Posts tagged Gus Mus
ALLAHU AKBAR
May 3rd
ALLAH AKBAR
Allahu Akbar ! Pekik kalian menghalilintar Membuat makhluk makhluk kecil tergetar Allahu Akbar !
Allahu Maha Besar Urat urat leher kalian membesar Meneriakkan Allahu Akbar Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian terbakar Apa saja yang kalian anggap mungkar
Allahu Akbar,Allah Maha Besar ! Seandainya 5 milyard manusia Penghuni bumi sebesar debu ini Sesat semua atau saleh semua Tak sedikit pun mempengaruhi kebeseranNya
Melihat keganasan kalian aku yakin Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman Yang kasih sayangNya meliputi segalanya
Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakaÑYa Ketika dengan pongah kau melibas mereka Yang sedang mencari jalan menujuNya?
Mengapa kalau mereka memang pantas masuk neraka Tidak kalian biarkan Tuhan mereka yang menyiksa mereka Kapan kalian mendapat mandat Wewenang darINya untuk menyiksa dan melaknat?
Allahu Akbar! Syirik adalah dosa paling besar Dan syirik yang paling akbar Adalah mensekutukan diri sendiri Dengan memutlakkan kebenaran sendiri
Laa ilaaha illallah!
By Gus Mus/Simbah Kakung 10 muharam 1430 H Di Perguruan Islam Salafiyah Kajen Pati ”
Sumber : Facebook
Share :
ya tuhan, pelajaran apa ini?
Feb 11th
ya tuhan, pelajaran apa ini?kau kurniakan kepada kami ironi-ironiyang mengusik pikiran dan nurani: kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa sajadan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apakau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa sajadan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya
ya tuhan, pelajaran apa ini? kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasayang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa
ya tuhan, pelajaran apa More >
Kitab dan Buku
Dec 20th
Oleh: A. Mustofa Bisri
Mungkin karena banyaknya hal-hal aneh di negeri ini, maka orang seperti tidak merasa aneh lagi dengan adanya penggunaan istilah-istilah yang sebenarnya aneh. Di negeri ini, misalnya, ada istilah sekolah dan madrasah yang pengertiannya setali tiga wang. Maka lucu sekali ketika ada orang mengatakan, “Anak saya sekolah di madrasah anu.”
Anehnya lagi, selaras dengan hal tersebut, di negeri ini di samping ada toko buku, ada pula toko kitab. Orang “sekolahan” kalau mencari buku di toko buku; sementara yang “madrasahan” mencarinya di toko kitab. Toko buku seperti Gunung Agung, Gramedia, dsb, ketika itu, hanya menjual buku-buku yang bertulisan Latin; sementara yang ada tulisan Arabnya, toko kitablah–seperti Toha Putra, Menara Kudus, Salim Nabhan, dsb.– yang menjualnya.
Apalagi “kitab kuning”, jangan harap Anda menemukannya di toko buku. Terjemahan-terjemahannya saja pun hanya dijual di toko kitab; karena biasanya terjemahan kitab-kitab kuning yang diterjemahkan tokoh-tokoh pesantren itu pun selalu ada tulisan Arabnya.
Demikianlah; seiring dengan pikiran salah kaprah tentang adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, maka madrasah (dan pesantren) dianggap tempat belajar agama dan kitab yang dijual di toko kitab dianggap bacaan agama. Sedangkan sekolah dianggap tempat belajar umum dan buku yang dijual di toko buku dianggap sebagai bacaan umum.
Baru belakangan–dugaan saya sejak orang-orang Barat More >
Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus
Jul 11th
Sumber: Sumber http://gusmus.net
OLEH: Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus Sumber : Facebook Kenduri Cinta’s Notes
Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.
Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi – dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.
Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan dan dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.
Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.
Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati More >
Gus Mus Dianugerahi Gelar Doctor Honoris Causa
Jul 10th
Sumber : Detik.com
KH Ahmad Mustofa Bisri
Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam.
Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan di kampus UIN Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Sabtu (30/5/2009). Acara itu dipimpin langsung Rektor Prof Dr H. Amin Abdullah. Turut hadir dalam acara itu diantaranya budayawan asal Madura D. Zawawi Imron, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan M. Sobari.
Dalam penganugerahan gelar itu, Gus Mus mengambil pidato berjudul ‘Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam’.
Seusai pidato kepada wartawan, Gus Mus mengaku merasa senang meski sebelumnya sempat menolak gelar tersebut. Dia menolak ketika tim Senat Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bertemu untuk menyampaikannya. Tim Senat menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Setelah itu Gus Mus pun berkenan menerima anugerah tersebut.
“Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak More >
Pesan Gus Mus, Jangan Bawa Tuhan ke Politik
Jul 10th
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/
KH Ahmad Mustofa Bisri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Hingar bingar politik di Indonesia, banyak politikus yang membawa-bawa agama sebagai bemper kiprah politik mereka. Terutama Islam. “Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik,” kata Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahamd Mustofa Bisri usai menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (30/5).
Menurut dia, umat islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia, sehingga umat Islamlah yang paling bertanggungjawab terhadap baik-buruknya Indonesia. Yang membuat Indonesia baik atau buruk , menurut dia, tergantung seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan Islam. Islam yang indah bisa menjaga dan mengembalikan keindahan Indonesia.
Ia menambahkan, akhir-akhir ini keindahan islam justru bukan hanya tidak tampak. Tetapi dalam banyak hal menampakkan kebalikannya. Keindahan Islam hanya tampak dalam sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan.
“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi dan kepentingan diri sendiri. Sehingga, sila-sila pada Pancasila yang lain otomatis tidak bermakna,” kata dia dalam pidato nya.
Gus Mus pun mempertanyakan pandangan umat Islam tentang makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan, More >