20dianggap%20layak%20menerim" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fgus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa%2F&amp;title=Gus%20Mus%20Dianugerahi%20Gelar%20Doctor%20Honoris%20Causa%20&amp;bodytext=Sumber%20%3A%20Detik.com%0D%0A%0D%0A%0D%0A%0D%0ABudayawan%20sekaligus%20kiai%2C%20KH%20Ahmad%20Mustofa%20Bisri%20atau%20lebih%20dikenal%20dengan%20Gus%20Mus%20mendapat%20anugerah%20gelar%20doctor%20honoris%20causa%20%28HC%29%20di%20Universitas%20Islam%20Negeri%20%28UIN%29%20Sunan%20Kalijaga%20Yogyakarta.%20Gus%20Mus%20dianggap%20layak%20menerim" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/gus-mus-dianugerahi-gelar-doctor-honoris-causa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Gus Mus, Jangan Bawa Tuhan ke Politik</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/pesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=pesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/pesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : http://www.tempointeraktif.com/</p>
<div id="attachment_34" class="wp-caption alignleft" style="width: 279px"><a href="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/Gus-Mus.PNG"><img class="size-full wp-image-34" title="Gus Mus" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/Gus-Mus.PNG" alt="KH Ahmad Mustofa Bisri" width="269" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">KH Ahmad Mustofa Bisri</p></div>
<p><a title="Tempo" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/05/30/brk,20090530-178926,id.html" target="_blank">TEMPO Interaktif</a>, Yogyakarta: Hingar bingar politik di Indonesia, banyak politikus yang membawa-bawa agama sebagai bemper kiprah politik mereka. Terutama Islam.  “<em>Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik,</em>” kata Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahamd Mustofa Bisri usai menerima gelar Doctor Honoris Causa dari <strong>Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga</strong>, Yogyakarta, Sabtu (30/5).</p>
<p>Menurut dia, umat islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia, sehingga umat Islamlah yang paling bertanggungjawab terhadap baik-buruknya Indonesia. Yang membuat Indonesia baik atau buruk , menurut dia, tergantung seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan Islam. Islam yang indah bisa menjaga dan mengembalikan keindahan Indonesia.</p>
<p>Ia menambahkan,  akhir-akhir ini keindahan islam justru bukan hanya tidak tampak. Tetapi dalam banyak hal menampakkan kebalikannya. Keindahan Islam hanya tampak dalam sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan.</p>
<p>“<em>Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi dan kepentingan diri sendiri. Sehingga, sila-sila pada Pancasila yang lain otomatis tidak bermakna,</em>” kata dia dalam pidato nya.</p>
<p>Gus Mus pun mempertanyakan pandangan umat Islam tentang makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan, kata dia,  rutinitas keberagamaan umum tanpa disadari telah bergeser pada salah kaprah dalam perilaku keberagamaan. “<em>Agama itu menjadi wasilah (perantara, kendaraan) atau menjadi ghoyah (tujuan),</em>” tanya Gus Mus.</p>
<p>Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada KH Ahmad Mustofa Bisri, seorang budayawan dan Kiai asal Rembang, Jawa Tengah. Penganugerahan tersebut atas kiprah dia dalam bidang kebudayaan Islam.</p>
<p>“<em>Dia sangat pantas untuk mendapatkan anugerah Doctor Honoris Causa, ia memiliki pemikiran, kepribadian dan kehidupan yang sama dengan visi UIN,</em>” kata Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (30/5).</p>
<p>Kesamaan tersebut, kata Amin, terletak pada pemikiran bagaimana membuat ajaran agama Islam memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan umat. Gus Mus, panggilan akrab Ahmad Mustofa Bisri, berusaha “membumikan” Islam dengan pendekatan budaya. Sehingga nilai-nilai Islam merasuk dan membudaya dalam perilaku masyarakat.</p>
<p>Penganugerahan juga dihadiri oleh para budayawan sepert Emha Ainun Nadjib, D Zawawi Imron, M Sobari dan tokoh seperti M Syafii Maarif, Dien Syamsuddin, M Mahfud MD.</p>
<p>“<em>Gus Mus merupakan sosok yang dapat menerima konsep occidental dan sekaligus tradisional oriental,</em>” kata Amin.</p>
<p>Penganugerahan Doctor Honoris Causa oleh UIN Sunan Kalijaga ini tegolong langka setelah lebih 30 tahun yang lalu saat masih menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) memberikan gelar tersebut kepada Mufti Syria, Ahmad Badruddin Hasyim.</p>
<p>Usai penganugerahan, Gus Mus merasa sangat senang. Padahal sebelum penganugerahan, pada awalnya ia sempat menolak penganugerahan tersebut, namun setelah panitia menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Sehingga Gus Mus berkenan menerima anugerah tersebut.</p>
<p>“<em>Ini pertama kali saya memakai toga, saat di Cairo pun tidak memakai toga,</em>” kata Gus Mus dengan tersenyum. Menurut Gus Mus, orang Islam di Indonesia masih terjebak oleh Fiqih halal dan haram. Namun tidak memahami Islam itu sendiri.</p>
<p>“<em>Islam di Indonesia lebih ke fiqih. Selalu dengar halal-haram, rokok haram, facebook haram. Islam itu tidak hanya halal-haram saja, tapi bagaimana Islam bisa memberi ketenteraman kehidupan manusia,</em>&#8221; kata Gus Mus</p>
<p>Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dien Syamsuddin menyatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Gus mus sangat tepat. Apalagi selama ini, pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Rembang itu banyak memberi warna kebudayaan Islam di tanah air. Untuk konteks kebudayaan di Indonesia, pemikiran-pemikiran, karya dan kiprah Gus Mus sangat nyata dalam mengembangkan warna Islam yang disebut Islam budaya.</p>
<p>&#8220;<em>Gus Mus memberi konteks nuansa budaya Islam, meski Islam tidak bisa direduksi atau banyak mendapat embel-embel. Pentingnya penonjolan Islam sebagai manifestasi kultural jadi kenyataan, ada bukti empiris dalam kehidupan masyarakat Indonesia,</em>&#8221; kata Dien.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fpesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik%2F&amp;t=%20Pesan%20Gus%20Mus%2C%20Jangan%20Bawa%20Tuhan%20ke%20Politik" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=%20Pesan%20Gus%20Mus%2C%20Jangan%20Bawa%20Tuhan%20ke%20Politik%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fpesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fpesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik%2F&amp;title=%20Pesan%20Gus%20Mus%2C%20Jangan%20Bawa%20Tuhan%20ke%20Politik&amp;annotation=Sekarang%20ini%20musim%20politik%2C%20semua%20dipolitisir%2C%20Islam%20masuk%20politik%20tetapi%20berpolitiknya%20kurang%20pede%20%28percaya%20diri%29%2C%20kalau%20mau%20berpolitik%20pakailah%20ilmu%20politik%2C%20jangan%20bawa-bawa%20Tuhan%20ke%20politik" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F10%2Fpesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik%2F&amp;title=%20Pesan%20Gus%20Mus%2C%20Jangan%20Bawa%20Tuhan%20ke%20Politik&amp;bodytext=Sekarang%20ini%20musim%20politik%2C%20semua%20dipolitisir%2C%20Islam%20masuk%20politik%20tetapi%20berpolitiknya%20kurang%20pede%20%28percaya%20diri%29%2C%20kalau%20mau%20berpolitik%20pakailah%20ilmu%20politik%2C%20jangan%20bawa-bawa%20Tuhan%20ke%20politik" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/10/pesan-gus-mus-jangan-bawa-tuhan-ke-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PKS Tersandung</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/05/18/pks-tersandung/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=pks-tersandung</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/05/18/pks-tersandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 11:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Politik memang tak menentu, sekarang bilang A sejurus kemudian bilang B. Bahkan Partai Islam seklaiber PKS yang mempunyai perolehan suara partai Islam terbanyak, terkesan &#8220;plin-plan&#8221; dalam menentukan koalisi dengan partai demokrat, terutama saat Budiono diusung sebagai wakil presiden. Yang jadi pertanyaan pribadi penulis, apakah sebetulya PKS hanya memikirkan kekuasaan, untung-untungan  atau kepentingan golongan dalam tampuk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Politik memang tak menentu, sekarang bilang A sejurus kemudian bilang B. Bahkan Partai Islam seklaiber PKS yang mempunyai perolehan suara partai Islam terbanyak, terkesan &#8220;<em>plin-plan</em>&#8221; dalam menentukan koalisi dengan partai demokrat, terutama saat Budiono diusung sebagai wakil presiden.</p>
<p>Yang jadi pertanyaan pribadi penulis, apakah sebetulya PKS hanya memikirkan kekuasaan, untung-untungan  atau kepentingan golongan dalam tampuk pemerintahan nantinya? atau bagaimana?</p>
<p>Sebagai orang yang tidak tahu akan politik, penulis sangat bingung dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh partai politik. Sepertinya hanya tawar-menawar kekuasaan dan kepentingan, tanpa memikirkan kepentingan rakyat.</p>
<p>Contoh kecil saja, SATPOL PP yang bertugas untuk menertibkan pedagang liar sampai penggusuran. Apakah di kemudian hari orang-orang yang digusur mendapatkan perlindungan dan keamanan? Bagaimana nasip mereka kemudian? Ini adalah pertanyaan yang selalu penulis pertanyakan. Kemudian dimana pemiminpin kita, apakah mereka melihat, mendengarkan bahkan  merasakannya? Kita anti kemiskinan atau anti orang-orang miskin?</p>
<p>Dalam situasi yang tidak menentu dan penuh dengan ketidak pastian. Penulis ingat pesan Ibn &#8216;Atho&#8217;illah dalam al-Hikam &#8220;<em>Dunia itu selalu berubah dan Allah lah yang selalu memenuhi janjinya</em>&#8220;. Kalau PARPOL Islam hanya mementingkan golongannya, atau PARPOL lain hanya mementingkan kekuasaan, kepada siapa kita menyandarkan kepercayaan?</p>
<p>Dan di sela-sela keputus-asaan, penulis yakin nasib kita,  negara kita, nasib Indonesia bukan ditentukan oleh pemimpin-pemimpin yang dholim. Dengan do&#8217;a para wali, aulia, hamba-hamba Allah yang ikhlas, kita berharap hidup kita, masyarakat kita terus di beri petunjuk dan kita ada di dalam jalan yang lurus.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F18%2Fpks-tersandung%2F&amp;t=PKS%20Tersandung" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=PKS%20Tersandung%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F18%2Fpks-tersandung%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F18%2Fpks-tersandung%2F&amp;title=PKS%20Tersandung&amp;annotation=Politik%20memang%20tak%20menentu%2C%20sekarang%20bilang%20A%20sejurus%20kemudian%20bilang%20B.%20Bahkan%20Partai%20Islam%20seklaiber%20PKS%20yang%20mempunyai%20perolehan%20suara%20partai%20Islam%20terbanyak%2C%20terkesan%20%22plin-plan%22%20dalam%20menentukan%20koalisi%20dengan%20partai%20demokrat%2C%20terutama%20saat%20Budi" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F18%2Fpks-tersandung%2F&amp;title=PKS%20Tersandung&amp;bodytext=Politik%20memang%20tak%20menentu%2C%20sekarang%20bilang%20A%20sejurus%20kemudian%20bilang%20B.%20Bahkan%20Partai%20Islam%20seklaiber%20PKS%20yang%20mempunyai%20perolehan%20suara%20partai%20Islam%20terbanyak%2C%20terkesan%20%22plin-plan%22%20dalam%20menentukan%20koalisi%20dengan%20partai%20demokrat%2C%20terutama%20saat%20Budi" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/05/18/pks-tersandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlu atau bahkan Wajibkah Indonesia Menjadi Negara Islam</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/05/17/indonesia-dan-islam/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=indonesia-dan-islam</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/05/17/indonesia-dan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 14:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Penulis menghargai kalau seandainya ada beberapa golongan yang menginginkan negara ini menjadi negara Islam, karena inilah Demokrasi, mungkin mereka berpandangan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Dan karena mengalami keputusasaan disebabkan prilaku dan tingkahlaku para elit politik atau pemerintahan, maka mereka perlu ditegakkan syareat Islam. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari judul diatas bukan berarti penulis mau ikut campur dalam bidang Politik Kenegaraan, “tidak sama sekali” akan tetapi ini hanyalah sebuah pendapat, ikut rembuk sama-sama. Walaupun nantinya keputusan kita serahkan kepada rakyat Indonesia dan bagi saya pribadi mempunyai pendapat tidak wajib.</p>
<p>Dalam ushul fiqih yang dirangkum dalam qoidah fiqih, ada kaidah yang berbungi “Maslahatul Ammah” atau “Kemaslahatan Umum”, tidak pandang bulu, apakah ia berbeda ras, suku, bangsa, negara, bahkan agama sekalipun. Terlebih kalau kita bicara masalah Negara yang mencakup semuanya, dalam hal ini pemegang kekuasaan adalah rakyat.</p>
<p>Penulis menghargai kalau seandainya ada beberapa golongan yang menginginkan negara ini menjadi negara Islam, karena inilah Demokrasi, mungkin mereka berpandangan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Dan karena mengalami keputusasaan disebabkan prilaku dan tingkahlaku para elit politik atau pemerintahan, maka mereka perlu ditegakkan syareat Islam. <span id="more-6"></span></p>
<p>Tetapi Islam yang bagaimana? Islam menekankan “Rohmatal lil’alamin” Rohmah bagi keseluruhan, dalam hal ini penulis mengartikan alamin adalah selain Allah, pada intinya.andi kita tidak bisa berpandangan hanya pada satu golongan/kelompok saja. Kalau kita Membicaraan tentang negara, tentunya yang di pentingkandalah Rakyat. Apabila kita hanya mementingkan satu golongan dalam hal ini mungkin agama Islam, apa nantinya orang selain Islam akan di no 2 kan? nah kalau begini di mana letak keadilan dalam berbangsa dan bernegara, yang mengutamakan kepentingan Rakyat.</p>
<p>Mungkin kalau kita menengok negara Islam seperti Malaisia misalnya, wajar saja kalau mereka mendirikan negara Islam, karena mereka hanya satu suku/rupun, yakni Melayu. Seperti sebuah organisasi yang menjadikan Islam (Qur’an Hadits) sebagai dasar idiologi mereka, karena mereka mempunyai satu tujuan dan kepentingan yang sama, Sementara kalau di lihat secara geografis dan sosiologis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak suku bangsa.</p>
<p>“Dar’ul mafasyid muqoddamun ala jalbul masholih” mencagah perbuatan yang keji itu lebih diutamakan dari pada mengajak kepada kebaikan.<br />
Qoidah inilah yang menjadai alasan juga untuk mempertimbangkan apakan negara ini akan di rubah menjadi negara Islam.<br />
Jikalau seandanya negara ini di jadikan negara Islam, apakan akan menjamin kesatuan, kenyamanan, kedamaian di Indonesia ini, atau justru sebaiknya? Terjadi pertengkaran, bahkan perang saudara. Dan akhirnya akan menjadi negara-negara sendiri/terpecah belah. Nah perpecahan, pertikaian dan bahkan perang saudara inilah yang harus di hindari.</p>
<p>Menengok sejarah kebelakang Indonesia menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar, adalah peran islam dalam penyebarannya dengan menggunakan metode sosial budaya/kultural dan ekonomi/perdagangan. Dan rasa saling menghargai dan menghormati antara umat yang lain. hal inilah yang menjadikan Islam dapat diterima di masyarakat dengan senang hati.<br />
Seperti Sunan Kali Jaga dengan tembang Ilir-ilirnya, dan dengan wayang kalimasada dan Sunan Kudus dengan pelarangan penyembelihan Sapi, karena Sapi dianggap sebagai binatang suci oleh masyarakat sekitar (hindu/budha) pada waktu itu. atau kalau meminjam istilah Ekonomi, para Sunan memasarkan agama sesuai dengan market/pasar waktu itu dengan di modifikasi, tentunya dengan cohtoh/mauidloh yang lebih baik.</p>
<p>“Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”(Q.S Al-Baqoroh 256).<br />
nah disinilah letah penghargaan yang tinggi Alqur’an kepada kita semua. dimana telah jelas jalan yang benar yang terkandung dalam Al-Qur’an, dengan demikian “pilihan” dan pengetahuan adalah jalan yang baik untuk meyakini Kebenaran Islam. yang jadi pertanyaan adalah sudahkah dan mampukah kita menyampaikan Islam dengan jalan yang baik dan benar, sehingga dapat menjadi suri tauladan, atau dengan kebodohan dan arogansi kita dalam menyampaikannya, sehingga kita hanya mendapat cemoohan, hinaan dan fitnah,<br />
dan bahan sebagai kambing hitam.</p>
<p>Sikap yang dicontohkan Rosulullah sebagai suri tauladan, dan penyempurnaan Akhlaq yang mulia, dan juga di contohkan pula oleh para Sunan di Indonesia ini sepertinya hanya menjadi legenda. dan ironisnya, metode ini sekarang ditiru oleh orang-orang barat. Sebagai contoh pelayanan makanan cepat saji Mc.D, memberikan layanan dan inovasi yang sesuai dengan kebudayaan yang diinginkan masyarakat alias sesuai dengan trend/market/pasar. Shell POM Bensin, memberikan pelayanan lebih, exp. dengan membersihkan kaca mobil customer. IBM, Intel, Nokia juga memberikan pelayanan yang begitu baik dan inovasi tiada henti. Bukankah itu metode yang di ajarkan oleh para Sunan kepada kita?</p>
<p>“Faidza Khuyyitum bi tahiyyatin fahayyu biahsana minha aurudduha”.<br />
Jikalau engkau di beri salam/dipuji maka berilah pujian yang lebih baih (kepada yang memuji) atau paling tidak sama (kadar salam/pujiannya)<br />
mungkin boleh saya artikan.<br />
“jikalau product kamu di puji, maka tunjukkanlan bahwa produk kamu itu lebih baik dari pada pujiannya, atau palaing tidak sama”.<br />
Bukan malah mengurangi takaran atau kulaitas dan kuantitasnya.</p>
<p>Karena rasa putus asa, dan dengan mengedepankan egoisme tanpa alasan, kemudian kita melarang orang-orang untuk membeli produk mereka. karena saking sibuknya melarang … kita tetap tertinggal di belakang dengan membawa egoisme dan kemarahan tanpa alasan dan penyelesaian.</p>
<p>Bukankan PR kita makin banyak untuk menunjukkan Islam agama yang menjadi panutan, mungkin kita perlu menyadari bahwa Islam tempatnya bukan hanya pada sisi IDEOLOGI saja, Tapi Segi Sosial/Budaya, Ekonomi dan profesionalitas yang perlu kita tingkatkan. Bukankah kita sadar bahwa perpolitikan hanya akan membawa kepada “Sakit Hati”. walaupun di satu sisi kita pun berusaha memberi untuk mencari perpolitikan/ideologi yang sehat.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F17%2Findonesia-dan-islam%2F&amp;t=Perlu%20atau%20bahkan%20Wajibkah%20Indonesia%20Menjadi%20Negara%20Islam" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Perlu%20atau%20bahkan%20Wajibkah%20Indonesia%20Menjadi%20Negara%20Islam%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F17%2Findonesia-dan-islam%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F17%2Findonesia-dan-islam%2F&amp;title=Perlu%20atau%20bahkan%20Wajibkah%20Indonesia%20Menjadi%20Negara%20Islam&amp;annotation=Penulis%20menghargai%20kalau%20seandainya%20ada%20beberapa%20golongan%20yang%20menginginkan%20negara%20ini%20menjadi%20negara%20Islam%2C%20karena%20inilah%20Demokrasi%2C%20mungkin%20mereka%20berpandangan%20bahwa%20mayoritas%20penduduk%20Indonesia%20beragama%20Islam.%20Dan%20karena%20mengalami%20keputusasaan%20disebabkan%20prilaku%20dan%20tingkahlaku%20para%20elit%20politik%20atau%20pemerintahan%2C%20maka%20mereka%20perlu%20ditegakkan%20syareat%20Islam.%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F05%2F17%2Findonesia-dan-islam%2F&amp;title=Perlu%20atau%20bahkan%20Wajibkah%20Indonesia%20Menjadi%20Negara%20Islam&amp;bodytext=Penulis%20menghargai%20kalau%20seandainya%20ada%20beberapa%20golongan%20yang%20menginginkan%20negara%20ini%20menjadi%20negara%20Islam%2C%20karena%20inilah%20Demokrasi%2C%20mungkin%20mereka%20berpandangan%20bahwa%20mayoritas%20penduduk%20Indonesia%20beragama%20Islam.%20Dan%20karena%20mengalami%20keputusasaan%20disebabkan%20prilaku%20dan%20tingkahlaku%20para%20elit%20politik%20atau%20pemerintahan%2C%20maka%20mereka%20perlu%20ditegakkan%20syareat%20Islam.%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/05/17/indonesia-dan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
