<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Filsafat Islam Pasca-Ibn Rusyd/Filsuf Islam Pasca-Ibn Rusyd/Ibn Taimiyyah</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/filsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=filsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/filsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FB Testimoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Filsafat Dan Mantiq Ibn Taimiyyah Oleh: Ilham Mustofal Ahyar فمنه نتعلم وبه نتكلم وفيه ننظر ونفكر وبه نستدل ونحكم Iftitah Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan hanya membedakan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena Filsafat Dan Mantiq Ibn Taimiyyah</p>
<p>Oleh: Ilham Mustofal Ahyar</p>
<p>فمنه نتعلم وبه نتكلم وفيه ننظر ونفكر وبه نستدل ونحكم</p>
<p>Iftitah</p>
<p>Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan hanya membedakan manusia dengan makluk Tuhan yang lainnya, sebutlah tumbuhan, hewan, benda-benda mati, atau bahkan malaikat dan jin, lebih dari itu sekaligus mengantarkan manusia pada capaian-capaian kehidupan yang sangat mengagumkan secara spiritual maupun material, tersirat secara jelas dalam firman Allah SWT.:</p>
<p>وإذ قال ربك للملائكة إنى جاعل فى اللأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إنى أعلم ما لا تعلمون ( البقرة: 30)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menjawab keraguan malaikat yang mengkhawatirkan akibat negatif dari penciptaan manusia sebagai penguasa (khalîfah) di dunia, dengan ucapannya: &#8220;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&#8221;, kata-kata ini mengisyaratkan adanya potensi yang besar dalam diri manusia yang bahkan tidak diketahui para malaikat, sampai kemudian Allah SWT.memerintahkan Adam ِِِuntuk membuktikannya:</p>
<p>قال يا أدم أنبئهم بأسمائهم&#8230;.</p>
<p>Bahwa potensi itu adalah rasionalitas yang berpadu dengan spiritualitas, rasionisasi yang menggerakkan spiritualitas ini, juga yang menggerakkan manusia untuk bertanya dan mencari sekian juta hal yang memenuhi kehidupannya; tentang alam, kehidupan, kematian, pencipta, masa depan dan sebagainya. Namun tidak berarti fitrah rasionalitas ini berjalan tanpa problem, dimana pada perjalanannya kita bisa melihat kasus-kasus historis yang menghadapkan kepada kita betapa kegagalan rasionalitas itu pula yang menjerumuskan manusia kedalam liang-liang penghancuran dirinya sendiri, kita bisa ambil contoh dari pengandaian sebagian manusia bahwa kemampuan akal manusia dapat mengurai dan memecahkan segala sesuatu telah melahirkan kaum atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan.</p>
<p>Sekilas Filsafat Islam</p>
<p>Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradapan Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya. Sebenarnya gerakan penerjemahan ini dimulai semenjak masa Daulah Umawiyyah atas perintah dari Khalid bin Yazid Al-Umawî untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, kimia dan geometria dari Yunani, akan tetapi para Ahli Sejarah lebih condong bahwa gerakan ini benar-benar dilaksanakan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiah saja, dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Manshur (136-158 H) hingga masa pamerintahan AL-Ma&#8217;mun (198-218 H) , dimana penerjemahan ini tidak terbatas pada beberapa bidang keilmuan saja,akan tetapi meliputi berbagai cabang keilmuan sehingga kita bisa melihat lahirnya para ilmuan besar pada masa ini, contohnya Al-Kindi (155-256 H) seorang filosof besar yang menguasai beraneka bidang keilmuan, seperti matematika, astronomi, musik, geometri, kedokteran dan politik, disamping nama-nama besar yang muncul setelahnya, sebut saja Ar-Razi, Ibn Sina (370-428 H), Al-Farabi (359-438 H) dan yang lainnya .</p>
<p>Sebagaimana kajian Islam mengambil berbagai tema untuk bahan kajian tentang logika, etika, politik, metafisika dan lainnya, yang telah lebih dulu dikaji oleh bangsa Yunani, sehingga sangat dimungkinkan bahwa kajian-kajian filsafat islam dalam tema-tema ini dipengaruhi oleh filsafat Yunani, akan tetapi sesungguhnya filsafat Islam dalam beberapa sisi secara independen memiliki karakteristik yang berbeda dari filsafat Yunani. Filsafat Islam bukanlah filsafat Aristotelian yang tertulis dalam bahasa Arab ataupun filsafat Platonisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dari upaya ahli kalam dari kelompok Mu&#8217;tazilah maupun Asyâ’irah untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang rasional, bahwa akal merupakan unsur penting dalam agama ini, sehingga mereka membungkus filsafat dalam baju keagamaan, dan dari situ mereka memahami agama Islam dengan corak filosofis. Akan tetapi selanjutnya keinginan para filosof Islam untuk memperlihatkan agama Islam dalam suatu gambaran rasional menyebabkan mereka menafsirkan sebagian persoalan ke-islam-an yang bersifat ideologis (akidah) dengan teori-teori filsafat, hal ini oleh sebagian umat islam dipandang menyalahi cara berpikir dan akidah agama Islam, maka mulailah mereka mewaspadai dan mengkritik para filosof Islam tersebut.</p>
<p>Ke-filosof-an Ibn Taimiyyah</p>
<p>Sejak awal mula Ibn Taimiyyah menggeluti filsafat, tujuannya bukanlah untuk mendalami dan memahami ilmu ini untuk kemudian mengambil manfaat yang mungkin bisa diambil darinya, akan tetapi sebaliknya untuk mencari sisi-sisi kesalahannya untuk kemudian merubuhkan bangunannya, karena dalam pandangannya filsafat telah menjadi semacam penyakit yang menyerang pemikiran orang-orang Islam, bahkan ia berpendapat bahwa sebelum seseorang mendalami akidah Islam maka ia harus membersihkan diri dari segala hal yang berbau filasafat yang menurutnya dihasilkan dari kebohongan angan-angan dan bayangan , sikap Ibn Taimiyyah ini kalau kita telusuri lebih jauh merupakan dampak dari kondisi politik dan sosio-kultural masyarakat muslim pada waktu itu:</p>
<p>A. Kondisi Politik</p>
<p>Pada abad ketujuh dan kedelapan yang merupakan masa penghabisan Daulah Abbasiah, kaum muslimin telah terpecah-belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang antara satu dengan yang lainnya saling memusuhi. Lebih dari itu, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapat ancaman besar dari tiga sisi: serangan bangsa Tartar dari arah timur (Mongolia), serangan pasukan Perang Salib yang terus mendesak dari arah barat, serta ancaman akibat perpecahan dari umat Islam sendiri, sampai-sampai Ibn Al-Atsir dalam kitabnya &#8220;Al-Kamil&#8221; mengatakan: &#8220;Agama Islam dan kaum Muslimin pada waktu ini benar-benar ditimpa oleh musibah yang belum pernah menimpa satupun dari umat-umat sebelumnya…&#8221;.</p>
<p>B. Kondisi Masyarakat</p>
<p>Sejak perang salib berkecamuk pada awal abad kelima Hijriah, terjadilah berturan-benturan peradaban antara barat (Eropa) dan timur (Arab), benturan-benturan ini dengan dahsyatnya berpengaruh terhadap kebudayaan, adat, pemikiran, bahkan kehidupan beragama. Begitu juga ketika bangsa Tartar mulai masuk dari arah timur dengan membawa kebiasaan, pemikiran, dan tabiat-tabiatnya. Benturan-benturan tersebut mengakibatkan disosialis yang berkepanjangan dalam berbagai aspek kehidupan kaum Muslim, ketakutan akan terjadinya perang menyebabkan terjadinya gelombang-gelombang pengungsi yang mengakibatkan bercampur-aduknya penduduk daerah satu dengan daerah yang lainnya, seperti penduduk Irak yang mengungsi ke Syam ketika bangsa Tartar menyerangnya, penduduk Mughol mengungsi ke Damaskus, yang kemudian bersama penduduk Damaskus mengungsi ke Mesir dan bahkan ada yang mengungsi sampai ke Maroko. Percampuran-percampuran secara terpaksa ini mau tidak mau ikut pula mencampur-adukkan corak kejiwaan, pemikiran, dan kemasyarakatan kedalam suatu adat (kebiasaan) yang berbeda, sehingga dari sini munculah suatu kumpulan &#8220;masyarakat terpaksa&#8221; yang tidak mempunyai pegangan dan ketenangan, dan kumpulan masyarakat ini terpusat di satu titik, yaitu Mesir.</p>
<p>C. Kondisi Pemikiran</p>
<p>Sebelum masa Ibn Taimiyyah sudah banyak tersebar aliran-aliran pemikiran yang antara satu dengan yang lainnya tidak jarang terjadi perselisihan-perselisihan, hal ini menyebabkan terbentangnya jarak antara pengikut aliran yang satu dengan yang lainnya. Perpecahan tersebut mencapai puncaknya pada masa Ibn Taimiyyah (abad ketujuh sampai awal abad kedelapan), dimana pertentangan-pertentangan tersebut mengakibatkan terpecah-belahnya para ulama dalam berbagai golongan. Di tengah keadaan ini, mencuatlah para filosof Islam yang berusaha mensinkronkan antara filsafat dengan agama sebagaimana dilakukan oleh para pengikut Ikhwan As-Shofa, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Di sisi lain muncul pula para ulama yang berusaha menggabungkan antara akal dan teks seperti Muhyiddin An-Nawawi dan Fakhruddin Ar-Razi, kemudian disusul dengan munculnya para sufi yang berusaha menggabungkan antara metode filsafat akal dengan kemurnian jiwa sampai kemudian berakhir pada filsafat jiwa (spiritisme), dimana ajaran-ajaran kesufian disokong penuh oleh pemerintahan yang berkuasa waktu itu sampai kemudian banyak bermunculan apa yang disebut Ibn Taimiyyah sebagai &#8220;khurafat&#8221;, masyarakat yang terlalu mendewakan ulama, dan pengagung-agungan terhadap kuburan. Dari kondisi semacam ini timbul-lah perdebatan pemikiran yang amat sengit diantara para ulama, perang dalil dengan mengatasnamakan agama tidak dapat dihindari untuk mengalahkan dan menguasai lawannya demi kepentingan golongan, tanpa mencoba untuk saling mengerti dan memahami untuk kedamaian bersama.</p>
<p>Dalam milleu seperti inilah seorang Ibn Taimiyyah tumbuh, dengan berbekal latar belakang keluarga sederhana -pengikut Imam Ahmad bin Hambal- yang memegang teguh ajaran agama serta keceerdasannya, ia keluar dari sarangnya untuk meluruskan ajaran-ajaran agama yang dianggapnya sudah melenceng jauh dari pakem yang seharusnya dilalui, khususnya dalam bidang filsafat dan penggunaan akal manusia yang melampaui batas. iapun banyak bertentangan dengan para ulama-ulama besar waktu itu, ini dapat kita lihat dalam karya-karyanya yang banyak mengkritik Ibn Sina, al-Razi, al-Asy&#8217;ari, al-Ghazali sampai Ibn Rusyd baik dalam mantiq, filsafat maupun tasawwufnya.</p>
<p>Ketegasan Dibalik Ketakutan</p>
<p>Dalam karyanya &#8220;Dar’u Ta&#8217;ârudh al-&#8217;Aql wa al-Naql&#8221;, Ibn Taimiyyah membuka kitabnya dengan mengkritik kaum filosof sebagai &#8220;Ahli Bid&#8217;ah&#8221;, disini ia secara langsung menukil pernyataan Ar-Razi yang disebutnya sebagai &#8220;pegangan ahli bidah&#8221; (pegangan kauf filosof, pen.) yang berbunyi:</p>
<p>&#8220;Ketika dalil &#8216;aql dan naql saling bertentangan, atau ketika teks naql dengan realita akal saling bertentangan maka kemungkinan pemecahannya ada beberapa macam: a. Adakalanya dengan memadukan keduanya, dan ini jelas-jelas tidak mungkin; b. Atau menolak kedua-duanya, dan hal ini pun juga tidak mungkin; c. Atau dengan mengedepankan naql/teks, ini pun juga tidak mungkin, karena akal adalah sumber teks, apabila kita mendahulukan naql maka hal ini merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap akal yang merupakan sumber naql, dan penghinaan terhadap sumber sesuatu merupakan penghinaan terhadap sesuatu itu sendiri, maka pendahuluan naql merupakan penghinaan terhadap akal dan naql; d. Maka wajib mendahulukan akal untuk selanjutnya naql/teks mungkin ditakwilkan dan kalau tidak mungkin maka ditiadakan.&#8221;</p>
<p>Ibn Taimiyyah memandang ucapan Ar-Razi diatas sebagai pedoman umum yang dipakai oleh kaum filosof dalam menentukan apa saja yang bisa dijadikan dalil dari Kitab Allah SWT dan ucapan para Nabi, disamping apa saja yang tidak bisa dijadikan dalil dari keduannya, menurutnya karena itulah kaum filosof menentang pengambilan dalil dari apa yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat Allah SWT dan berbagai hal yang mereka beritakan, kaum filosof berpendapat bahwa akal tidak dapat menerimanya. Pedoman seperti ini menurut Ibn Taimiyyah menjadikan masing-masing kaum filosof meletakkan dasar-dasar independen dalam menyikapi setiap hal yang dikabarkan oleh para Nabi dan Rasul tentang Allah SWT, sehingga selanjutnya mereka meyakini bahwa inti-dasar yang mereka yakini kebenarannya adalah apa yang mereka perkirakan bahwa akal mereka bisa mengetahui dan mencernanya dan meletakkan segala yang dikabarkan oleh para Nabi dan Rasul tunduk mengikuti garis-garis metode akal yang mereka ciptakan, untuk kemudian yang cocok mereka ambil dan yang mereka rasa tidak cocok mereka buang.</p>
<p>Analisa Ibn Taimiyyah diatas agaknya lebih didasari oleh ketakutannya akan pengaruh-pengaruh luar yang ia rasa dapat mengancam kemurnian dan kesucian kepercayaan yang diyakininya, hal ini sebenarnya masih dalam batas-batas kewajaran melihat latar belakang keluarganya yang dengan teguh berjalan diatas rel madzhab Hanbali, seorang murid Asy-Syafi&#8217;i yang terkenal memegang teguh ajaran-ajaran Alqur&#8217;an dan As-Sunnah, dimana sudah sepatutnya baginya untuk mempertahankan keyakinannya dalam kondisi yang morat-marit akibat peperangan yang berkepanjangan dan benturan peradaban yang sedikit banyak mengakibatkan menimbulkan pesimisme terhadap sebagian besar kaum muslim.</p>
<p>Ibn Taimiyyah tentang metode Kaum Filosof dalam menguraikan nash Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Ibn Taimiyyah mendalami filsafat bukanlah untuk memahami dan menyingkap kebenaran yang mungkin didapatkan didalamnya, melainkan untuk menghancurkan sendi-sendinya, maka dalam analisanya ia membagi metode-metode kaum filosof yang dianggabnya sebagai ahli bid’ah dalam dua kelompok:</p>
<p>D Metode penggantian (tabdil), yang diikuti oleh dua golongan:</p>
<p>1. Kaum Pengkhayal</p>
<p>Kelompok ini menurutnya, berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul mengabarkan tentang Allah SWT, Malaikat, hari akhir, surga dan neraka serta hal-hal ghaib lainnya dengan ungkapan-ungkapan yang tidak cocok dengan yang sebenarnya, sebaliknya mereka mengabarkan kepada umatnya berdasarkan atas khayalan-khayalan yang mereka buat tentang keagungan Allah SWT, kenikmatan inderawi atau siksa badani yang akan mereka dapatkan di akhirat, walaupun mereka mengetahui bahwa yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Akan tetapi untuk memberikan kepada umatnya pemahaman, mereka melakukan hal ini, jadi menurut kelompok ini , walaupun hal ini merupakan suatu bentuk kebohongan, akan tetapi dilakukan untuk kebaikan umat, karena dakwah mereka tidak dapat dimungkinkan kecuali dengan cara ini.</p>
<p>Sebagian dari kelompok ini menganggap bahwa kedudukan para filosof dan wali lebih utama dibandingkan dengan para Nabi dan Rasul, karena mereka mengetahui yang sebenarnya, dan sebagian yang lain menganggap para Nabi dan Rasul lebih mulia dibanding filosof dan wali, karena mereka mengira bahwa para Nabi dan Rasul mengetahui yang sebenarnya akan tetapi mengabarkan pada umatnya dengan apa yang dapat diterima oleh umatnya. Kelompok ini banyak diikuti oleh golongan Filsafat Kebatinan dan para pengikut Ikhwan al-Shofa, juga Al-Farabi, Ibn Sina, al-Syahrurdi al-Maqthul dan Ibn Rusyd.</p>
<p>2. Kaum Perubah dan Pentakwil</p>
<p>Kaum ini berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul tidak mengungkapkan tentang Allah SWT, malaikat, surga dan neraka serta perkara ghaib lainnya kecuali untuk kebenaran, dan kebenaran adalah apa yang diketahui dan dibuktikan oleh akal kita, maka kemudian mereka mencoba untuk mentakwilkan ucapan-ucapan ini dengan apa yang mereka pandang cocok dengan pendapatnya, dengan beragam takwilan yang membawa bahasa asalnya untuk keluar dari pengertian yang sebenarnya, seperti halnya mereka merubah suatu lafadz dari satu makna ke makna lain yang mereka inginkan tanpa bertujuan untuk mengetahui maksud pembawa lafadz, walaupun sebenarnya mereka mengetahui maksud sebenarnya dari Sang Mutakallim. Jika setiap pentakwilan tidak bertujuan untuk menjelaskan makna yang dimaksud dari pembawa lafadz maka menurut Ibn Taimiyyah mereka telah melakukan kebohongan dengan menutupi makna asalnya, karena itulah menurutnya sebagian besar kaum filosof tidak secara tegas menyatakan takwilannya, akan tetapi kebanyakan mereka mengatakan: “ ini boleh dimaksudkan begini…” dan sebagainya yang tujuannya untuk menunjukkan adanya kemungkinan-kemungkinan dalam suatu lafadz. Secara global menurutnya, ini adalah metode kebanyakan ahli kalam, seperti: Mu’tazilah, Kullabiyah, Salimiyah, Karramiyah dan Syi’ah.</p>
<p>E Metode Pembodohan</p>
<p>Inilah yang menurut Ibn Taimiyyah sebagai ahli kesesatan dan kebodohan, dimana mereka berpedoman bahwa para Nabi dan Rasul serta seluruh pengikutnya adalah orang-orang bodoh lagi sesat, yang tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah SWT dari apa yang disifati-Nya untuk diri-Nya sendiri yang tertuang dalam ayat-ayat-Nya. Adapun sebagian lain dari kelompok ini mengatakan bahwa kandungan dari ayat-ayat Allah SWT sebenarnya bertentangan dari apa yang tampak dari lahiriyah teks, dan tidak ada satupun dari para Nabi, Rasul, Malaikat, Sahabat dan Ulama yang mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah seperti halnya mereka tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat.</p>
<p>Antara Ibn Taimiyyah dan Al-Ghazali</p>
<p>Berbeda dengan Ibn Taimiyyah, Al-Ghazali mempelajari dan mendalami filsafat adalah untuk menyingkap kebenaran-kebenaran yang mungkin akan ditemukan didalamnya, yang mana dalam hal ini ia berpedoman, bahwa keraguan adalah sarana untuk sampai pada keyakinan. Setelah mendalami filsafat ia mendapatkan kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh para filosof, maka kemudian ia mencoba untuk keluar dari filsafat dan kembali kepada agama serta menenggelamkan dirinya dalam dunia kesufian untuk selanjutnya menggunakan pengetahuannya tentang filsafat untuk menyingkap kesesatan-kesesatan para filosof dalam karyanya “Tahâfut Al-Falâsifah”. Akan tetapi pada kenyataannya Al-Ghazali tidak bisa benar-benar lepas dari filsafat, dimana dalam jiwanya masih tersisa pengaruh filsafat, karena ketika ia memutuskan untuk meninggalkan filsafat, pikirannya sudah terbentuk kedalam pola pemikiran filsafat, bahkan kemudian ia mengambil salah satu cabang filsafat sebagai bahan kajian utamanya, yaitu ilmu mantiq yang menurutnya merupakan salah satu unsur dasar dalam mempelajari Ushul Fiqh, ia meyakini bahwa tidak mungkin memahami suatu keilmuan secara sempurna kecuali dengan ilmu mantiq.</p>
<p>Kritik Ibn Taimiyyah terhadap Al-Ghazali tentang kejadian jisim dan alam</p>
<p>Ketika Al-Ghazali menjelaskan tentang kesalahan kaum filosof tentang pengingkaran Wujud Yang Pertama sebagai jisim, dikarenakan mereka mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kadangkala mengharuskan penggabungan antara dua hal yang bertentangan, atau kadangkala membuang keduanya, maka disini Ibn Taimiyyah mengkritik dalil-dalil yang digunakan Al-Ghazali dan pengikutnya yang hanya memasukkan sedikit saja dalil-dalil Qur’an dalam penjelasannya, ia menganggap Al-Ghazali dan pengikutnya seolah-olah tidak mengetahui atau mengabaikan dalil-dalil Qur’an yang dianggapnya lebih cocok untuk diterapkan. Sebagaimana dalam masalah kejadian alam dimana Al-Ghazali dan pengikutnya hanya memfokuskan kritikannya pada dua ungkapan kaum filosof:</p>
<p>1. Ungkapan tentang hal lebih dulunya alam (Qidam Al-‘Alam), dimana menurut para filosof apabila hal ini muncul dari adanya sebab yang mewajibkannya, maka akibat harus bergandengan dengan sebabnya dalam hal kekekalan dan keabadiannya.</p>
<p>2. Ungkapan bahwa perkara yang dikerjakan munculnya dibelakang penciptanya, dan bahwa pencipta tidak boleh selalu bersabda dan berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya.</p>
<p>Kemudian Ibn Taimiyyah membeberkan bahwa dalam pandangannya Al-Ghazali dan pengikutnya mengabaikan ungkapan yang benar yang telah disepakati oleh ulama salaf, bahwa akibat datangnya selalu mengiringi Sang Maha Penyebab, dimana apabila ia berkehendak mencipta sesuatu, maka sesuatu itu akan muncul mengiringi penciptaan itu, sebagaimana sabda-Nya: إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون “Sesungguhnya perintahnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘jadilah’ maka terjadilah ia” Dan inilah yang menurut Ibn Taimiyyah bisa dicerna oleh akal, yang menurutnya hanya boleh menerima hal-hal yang sederhana dan pasti (badihi), sebagaimana jatuhnya talak beriringan dengan pentalakan dan datangnya kebebasan beriringan dengan pembebasan. Maka yang Allah SWT inginkan akan terwujud dan yang tidak ia kehendaki tak akan pernah ada. Sudut pandang lain Ibn Taimiyyah terhadap filsafat</p>
<p>Kita semua hampir sepakat bahwa Ibn Taimiyyah merupakan sosok ulama yang menentang filsafat dengan keras, juga terhadap segala pemikiran keagamaan yang dibumbui oleh campur tangan akal. Akan tetapi kalau kita menelusuri lebih jauh sosok ini, kita akan menemukan warna yang berbeda dalam pendapatnya, warna yang menurut penulis menunjukkan kapasitas kaulamaannya secara murni tanpa dipengaruhi oleh gejala politik dan sosio-kultural yang berkecamuk pada zamannya, hal ini terungkap ketika ia menjelaskan tentang kemungkinan masuknya akal pada kehidupan agama dalam menjelaskan makna ayat-ayat Allah SWT, dengan batasan tidak untuk mengurai Dzat Allah SWT. Coba kita simak ungkapannya berikut ini:</p>
<p>“Adapun pengetahuan tentang makna ayat-ayat yang disampaikan Allah SWT selagi tidak dalam lingkup ketuhanan-Nya, maka pemikiran dan perkiraan bisa masuk kedalamnya, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an. Karena itulah, banyak dari ahli ibadah dan kaum sufi yang menganjurkan untuk melanggengkan dzikir dan menjadikannya sebagai pintu untuk sampai kepada kebenaran, hal ini akan lebih bagus apabila digabungkan dengan bertadabbur atas kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan banyak juga dari para pemikir dan ahli kalam yang menganjurkan untuk selalu berpikir dan merenung sebagai jalan untuk mengetahui kebenaran. Kedua metode ini mempunyai sisi kebenaran masing-masing, akan tetapi masih membutuhkan kebenaran yang terdapat pada yang lainnya, dan keduanya harus dibersihkan dari kesesatan-kesesatan yang mungkin masuk dalam keduanya dengan cara mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Allah SWT dan para Rasul-Nya.”</p>
<p>Dalam lembaran lainnya Ibn Taimiyyah kembali membuktikan kapasitasnya sebagai seorang mujaddid dengan membagi ilmu dalam dua golongan:</p>
<p>1. Ilmu yang didapat dari akal. Seperti matematika, kedokteran, perdagangan dan sebagainya, yang selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu filsafat yang berupa mantiq, ilmu alam dan astronomi yang berasal dari India dan Yunani beserta ilmu-ilmu lain dari Romawi dan Persia, ketika masuk dalam dunia Islam, orang-orang Islam mengoreksi, memperbaiki dan menyempurnakannya dengan berbekal kekuatan akal dan kefasihan bahasanya. Maka menurutnya ilmu-ilmu ini dalam tangan kaum muslim menjadi lebih sempurna, lebih mencakup dan lebih gamblang, walaupun selanjutnya ia mengecualikan permainan akal dalam masalah agama, khususnya dalam masalah ketuhanan. 2. Ilmu yang dihasilkan dari petunjuk para Nabi dan Utusan.</p>
<p>Telaah Mantiq Ibn Taimiyyah</p>
<p>Ibn Taimiyyah mendapatkan pengetahuan tentang mantiq dengan mempelajari mantiq Aristoteles (322-384 SM) dimana sebagian besar ulama muslim berkiblat kepadanya, sebagaimana ia mempelajari filsafat, iapun mempelajari mantiq untuk mencari titik kelemahan dari ilmu ini, dan setelah ia merasa cukup ia pun mulai memberontak terhadap ilmu yang dianggapnya sebagai ilmu orang-orang murtad ini, ia menggerakkan masyarakat disekitarnya untuk menentang keberadaan ilmu ini dalam dunia Islam, dengan menjelaskan bahwa mantiq merupakan barang asing bagi ranah pemikiran Islam, dan untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam tidak membutuhkan ilmu ini. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa mantiq sama sekali tidak dapat digunakan sebagai timbangan kebenaran sebagaimana selama ini didengungkan oleh kaum filosof, karena menurutnya mantiq hanyalah berisi khayalan dan angan-angan.</p>
<p>Tidak cukup sampai disini, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya para fuqaha sebelum masa Al-Ghazali memandang mantiq dengan pandangan kebencian dan penuh waspada terhadapnya dengan tujuan untuk menjaga ilmu Islam. Al-Ghazali lah yang menurutnya sebagai orang pertama yang menyatakan keharusan mengambil mantiq untuk menyempurnakan ilmu-ilmu keislaman. Ia kemudian mengkutip ungkapan Ibn Sholah yang menuturkan kesesatan ilmu mantiq: “Mantiq adalah pengantar filsafat, dan pengantar kesesatan adalah sesat, dan bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya bukanlah perkara yang diperbolehkan oleh Pembuat Syari’at, dan tidak ada satupun dari para Sahabat, Tabi’in, dan Imam Mujtahid yang memperbolehkanya, sebagaimana pula para Ulama Salaf dan pengikutnya”</p>
<p>Selanjutnya Ibn Taimiyyah mengkritik pengunaan istilah-istilah filsafat dan mantiq dalam khazanah keilmuan Islam: “ Sesungguhnya ini ( mantiq) merupakan suatu bentuk pengingkaran yang buruk dan model baru dari kebodohan. Dan pada dasarnya hukum syari’at tidak membutuhkan mantiq, apa yang disangka pakar mantiq tentang mantiq sebagai penentu dan burhan hanyalah gelembung-gelembung yang diberikan Allah SWT. kepada setiap jiwa yang sehat, lebih-lebih dalam penggunaannya sebagai teori ilmu-ilmu syari’at. Karena ilmu syari’at telah sempurna dan para ulama sudah mendalami kebenarannya dengan sedetail-detailnya sehingga tidak dibutuhkan lagi ilmu mantiq ataupun filsafat beserta para filosofnya. Dan barang siapa yang menganggap bahwa ia mendalami mantiq dan filsafat dengan harapan mendapatkan manfaat dari keduanya, maka sesungguhnya ia telah tertipu oleh syetan.”</p>
<p>Ibn Taimiyyah juga menyerang mantiq dari segi ketidakmanfaatan ilmu ini, ia mengungkapkan bahwa tidak ada gunanya bagi seseorang mempelajari ilmu ini, baik itu secara keilmuan maupun teori, dengan dalih tidak ditemukannya satupun dari penduduk bumi yang berhasil menciptakan suatu ilmu dan menjadi pemuka didalamnya dengan berbekal ilmu mantiq, baik ilmu agama maupun lainnya. Dokter, Arsitek, Penulis, Ahli Statistik dan lainnya menurutnya mendalami keilmuannya dan mengeluarkan produknya tanpa pertolongan mantiq, sebelum mantiq datang pun para ulama Islam telah berhasil menyusun ilmu-ilmu nahwu, arudh, dan fiqh beserta ushulnya.</p>
<p>Tidak cukup dengan ini, Ibn Taimiyyah meneruskan serangannya pada ide dasar keilmuan ini yang bersumber pada pembagian ilmu menjadi tashawwur(visualisasi) dan tashdiq(legalisasi) dimana jalan untuk mendapatkan tashawwur adalah dengan had (definisi) dan jalan untuk mendapatkan tashdiq adalah dengan qiyas(analogi), juga tentang kalam yang terbagi menjadi empat tingkatan: dua tingkatan salbiah (negatif) dan dua tingkatan mujabah (positif), semua pembagian ini dianggap Ibn Taimiyyah sebagai suatu betuk kebohongan dan kebodohan baik dalam penafian maupun penetapannya, maka selanjutnya ia mengingkari segala kebenaran yang diperoleh dengan sylogisme mantiq dan analogi mantiq.</p>
<p>Kesimpulan Dan Penutup</p>
<p>Dari berbagai uraian diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa watak dan ungkapan seseorang merupakan cerminan dari situasi politik dan sosio-kultural suatu masa, dimana semakin tinggi tingkat pressing suatu zaman terhadap apa yang dipangkunya, maka semakin kuat pula daya balik yang diakibatkannya, kondisi &#8220;masyarakat terpaksa&#8221; yang serba panik dicekam oleh ketakutan perang dan dibumbui oleh perpecahan intern sudah sewajarnya berdampak pada kejiwaan kumpulan masyarakat ini. Apalagi ditambah ruwetnya pertentangan antar pemikiran dan masuknya ilmu-ilmu dari peradaban lain. Maka yang agaknya menjadi fokus pertanyaan kita adalah:</p>
<p>&#8220;Tepatkah ungkapan-ungkapan atau fatwa-fatwa yang tumbuh dalam kondisi politik dan sosio-kultural semacam ini untuk diterapkan dalam kondisi yang menjadi latar belakang kita saat ini?&#8221;. Sebuah pertanyaan dari penulis yang semoga bisa mengantarkan kita untuk terus mencari dan memahami berbagai kejadian histories, untuk kemudian kita bisa mengambil manfaat dari apa yang kita pahami, khususnya dari sosok Ibn Taimiyyah yang kita bahas saat ini. Akhirnya beribu ungkapan terimakasih saya persembahkan untuk Ayah dan Bunda yang selalu dan senantiasa mando&#8217;akan anaknya ini, dan tak lupa ungkapan rasa salut kepada segenap rekan-rekan Fismaba selalu berusaha untuk menambah wawasannya, permohonan maaf dari saya apabila dalam tulisan ini masih terdapat banyak kesalahan. Allah…terimakasih atas segala karunia-Mu, karena semuanya adalah milik-Mu, dari-Mu lah kami bisa memahami dan mengambil manfaat dalam segalanya.</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2Ffilsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah%2F&amp;t=Filsafat%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FFilsuf%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FIbn%20Taimiyyah" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Filsafat%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FFilsuf%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FIbn%20Taimiyyah%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2Ffilsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2Ffilsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah%2F&amp;title=Filsafat%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FFilsuf%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FIbn%20Taimiyyah&amp;annotation=Fenomena%20Filsafat%20Dan%20Mantiq%20Ibn%20Taimiyyah%0D%0A%0D%0AOleh%3A%20Ilham%20Mustofal%20Ahyar%0D%0A%0D%0A%D9%81%D9%85%D9%86%D9%87%20%D9%86%D8%AA%D8%B9%D9%84%D9%85%20%D9%88%D8%A8%D9%87%20%D9%86%D8%AA%D9%83%D9%84%D9%85%20%D9%88%D9%81%D9%8A%D9%87%20%D9%86%D9%86%D8%B8%D8%B1%20%D9%88%D9%86%D9%81%D9%83%D8%B1%20%D9%88%D8%A8%D9%87%20%D9%86%D8%B3%D8%AA%D8%AF%D9%84%20%D9%88%D9%86%D8%AD%D9%83%D9%85%0D%0A%0D%0AIftitah%0D%0A%0D%0ADisamping%20fitrah%20untuk%20beragama%20yang%20ditanamkan%20Tuhan%20dalam%20jiwa" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2Ffilsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah%2F&amp;title=Filsafat%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FFilsuf%20Islam%20Pasca-Ibn%20Rusyd%2FIbn%20Taimiyyah&amp;bodytext=Fenomena%20Filsafat%20Dan%20Mantiq%20Ibn%20Taimiyyah%0D%0A%0D%0AOleh%3A%20Ilham%20Mustofal%20Ahyar%0D%0A%0D%0A%D9%81%D9%85%D9%86%D9%87%20%D9%86%D8%AA%D8%B9%D9%84%D9%85%20%D9%88%D8%A8%D9%87%20%D9%86%D8%AA%D9%83%D9%84%D9%85%20%D9%88%D9%81%D9%8A%D9%87%20%D9%86%D9%86%D8%B8%D8%B1%20%D9%88%D9%86%D9%81%D9%83%D8%B1%20%D9%88%D8%A8%D9%87%20%D9%86%D8%B3%D8%AA%D8%AF%D9%84%20%D9%88%D9%86%D8%AD%D9%83%D9%85%0D%0A%0D%0AIftitah%0D%0A%0D%0ADisamping%20fitrah%20untuk%20beragama%20yang%20ditanamkan%20Tuhan%20dalam%20jiwa" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/filsafat-islam-pasca-ibn-rusydfilsuf-islam-pasca-ibn-rusydibn-taimiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“TANAH JAWA : INILAH NEGERI PARA NABI”</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/%e2%80%9ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%e2%80%9d/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=%25e2%2580%259ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%25e2%2580%259d</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/%e2%80%9ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 15:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FB Testimoni]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Yang telah terkubur oleh sejarah, bahkan oleh mereka yang menamakan diri “PENGANUT KEJAWEN”, dari hasil riset peneliti muda yang tergabung dalam Tim Studi Sains Alqur’an sebagaimana dipublikasikan di situs http://www.ssq-dla.com/ dimana mereka telah menyelenggarakan “EKSPEDISI MENJELAJAH NEGERI PARA NABI”, mereka menemukan bahwa situs Nabi Daud dan Sulaiman ada di Jawa Tengah, sedang situs Nabi Nuh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang telah terkubur oleh sejarah, bahkan oleh mereka yang menamakan diri “PENGANUT KEJAWEN”, dari hasil riset peneliti muda yang tergabung dalam Tim Studi Sains Alqur’an sebagaimana dipublikasikan di situs http://www.ssq-dla.com/ dimana mereka telah menyelenggarakan “EKSPEDISI MENJELAJAH NEGERI PARA NABI”, mereka menemukan bahwa situs Nabi Daud dan Sulaiman ada di Jawa Tengah, sedang situs Nabi Nuh ada di Jawa Timur dimana di daerah ini terdapat kembaran Gunung Ararat di Turki yaitu gunung tempat berlabuhnya perahu Nabi Nuh, fosil perahu ini setelah diteliti archeolog Belanda menyimpulkan bahwa perahu tsb terbuat dari kayu jati berkapur, kayu ini hanya ada di Jawa. Setelah fosil kayu ini umurnya diukur melalui tehnik Isotop C14, ternyata Nabi Nuh hidup setelah zaman Nabi Ibrahim dan tempat tinggalnya di Tanah Jawa, fakta ini tentu memerlukan kajian lebih lanjut apakah benar fosil perahu tersebut adalah fosil perahu Nabi Nuh.</p>
<p>Majalah Times edisi 1 Februrari 2010, memuat pernyataan Ravael Grinberg, seorang dosen di Universitas Tel Aviv. Ia mengatakan, “Secara teori, seharusnya Anda sudah mendapatkan sesuatu hanya setelah melakukan penggalian selama enam minggu. Tapi nyatanya setelah dilakukan penggalian tanpa henti selama dua tahun, tidak ada hasil apapun yang memuaskan.”</p>
<p>Times menyebutkan, dalam empat tahun terakhir, berbagai organisasi Yahudi ekstrim sudah mengepung kota Jerussalem untuk melakukan penggalian bawah tanah di sekitar dan bawah Masjid Al Aqsha. Termasuk Organisasi Eilad, yang juga focus bekerja untuk mendirikan pemukiman imigran yahudi di Jerusalem . Selain itu, juga lembaga Eir David yang focus melakukan penggalian di Silwan. Menurut Profesor Finskltain asal Israel , yang juga ilmuwan sejarah di Universitas Tel Aviv, “Mereka yang melakukan penggalian bawah tanah di Jerussalem mencampur adukkan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Eilad meyakini dogma agama bahwa ada peninggalan sejarah Daud di sana , tapi sampai sekarang tak pernah ditemukan.”</p>
<p>Selain itu, Profesor Yone Mazarahe, juga pakar arkeologi Israel mengatakan, “Eilad tidak menemukan apapun dari penggalian. Bahkan sekedar plang tulisan “Selamat Datang” di Istana Daud, juga tidak ditemukan. Mereka hanya mendasarkan keyakinan pada teks teks yang dianggap suci oleh mereka sebagai panduan penggalian.”<br />
Dari fakta2 ini, bisa saja kita simpulkan bahwa Bani Jawi (suku2 di Nusantara) ini adalah Bani Israel yang tetap beriman kepada Nabi Musa dan mendiami tanah yang dijanjikan (THE PROMISED LAND) yaitu Benua Atlantis yang sekarang disebut Indonesia, sedang Bani Israel yang berdiaspora ke seluruh dunia adalah mereka yang dikutuk oleh Allah karena mendustakan Nabi Musa AS. Adapun Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina sebenarnya Yahudi produk rekayasa, maksudnya Bani Israel dari suku ke 13 yaitu SUKU KAZAR, hasil kawin campur Bani Israel yang berdiaspora dengan penduduk lokal dan saat ini posisinya mayoritas. Klaim atas Yerusalem sebenarnya sebuah kekeliruan yang disengaja, padahal Yerusalem, Temple of Solomon dan Taabut yang mereka cari selama ribuan tahun berada di Tanah Jawa yaitu CANDI BOROBUDUR DAN NEGRI SLEMAN di Yogyakarta.<br />
Dalam Alqur’an “taabut” mempunyai arti “kode rahasia kerajaan” yang disimpan oleh Nabi Daud, saat ini “taabut” tsb sedang dibuka rahasianya melalui candi2 yang dibangun sejak zaman Nabi Sulaiman khususnya “Candi Borobudur”, perlu diingat sebenarnya kata “CANDI” berasal dari kata “SANDI” artinya “KODE RAHASIA”, dengan demikian rahasia jejak para nabi akan segera terkuak setelah ayat Allah berupa tulisan bergambar yang ada pada candi2 di Negeri Sleman di “puzzle”kan dengan ayat2 Allah dalam Alqur’an.</p>
<p>Sebagian besar ummat Islam saat ini terkecoh oleh keyakinan bahwa ” Palestina” adalah negeri yang diberkahi dan Yerusalem adalah kota suci Islam ketiga setelah Makkah dan Madinah, hal ini karena ummat Islam banyak terpengaruh hadits2 Israeliyat khususnya tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Perlu ekstra hati2 dlm mengutip hadits tentang Isra’ Mi’raj karena sebagian besar hadits palsu dan dibuat oleh kaum munafik dari kalangan Bani Israel, para ahli hadits menyebutnya sebagai HADITS ISRAILIYAT. Karena hadits2 inilah ummat Islam di luar Palestina terseret dalam permusuhan dengan Israel dan menjadikan Yerusalem sebagai kota suci ketiga ummat Islam, padahal waktu kanjeng Nabi Isra’ Mi’raj apa yang disebut Masjidil Aqsa sebenarnya adalah Gereja, waktu itu Yerusalem masih dikuasai Roma. Kalo waktu itu dikatakan Nabi menjadi imam shalat berjamaah dengan para Nabi, pertanyaannya shalat apakah gerangan ?<br />
Sementara dalam hadits2 Israiliyat tsb dikatakan Isra’ Mi’raj dalam rangka menjemput perintah shalat 5 waktu sebagai hasil transaksi antara Nabi dengan Allah SWT dengan Nabi Musa sebagai konsultannya, pertanyaan berikutnya adalah mengapa harus Nabi Musa yang menjadi rujukan Nabi Muhammad ? Inilah cerdasnya Bani Israel yang telah berhasil menusuk jantung aqidah ummat Islam melalui hadits2 palsunya hingga ummat Islam terpecah belah, energi terkuras habis karena terseret dalam pusaran “Konflik Israel &#8211; Palestina”, sementara Bani Israel karena ketekunannya telah berhasil menguasai dunia melalui infiltrasi kesegenap lini kehidupan.</p>
<p>Saat ini fokus mereka adalah Indonesia khususnya Tanah Jawa, mengapa Jawa ?<br />
Dalam Alqur’an dikatakan bahwa “ULAMA2 (ILMUWAN) BANI ISRAEL” mengenal Alqur’an sebagaimana mereka mengenal anak2nya sendiri, cobalah kita mengambil ibrah dari kemampuan Nabi Daud As dalam teknologi peleburan besi dan manajemen pengelolaan gunung yang diwariskan di Tanah Jawa ( Atlantis ) banyak meninggalkan bangunan2 misteri semisal Candi Borobudur, Piramida2 Mesir dan Piramida Aztek. Dalam peradaban ini para pendirinya adalah 3 sosok yang luar biasa yaitu Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis yang masing2 diberi kelebihan oleh Allah SWT.</p>
<p>Sampai saat ini negeri kita adalah satu2nya negeri yang paling banyak diwarisi gunung berapi dan deposit besi titanium tak terbatas, yang tersebar di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Besi titanium ini sejak zaman Nabi Daud sampai sekarang digunakan sebagai bahan baku pembuatan senjata khususnya KERIS, besi titanium ini juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan “PESAWAT RUANG ANGKASA”, dan saat ini disekitar Candi Borobudur sedang dipersiapkan berdirinya Perguruan Tinggi Nuklir yang akan mempersiapkan desain dan pembuatan “PESAWAT PIRING TERBANG” oleh Tim SSQ, hanya dengan menguasai teknologi pesawat piring terbang, ummat Islam bakal mampu mengalahkan Zionis Israel dan para pendukungnya yang cenderung semakin destruktif di muka Bumi,</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;Yahudi memang hanya bisa dikalahkan oleh Yahudi beriman karena memang kecerdasan dan ilmunya juga sepadan&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Sekarang ini banyak perusahaan2 skala dunia yang secara tersembunyi berafiliasi dengan Israel berlomba-lomba mengajukan ijin untuk mendirikan pabrik peleburan besi titanium di pantai selatan Jawa, sementara perusahaan2 besar lainnya yang sebagian besar juga milik orang Yahudi, baik Yahudi Eropa maupun Amerika sudah malang melintang menguasai hajat hidup bangsa Indonesia, sepertinya mereka akan mengembalikan penjajahan ala VOC tempo dulu (VOC adalah perusahaan milik Yahudi Belanda yang berhasil menjajah Indonesia).</p>
<p>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=120276168016492&amp;id=137779959568548&amp;ref=mf" target="_blank">Mas Kholid Mawardi</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2F%25e2%2580%259ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%25e2%2580%259d%2F&amp;t=%E2%80%9CTANAH%20JAWA%20%3A%20INILAH%20NEGERI%20PARA%20NABI%E2%80%9D" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=%E2%80%9CTANAH%20JAWA%20%3A%20INILAH%20NEGERI%20PARA%20NABI%E2%80%9D%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2F%25e2%2580%259ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%25e2%2580%259d%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2F%25e2%2580%259ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CTANAH%20JAWA%20%3A%20INILAH%20NEGERI%20PARA%20NABI%E2%80%9D&amp;annotation=Yang%20telah%20terkubur%20oleh%20sejarah%2C%20bahkan%20oleh%20mereka%20yang%20menamakan%20diri%20%E2%80%9CPENGANUT%20KEJAWEN%E2%80%9D%2C%20dari%20hasil%20riset%20peneliti%20muda%20yang%20tergabung%20dalam%20Tim%20Studi%20Sains%20Alqur%E2%80%99an%20sebagaimana%20dipublikasikan%20di%20situs%20http%3A%2F%2Fwww.ssq-dla.com%2F%20dimana%20mereka%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F07%2F01%2F%25e2%2580%259ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%25e2%2580%259d%2F&amp;title=%E2%80%9CTANAH%20JAWA%20%3A%20INILAH%20NEGERI%20PARA%20NABI%E2%80%9D&amp;bodytext=Yang%20telah%20terkubur%20oleh%20sejarah%2C%20bahkan%20oleh%20mereka%20yang%20menamakan%20diri%20%E2%80%9CPENGANUT%20KEJAWEN%E2%80%9D%2C%20dari%20hasil%20riset%20peneliti%20muda%20yang%20tergabung%20dalam%20Tim%20Studi%20Sains%20Alqur%E2%80%99an%20sebagaimana%20dipublikasikan%20di%20situs%20http%3A%2F%2Fwww.ssq-dla.com%2F%20dimana%20mereka%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/07/01/%e2%80%9ctanah-jawa-inilah-negeri-para-nabi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Poligami</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/21/poligami/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=poligami</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/21/poligami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 06:11:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FB Testimoni]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Nuril]]></category>
		<category><![CDATA[Poligami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Gus Nuril Arifin : Fatimatul Zahra putri Rosulullah ditanyai sayidina Ali ra; apakah engkau mengijinkan seandainya aku kawin lagi ? di jawab monggo saya ikhlas. Sayidina Ali sholat ashar,sebelumnya menitipkan sebutir telor sembari berpesan, pegang telor ini. Seusai solat telornya itu sudah matang digenggaman. Meski putra nabi, jika mengerti suami kawin lagi, tetap saja hatinya membara. Makanya jangan coba coba mendua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Diskusi ini saya ambil dari status <strong><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000787393619" target="_blank">Gus Nuril Arifin</a></strong> tentang poligami di Facebook . Bagi saya pribadi ini sangat menarik dan bermanfaat sekali. Monggo kalau mau baca-baca.</div>
<div><strong>Gus Nuril Arifin </strong>:</div>
<div>&#8220;<em><strong>Fatimatul Zahra</strong> putri Rosulullah ditanyai sayidina Ali ra; apakah engkau mengijinkan seandainya aku kawin lagi ? di jawab monggo saya ikhlas. Sayidina Ali sholat ashar,sebelumnya menitipkan sebutir telor sembari berpesan, pegang telor ini. Seusai solat telornya itu sudah matang digenggaman. Meski putra nabi, jika mengerti suami kawin lagi, tetap saja hatinya membara. Makanya jangan coba coba mendua.</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Irwansyah Nuzar</strong> :</div>
<div>&#8220;<em>hahaha sebuah riwayat yang bagus&#8230; jadi walaupun ikhlas hati tetep panas Gus. Semoga Bundanya anak2 bisa lebih siap&#8230; hahaha&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin </strong>:</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Yang namanya perasaan, itu sama saja.uji keikhlasan ini di ulang ulang sayidina Ali. dan hasilnya sama. meskipun lesan sayidiatina Fatimah mengatakan ikhlas monggo. tetap saja ketika disuruh memegang telor mateng lagi matang lagi, betapa panasnya hati seorang istri mendengar atau jika diminta ijin kawin lagi, sampai sampai telor dalam genggaman tanpa direbus bisa matang.</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>kabar ini disampaikan kepada Nabi. Maka kemudian nabi melarang sayidina Ali untuk kawin lagi selagi putrinya masih hidup.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Dan menjelang Rosul meninggal berpesan, jangan khawatir putriku setelah aku kembali maka engkau segera menyusulku. ina lillahi wa ina ilaihi rojiuan sang empu surga itu akhirnya menyusul sang Rosul sebulan kemudian setelah rosul menghadap Allah untuk menjagai umatnya di akherat. dan menempatkan putrinya sebagaia salah satu empunya surga&#8221;</em>.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin :</strong></div>
<div id="_mcePaste"><em>&#8220;Sebuah riwayat menyebutkan,ketika sayidatina Fatimah di tanya sedang bersandar di pohon korma, dan setelah menjawab pertanyaan sayidina Ali, kemudian sayidatina Fatima merenung, dan pohon kurma yang disandari berasal terbakar. Masya Allah. Panasnya api bisa disiram air, panasnya hati siapa yang bisa meredam ? maka kalau tidak karena jihad dan terpaksa jangan coba coba,atau telormu kepingin matang dalam genggaman ? hahahaha</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Agus Maftuh Abegebriel</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Ketika Ali mau poligami, Nabi marah dg mengeluarkan statemen Man adzaha faqod adzani siapa menyakiti Fatimah berarti menyakiti aku.&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin :</strong></div>
<div id="_mcePaste"><em>&#8220;Bukan marah,hanya mengingatkan,sekaligus memurnikan keturunan. Karena nabi sudah mengetahui kejadian pembantaian Hasan dan Husein, sejak beliau berdua dalam gendongan pundak rosul dalam setiap solat beliau.</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Rosulullah selalu dijadikan kuda kudaan oleh dua putra surga Hasan dan Husein, dan ketika sayidina umar mengetahui, beliau berkomenatar ya Husin ya Hasan engkau menunggang kuda ?</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>dijawab rosul, dua pemimpin umat ini menunggang kuda terbaik,sembari terbayang bahwa cucu terkasih sekaligus &#8216;anak angkat&#8217; nya ini akan mati muda. Rosul tidak menunjukan kedukaan meskipun sudah tahu kalau cucunya mati terbantai di usia muda.</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Zen Tobbleh :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Kalo nabi sendiri gmn gus, waktu beliau kawin lagi? apakah istri2nya ikhlas..?</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Maria Ulfah :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Ahmad Zaki Yamani :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Ya gus,setuju. tp sy tdk tau berapa tulang rusuk sy yg hilang. katanya wanita tercipta dr &#8220;tulang rusuk&#8221;. mohon petuah nasehat!&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Wafa Ennisa :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>great status&#8230; 4 jempOL guz&#8230; <img src='http://blog.sangsurya.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> :D&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin</strong> :</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Status ini menjadi perenungan dan jangan dijadikan medan perdebatan. Karena amalan yang paling muliya adalah melewati ilmu yang luhur dengan saringan perenungan. Jika engkau merenung di malam malam di masjid hanya satu detrik saja, maka pahala yang engkau terima sama dengan 80 tahun ibadahnya ahli abid. Maka pakailah ilmu dan perenungan,bukan untuk perdebatan yang melahirkan khilafiah dan fitnah. suwun. tetapi komentar lucu di bolehkan hahahahahahahaha&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Lu Azin :</strong></div>
<div id="_mcePaste">&#8220;<em>Soale iman marang khodho lan khodar niku ngeh wajib&#8230;..terusse bab wong wedok kang di wayuh ganjarane nopo mbah&#8230;&#8230;.nyuwun di jabarake&#8230;&#8230;.hehehehe sekalian mangpaat ge istri. (Permasalahannya iman kepada qodo&#8217; dan qodar itu juga wajib &#8230; lalu tentang seorang perempuan yang di wayuh pahalanya apa mbah &#8230; minta dijelaskan &#8230; hehehe sekalian manfaat untuk istri)&#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin Tiga :</strong></div>
<div id="_mcePaste"><em>&#8220;Jika ikhlas ganjarannya(pahalanya) surga. Tetapi jarang ada perempuan yang ikhlas. dan jarang ada laki laki yang adil. Jangan menjadiakan kodrat sebagai dasar perbuatan kita. karena kodrat bisa di wiradati. Qodarnya Allah juga dapat dirubaha dengan do&#8217;a. maka sebelum melakukan sebaiknya dilakukan perenunganlah. wong rasane yo podo wae kok (wong rasanya sama saja kok).hahahahaha </em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Lu Azin : </strong></div>
<div>&#8220;<em>hahaahahaha&#8230;&#8230;ngeh matur suwun&#8221;</em>.</div>
<div id="_mcePaste">dados enten imbal balikke ngoten mbah&#8230;&#8230;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Lu Azin : </strong></div>
<div>ngeh mbah&#8230;.kok ngertos rasane sami mawon ngeh pun ngraosaken ngeh mbah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;hehehehe.guyon.com</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Hendri Gunadi</strong> :</div>
<div><em>&#8220;Gus,,, klo dilihat dari keikhlasan istri untuk merelakan suaminya menikah lagi &#8230; ya susah..</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>tp, mungkin pahala yang akan di terima oleh istri itu dari kesabarannya ketika menghadapi suaminya yg menikah lagi&#8230;</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>bukan dari keikhlasannya&#8230; kan susah klo di lihat dari ikhlasnya ..he</em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin:</strong></div>
<div>&#8220;<em>lha iyo no engkoh Lu azin. Masak giliran mengambil sunah yang urusan kawin, giliran tanggung jawab jurus endo (menghindar). Menafkahi yatim emoh, menolong fakir miskin tidak pernah, Shodaqoh jarang dilakukan, Shalat berjamaa&#8217;ah tidak pernah. bahkan silaturahmi malas, ngambil nya sunah cuma ngingu jenggot (memelihara jambang) sama istri banyak, itu mah sunah ngawur namanya. Jenggot gak usah di ingu kan tumbuh sendiri. Tetapi kalau jenggotmu cuma 13 biji masa mau di panjangin, kan kaya toa pek kong nya klenteng dong batu hahaha. Nabi mengajarkan ilmu, maka yang pandai pandai mensarikan agama, jangan asal kan ? bukan begitu ? </em>&#8220;</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Lu Azin :</strong></div>
<div><em>&#8220;hehehehe&#8230;&#8230;soale niku kesrimpet oyot pakes teji&#8230;..ngoten mbah.(kesurupan nepsu)hahahahaha &#8230; &#8220;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Ratih Kusumawardani : </strong></div>
<div><strong> </strong>&#8220;<em>Wah, mayoritas wanita pasti setuju dg Gus Nuril.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Nggak cuma cewek yg hrs menundukkan pandangannya, para suami jg harus gitu jg ya, menundukkan kepala spy tidak tergoda utk mduakan istri.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>Salut&#8230; Gus! <img src='http://blog.sangsurya.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8221;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Salim Fauzy Fauzy :</strong></div>
<div><em>Hehehe&#8230;bisaaa aja Gus bikin wanita pada seneng ! Buat juga tausiah untuk kaum hawa biar ada perhatian lebih sama suami. Salam Gus !</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Lu Azin</strong> :</div>
<div><em>ngeh niku niat kulo sami kalian mbah slamet fauzy.</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Bonny Khan :</strong></div>
<div><em>waduh&#8230;.,maaf gus bikin status dan perkenalan kita yg telat,saya sudah terlanjur mentigakan istri saya,,trus mesti gimana tuh,kalo smuanya gak ada yg ikhlas ?</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin :</strong></div>
<div id="_mcePaste"><em>maka ketika engkau menyuguhkan nasi diatas piring suamimu, yakinkan bahwa itu hasil masakanmu,sebagaimana fatimah, tangannya berdarah karena menggiling gandung buat suaminya sayidina Ali, sampai rosul sendiri menitikan air mata,dan bersabda;</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>menggiling gandum untuk suamimu itulah yang membuat arasy bergetar dan menjadikanmu sebagai salah satu empunya surga wahai fatimah.</em></div>
<div id="_mcePaste"><em>sudahkan perempuan dan wanita sholeh kita melakukannya ? atau hanya mengandalkan pembantu yang bernama babu untuk menyuguhkan dahar suami ?</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Ali Masrur :</strong></div>
<div><em>cerita itu shahih tdk Gus???</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Gus Nuril Arifin</strong></div>
<div><em> Mas Ali ,coaba buka kitab al muatho&#8217;nya imam malik,yang sudah di terbitkan dalam bahasa indoanesia,di sadur oleh Gus Adib Bisri,adiknya Gus Musthofa bisri rembang,insya Allah njenengan akan menemukannya,selamat membaca&#8230;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Ali Masrur : </strong><em>oke&#8230;</em></div>
<div id="_mcePaste"><strong>Akhmad Musta&#8217;in : </strong></div>
<div><strong> </strong><em>Yg disampaikan Gus Nuril ini jarang diungkap para dai ketika menjelaskan teks poligami</em></div>
<p><strong>&#8230;</strong></p>
<p>Diskusi ini cukup ramai dan banyak setatus. &#8230;</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F21%2Fpoligami%2F&amp;t=Poligami" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Poligami%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F21%2Fpoligami%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F21%2Fpoligami%2F&amp;title=Poligami&amp;annotation=Gus%20Nuril%20Arifin%20%3A%20Fatimatul%20Zahra%20putri%20Rosulullah%20ditanyai%20sayidina%20Ali%20ra%3B%20apakah%20engkau%20mengijinkan%20seandainya%20aku%20kawin%20lagi%20%3F%20di%20jawab%20monggo%20saya%20ikhlas.%20Sayidina%20Ali%20sholat%20ashar%2Csebelumnya%20menitipkan%20sebutir%20telor%20sembari%20berpesan%2C%20pegang%20telor%20ini.%20Seusai%20solat%20telornya%20itu%20sudah%20matang%20digenggaman.%20Meski%20putra%20nabi%2C%20jika%20mengerti%20suami%20kawin%20lagi%2C%20tetap%20saja%20hatinya%20membara.%20Makanya%20jangan%20coba%20coba%20mendua." title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F21%2Fpoligami%2F&amp;title=Poligami&amp;bodytext=Gus%20Nuril%20Arifin%20%3A%20Fatimatul%20Zahra%20putri%20Rosulullah%20ditanyai%20sayidina%20Ali%20ra%3B%20apakah%20engkau%20mengijinkan%20seandainya%20aku%20kawin%20lagi%20%3F%20di%20jawab%20monggo%20saya%20ikhlas.%20Sayidina%20Ali%20sholat%20ashar%2Csebelumnya%20menitipkan%20sebutir%20telor%20sembari%20berpesan%2C%20pegang%20telor%20ini.%20Seusai%20solat%20telornya%20itu%20sudah%20matang%20digenggaman.%20Meski%20putra%20nabi%2C%20jika%20mengerti%20suami%20kawin%20lagi%2C%20tetap%20saja%20hatinya%20membara.%20Makanya%20jangan%20coba%20coba%20mendua." title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/21/poligami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABDURAHMAN WAHID-WAHID</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=abdurahman-wahid-wahid</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bola Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan. Sayang Mesir tak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.</div>
<div id="_mcePaste">Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.</div>
<div id="_mcePaste">Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.</div>
<div id="_mcePaste">Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.</div>
<div id="_mcePaste">Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</div>
<p>Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.<br />
Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.<br />
Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.<br />
Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.<br />
Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.<br />
Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.<br />
Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;<br />
Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; color: #333333;">Ditulis Oleh: <a href="http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/kenduri-cinta/abdurahman-wahid-wahid/402949846563" target="_blank">Emha Ainun Nadjib</a></span></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;t=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;annotation=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;bodytext=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELAMAT JALAN PAHLAWANKU,TUTUR SAPAMU PENUH HIKMAH</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 15:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Nuril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;WALA TAHSABANALADZINA KUTILU FI SABILILLAHI AMWATAN BAL AHYA INDAROBIHIM YURZAQUN, &#8230;jangan engkau anggap seseorang yang meninggal di jalan Allah adalah mati,dia masih hidup,bahkan mendapatkan rejeki disisi Allah yang maha agung&#8221; (Al Qur&#8217;an) Syair : Akhir desember yang biru milyaran umat,mengenang jasamu sebagai bapak demokrasi tiada duanya di negeri ini. Wahai para penguasa yang kini sedang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">&#8220;WALA TAHSABANALADZINA KUTILU FI SABILILLAHI AMWATAN BAL AHYA INDAROBIHIM YURZAQUN,</div>
<div>&#8230;jangan engkau anggap seseorang yang meninggal di jalan Allah adalah mati,dia masih hidup,bahkan mendapatkan rejeki disisi Allah yang maha agung&#8221; (Al Qur&#8217;an)</div>
<div id="_mcePaste">Syair :</div>
<div id="_mcePaste">Akhir desember yang biru</div>
<div id="_mcePaste">milyaran umat,mengenang jasamu</div>
<div id="_mcePaste">sebagai bapak demokrasi</div>
<div id="_mcePaste">tiada duanya di negeri ini.</div>
<div id="_mcePaste">Wahai para penguasa</div>
<div id="_mcePaste">yang kini sedang bertahta</div>
<div id="_mcePaste">sudahkah tuan semua fikirkan</div>
<div id="_mcePaste">gelar pahlawan nasional,abdurahman wahid..</div>
<div id="_mcePaste">sang penebar kasih..abdurahman add dhakhil..</div>
<div id="_mcePaste">Selamat jalan pahlawanku,celotehmu penuh makna</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan pahlawanku,turusapamu yang hikmah</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan pahlawanku jasamu kukenang selalu</div>
<div id="_mcePaste">ach&#8230;gitu saja kok repot</div>
<div id="_mcePaste">semoga engkau dama disisi Nya</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan wahai bapak bangsa</div>
<div id="_mcePaste">kami siap jadi penggantimu</div>
<div id="_mcePaste">akan kuteruskan perjuangan mu</div>
<div id="_mcePaste">semoga engkau damai di sisi Nya</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan duhai sahabatku</div>
<div id="_mcePaste">aku jadi mata dan hatimu</div>
<div id="_mcePaste">akan ku tebarkan citra dirimu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;ya ayuhan nafsul muthma&#8217;inah irji&#8217;i ila robbiki rodhiatam mardiyah,fatkuli fi ibadi,fatkuli janati ..Allahuma inna nas aluka ridloka wal janah</div>
<div id="_mcePaste">wanaudzubika min sakhotika wan nar,ya azis ya ghofar</div>
<div id="_mcePaste">yaa robbal alamin.</div>
<div id="_mcePaste">Robbighfirli wali walidaya,warham huma kama robayni soghiroo&#8230;&#8230;&#8230;.</div>
<div id="_mcePaste">100 hari sang penakluk; (1)</div>
<div>Sejak meninggal dunia,sang walkiyullah dan wali internasional.bahkan Wali segala Agama itu tidak pernah hentinya kegiatan doa,solawat,yasinan,bacaan al qur&#8217;an,dipesantrenku sendiri para santri santri khafid membacakan alqur&#8217;an untuk beliau setelah didahului sholat ghoib.</div>
<div>Hampir semua TV menayangkan kehilangan sang putra terbaik bangsa ini,semua agama bersama para pengikutnya berdoa.Saya sendiri sampai heran,tokoh kristen seperti Pendeta Nathan,Gunarto dan DR .elyas dari isa al masyh,juga katholik mulai dari Romo Muji,Magnis,.Sapto dan Widi,juga semaua dipelosok negeri berdoa.Agama Kong Hucu,dan Budha serta Hindu,tidak kurang dari biksu Tji Tjai ing,dan temen temen Mas Wayan Suwisma,melantunkan puji doa.Langit terasa mendung dan kesejukan perdamaian sesaat di negeri yang sedang kisruh ini mengendur.Konsentrasi tertuju kepada seorang penakluk yang sering di sebut sebagai bapak bangsa, bapak demokrasi dan bapak reformasi sekaligus pluralisme.</div>
<div>Testimoni demi testimoni,muncul mulai dari KH Syafi&#8217;i Maarif, KH Hasyim Muzadi, Ady Masardhi, sampai Slamet Gundono, si dalang kontemporer wayang suket yang memang sudah menjadi &#8216;Anak&#8217; Gus Dur. Di halaman rumah Gus Dur, di bilangan Cinganjur sudah padat dengan ratusan ribu penziarah. Memang sejak meninggal sampai hari ke seratusnya tidak henti masa mengalir ke ndalem maupun ke pasarean beliau di Jombang, Jawa Timur.</div>
<div id="_mcePaste">Di seratus harinya Gus Dur, sebenarnya tidak di monopoli di Ciganjur, di Surabnaya, saya bersama Elzastro diundang PBB untuk ceramah, juga di Yogyakarta dan di Jombang dan daerah lain, khususnya ndalem Ci Ganjur.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah Profesor DR Said Aqil siroj, ketua PBNU yang baru, mengatakan bahwa jabatannya ini adalah nubuatan yang disampikan Gus Dur kepadanya, bahwa dia akan menjadi ketua PBNU pada usia 55 th. Dan saat ini benar adanya saya persis 55 tahun dan menjadi ketua PBNU.</div>
<div>Mahfud MD (Profesor doktor,Mahfud MD) juga bertestimoni,dan mendapatkan sambutan luar biasa,tidak kalah hebatnya Prof DR Nazarudin Umar. Dirjen depag itu bersamaku dalam satu pesawat membawa jenazah Gus Dur, dari Jakarta ke Jombang.</div>
<div>Intelektual muslim yang cerdas itu berdo&#8217;a khusu bareng dengan seorang habib dari kalimantan, namanya saya lupa tetapi dari farm Al Atas. Saya sendiri baru pertama kali ini diminta testimoni, rasanya tidak enak menolak. Tetapi sebenarnya masyarakat lebih berhak bertestimoni dibandingkan dengan gedibal sepertiku ini.</div>
<div>Semalam saya ditemui malaikat Mungkar dan malaikat Nakir, saya diminta menyampaikan kepada Kang Said (Prof DR Said Aqil Siroj) agar Kang Said menganjurkan kaum nahdliyin dan kaum lainya menghentikan dulu ziarah kubur. khususnya kuburnya Gus Dur. Karena sudah habis satu galon jamu pegel linu di minum malaikat Mungkar dan Nakir serta malaikat Rahmat, karena peziarah belum beranjak juga, sehingga sampai hari ke seratus malaikat belum menanyai Gus Dur. Mendengar ucapanku yang terbata bata itu, semua hadirin pada ketawa, tetapi saya tidak pedulikan dan saya sambung;</div>
<div>Sesuai hadist jika sesorang meninggal dan penziarahnya meninggalkan kubur tujuh langkah, malaikat sudah menanyai jenazah. Ini sudah 100 hari mereka tidak bergeming, bahkan tanah kuburan pun diambili dibawa pulang. Lalu masih dengan terbata bata, saya katakan saya tidak pandai berpidato, tetapi kemarin malam bersama sahabatku pembina santri jalanan KH Dian Jully, yang terkenal dengan sebutan Gus Dian Sanjaya, mengarang lagu untuk beliau. Dan syair di atas teriringi dengan gitar akustik tua milik mbah july, semua umat larut, dan Prof Dr Nazarudfin Umar, dirjen Depag, itu membisikiku, &#8220;<em>Gus kalau sudah direkam saya diberi CD nya nggih</em>&#8220;. Saya hanya menangis di sela doa, robighfirli&#8230;..</div>
<div>Lagu ini sebenarnya merekam kisah kecilku bersama Sang Penakluk dan Semar ngejowantah itu, yang selama ini menjadi tumpuan rakyat marginal, yang membongkar tatanan birokrasi istana presiden yang menyeramkan menjadi istana rakyat, yang simbok bakul sayur dengan sandal japitnya bisa mengunjungi dan melihat presidennya dengan pendar mata bahagia. Ya Sang Semar ngejowantah yang sangat simarudunya itu.</div>
<div>Saya paling tidak pernah meminta di foto bareng Gus Dur, apalagi di rumah sakit. Tetapi dua hari sebelum sahabat, bapak dan guru serta teman bersendagurau, sang ulama kampiun internasional, dan waliyullah akhir zaman itu meninggal kang Imam (Imam Agus Soesilo) mengajaku berfoto di samping beliau.</div>
<div>Ayoo&#8230; Gus buat foto kenang kenangan bersama bapak, saya nggak punya fotonya beliau meskipun sudah 10 tahun mendampingi bapak. Saya iyakan saja sambil menempatkan diri di perbaringan Gus Dur. Saya di sebelah kiri beliau sambil memegangi tangan kirinya yang bengkak sebesar betis kaki, sedangkan kang Imam di samping kanan. sementara itu Mbak Lily dan mas Dokter Imam memandangi kami berdua sembari tersenyum. Wakil ketua PKB pusat, Drs H Niam Salim tersenyum lega. Karena dialah satu satunya pengurus PKB versi Muhaimin yang meminta maaf dan dimaafkan oleh beliau.</div>
<div>Niam Salim ini seperti adik bagiku, ketika masih duduk di Jawa Tengah mencalonkan ketua Ansor juga sering minta advis kepadaku, ngleset di Pesantren Sokotunggal Semarang sudah biasa. apalagi kalau pas Banser ngadakan kegiatan, dan kurang dana, biasanya saya diminta nilpon itu dan ini. hahahahaha</div>
<div>Kebiasaan anak-anak muda NU yang ghiroh terhadap perjuangan tinggi seperti itu adalah biasa bagi tetua tua, karena sebelum dadi tetua juga melakukan itu hahahahaha. Sekarang Niam memang sudah gemuk dan nampak pejal tubuhnya konon menjadi calon menteri kabinet SBY, bersama Faisal Helmy dan Muhaimin sendiri.</div>
<div>Ternyata foto ini yang terakhir, saya mendampingi Gus Dur, saya pamit, gus saya pulang ke Semarang dulu nggih, anak-anak lagi ngecor masjid, Masjidnya diperluas menjadi 25 x 25 meter, yang semula hanya satu lantai di jadikan tiga lantai, soalnya merangkap madrasah, daripada membangun lagi lebih murah digandengkan sehingga mirip bangunan yang dulu dipakai para wali. Gambarnya sih indah gus, hanya ngecornya nunggu lailatul qodar. hahaha.</div>
<div id="_mcePaste">Gus Dur tertawa, sampean ini bisa aja , Gus, mosok ngecor ngenteni lailatul qodar, yang bener ya ngenteni dikirim semen sama pasir serta mollen, malaikat mikhail, hahahahahaha. Kami seruangan tertawa terbahak bahak, meskipun pipi Gus Dur menteng-menteng merah karena bengkak dari sakit giginya.</div>
<div>&#8220;Sampun nggih Gus dalem pamit, wong kantun sakit gigi mawon kok, enteng niku<em> (Saya pamit dulu Gus, Tinggal sakit gigi aja kok, ringaan itu)</em>&#8220;, kataku menyambung pembicaraan.</div>
<div>Ternyata Gus Dur menyambung lagi, &#8220;<em>Gus Nuril saya beri tahu kebenaran sebuah hadist. Hadist ini di riwayatkan oleh Megy Z Almarhum, bahwa: Lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi, itu ternyata benar dan saya mengalaminya masya Allah</em>&#8220;.</div>
<div>hahahahahahahahahahaha, ruangan 6 x6 m persegi itu lagi lagi meledak. Sampai seorang suster melongokan kepala dari balik pintu. Sudah sembuh to Gus katanya sembari menutup pintu. Sejurus kemudian membenarkan letak infus yang menempel di tangan kanan Gus Dur.</div>
<div>Saya belum sempat beranjak, Dr Imam Wahid adik Gus Dur, yang dulu menjadi dokter kepresidenan menawari Gus Dur, &#8220;<em>Kang besok operasi giginya di rumah sakit Medika atau di RSCM saja?</em>&#8220;.</div>
<div>Dijawab gus Dur, <em>&#8220;Di RSCM sajalah biar tidak di gusar gusur kesana kemari. Inggih Gus (Nuril) kulo tak istirahat, njenengan monggo nek bade mburu wekdal mengko pesawate  mabur njenengan telat, &#8230; , tapi benjang wangsul mriki maleh nggih kulo di anteraken (iya Gus saya mau istirahat, silahkan kalau mau mengejar pesawat, nanti kalau terbang bisa terlambat, &#8230;, tapi besok kembali kesini lagi saya diantarkan)</em>&#8220;.  Tanpa berfikir saya menjawab inggih.</div>
<div>Tetapi di luar ruangan saya menjadi bingung, gimana to ini Gus Dur wong sudah pamit kok disuruh kembali besuknya, emangnya Jakarta Semarang deket apa. wah aneh-aneh saja, tetapi kalau tidak aneh kan bukan Gus dur ya, gumamku sembari tersenyum, memantabkan niat, ah paling paling sudah ada Sulaiman, ada kang Latif dan mas Wiji biar beliau yang mengantar ke Dokter. Guntur Romli dan Adi serta Rusdi dan Nicko juga anak anak pesantren Abdurahman wahid saya minta siaga bergantian menjaga RCM, karena siapa tahu dibutuhkan, bisa cepat tumandang ing gawe.</div>
<div>Mirip Gus Mix</div>
<div id="_mcePaste">Di semarang, saya sempatkan memperbaiki tulisan di akun. Maklum lagi gemar berselancar di lautan maya lewat Facebook (FB). Jam empat sore saya ditelefon kang Acun ( KH Wahid) &#8220;<em>Gus Nuril teng Semarang nopo teng Jakarta (Gus nuril ada di Semarang apa di Jakarta ? )&#8221;</em>.</div>
<div>Saya jawab, &#8220;<em>di semarang, ada apa kang?&#8221;</em>, hati saya mulai was was, karena wajah Gus Dur Ngglibet (berkelebat) saja di depan mata. Pengalaman ini pernah  saya rasakan ketika salah seorang Waliyullah KH Hamim Jazuly sedo. Waliyullah nyentrik yang senantiasa memakai kaos, dan nygkelat siosir besar tapa kupluk, malah memakai jean itu sahabat langitku, bersama Gus Ali Sidoharjo (KH Ali Mashuri)</div>
<div>Kalau tidak salah tahun 1994, siang bolong, ketika habis solat duhur saya ketiban jadwal ceramah di Itihadul Mubhalighin Jawa Tengah, yang dikomandoi KH Wahid Anwar al Karangkimpuli (Allahuma yarkham). Di gedung PHI Semarang itu tiba tiba muncul Gus MIX, sembari dada dan mengatakan gus saya pamit rumiyen nggih. Demi mendengar ucapan Gus Mix itu saya spontan mengatakan &#8220;<em>ila ruhi wa jasadi hadratusy syeik KH Khamim Jazuli al fatekhah&#8221;</em>,&#8230;..</div>
<div>Kontan ratusan kyai dan calon Da&#8217;i yang mengikuti ceramah gemuruh membaca fathekhah, tetapi saya tahu ada keraguan di dalam hati mereka. Maklum waktu itu belum ada HP, tetapi setelah dia cek sana sini ternyata benar. Gus Mix merentas jalan membuka jalur bagi yunior yuniornya untuk menuju kefanaan arasy bumi ke seranagkaian galaxy langitnya Allah. Gus Mix sahabat sejati yang tidak pernah berpenampilan kiyai telah menuju pengabdian haqiqi, di samping Illahi robbi.</div>
<div>Maka demi melihat gambaran ngglibetnya Gus Dur di kornea mataku akau gelisah. &#8220;<em>Sudah rampung operasinya kok Gus, dan berhasil baik, hanya menunggu masa kritisnya saja&#8221;</em>. kata Kang acun menghiburku. Sementara itu saya menyampaikan khabar ini kepada para Wartawan perwakilan Kedaulatan Rakyat, dimana dulu saya pernah menjadi ketua Perwakilan dan kepala biro untuk Jawa Tengah dan sekitarnya.</div>
<div id="_mcePaste">Saya biasa main ke kantor ini. Meskipun pensiunku hanya Rp 19.350 (sembilan belas ribu tiga ratus lima puiluh rupiah saja, kenapa tidak dijangkepke (genapkan) Rp 19.500, saja. Karena apa ada uang pecahan seratus dan 50 rupiah&#8230;hahahaha&#8230;pen) tetapi kantor ini saya yang merintis sejak nol, bahkan saya salah satu pemegang piagam penyelamatan KR, saat digoncang excodus besar besaran ke kompas dan Bernas serta media indonesia. Tetapi ya itu pensiun tetap gak sampai Rp 20.000 sebulan. Buat beli permen saja tak cukup dinggo mut mutan sebulan, tetapi biarlah wong barokahnya mas Madi (Sumadi Martono Wonohito, dan kang Idham Samawi)</div>
<div>Saya tahu Kang Acun hanya menghiburku, saya mulai mengaitkan ucapan Gus Dur &#8220;<em>Mbenjang kulo di anter nggih Gus</em> &#8220;.  Wah jangan jangan. Maka saya bergegas pulang ke pesantren, di kamar hanya merenung, melihat santri pada menghafal al qur&#8217;an, ada rombongan kang Marno membenarkan ornamen masjid dan memasang pintu gebyok dari Kudus yang berusia ratusan tahun dan hargannya selangit, tidak menarik perhatianku, fikiranku terus ke Gus Dur.</div>
<div>Ketika HP saya buka, ratusan SMS sudah memenuhi layarnya hp 9500 tipe lama nokiaku, rata rata mereka bertanya bagaimana perkembangan kesehatan beliau, para wartawan cetak dan eletronik juga mulai nyinyir bertanya tanya, saya bungkam saja. Malas juga menjawab SMS yang berjibun begitu, mana fikiran lagi tidak fokus, ditambah udara panasnya gak karuan. Sebelum masuk kamar uzlah, saya sempatkan berpesan kepada Kang acun, tolong khabari saya setiap menit bahkan detik nya ya Kang.</div>
<div>&#8220;<em>Alhamdulillah Gus, Bapak sudah baik, Bapak sudah tidur dengan tenang, sekarang saya tinggal mencari makan dari kemarin belum makan, saya di depan warung RSCM Gus&#8221;</em>. Waktu itu jam sudah menunjuk an 18.00. saya siapkan diri mengambil air wudlu, dan mandi cepat cepat. KH Masnun al Rasyid al Khafid dan DRs KH Abdullah Adib Sudaha saya pesan, imami masjid ya saya solat di kamar, rasanya enggak enak badan mriyang semua.</div>
<div id="_mcePaste">Sembari sholat sunah sunah yang entah apa namanya, saya lirik jam dinding sudah menunjukan 18.30. Saya akhiri sholat Magrib cepat-cepat karena saya lihat di depanku Gus dur berdiri tegak tanpa penopang dan sedang sholat juga. bersamaan dengan salamku Gus Dur mengatakan &#8220;<em>Gus Saya pamit nggih,mau pulang&#8221;</em>. Saya terbengong di kamar tidak ada sepatah katapun keluar. Saya duduk menangis sampai terguncang dan uminya anak anak Dina Supriyanti, memeluku dari belakang. Dia hendak bertanya apa benar Gus Dur meninggal, tetapi demi melihatku menangis dia batalkan pertanyaannya, dan malah saya ditinggal sendiri. Dia tahu kalau soal Gus Dur tidak ada persoalan lain dapat menggeser konsentrasiku.</div>
<div id="_mcePaste">Pamitan Gus Dur itu saya coba cocokan dengan TV One, dan ternyata betul ada khabar SBY datang ke ruangan gus Dur. Kekasihku, sahabat dan guru bangsaku, al fathekah.  Pamitan Gus Dur sungguh mirip Gus Mix. Pamitan khas para Wali yang sedo memenuhi janjinya kepada sang khaliq. &#8220;<em>Kulo nderek Gus (saya ikut Gus) &#8230; &#8220;</em>samar samar terjawab &#8220;<em>mbenjang mawon kulo dipun rencani, kulo di ter nggih (Besok saja saya ditemani, saya diantar ya) ?&#8221;</em>&#8230;. Allahuma firlahum warkhamhum waafina wa&#8217;fu&#8217;anhum, njenengan negake kulo gus&#8230;hahahahaha mboten mboten kulo tasih ngawal SBY kok, hahahahaha</div>
<div></div>
<div>Oleh : <span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"><span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 16px; text-align: left;"><a class="actorName" style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: underline; font-weight: bold;" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000787393619">Gus Nuril Arifin<br />
</a></span></span></div>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;t=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;title=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH&amp;annotation=%22WALA%20TAHSABANALADZINA%20KUTILU%20FI%20SABILILLAHI%20AMWATAN%20BAL%20AHYA%20INDAROBIHIM%20YURZAQUN%2C%0D%0A...jangan%20engkau%20anggap%20seseorang%20yang%20meninggal%20di%20jalan%20Allah%20adalah%20mati%2Cdia%20masih%20hidup%2Cbahkan%20mendapatkan%20rejeki%20disisi%20Allah%20yang%20maha%20agung%22%20%28Al%20Qur%27an%29%0D%0ASyai" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;title=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH&amp;bodytext=%22WALA%20TAHSABANALADZINA%20KUTILU%20FI%20SABILILLAHI%20AMWATAN%20BAL%20AHYA%20INDAROBIHIM%20YURZAQUN%2C%0D%0A...jangan%20engkau%20anggap%20seseorang%20yang%20meninggal%20di%20jalan%20Allah%20adalah%20mati%2Cdia%20masih%20hidup%2Cbahkan%20mendapatkan%20rejeki%20disisi%20Allah%20yang%20maha%20agung%22%20%28Al%20Qur%27an%29%0D%0ASyai" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROTOKOL ALA NU</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=protokol-ala-nu</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 02:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi. Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja membuatku melenggang di jalan kramat bersama KH Soleh Asri pengajar Tafsir Jaalalain di Masjid Istiqlal. Tetapi saya sering meledek kyai Soleh sang pengajar tafsir jalan lain. Eh ternyata di PBNU ada acara malam ta&#8217;aruf.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Lho bukankah rencannya malam ta&#8217;aruf diadakan di Istiqlal tanggal 6 Mei mendatang</em>, tanyaku pada anak anak banser yang lalu lalang.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Mboten kok gus ndalu niki, monggo dalem dereke, ke gedung sebelah</em>.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ternyata di dalam gedung pertemuan Pegadaian jalan kramat itu sudah penuh. Saya sibuk ngelayani salaman saja,  sambil haha hihi,  sekali sekali berpose difoto, biasa anak-anak kalau ketemu kiyai begitu. Saya kebagian di depan baris kedua, bersama dengan KH Musthofa Aqil Siroj, adik bungsu Prof Said Aqil Siroj, dia memang sahabatku sejak lama. Ada dibarisan yang sama Dirjen Pembinaan Masyarakat, Depag .Prof Dr Umar dan pejabat pejabat. Di barisan depan adalah Dewonya NU, bangsa Mbah Sahal Mahfud, kemudian Mbah Gus Mus, mbah Dimyati Rois, mbah Idris dan Mbah Masduki sidoharjo.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Namun kursi kursi di depan itu sungguh bukan tempat yang pas. Karena kursi mbah Sahal seharusnya tepat di depan saya, demikian pula Yeni yang diundang mewakili Gus Dur, duduk dibelakang, padahal menurut daftar kursinya duduk di samping KH Said Aqil siroj, dan banyak lagi yang tidak pas.</div>
<div id="_mcePaste">Taufik Kiemas ketua MPR entah duduk dimana. Dan karena sudah biasa begitu, maka melihat Prof Mubarok mewakili partai demokrat bingung, demikian pula Akbar tanjung, maka nyeletuklah wagub Jatim yang ketua Ansor pusat syaifullah Yusuf, &#8220;<em>ya gitulah Priotokol NU</em>&#8221; tetapi mereka mengalir kok nanti kan ketemu tempatnya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Maka protokol NU itu jadi bukan berdasarkan pangkat dan kedudukannya. Tetapi berdasarkan tingkat usia, dan ketinggian ilmu serta maqom nya. Setinggi apapun pangkatnya kalau sudah masuk Sarang dan Singgasana NU dia akan tunduk dengan ketentuan peradatan NU. Sehingga malam itu seharusnya Dik Faisal Helmy atau Gus Faizal yang seharusnya menjadi fokus bersama Taufik Kiemas, sama sekali tidak memperoleh hak nya. Karena semua mata tertuju kepada Mbah Sahal dan Gus Mus, serta Kang Said. Menteri sama sekali tidak masuk hitungan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dan semakin aneh penampilan semakin laris, sehingga banyak yang minta foto minta di doani. Opo tumon wong acara taarufan kok tiba tiba ada fatayat mendekat, bah saya pingin di foto dan diodoakin agar anak yang dalam kandungan saya ini sehat. Setelah di doain saya bilang beri nama Omar Mohtar ya. Lho kok laki laki bah saya inginya perempuan kok. hahaha.</div>
<div id="_mcePaste">Singkat sekali.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Setelah ditunggu akhirnya menyanyikan lagu Indonesia raya dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan qur&#8217;an, alah seperti kebiasaan NU kampunglah. Kemudian tiba taaruf, maka oleh protokol dipanggili semua satu persatu, aneh ketika mbah sahal belum bangkit dari kursi,tidak ada satu orangpun yang bangkit., saya menahan geli melihat kebingungan kang As Aad, waka BIN yang baru pertama kali menjadi pengurus NU. Dia Sih (maksudnya As &#8216;ad) sebenatnya anak kiyai dan masih keponakan simbah Kyai Sahal, tetapi sudah lama meninggalkan ke NU an, karena menjadi atase di Arab sana, kemudian menjadi wakill BIN di tiga ketua. Mulai dari Zaman Kabakin /Ka Bin Letjen Ari Kumaat, sampai Hendro Priyono dan terakhir Samsir Siregar dan sekarang entah siapa yang menjabat saya malah kurang tahu. Karena tidak mengenalkan diri di pesantrenku hahahahahaha</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Nah setelah mbah Sahal Jengkar, semua baru berdiri. Sudah komplitlah diatas panggung, biasanaya di bacakan tata tertib dan SK dan sebagainya, kemudian di bacakan sumpah dan janji serta tetek bengeknya. Malam ini pelantikan PBNU sungguh berbeda. Setelah semua lengkap, maka Mbah Sahal hanya mengucapkan <strong>&#8220;<em>Bismilahirrohman nirohim</em></strong><em>; </em><strong><em>Ruditubillahir Robba</em>&#8220;</strong>.</div>
<div id="_mcePaste">Sesudah mengucapkan itu terus diam, yang di sumpah masih menunggu kelanjutan ucapan mbah sahal. Mereka beranggapan mbah sahal mengambil nafas dulu atau memang harus ada jeda, karena setiap kiyai memang memiliki cara cara sendiri, dan santri jangan harap boleh merubah atau usulkan perubahan hahaha.</div>
<div></div>
<div>Ternyata melihat yang dipanggung diam saja tidak pada minta salim mbah Sahal, mbah sahal mengatakan. Sudah semua sudah di ridloi Allah,sudah cukup turun semua sudah dianggap sah. Sontak hadirin dan yang di panggung meledak tawanya membahana. Hahahahahahahaha ini mbah sahal betul betul kramat guyonnya. Sudah pelantikannya di jalan Kramat, yang nglantik kramat dan ucapan pelantikannya kramat juga cukup sak rekaat &#8220;Roditubillahir Robba&#8221; Itu kalimat paling kramat, sesudah ada ucapan ridlo Allah, ya jangan diatambahi ucapan manusia yang lain, tidak kelas dan beda maqom sekaligus mengotori keridloan Allah, meskipun kalimat kalimat sumpah itu bagus bagus dan ndakik ndakik tapi gak ada apa apanya dibandingkan dengan Rodlitubillahir Robba &#8230;&#8230; nggih mbah. Maka yang diatas terus turun panggung, dan sambil ngrundel wah wah, mbah sahal ini sudah sepuh masih nyentrik juga.</div>
<div></div>
<div>Gus Mus tidak kalah menarik perhataian, kolumnis dan penyair teman seangkatan sekamar gus Dur ini, biasanya juga nyelelek, malam ini diaduk aduk oleh perasaan khusus, dan berdoa sembari menangis. Kontan setelah di buat geli oleh mbah sahal, langsung cepp khusuk dalam lautan doa asma&#8217;ul khusna Gus Mus.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dalam drama atau senetron atau teater itu sangat tidak mungkin, karena membangun suasan lucu, kemudian dibalik menjadi anti klimat nangis dan khusuk sangatlah susah. Tetapi ini NU bung, semua bisa mbolak mbalik tanpa ada kewaguan atau ketidak pas san, mengalir. Ya Allah Jadikan negeri ini makmur dan damai, tentram dan mensejahterakan rakyatnya lewat NU&#8230;&#8230;..amin.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">GNA/Gus Nuril Arifin.</div>
<div id="_mcePaste">DR.KH Nuril Arifin HSN.MBA</div>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;t=PROTOKOL%20ALA%20NU" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=PROTOKOL%20ALA%20NU%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;annotation=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;bodytext=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ALLAHU AKBAR</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=allahu-akbar</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[ALLAH AKBAR Allahu Akbar ! Pekik kalian menghalilintar Membuat makhluk makhluk kecil tergetar Allahu Akbar ! Allahu Maha Besar Urat urat leher kalian membesar Meneriakkan Allahu Akbar Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian terbakar Apa saja yang kalian anggap mungkar Allahu Akbar,Allah Maha Besar ! Seandainya 5 milyard manusia Penghuni bumi sebesar debu ini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="width: 160px; height: 120px;" classid="clsid:02bf25d5-8c17-4b23-bc80-d3488abddc6b" width="160" height="120" codebase="http://www.apple.com/qtactivex/qtplugin.cab#version=6,0,2,0"><param name="src" value="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/05/ALLAHU-AKBAR-BY-GUS-MUS.mp4" /><param name="align" value="left" /><param name="vspace" value="10" /><param name="hspace" value="10" /><embed style="width: 160px; height: 120px;" type="video/quicktime" width="160" height="120" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/05/ALLAHU-AKBAR-BY-GUS-MUS.mp4" hspace="10" vspace="10" align="left"></embed></object>ALLAH AKBAR</p>
<p>Allahu Akbar !<br />
Pekik kalian menghalilintar<br />
Membuat makhluk makhluk kecil tergetar<br />
Allahu Akbar !</p>
<p>Allahu Maha Besar<br />
Urat urat leher kalian membesar<br />
Meneriakkan Allahu Akbar<br />
Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian terbakar<br />
Apa saja yang kalian anggap mungkar</p>
<p>Allahu Akbar,Allah Maha Besar !<br />
Seandainya 5 milyard manusia<br />
Penghuni bumi sebesar debu ini<br />
Sesat semua atau saleh semua<br />
Tak sedikit pun mempengaruhi kebeseranNya</p>
<p>Melihat keganasan kalian aku yakin<br />
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman<br />
Yang kasih sayangNya meliputi segalanya</p>
<p>Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakaÑYa<br />
Ketika dengan pongah kau melibas mereka<br />
Yang sedang mencari jalan menujuNya?</p>
<p>Mengapa kalau mereka memang pantas masuk neraka<br />
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka yang menyiksa mereka<br />
Kapan kalian mendapat mandat<br />
Wewenang darINya untuk menyiksa dan melaknat?</p>
<p>Allahu Akbar!<br />
Syirik adalah dosa paling besar<br />
Dan syirik yang paling akbar<br />
Adalah mensekutukan diri sendiri<br />
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri</p>
<p>Laa ilaaha illallah!</p>
<p>By Gus Mus/Simbah Kakung<br />
10 muharam 1430 H<br />
Di Perguruan Islam Salafiyah Kajen Pati &#8221;</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000580056528#!/video/video.php?v=1164630402943&amp;ref=mf" target="_blank">Facebook</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;t=ALLAHU%20AKBAR" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ALLAHU%20AKBAR%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;title=ALLAHU%20AKBAR&amp;annotation=ALLAH%20AKBAR%0D%0A%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0APekik%20kalian%20menghalilintar%0D%0AMembuat%20makhluk%20makhluk%20kecil%20tergetar%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0A%0D%0AAllahu%20Maha%20Besar%0D%0AUrat%20urat%20leher%20kalian%20membesar%0D%0AMeneriakkan%20Allahu%20Akbar%0D%0ADan%20dengan%20semangat%20jihad%20nafsu%20kebencian%20kalian%20terba" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;title=ALLAHU%20AKBAR&amp;bodytext=ALLAH%20AKBAR%0D%0A%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0APekik%20kalian%20menghalilintar%0D%0AMembuat%20makhluk%20makhluk%20kecil%20tergetar%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0A%0D%0AAllahu%20Maha%20Besar%0D%0AUrat%20urat%20leher%20kalian%20membesar%0D%0AMeneriakkan%20Allahu%20Akbar%0D%0ADan%20dengan%20semangat%20jihad%20nafsu%20kebencian%20kalian%20terba" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diantara Jalan Sufi Gusdur</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=diantara-jalan-sufi-gusdur</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH.M. Luqman Hakim</strong><br />
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.</p>
<p>Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali  ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.</p>
<p>Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.</p>
<p>Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial,  dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.</p>
<p>Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.</p>
<p>Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.</p>
<p>Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.</p>
<p>Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy,  maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.</p>
<p>Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?</p>
<p>Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.</p>
<p>Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”</p>
<p>Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.</p>
<p>Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.</p>
<p>Sumber : <a href="http://sufinews.com" target="_blank">SufiNews.com</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;t=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;annotation=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;bodytext=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 04:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani :: Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani ::</p>
<p>Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk menampung pengalaman dan rasa. Bahasa adalah hasil dari konvensi, kesepakatan. Bahasa ditetapkan secara arbitrer. Penanda dan petanda, atau signifier/signified, ditetapkan secara arbitrer sebagai hasil kesepakatan. Adakah alasan mengapa tempat duduk dikatakan kursi dan tempat tidur dikatakan ranjang? Kalau nenek moyang kita berabad-abad lalu menyebut tempat duduk sebagai onde-onde, maka mungkin kita sekarang mengatakan, “Sang pengantin duduk di Onde-Onde pelaminan,” bukan “duduk di kursi pelaminan.”</p>
<p>Karena itu, pada titik di mana kita harus mengabarkan pengalaman dan rasa kita, maka pada saat itulah kita menggunakan “tafsir.” Kita menafsirkan pengalaman kita. Tetapi, celakanya, kadang-kadang kita kesulitan mengabarkan pengalaman kita dengan penafsiran yang canggih dan filosofis sekalipun. Saat kita hati kita senang karena jatuh cinta, apa yang harus kita ampaikan kepada orang untuk mengabarkan apa yang sedang kita rasakan? Pada akhirnya kita terpaksa menggunakan kiasan, perlambang, simbol, yang kemungkinan besar bisa mewakili perasaan kita. Jaman dulu orang mengatakan, “hatinya sedang berbunga-bunga,” untuk menunjukkan betapa bahagianya seseorang yang jatuh cinta. Titik Puspa bahkan hanya bisa bilang, “Jatuh cinta, berjuta rasanya.” Tetapi “rasa cinta” itu sendiri tetap tak terungkapkan, tak bisa dirasakan oleh pendengarnya, kecuali si pendengar itu erasakan sendiri “jatuh cinta.”</p>
<p>Dan bahkan, dua orang yang sama-sama sedang jatuh cinta, bisa jadi berbeda dalam menafsirkan pengalamannya sendiri. Orang yang pernah patah hati, lalu kemudian cintanya diterima, akan merasakan dan menafsirkan cinta secara berbeda dengan orang yang kisah cintanya lancar-lancar saja.</p>
<p>Pengalaman sufi barangkali mirip dengan keadaan seperti ini. Tak mengherankan sufi ssangat sering menggunakan perlambang dan jangan heran jika sufi juga sering berbeda pendapat dalam menafsirkan pegalaman “persatuannya.” Dalam konteks sufistik ini, hadits “perbedaan adalah rahmat” menunjukkan makna uniknya – bukan sekedar perbedaan debat rasional atau akal atau sekedar perbedaan mahzab. Beragamnya pengalaman, dan beragamnya tafsir atas pengalaman sungguh merupakan “rahmat” tersendiri bagi para “pencari” Tuhan. Dengan memahami ini, sang pencari bisa tercegah untuk mengambil kesimpulan bahwa pengalaman dirinyalah yang paling valid. Dalam analisis terakhir, para sufi menyadari bahwa Allah tak bisa dipahami hanya melalui satu cara saja, dan karenanya tidak ada klaim tafsir tunggal tentang Tauhid atau ajaran Islam pada umumnya.</p>
<p>Ibn ‘Arabi, sepengetahuan saya, adalah sufi paling jenius dalam soal ini. Dia mengobrak-abrik tafsir tunggal kita tentang Tuhan. Kita sering mengatakan, berdasarkan pengetahuan dari buku dan tafsir eksoteris, bahwa Tuhan adalah ini dan itu. Tetapi, pengetahuan adalah kekuasaan, dan kekuasaan selalu membatasi atau melingkupi obyek pengetahuan. Bagaimana mungkin kita membatasi Tuhan dalam pengetahuan kita? Tuhan senantiasa tak terjangkau, sebab bila Dia bisa dijangkau, berarti Dia bisa dipahami, dan berarti Dia berada dalam kekuasaan pengetahuan kita, dan karenanya Dia menjadi terbatas. JIka kita menggunakan alur ini, maka secara epistemologis, bangunan tesis ini menjadi rapuh, dan mudah untuk diragukan.</p>
<p>Inilah yang namanya sifat dari akal. <strong>Aql</strong> dalam bahasa arab juga berarti <em>membatasi, mengikat</em>. Karenanya, sekeras apapun akal berusaha memahaminya, maka ia hanya memahaminya secara sangat terbatas. Akal adalah seperti jaring ikan. Setiap jaring ada lobangnya. Bayangkan kita punya jaring seluas samudera dengan lobang-lobang jaring berdiameter 10 meter. Maka yang kita bisa ambil mungkin hanya ikan paus. Tetapi jika lobang itu diperkecil, maka hiu bisa tertangkap. Semakin kecil, semakin banyak yang tertangkap – ubur-ubur, teri, plankton dst. Jaring akal hanya menangkap pengetahuan yang umum, yang sesuai dengan pra-struktur pengetahuan yang telah terakumulasi dalam otak/akal kita. Bisa jadi ia bertambah, atau berkurang (mungkin karena lupa atau yang lainnya). Akal adalah jaring. Lalu, adakah jaring yang tak berlobang, yang bisa menciduk seluruh isi samudera? Tuhan pernah bilang, “Semesta tak bisa menampung-Ku, tapi hati orang beriman bisa.” Hati adalah jaring tak berlobang. Bukan sembarang hati, tetapi hati orang beriman. Lalu siapakah orang beriman itu?</p>
<p>Dalam kenyataan banyak orang (mengaku atau diakui) beriman. Karenanya, orang beriman di sini lebih dari sekedar beriman KTP. Sufi selalu memahami lebih dari dalam dari yang tersurat, bahkan lebih halus dari yang tersirat. Iman adalah sebentuk kepasrahan. Tetapi, paradoksnya kepasrahan adalah sebentuk perjuangan, sebab jika tak ada perjuangan, maka ia jatuh menjadi putus asa. Batas antara pasrah dan putus asa sedemikian halus – inilah titian sirathal mustaqim, bagai rambut dibelah tujuh. Orang kadang susah membedakan mana itu pasrah, mana itu putus asa. Ah, saya jadi melantur.</p>
<p>Baik mari kita kembali ke hati. Hati orang beriman manakah yang bisa “menampung” Tuhan? Agar sebuah wadah bisa menampung sesuatu, ia harus kosong dulu. Seorang guru zen pernah menuang air ke gelas yang sudah ada isinya, dan karenanya, airnya meluber sia-sia. Hati kita telah penuh dengan hal-hal selain Tuhan, dan karenanya, bagaimana mungkin ia bisa menampung (pengetahuan) Allah? Jadi hati harus dibersihkan, demikian kata para sufi. Inilah <em><strong>Takhali</strong></em>. Sesudah bersih, hati harus diisi dengan hal yang baik. Ini adalah <em><strong>Tahalli</strong></em>. Apa itu hal yang baik? Pantulan asma Allah, asma al-husna. Dalam terminologi sufi, “hati adam itu laksana cermin.” Jika cermin itu bersih, maka ia akan memantulkan asma Allah. Ibn ‘Arabi mengatakan alam, kosmos, adalah cermin, tapi cermin yang sempurna adalah adam (yang juga bermakna kekosongan). Karena itu semua yang ada di alam memantulkan asma Allah dalam tingkat tertentu, dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda. Dan yang paling jernih dan jelas pantulannya adalah hati adam, yakni insan kamil, hati yang sudah dibersihkan sebersih-bersihnya. Jika sudah begitu, maka <em><strong>Tajalli</strong></em>.</p>
<p>Secara simbolis, sufi mengatakan kita harus melebur titik di atas (huruf kha) menjadi kekosongan (hurf ha) hingga titik itu bisa berada di tengah-tengah (huruf jim) – <em>takhali</em>, <em>tahalli</em>, <em>tajalli</em>. Dengan kata lain, titik adalah simbol pusat dari segala pandangan. Pusat harus dipindah dari benak nalar kepala ke “nalar” hati yang fitrah, sampai muncul realisasi bahwa “kemana pun engkau menghadap, disitulah wajah Allah.” Agar bisa sampai realisasi, maka pertama-tama titik itu harus lenyap (huruf ha yg tak ada titiknya). Pelenyapan ini adalah fana, lalu fana fi fana, yakni fana itu harus di-fana-kan lagi, hingga baqa, langgeng, hingga akhirnya titik berada di tengah – simbol keseimbangan.</p>
<p>Maka, ini barangkali tafsir sufi untuk pernyataan “umat Islam adalah umat yang berada di tengah-tengah.” Selama kita masih berada di ruang dan waktu, di mana layar kesadaran (laufh al-mahfudz – papan yang terjaga) kita belum terjaga benar, kita harus berhati-hati, harus berpegang kepada “tali Allah” agar tetap menjaga “titik lingkaran hidup” selalu berada di tengah. Miring sedikit, maka lingkaran hidup menjadi tak imbang. Bagaimana titik agar bisa istiqamah berada di tengah? Masuklah ke alam keabadian, ketika lingkaran hidup tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ketika lingkaran menjadi tak bertepi (atau pinjam istilah Ibn Arabi, “Samudera tak berpantai”) maka di manapun anda berada, anda selalu berada di tengah-tengah. Maka, para sufi berusaha memperluas “lingkaran” kehidupannya, bahkan sebelum mereka masuk alam keabadian. Mereka menghilangkan batas lingkaran bahkan saat mereka masih berada di alam yang terbatas, masih hidup di dunia ini.Maka, inilah barangkali makna dari “matilah kamu sebelum mati.”</p>
<p>Contoh dahsyat dari layar kesadaran tak bertepi ini adalah Nabi Khidr.Karena ia dianugerahi ilmu ladunni, ilmu dari sisi Allah, Khidr telah bisa menggapai khazanah Lauf al-Mahfudz, dan karenanya ia adalah titik poros itu sendiri. Di manapun khidr berada, ia selalu berada di tengah. Maka, Khidr dengan enteng membunuh seorang anak kecil. Dari perspektif kesadaran ruang dan waktu, ini adalah tindakan bodoh dan kejam. Tetapi,jika anda telah melampaui batasan ini, maka tindakan itu adalah sah,sebab pengetahuan Allah, ilm ladunni, tidaklah dibatasi oleh sebab-akibat atau baik dan buruk, sebab bagaimana mungkin Ia dibatasi sementara Ia sendiri adalah Sumber dari Segala Sumber? . Tetapi, terlalu sulit secara epistemologis untuk menopang argumen ini, sebab ini bukan wilayah akal. Karenanya, Khidr memperingatkan Musa as agar bersabar sebab Khidr tahu bahwa Musa masih berlandaskan pada “sebab-akibat.” Tetapi Musa tak bisa bersabar, sebab layar kesadarannya masih bertepi. Maka ia ditinggalkan oleh Khidr.</p>
<p>Tafsir spekulatif seperti di atas bisa jadi memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya, kalau begitu, ini sama artinya dengan mengatakan bahwa sufi atau para wali Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding Musa, yang nabi. Jelas para penentang tasawuf akan menggunakan penjelasan semacam ini sebagai senjata untuk menghantam para sufi. Ini adalah salah satu kasus, di mana ketika pengalaman diungkapkan, yang muncul adalah paparan yang reduksionis – selalu ada yang luput dari jaring kata dan akal. Para penentang tasawuf sering lupa bahwa Sufi dan para wali Allah selalu lebih mengunggulkan Musa di atas mereka sendiri, sebab Allah telah berkenan berdialog dengannya di bukit Sinai. Episode Khidr adalah salah satu fase saja dari seluruh fase kenabian Musa, dan karenanya tak bisa dipakai untuk menjustifikasi bahwa kedudukan sufi lebih tinggi dari pada nabi. Ibn ‘Arabi pernah dikecam habis karena dalam salah satu esainya dalam futuhat (atau fusuh? Saya agak lupa) dia mengkritik metode dakwah Nabi Nuh. Menurut Ibn’Arabi, Nuh terlalu menekankan transendensi (tanzih) dan karenanya dakwahnya yang ratusan tahun tak bisa dipahami. Menurut Ibn ‘Arabi, dakwah akan efektif jika menyatukan transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Apakah ini sebentuk “kesombongan” Ibn ‘Arabi? Tidak, sebab syaikh al-akbar tak pernah mengklaim lebih tinggi dari nabi. Konsep Ibn ‘Arabi tentang wali, walayah, khataman awliya, nabi, dan seterusnya, adalah sebuah konsep yang rumit, sebab ia didasarkan pada ilham rabbaniyah, dan karenanya, jika kita berusaha memahaminya dari segi teksnya, atau maknanya berdasarkan “sudut pandang” kita, maka kesan “pelecehan” atas nabi pasti muncul. Bagi saya, syaikh al-Akbar tak pernah melecehkan<br />
siapapun, apalagi nabi (ah, barangkali ini kesan subyektif saya saja, karena saya sangat kagum kepada as-Syaikh ini hingga saya sulit “berjarak” dengannya…wallahu a’lam)</p>
<p>“Tali Allah” begitu kokoh dan karenanya tak boleh dibuang supaya kita bisa tetap berada di tengah-tengah. Ini adalah syari’at. Maka, siapapun yang mengaku bertarekat tanpa syariat, maka ia bisa dipastikan tersesat. Syariat adalah informasi yang valid, sedangkan tarekat adalah proses transformasi, dan hakikat-ma’rifat adalah afirmasi. Jika informasinya salah, atau inputnya keliur, prosesnya juga akan keliru. Jika sepeda motor diberi minyak tanah, maka mesinnya akan rusak, atau proses pembakaran di mesin kacau, sebab inputnya tidak benar, dan karenanya motor tidak bisa jalan, dan bahkan rusak.</p>
<p>Tetapi, banyak orang yang telah bersyariat tetapi tetap tidak naik-naik kedudukan spiritualnya. Dalam bahasa sufi, banyak orang beriman mengikuti syariat, tetapi tetap tak sampai pada hakikat – yang terbatas tak sampai-sampai juga pada kesadaran yang tak terbatas, kepada ma’rifat Allah. Lalu, bagaimana agar yang terbatas ini bisa “sampai” kepada yang tak terbatas.</p>
<p>Salah satu cara tahalli adalah dengan zikir, yang oleh nabi dikiaskan sebagai “membersihkan (menggosok) karat di hati” agar hati bisa menjadi cermin yang memantulkan asma al-husna dan karenanya menjadi layar kesadaran yang tak terbatas. Para sufi, kita tahu, sangat menekankan praktik zikir yang benar.</p>
<p>Sesudah zikir merasuk ke ingatan, pintu ke organ batin akan terbuka.Dan dari sana, zikir bisa masuk ke dalam lathifah. Berapa jumlah lathifah itu? Ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan sepuluh, tujuh atau lima. Imam al-Ghazali menyebut lathifah ini hakikat insan – tempat ma’rifat kepada Allah dan tempat bersemayamnya Nur Ilahiah. Ini adalah<br />
sirr, atau rasa yang rahasia, seperti disebut dalam hadits qudsi yang kerap dikutip Syaikh sufi, sanu sirri wa ana sirrhu, manusia itu rasa (rahasia) Ku, dan n Aku dirasakan manusia. Sirr itu semacam inti, seperti dikatakan dalam hadits lainnya yang kira-kira artinya begini —</p>
<p>Aku jadikan pada anak adam itu ada istana, di situ ada dada dan didalamnya ada <strong><em>qalbu</em></strong>, tempat bolak-baliknya ingatan, dan di dalam qalbu ada <strong><em>fu’ad</em></strong>, kejujuran dalam ingatan, dan di dalamnya ada <strong><em>syaghaf</em></strong>, atau kerinduan dan di dalamnya ada <strong><em>lubbun </em></strong>atau kerinduan yang amat membara, dan di dalamnya ada <strong><em>sirr</em></strong>, kemesraan, dan dalam sirr ada <strong><em>Aku</em></strong>.</p>
<p>Sedangkan Imam Qusyairy meringkasnya menjadi tiga urutan, dari <strong><em>qalb </em></strong>ke <em><strong>ruh </strong></em>lalu ke <em><strong>sirr</strong></em>.”</p>
<p>Dalam tarekat qadiriyah wa naqshabandiyah, misalnya, zikir nafi-itsbat,atau kalimat tahlil, dilakukan dengan cara tertentu sehingga aliran zikirnya menyentuh semua lathifah, dari latifah <em>qalb</em>,<em> ruh</em>, <em>sirr</em>, <em>khafi</em>, <em>akhfa</em>, <em>nafsi</em> dan akhirnya ke seluruh tubuh, sehingga tercapai apa yang difirmankan bahwa seluruh keberadaan orang mukmin akan gemetar ketika asma Allah disebut. Zikir itu akan menimbulkan getaran pada lathifah dan orang yang sudah kasyaf bisa melihat lathifah itu akan memunculkan cahaya ilahiah yang tak terhingga. Tapi karena zikir menyentuh semua lathifah, maka semua lathifah itu akan bercahaya, ada yang merah,hijau, putih, hitam dan kuning. Jika beruntung dikaruniai pembukaan mata hati, kita akan bisa melihat tubuh orang yang berzikir akan bercahaya warna-warni.</p>
<p>Tetapi zikir saja, meski banyak bermanfaat, belumlah cukup untuk sampai ke ketakterhinggaan. Harus ada ikhlas. Uniknya, ada proses yang terbalik dalam zikir. Zikir justru bisa menciptakan rasa ikhlas dan ihsan. Ikhlas itu mengembalikan semua keberadaan kita kepada adam, kekosongan, ketiadaan, sebab sesungguhnya hanya ada Allah, la maujuda illa Allah, dan karenanya semuanya kembali kepada Allah.</p>
<p>Orang yang terikat pada keduniawian berpikir bahwa dengan mengumpulkan banyak harta, ketenaran, menumpuk-numpuk kebaikan tanpa mengembalikannya hakikatnya kepada Allah, seolah-olah mereka adalah pemilik kebaikan itu sendiri, maka mereka pikir itu akan membuat merka mencapai ketinggian martabat. Tetapi, mereka lupa bahwa penjumlahan, akumulasi, tidak akan mengantarkan kepada ketakterhinggaan. Ada sebagian orang lain yang secara tak sadar mendasarkan diri pada ‘perkalian.’ Mereka percaya bisa hidup berkali-kali, dalam wujud yang berbeda berkali-kali, seperti paham reinkarnasi, inkarnasi,transmigrasi ruh dan sebagainya. Ini keliru. Sebab perkalian tidak akan<br />
membawa kita kepada ketakterhinggaan. Lalu apa? Pembagian nol! Jika bilangan dibagi dengan nol, hasilnya tak terhingga. Dengan kata lain, segala tindakan dan amal saleh kita jika dilambari dengan ikhlas, akan menghasilkan ketakterhinggaan.</p>
<p>Seorang wali Allah pernah berkata jika kita berzikir dengan kalimat tahlil dengan benar, maka dunia akan berada di genggamanmu, tetapi dunia tidak akan pernah bersemayam di hatimu. La illaha illa Allah sangat dahsyat, sebab ia diwariskan dari jiwa yang senantiasa hidup, sebab ia diteruskan melalui mata rantai silsilah keruhanian yang tak terputus. Menurut Qur’an, Islam adalah agama sempurna, dan sesudah Muhammad tak ada lagi nabi dan rasul. Tetapi, Nur Muhammad tak akan lenyap. Ia akan senantiasa ada. Karenanya, kalimat tahlil adalah satu-satunya kalimat yang terjamin kesinambungan manfaat ruhaniahnya.</p>
<p>Hanya Rasulullah Muhammad yang diberi hak sebagai pembawa risalah yang berlanjut hingga akhir zaman. Melalui beliaulah nikmat Tuhan dicukupkan dan syariat disempurnakan. Karena itu kita bisa memahami mengapa, misalnya, meski Islam dan para terutama Sufi menghormati keyakinan dan jalan agama lain, mereka tidak lantas jatuh dalam sinkretisme. Meski para Sufi memahami ada banyak jalan menuju Allah, tetapi para Sufi tidak pernah mencampuradukkan agama, tak pernah meninggalkan shalat – pendeknya, mereka tak pernah meninggalkan syariat Islam. Ketika sufi agung Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa agamanya adalah agama cinta, dan hatinya terbuka untuk semua hal yang membawa ke jalan cinta, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Sampai akhir hayatnya, Ibn ‘Arabi adalah muslim yang taat pada syariat.</p>
<p>Wa Allahu a&#8217;lam bi ash-shawab<br />
Sumber : <a href="http://www.facebook.com/triwibs.kanyut" target="_blank">Mbah Kanyut al-Kenthirikhwan TQN</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;t=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;annotation=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;bodytext=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Disayang, Diampuni atau Dimurkai</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms hikmah tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus. Fazdakkir innafa’ati dzikro. Ibadah sholat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms <em>hikmah</em> tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus.</p>
<p><em>Fazdakkir innafa’ati dzikro.</em></p>
<p>Ibadah sholat merupakan ibadah terpenting bagi umat Islam, atau bisa dikatakan ia adalah kunci dari semua <strong><em>ilmu</em></strong> dan <strong><em>amal</em></strong> yang bisa dijadikan barometer <em>bagi diri masing-masing</em>. Jikalau sholat diawal waktu, itu menandakan kasih sayang Tuhan kepada hambanya, dan setelah itu adalah ampunan sampai akhir waktu yang telah ditentukan, dan yang melewati batas waktu sholat tentunya akan dimurkai.</p>
<p>Terserah kita pilih yang mana, Disayang, Diampuni atau Dimurkai?</p>
<p>Demikian juga tingkatan tertinggi manusia adalah <em>tawadlu’</em> dan <em>tawakkal</em> bukan <em>takabbur</em>. Kedua kata diatas berasal dari <em>wadlo’a</em> yang artinya meletakkan yang kemudian diartikan pasrah dan <em>wakala</em> yang artinya mewakilkan atau menyerahkan semua perkara secara penuh kepada yang mewakili.</p>
<p>Demikian lah orang yang sholat diawal waktu, dia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa semua urusan telah diwakilkan kepada Allah kembali dan dia menghadap kepada Yang Maha Besar (Allahu Akbar) dalam shalatnya.  Sebagaimana aku tahu bahwa semua perkara itu kecil dibandingkan dengan keAgungan Tuhan, tapi justru perkara lain itu nampak begitu besar melabihi ke Akbar – an Tuhan. Bagaikan pelupuk mata yang kecil, menutupi pandangan terhadap hamparan lautan yang luas. Itu karena kebodohanku, rabunya mata hatiku dan ketidakyakinanku bahwa sesuatu yang ku wakilkan kepada Tuhan akan lebih baik, padahal aku tahu Tuhan adalah sebaik-baik wakil.</p>
<p><em>Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir</em></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;t=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;annotation=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;bodytext=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
