Posts tagged Budaya
Rakyat Sudah Dewasa
Jul 14th
Sebelum pilpres, mengikuti perkembangan pilpres di Iran, banyak di antara kita yang ketir-ketir. Apalagi, dinamika kampanye para kandidat dan tim-tim sukses mereka begitu luar biasa. “Kampanye putih“, “kampanye abu-abu“, hingga “kampanye hitam” keluar semua dari sana-sini.
Namun, alhamdulillah, pilpres kita kemarin berlangsung aman dan lancar. Rakyat yang berdatangan ke TPS-TPS terlihat begitu santai dan guyub. Setelah mencontreng, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing seperti biasa.
Setelah itu, mereka secara sendiri-sendiri atau beramai-ramai nonton hasil pencontrengan mereka di quick count. Bahkan, banyak yang nonton bareng sesama pencontreng yang berbeda pilihan. Mereka tertawa-tawa, kadang-kadang saling ledek laiknya sesaudara. Lihatlah, betapa dewasanya mereka.
Kalau harus ada yang diacungi jempol dalam pesta demokrasi ini, tidak diragukan lagi yang pertama-tama berhak kita acungi jempol adalah mereka: rakyat Indonesia.
Rakyat Indonesia, rupanya, benar-benar belajar dan menyerap pelajaran dengan baik. Dengan berkali-kali pemilu dan pilkada, mereka semakin terbiasa dengan pengamalan demokrasi. Sudah dua kali pilpres, mereka menunjukkan kedewasaannya. Bahkan, jika dibandingkan dengan para pemimpin dan tokoh politik di atas yang sok demokratis, tampaknya, mereka lebih dewasa.
Mungkin mereka -rakyat Indonesia itu- belajar juga dari kompetisi sepak bola dunia yang begitu enak ditonton. Para pemain begitu serius dan sungguh-sungguh dalam bertanding; masing-masing berusaha dengan segenap daya untuk mengalahkan More >
Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus
Jul 11th
Sumber: Sumber http://gusmus.net
OLEH: Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus Sumber : Facebook Kenduri Cinta’s Notes
Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.
Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi – dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.
Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan dan dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.
Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.
Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati More >
Gus Mus Dianugerahi Gelar Doctor Honoris Causa
Jul 10th
Sumber : Detik.com
KH Ahmad Mustofa Bisri
Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam.
Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan di kampus UIN Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Sabtu (30/5/2009). Acara itu dipimpin langsung Rektor Prof Dr H. Amin Abdullah. Turut hadir dalam acara itu diantaranya budayawan asal Madura D. Zawawi Imron, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan M. Sobari.
Dalam penganugerahan gelar itu, Gus Mus mengambil pidato berjudul ‘Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam’.
Seusai pidato kepada wartawan, Gus Mus mengaku merasa senang meski sebelumnya sempat menolak gelar tersebut. Dia menolak ketika tim Senat Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bertemu untuk menyampaikannya. Tim Senat menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Setelah itu Gus Mus pun berkenan menerima anugerah tersebut.
“Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak More >
Pesan Gus Mus, Jangan Bawa Tuhan ke Politik
Jul 10th
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/
KH Ahmad Mustofa Bisri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Hingar bingar politik di Indonesia, banyak politikus yang membawa-bawa agama sebagai bemper kiprah politik mereka. Terutama Islam. “Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik,” kata Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahamd Mustofa Bisri usai menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (30/5).
Menurut dia, umat islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia, sehingga umat Islamlah yang paling bertanggungjawab terhadap baik-buruknya Indonesia. Yang membuat Indonesia baik atau buruk , menurut dia, tergantung seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan Islam. Islam yang indah bisa menjaga dan mengembalikan keindahan Indonesia.
Ia menambahkan, akhir-akhir ini keindahan islam justru bukan hanya tidak tampak. Tetapi dalam banyak hal menampakkan kebalikannya. Keindahan Islam hanya tampak dalam sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan.
“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi dan kepentingan diri sendiri. Sehingga, sila-sila pada Pancasila yang lain otomatis tidak bermakna,” kata dia dalam pidato nya.
Gus Mus pun mempertanyakan pandangan umat Islam tentang makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan, More >
Facebook: Halal Haram
Jun 2nd
Halal haram facebook oleh beberapa pesantren di jawa timur sekarang ini menjadi perdebatan. Ada yang memutuskan haram dan ada yang memutuskan halal. Bagaimana cara menyikapinya?
Pondok Pesantren Lirboyo menyatakan haram dan Pondok Pesantren Ploso menyatakan halal. Kedua pondok tersebut merupakan pondok besar dan terkenal di jawatimur yang notabenya berbasiskan NU. Mengapa haram dan mengapa halal? Hal tersebut telah dibawas dalam bahsul masail masing-masing pesantren. Halal karena digunakan untuk sesuatu yang haram(banyak mudlarat) dan halal karena digunakan untuk sesuatu yang halal (Banyak manfaat), tinggal kita ambil pendapat yang mana?
Ada dua hal yang menurut penulis menarik dibahas di sini. Pertama sesungguhnya apa yang diharamkan? Facebooknya (benda) atau cara menggunakannya (pekerjaan/perbuatannya)? Kalau facebooknya (bendanya), otomatis bukan hanya facebook yang haram, tapi nantinya juga akan merambah ke hal-hal lain , dan mungkin bisa mengharamkan alat komunikasi semisal internet, telephone dan lain sebagainya. Akan tetapi kalau perbuatannya yang diharamkan berarti kita memang harus benar-benar menyaring apa yang diharamkan dan apa yang dihalalkan di dalam berbagai macam tingkah laku dalam hidup.
Kedua, memandang siapa yang menghalalkan dan mengharamkan. Kedua Pesantren Lirboyo dan Ploso merupakan pesantren besar yang berbasis NU. Walaupun kedua pesantren ini mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah khususnya facebook, tetapi mereka saling menghargai pendapat masing-masing More >
Bersaing atau Berlomba-lomba dalam Kebaikan?
May 28th
“Kita bersaing dengan orang lain untuk mendapatkan sesuatu, entah jabatan, harta, dan lainnya”. Hal ini akan berbeda jika dibandingkan dengan kalimat berikut. ”Kita Bersaing menjadi orang yang paling taqwa diantara kita”. Sepertinya kata bersaing tidak tepat untuk diterapkan dalam kalimat terakhir ini.
Mungkin kata yang lebih tepat adalah “Berlomba-lomba dalam kebaikan, degan segala upaya dan daya untuk memberikan yang terbaik dan banyak bermanfaat “. Dari kalimat ini secara kasap mata dapat menili siapa yang paling takwa, yaitu orang yang paling baik dan yang memberikan kemanfaatan bagi orang banyak.
Sebagai contoh misalnya, beberapa toko HP yang ada di roxy ataupun ambassador dan tempat lainnya, mereka kerjasama dengan toko yang lain, jika tidak ada barang di tempatnya, maka ia akan mengambil barang di tetanganya. Hal ini bukan persaingan antar toko, tapi lebih pada bagaimana toko memberikan yang terbaik bagi para pengunjungnya.
Lain halnya jika terjadi persaingan diantara toko dengan cara menjatuhkan yang lain, hal ini akan mengakibatkan ke tidak stabilan dalam pasar. Sehingga tidak akan terwujut masyarakat penjual HP.
Bukankah niat berlomba dalam kebaikan berbeda dengan bersaing ?
Share :