<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Feb 2010 23:36:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memilih Disayang, Diampuni atau Dimurkai</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms hikmah tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus.
Fazdakkir innafa’ati dzikro.
Ibadah sholat merupakan ibadah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms <em>hikmah</em> tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus.</p>
<p><em>Fazdakkir innafa’ati dzikro.</em></p>
<p>Ibadah sholat merupakan ibadah terpenting bagi umat Islam, atau bisa dikatakan ia adalah kunci dari semua <strong><em>ilmu</em></strong> dan <strong><em>amal</em></strong> yang bisa dijadikan barometer <em>bagi diri masing-masing</em>. Jikalau sholat diawal waktu, itu menandakan kasih sayang Tuhan kepada hambanya, dan setelah itu adalah ampunan sampai akhir waktu yang telah ditentukan, dan yang melewati batas waktu sholat tentunya akan dimurkai.</p>
<p>Terserah kita pilih yang mana, Disayang, Diampuni atau Dimurkai?</p>
<p>Demikian juga tingkatan tertinggi manusia adalah <em>tawadlu’</em> dan <em>tawakkal</em> bukan <em>takabbur</em>. Kedua kata diatas berasal dari <em>wadlo’a</em> yang artinya meletakkan yang kemudian diartikan pasrah dan <em>wakala</em> yang artinya mewakilkan atau menyerahkan semua perkara secara penuh kepada yang mewakili.</p>
<p>Demikian lah orang yang sholat diawal waktu, dia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa semua urusan telah diwakilkan kepada Allah kembali dan dia menghadap kepada Yang Maha Besar (Allahu Akbar) dalam shalatnya.  Sebagaimana aku tahu bahwa semua perkara itu kecil dibandingkan dengan keAgungan Tuhan, tapi justru perkara lain itu nampak begitu besar melabihi ke Akbar – an Tuhan. Bagaikan pelupuk mata yang kecil, menutupi pandangan terhadap hamparan lautan yang luas. Itu karena kebodohanku, rabunya mata hatiku dan ketidakyakinanku bahwa sesuatu yang ku wakilkan kepada Tuhan akan lebih baik, padahal aku tahu Tuhan adalah sebaik-baik wakil.</p>
<p><em>Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir</em></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;t=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;annotation=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;bodytext=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ya tuhan, pelajaran apa ini?</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=ya-tuhan-pelajaran-apa-ini</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 02:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[ya tuhan, pelajaran apa ini?
kau kurniakan kepada kami ironi-ironi
yang mengusik pikiran dan nurani:
kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja
dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa
kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja
dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya

ya tuhan, pelajaran apa ini?
kau beri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan kepada kami ironi-ironi</div>
<div id="_mcePaste">yang mengusik pikiran dan nurani:</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasa</div>
<div id="_mcePaste">yang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca</div>
<div id="_mcePaste">oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka</div>
<div id="_mcePaste">dan kini mereka ikut larut atau terpana</div>
<div id="_mcePaste">oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya</div>
<div id="_mcePaste">untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</div>
<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?kau kurniakan kepada kami ironi-ironiyang mengusik pikiran dan nurani:<br />
kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa sajadan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apakau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa sajadan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasayang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka dan kini mereka ikut larut atau terpana oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;">rembang, 9/1/2010</span></p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;"> </span>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/simbah.kakung" target="_blank">Simbah Kakung</a></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="Gus Dur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/02/Gus-Dur-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;t=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;annotation=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;bodytext=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Kampus Pasca Mataram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=dawah-kampus-pasca-mataram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh dan berkembang seiring dengan da&#8217;wah di luar kampus. Kenyataan ini, sekali lagi membuktikan, bahwa Islam tidak dapat ditekan dan dilenyapkan dalam keadaan sulit macam apapun.</p>
<p><strong>Dinasti Mataram<br />
</strong>Jika diamati, ada kaitan erat antara perkembangan historis Ummat Islam dengan dunia perpolitikan Indonesia. Sejak keruntuhan Majapahit dan dimulainya kekuasaan Mataram, hingga saat ini, kasusnya sama saja. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki inti kekuasaan Jawa. Mereka mencoba merangkui Islam sebagai bagian dari Jawa, tapi dengan syarat, kebudayaan Islam yang murni harus diblokade sedemikian rupa sampai batas tertentu. Boleh salat, puasa dan seterusnya. Bila mengganggu kekuasaan jawa, Islam akan dihapus.</p>
<p>Pada zaman Mataram, sebagai misal, Islam tidak dilawan secara frontal. Namun justru dijadikan bagian dari kekuasan dinastik dengan kondisi kebudayaan Islam yang mandeg. Meskipun da&#8217;wah dewasa itu cukup berkembang, tapi sejarah tak bisa melupakan tragedi pembunuhan terhadap para ulama dan kiai pada zaman Amangkurat II.</p>
<p>Saat ini keadaannya tidak banyak berbeda. Meski formatnya lain, substansinya tetap sama. Artinya, secara politis, ideologis dan kultural, terdapat usaha-usaha yang ingin menghentikan pertumbuhan Islam. Bahkan ada kelompok yang bersikeras: Islam harus mandul di bumi Indonesia.</p>
<p>Islam dalam sejarah Indonesia, selalu dipakai pemberontak untuk merebut kekuasaan. Bila pemberontakan telah berhasil, maka Islam ditekan. Pada giliran berikutnya, Islam kembali dipakai pemberontak baru untuk merebut kekuasaan baru. Bila pemberontak yang ini berkuasa, maka Islam kembali ditekan dan dicampakkan. Demikian seterusnya, daur pemberontakan menjadi arus sejarah yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Penjelasan tersebut sesungguhnya diperlukan untuk memberikan latar belakang bagi pertumbuhan Islam yang begitu pesat saat ini. Fenomena da&#8217;wah di kampus atau gerak jilbabisasi, sesungguhnya tidak dikehendaki oleh gelombang kekuasaan&#8221;. namun mengapa .semua itu justru berkembang? Alasannya-sederhana. Justru ketika sekelompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya .</p>
<p><strong>Dewa Pemikiran</strong><br />
Selama ini, arena da&#8217;wah disemaraki dengan tema-tema pembaharuan atau pertumbuhan pemikiran Islam. Artinya, ada usaha mempelajari Qur&#8217;an dan Sunnah kembali. Hal ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang khas dalam sistem politik, ekonomi dan kebudayaan yang menganut garis kanan, seperti Indonesia. Dalam rumusan politik internasional, pada keadaan seperti sekarang akan tampil dua alternatif: gerakan kiri atau gerakan Islam militan. Bila di negeri Syi&#8217;ah bisa berkembang, maka radikalisme agama akan bangkit dengan mudahnya. Gerakan kiri dalam waktu 5-10 tahun belakangan ini, juga tumbuh pesat, waIau tidak memilki kekuatan yang pasti.</p>
<p>Keadaan seperti sekarang sebagian dari mekanisme sosial, kultur politik dan kekuatan ekonomi menghendaki jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian; apa yang harus diperbuat? Ada kelompok yang mencoba mencari jawaban Marxis. Tapi kita mencari jawaban dari Islam. Kita pelajari kembali Islam sebagai filsafat, tata nilai dan sistem kehidupan. Kita buka kembali Qur&#8217;an dan Sunnah untuk merumuskan keadaan.</p>
<p>Buku-buku tentang Islam terbit secara membludak. 0leh karena, begitu banyaknya buku-buku yang dipelajari, kita menjadi pintar mendadak. Namun, sebenarnya kita &#8220;bodoh&#8221;. Dalam arti, kita mengenali informasi tentang realitas Islam yang beraneka ragam melalui kata-kata dan pernyataan-pernyataan verbal. Padahal, akan berbeda, jika kita melihat dan memahami realitas itu melalui pengalaman nyata. Umpamanya, kita mengenal kemiskinan struktural atau kemiskinan kultural. Kita begitu fasih berbicara tentang problema kemiskinan dalam berbagai seminar dan diskusi, tetapi, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang siapa itu orang miskin dan bagaimana persisnya keadaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Islam kehilangan keramatnya sebagai pembebas kaum dhu&#8217;afa.</p>
<p>Ummat Islam Indonesia makin hari makin disibukkan oleh pembahasan pemikiran Islam yang kadang-kadang terlalu &#8220;Tinggi&#8221; tapi kadang-kadang juga terlalu &#8220;Sepele&#8221;. Dalam konteks tersebut, kita perlu memegang suatu prinsip. Dalam Figh aturan keagamaan yang formal kita perlu panutan yang luas, Namun dalam Syari&#8217;at &#8211; aturan yang luas meliputi ibadah muamalah, termasuk &#8220;Dak&#8217;wah sosial&#8221;, &#8220;puasa sosial&#8221;,puasa struktur&#8221; dan seterusnya kita tidak perlu mencari &#8220;dewa pemikiran &#8220;. Artinya kita tidak perlu menggabungkan diri dalam satu panutan.</p>
<p>Kita harus bersikap kritis terhadap diri kita, kakak-kakak kita dan bapak-bapak kita. Terhadap Gus Dur, Cak Nur, atau Cak Menteri Agama, kita tak boleh kehilangan sikap kritis. Kita harus kritis terhadap mereka, para pakar yang terlalu yakin menjamin kebenaran yang hendak kita can. Sikap kritis itu berguna. Agar kita sungguh-sungguh menjadi pemimpin bagi kita sendiri. Agar kita tidak terperangkap dalam perkara yang kita sendiri tidak mengerti ujung pangkalnya. Dengan demikian, kita tidak taqlid kepada orang yang tidak pantas untuk ditaqlidi.</p>
<p><strong>Berhitung Secara Politis</strong><br />
Dalam gerakan da&#8217;wah, terdapat dua dimensi. Yakni, dimensi intelektual dan dimensi politis-stategis. Kedua dimensi tersebut perlu dibedakan. Selama ini, kita terlalu mengkonsentrasikan diri pada dimensi intelektual. Kita terlalu sering terpaku untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dianggap politis-strategis dalam rangka intelektual. Misalnya, pertanyaan bahwa di dalam Islam tidak ada konsep kenegaraan. Mengapa hanya &#8220;negara Islam&#8221; saja yang ditolak, sedang &#8220;negara nasional&#8221; tidak? Secara intelektual itu tidak obyektif.</p>
<p>Da&#8217;wah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. Dalam hal ini, kita bisa terjebak. Karena sesungguhnya kita tidak hanya melakukan studi-studi Islam yang steril, namun juga sedang melakukan perjalanan proses gerakan sejarah, sebuah gerakan kebudayaan baru, kebudayaan agama namanya.</p>
<p>Gerakan tersebut juga dapat disebut gerakan sosial, karena merupakan mekanisme baru dalam dinamika sosial. Juga dapat dikategorikan gerakan politis, karena pertumbuIan gerakan kebudayaan baru. Maaf, kita tidak sedang nendiskusikan da&#8217;wah dalam kerangka politik praktis. Biar bagaimanapun, tetap saja diperlukan untuk memperhatikan dimensi-dimensi politik dalam aktivitas da&#8217;wah, termasuk dalam lembaga da&#8217;wah kampus. Gerakan da&#8217;wah di kampus tidak dapat dihentikan jika kita sendiri mengetahui dosis yang tepat untuk memfungsikannya.</p>
<p>Dalam rangka menemukan dan memahami seberapa dosis yang tepat itu, kita perlu memperhatikan blokade-blokade yang menghadang. Blokade tersebut mungkin tidak hanya berasal dari lapisan kekuasaan yang ada namun justru dari struktur di dalam kepemimpinan ummat Islam.</p>
<p>Dalam &#8220;organisasi ummat&#8221; yakni suatu bayangan tentang bangunan masyarakat Islam di Indonesia terdapat lapis massa, lapis elit, dan lapis di antara keduanya. Pelapisan memiliki varian-variannya sendiri.<br />
Orang-orang muda di kampus termasuk lapis tengah yang masih magnetis terhadap ummat dan sekaligus juga bergaul dengan elit di atas, sesungguhnya kebangkitan Islam yang sedang berlangsung, tercermin dalam lapis bawah dan menengah. Bukan lapisan atas. Sedangkan gairah ummat untuk mempelajari Islam kembali adalah suatu hal vang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sementara, mahasiswa yang belum terikat secara sosial-ekonomi, atau politis, masih memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Namun bila sudah bekerja, menikah, dan mapan dalam struktur kekuasaan, maka para mahasiswa itu akan berbenturan dengan idealis yang digembar-gemborkannya.</p>
<p>Khalayak mahasiswa yang sedang bergerak naik ke atas akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang over dosis atau dosis tinggi, yakni mereka yang akan segera berbenturan dengan struktur atas sehingga akan diamankan atau dilenyapkan. Kedua, kelompok yang menguap dalam arti tidak menjadi apa-apa, mujahid bukan dajjal pun bukan. Ketiga, kelompok yang kompromistis yang akan mengingkari segala sesuatu yang telah digembar-gemborkannya di masjid kampus. Akan masuk kemanakah kita nanti?</p>
<p><strong>Tema Pemikiran Yang Aneh</strong><br />
Para mahasiswa diijinkan untuk berbicara tentang tema-tema Islam struktural seperti ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya. Namun ketika pemikiran tersebut dibawa ke lapis atas, situasi jadi macet. Karena lapis elit telah terikat pada struktur dan menjadi bagian dari sistem yang mapan. Keadaan macam ini mungkin akan terulang; apabila mahasiswa nanti menjadi bagian dari lapis atas atau partner kekuasaan yang ada. Pemikiran Islamnya akan tersaring menuju tema-tema tertentu yang tidak penting dengan keadaan ummat, seperti tema-tema : &#8220;sekularisasi, Laailaaha ullaha&#8221;, &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; dan lain-lain. Tema-tema tersebut mungkin relevan jika dipaksakan. Tapi, jelas tidak urgen skala prioritasnya jadi aneh.<br />
Saya terus terang khawatir, jangan-jangan apa yang sedang hangat diperdebatkan saat ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh ummat. Memang ada pakar yang dengan sombong berkata, bahwa dia sedang bicara di kalangan akademis. Namun, siapa yang bisa menghilangkan eksistensi ummat. Hal semacam ini mungkin disebabkan, karena lapis atas atau elit muslim Indonesia secara relatif telah menjadi bagian dari kekuasaan yang besar.</p>
<p>Sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi penjelajah untuk menghubungkan lapis atas dengan lapis bawah. Mahasiswa diharapkan mampu mengisi kekosongan dengan menjelaskan maksud kelompok elit kepada ummat. Dan pada saat yang sama menyampaikan aspirasi umat kepada lapis atas. Jika saling pengertian dan pemahaman telah terjalin, maka kita akan mampu mendorong ummat ke arah tujuan yang dikehendaki bersama.(selesai)</p>
<p>Surabaya, 28 Januari 1988<br />
Ceramah di Forum Silaturahmi Lembaga Da&#8217;wah Kampus se-Jawa. Di masjid Universitas Airlangga Surabaya.<br />
(Emha Ainun Nadjib/ &#8220;Nasionalisme Muhammad&#8221; &#8211; Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;t=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;annotation=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;bodytext=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akar kata istilah Tasawuf &#8220;Tashawwuf&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 10:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[1. Shafa/Shafwun = bersih
Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]).
Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8].
2. Ahl Al-Shuffah (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid Nabi saw. selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Shafa/Shafwun = bersih</strong><br />
Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]).<br />
Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8].</p>
<p>2. <strong>Ahl Al-Shuffah</strong> (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid Nabi saw. selama beliau masih hidup (Q.S. al-Kahfi [18]:28)</p>
<p>3. <strong>Al-Shuf </strong>yang berati bulu domba, karena orang saleh di Kufah terbiasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.</p>
<p>4. <strong>Shuffa al -kaffa</strong> yang berarti spon halus. Kata ini dikaitkan dengan kaum sufi yang saking bersihnya hati meraka menjadi begitu lembut</p>
<p>Sumber: Tasawuf dan Ihsan &#8211; Syeh Muhammad Hisyam Kabbani &#8211; Serambi</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;t=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;annotation=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;bodytext=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja Kala Sekularisme</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=senja-kala-sekularisme</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 06:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Komaruddin Hidayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang. You don’t need God for a war, demikian John Micklethwait, pemimpin redaksi majalah The Economist, bersama Adrian Wooldridge seorang kolumnis, dalam karyanya God is Back. Buku setebal 405 halaman ini menyajikan fakta sosial seputar kebangkitan keyakinan agama yang meramaikan panggung politik global di awal abad ini.
Jika Anda naik pesawat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang. You don’t need God for a war, demikian John Micklethwait, pemimpin redaksi majalah The Economist, bersama Adrian Wooldridge seorang kolumnis, dalam karyanya God is Back. Buku setebal 405 halaman ini menyajikan fakta sosial seputar kebangkitan keyakinan agama yang meramaikan panggung politik global di awal abad ini.</p>
<p>Jika Anda naik pesawat terbang dan mendarat di Bandar Udara Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, Anda akan disambut tulisan selamat datang: Music City, USA. Menurut Micklethwait, mestinya ditambah lagi dengan papan nama: Faith City, atau Jesus City, bahkan lebih mengena: Southern Baptist City, mengingat di kota ini terdapat sedikitnya 700 gereja, 65 persen penduduknya mengaku religius. Nashville juga dikenal sebagai kota produsen buku-buku dan kaset keagamaan yang diekspor ke seluruh dunia. Banyak penyanyi papan atas melakukan rekaman lagu-lagu keagamaan di kota ini, sebut saja Hank Williams, Johnny Cash, atau Carrie Underwood.</p>
<p>Penggemar lagu-lagu gereja tak akan sulit mencari kaset semisal Jesus Remembered Me, Jesus Dies for Me, How Can You Refuse Him Now?, I Talk to Jesus Everyday, dan lainnya. Suasana batin ini jauh berbeda dengan akhir abad ke-19 ketika seluruh universitas papan atas AS menggusur ke pinggir posisi agama. Now God is returning to intellectual life, tulisnya. Dulu orang belajar agama dianggap aneh atau semacam hobi bagi sekelompok orang, tetapi sekarang belajar agama merupakan hal yang lumrah, bahkan suatu kebutuhan.</p>
<p>Rapuhnya institusi keluarga dan berkembangnya demoralisasi sosial telah ikut mendorong pertumbuhan agama yang sangat mengesankan. Dikatakan, Islam and Pentecostalism today occupy a ”social space” analogous to early twentieth century socialism. Marx has reemerged in the guise of radical imams and Pentecostal preachers.</p>
<p><strong>Pisau bermata dua</strong></p>
<p>Janji-janji surga dunia ideologi besar marxisme dan kapitalisme yang tidak kunjung tiba telah ikut mendorong agama untuk tampil kembali. Ada kerinduan dan harapan masyarakat modern terhadap agama. Namun, agama yang berkembang dalam masyarakat yang kian mengglobal ini tampil semakin warna-warni, beragam paham dan keyakinan. Keragaman agama ini sekaligus juga potensial menimbulkan konflik. Oleh karena itu, kehadiran kembali agama ini dalam waktu yang sama juga menimbulkan ketakutan, dikhawatirkan akan semakin mengintensifkan konflik dan perang atas nama Tuhan. Ketakutan ini cukup beralasan mengingat perang atas nama Tuhan memang memiliki sejarah panjang.</p>
<p>Konflik agama bisa dibedakan menjadi dua, yaitu konflik internal antarsekte dan konflik eksternal, yaitu melawan agama lain. Konflik antara Protestan dan Katolik dan antara Sunni dan Syiah, misalnya, telah menelan korban ribuan nyawa dan menyisakan luka di antara mereka. Dalam ranah global, dua agama yang selalu menyimpan konflik adalah antara Kristen dan Islam. Agama Yahudi terbatas hanya untuk keturunan Israel, Hindu lebih berpusat pada rakyat India, Tao dan Konghucu untuk orang-orang China Daratan dan perantauan, dan Shinto lebih banyak bagi masyarakat Jepang.</p>
<p>Namun, konflik internal antarsekte juga sangat fenomenal. Di kawasan Timur Tengah, terutama Irak dan Lebanon, konflik berdarah-darah antara kelompok Sunni dan Syiah diperkirakan masih akan berlanjut terus. Contoh ini bisa ditambah dengan menyajikan kasus Ahmadiyah di Indonesia yang dihujat dan diserang oleh mayoritas Sunni. Bukanlah mustahil, kalau suatu saat Syiah membesar sangat mungkin akan muncul konflik seperti di Irak.</p>
<p>Jadi, meskipun gerakan agama kembali bangkit, masih ada pertanyaan besar, apa jaminannya bahwa kebangkitan agama akan memberikan kehidupan lebih baik di masa depan? Di sini muncul keraguan di balik God is Back. Tanpa melibatkan Tuhan saja berbagai peperangan yang sadis dan brutal terjadi di mana-mana. Terlebih lagi jika emosi agama ikut hadir menambah amunisi peperangan. Micklethwait mengatakan, kebangkitan agama akan melipatgandakan jumlah orang yang siap untuk saling berbunuhan dengan alasan agama. Konfrontasi antara nuklir Iran di satu pihak dan Israel serta Amerika di pihak lain pasti akan menggema ke seluruh dunia dan orang pun akan segera menafsirkan sebagai perseteruan agama.</p>
<p>Perseteruan antara India dan Pakistan soal Kashmir pasti akan melibatkan emosi keagamaan meskipun pada dasarnya merupakan persengketaan wilayah. Belum lagi di Filipina dan Indonesia, hubungan antara minoritas dan mayoritas Islam-Kristen juga selalu menyimpan bara konflik. Namun, tanpa melibatkan Tuhan dan agama sesungguhnya manusia telah mengukir sejarah konflik berdarah-darah dan berkesinambungan. Abad dua puluh adalah abad paling sekuler dan sekaligus paling berdarah-darah. Apa yang disebut ”the Godless religions of Nazism and Communism” telah membunuh puluhan juta manusia. Begitu juga pembantaian di Kamboja, Kongo, dan Rwanda, kesemuanya sama sekali tidak melibatkan nama Tuhan. Lalu terorisme yang terjadi di Sri Lanka dan Eropa juga bersifat sekuler.</p>
<p>Dengan kata lain, akar terorisme tidak selalu dimotivasi oleh agama. Bahkan, dalam berbagai kasus agama dijadikan jubah dan penambah amunisi, padahal akarnya bisa jadi adanya dominasi mayoritas terhadap minoritas atau kekuatan asing yang akan menguasai atau menjarah wilayah bangsa lain.</p>
<p><strong>Politik identitas</strong></p>
<p>Di tengah maraknya gelombang demokratisasi di berbagai belahan dunia, salah satu konsekuensi yang kurang diperhitungkan sebelumnya adalah munculnya gerakan politik identitas. Proses demokratisasi yang tidak disertai penegakan hukum, partsipasi pendidikan dan kesejahteraan sosial yang merata, maka politik identitas untuk memperjuangkan kelompok etnis dan agama akan semakin menguat. Fenomena ini mesti dicermati dan diantisipasi di Indonesia.</p>
<p>Agenda kelompok berdasarkan kepentingan etnis, daerah, agama, dan parpol mendapatkan ruang manuver secara leluasa dengan dalih hak asasi dan demokrasi. Indonesia sebagai negara bangsa yang masih amat muda, sementara korupsi masih akut, lalu pemerintah yang tengah berkuasa sangat diwarnai politik balas budi dan perkoncoan, sangat rawan untuk menghadapi menguatnya politik identitas yang jika kebablasan akan memperlemah demokrasi dan kohesi bangsa. Terlebih lagi jika ideologi transnasional yang tidak setia pada semangat kemerdekaan RI dan Pancasila ikut bermain.</p>
<p>Jadi, tanpa melibatkan Tuhan saja potensi konflik antardaerah dan etnis cukup rawan. Dan itu sudah terjadi. Terlebih lagi jika memperoleh amunisi tambahan berupa ketidakadilan ekonomi dan pendidikan serta sentimen agama, maka proses demokratisasi yang kita perjuangkan akan digerogoti oleh konflik antarkelompok kepentingan yang tidak rasional. Slogan Bhinneka Tungal Ika, keragaman dalam kesatuan, beralih menjadi perseteruan dalam keragaman yang tidak kunjung reda.</p>
<p>Oleh: Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta<br />
Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/15/02581695/senja.kala.sekularisme">Kompas.com</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;t=Senja%20Kala%20Sekularisme" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Senja%20Kala%20Sekularisme%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;title=Senja%20Kala%20Sekularisme&amp;annotation=Anda%20tidak%20perlu%20Tuhan%20untuk%20berperang.%20You%20don%E2%80%99t%20need%20God%20for%20a%20war%2C%20demikian%20John%20Micklethwait%2C%20pemimpin%20redaksi%20majalah%20The%20Economist%2C%20bersama%20Adrian%20Wooldridge%20seorang%20kolumnis%2C%20dalam%20karyanya%20God%20is%20Back.%20Buku%20setebal%20405%20halaman%20ini%20menyajika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;title=Senja%20Kala%20Sekularisme&amp;bodytext=Anda%20tidak%20perlu%20Tuhan%20untuk%20berperang.%20You%20don%E2%80%99t%20need%20God%20for%20a%20war%2C%20demikian%20John%20Micklethwait%2C%20pemimpin%20redaksi%20majalah%20The%20Economist%2C%20bersama%20Adrian%20Wooldridge%20seorang%20kolumnis%2C%20dalam%20karyanya%20God%20is%20Back.%20Buku%20setebal%20405%20halaman%20ini%20menyajika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isyarat-Isyarat IQ,EQ dan SQ dalam Al-Qur&#8217;aI</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:54:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Al Gazali]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ibn Arabi]]></category>
		<category><![CDATA[id]]></category>
		<category><![CDATA[IQ]]></category>
		<category><![CDATA[Jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[Ruh]]></category>
		<category><![CDATA[SQ]]></category>
		<category><![CDATA[superego]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).
IQ ialah kecerdasan yang diperoleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan<br />
</strong>Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau <span style="text-decoration: underline;"><em>al-hayawan al-nathiq</em></span> (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan intelektual </span>(<strong>IQ</strong>), <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan emosional </span>(<strong>EQ</strong>), dan <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan spiritual </span>(<strong>SQ</strong>).</p>
<p><strong>IQ</strong> ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat <strong><span style="color: #ff6600;">di otak</span></strong>, <strong>EQ</strong> ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas emosional yang berpusat <span style="color: #ff6600;"><strong>di dalam jiwa</strong></span>, dan <strong>SQ </strong>ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas rohani yang mengambil lokus <span style="color: #ff6600;"><strong>di sekitar wilayah roh</strong></span>.</p>
<p>Ketiga aktifitas kreatif di atas mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian <em>Sigmund Freud</em> (1856-1939), yaitu <strong>id</strong>, <strong>ego</strong>, dan <strong>superego</strong>. <span style="text-decoration: underline;"> Id</span> adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir. <span style="text-decoration: underline;">Id</span> ini menjadi inspirator kedua struktur berikutnya. <span style="text-decoration: underline;">IdEgo</span>, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari Id. <span style="text-decoration: underline;">Ego</span> berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. <span style="text-decoration: underline;">Ego</span> membantu seseorang keluar dari berbagai problem subyektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas. <span style="text-decoration: underline;">Superego </span>berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. <span style="text-decoration: underline;">Superego</span> juga selalu mengingatkan dan mengontrol Ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya terhadap id.[1]</p>
<p>Meskipun tidak identik, IQ dapat dihubungkan dengan Id, Ego dapat dihubungkan dengan EQ, dan Superego dapat dihubungkan dengan SQ.</p>
<p>Pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses; sementara pemilik IQ pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh EQ. Mekanisme EQ tidak berdiri sendiri di dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri manusia tetapi intensitas dan efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh unsur kecerdasan ketiga (SQ).</p>
<p>SQ sulit sekali diperoleh tanpa kehadiran EQ, dan EQ tidak dapat diperoleh tanpa IQ. Sinergi ketiga kecerdasan ini biasanya disebut <em><strong>multiple intelligences </strong></em>yang bertujuan untuk melahirkan pribadi utuh (“al-insan al-kamilah). Untuk penyiapan SDM di masa depan, internalisasi ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat ditawar lagi.</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, masih perlu dikaji lebih mendalam beberapa kata kunci yang berhubungan dengan ketiga pusat kecerdasan yang dihubungkan dengan ketiga substansi manusia, yaitu unsur <em><strong>jasad </strong></em>yang membutuhkan IQ, unsur <em><strong>nafsani </strong></em>yang membutuhkan EQ, dan unsur <em><strong>roh </strong></em>yang membutuhkan SP.</p>
<p><strong>Substansi Manusia dalam Al-Qur’an</strong><br />
Substansi manusia dalam Al-Qur’an mempunyai tiga unsur, yaitu unsur <em>jasmani, unsur nafsani, </em>dan<em> unsur rohani</em>. Keterangan seperti ini dapat difahami di dalam beberapa ayat, antara lain Q.S. al-Mu&#8217;min­n/23:12-14 sebagai berikut:</p>
<p><em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13).  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu  Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik (14).<br />
</em><br />
Kata dalam ayat ini menurut para mufassir dimaksudkan sebagai unsur <em>rohani </em>setelah unsur <em>jasad </em>dan <em>nyawa </em>(nafsani). Hal ini sesuai dengan riwayat Ibn Abbas yang menafsirkan kata dengan  (penciptaan roh ke dalam diri Adam)[2] Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur <em>ruhani, </em>atau <em>lahut </em>atau <em>malakut. </em>yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus merupakan penyempurnaan substansi manusia sebagaimana ditegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam Q.S. al-Hijr/15:28-29:</p>
<p><em>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.</em></p>
<p><em></em>Setelah penciptaan unsur ketiga ini selesai maka para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepadanya dan alam raya pun ditundukkan (taskhir) kepada Adam. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas mamnusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi (Q.S. al-An‘am/6:165) di samping sebagai hamba (Q.S. al-zariyat/51:56).</p>
<p>Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (<em><span style="text-decoration: underline;">ahsan taqwim</span></em>/Q.S. al-Tin/95:4), ia tidak mustahil akan turun ke derajat &#8220;paling rendah&#8221; (<span style="text-decoration: underline;"><em>asfala safilin</em></span>/Q.S. al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah daripada binatang (Q.S. al-A‘raf/7:179). Eksistensi kesempurnaan manusia dapat dicapai manakala ia mampu mensinergikan secara seimbang potensi kecerdasan yang dimilikinya, yaitu kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsani (EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ).</p>
<p><strong>Kecerdasan Intelektual (IQ)</strong><br />
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.</p>
<p>Otak dapat dibagi menjadi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki fungsi analisis dan otak kanan memiliki fungsi kreatif. Meskipun masih banyak ditentang, kalangan ilmuan mengidentifikasi otak kiri sebagai <em><span style="text-decoration: underline;">otak feminin </span></em>dan otak kanan sebagai <em><span style="text-decoration: underline;">otak maskulin</span></em>. Walaupun terpisah tetapi keduanya saling berhubungan secara fungsional. Kelainan akan terjadi manakala hubungan fungsional itu terganggu.</p>
<p>Wilayah aktifitas otak juga dapat dibedakan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Wilayah pikiran sadar hanya sekitar 12 % dan selebihnya (88%) adalah wilayah pikiran bawah sadar. Di antara kedua wilayah ini, ada garis pemisah yang disebut <em><span style="text-decoration: underline;">Reticular Activating System (RAT)</span></em>, yang berfungsi untuk menyaring informasi tidak perlu atau berlebihan supaya kita tetap bisa waras. Di wilayah bawah sadar tersimpan semua ingatan dan kebiasaan, kepribadian dan citra diri kita.</p>
<p>Di dalam sistem otak kita ada suatu bagian yang disebut <em><span style="text-decoration: underline;"><strong>limbik </strong></span></em>(otak kecil), terletak di bawah tulang tengkorak di atas tulang belakang. Otak kecil ini ditemukan oleh para ilmuan memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.</p>
<p>Dari sini difahami bahwa otak dan emosi memiliki hubungan yang fungsional yang saling menentukan antara satu dan lainnya. Penelitian Rappaport di tahun 1970-an menyimpulkan  bahwa emosi tidak hanya diperlukan dalam penciptaan ingatan, tetapi emosi adalah dasar dari pengaturan memori. Orang tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali mereka senang menggeluti bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan <span style="text-decoration: underline;"><em>accelerated learning</em></span>, tidak dapat dicapai tanpa bantuan aktifitas emosional yang positif.[3]</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, kecerdasan intelektual dapat dihubungkan dengan beberapa kata kunci seperti kata aql    (saecara harfiah berarti mengikat)  yang terulang sebanyak 49 kali dan tidak pernah digunakan dalam bentuk kata benda (ism) tetapi hanya digunakan dalam bentuk kata kerja (fi’il), yaitu bentuk fi’il madli sekali dan bentuk fi’il mudlari’ 48 kali. Penggunaan kata ‘aql  dalam ayat-ayat tersebut pada umumnya digunakan untuk menganalisis fenomena hukum alam (seperti Q.S. al-Baqarah/2:164) dan hukum-hukum perubahan sosial (seperti Q.S. al-‘Ankab­t/29:43).</p>
<p>Selain kata ‘aql juga dapat dihubungkan dengan predikat orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual seperti kata  (orang-orang yang mempunyai pikiran) yang terulang sebanyak 16 kali. Seorang yang mencapai predikat ul­ al-bab belum tentu memiliki kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, karena masih ditemukan beberapa ayat yang menyerukan kepada kaum ul­ al-bab untuk bertakwa kepada Allah Swt (Q.S.al-Maidah/5:100 dan S. al-Thalaq/65:10). Namun, ul­ al-bab  juga dapat digunakan bagi pemilik IQ yang sudah menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi di balik kemampuan akal pikiran (Q.S. al-Baqarag/2:269 dan S. al-Zumar/39:9). Dan masih banyak lagi istilah yang mengisyaratkan aktifitas kecerdasan intelektual kesemuanya itu dapat disimpulkan bahwa ontologi akal hanya terbatas pada obyek-obyek yang dapat diindera, kepada obyek-obyek yang bersifat metafisik.</p>
<p>Penguasaan kecerdasan intelektual bukan jaminan untuk memperoleh kualitas iman atau kualitas spiritual yang lebih baik, karena terbukti banyak orang yang cerdas secara intelektual tetapi tetap kufur terhadap Tuhan. Hal ini juga ditegaskan di dalam Q.S.al-Baqarah/2:75:</p>
<p>Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Q.S.al-Baqarah/2:75).</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan bahwa bahwa kecerdasan intelektual terkadang digunakan untuk meligitimasi kekufuran. Padahal, idealnya kecerdasan intelektual digunakan untuk memperoleh kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Seorang ilmuan yang arif tidak berhenti pada level kecerdasan intelektual tetapi melakukan sinergi dengan kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Inilah makna simbol ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an: Iqara’ bi ism Rabbik: “Membaca” harus selalu dikaitkan dengan “nama Tuhan”.</p>
<p><strong>Kecerdasan Emosional[4] (EQ)</strong><br />
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan didorong oleh emosi, dalam arti bagaimana yang bersangkutan dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menjadi begitu tidak rasional pada saat yang lain. Dengan demikian, emosi mempunyai nalar dan logikanya sendiri. Tidak setiap orang dapat memberikan respon yang sama terhadap kecenderungan emosinya. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.</p>
<p>Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Daniel Goleman menggambarkan bahwa otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa keserdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.[5]</p>
<p>Jenis dan sifat emosi dapat dikelompokkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Amarah</span></em>: Bringas, mengamuk, benci, marah besar, jenkel, kesal hati, terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, sampai kepada kebencian bersifat patologis.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Kesediahan</span></em>: Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Rasa takut</span></em>: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, tidak tenang, negeri, kecut, fobia, dan panik.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Kenikmatan</span></em>: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, dan batas ujungnya mania.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Cinta</span></em>: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Terkejut</span></em>: terkesima, takjub, terpana.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Jengkel</span></em>: hina, jijik, muak, mual, dan benci.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Malu</span></em>: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, aib, dan hati hancur lebur.[6]</li>
</ol>
<p>Kelompok-kelompok emosi tersebut di atas menurut <em><span style="text-decoration: underline;">Paul Ekman</span></em> dari Universitas California, akan menampilkan ekspresi wajah yang Universal di hampir seluruh etnik, artinya dari suku dan etnik manapun seorang yang mengalami berbagai jenis emosi di atas akan menampilkan ekspresi raut muka yang sama.[7]</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, aktifitas kecerdasan emosional seringkali dihubungkan dengan kalbu. Oleh karena itu, kata kunci utama EQ di dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri melalui kata kunci   (kalbu) dan tentu saja dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (???), intuisi, dan beberapa istilah lainnya.</p>
<p>Jenis-jenis dan sifat-sifat kalbu (qalb) dalam Al-Qur’an dapat sikelompokkan sebagai berikut:</p>
<p>*  Kalbu yang positif :</p>
<ol>
<li>Kalbu yang damai (Q.S. al-Syura/26:89).</li>
<li>Kalbu yang penuh rasa takut (Q.S.Qafl50:33)</li>
<li>Kalbu yang tenang  (Q.S. al-Nahl/16:6)</li>
<li>Kalbu yang berfikir  (Q.S.al-Haj/2:46)</li>
<li>Kalbu yang mukmin (Q.S.al-Fath/48:4)</li>
</ol>
<p>*  Kalbu tang Negatif:</p>
<ol>
<li>Kalbu yang sewenang-wenang (Q.S. Gafir/40:35)</li>
<li>Kalbu yang sakit  (Q.S. al-Ahdzab/33:32)</li>
<li>Kalbu yang melampaui batas  (Q.S.Yunus/10:74)</li>
<li>Kalbu yang berdosa (Q.S.al-Hijr/15:12)</li>
<li>Kalbu  yang terkunci, tertutup  (Q.S.al-Baqarah/2:7)</li>
<li>Kalbu yang terpecah-pecah (Q.S.al-Hasyr/59:14)</li>
</ol>
<p>Kalau qalb di atas dapat diartikan sebagai emosi maka dapat difahami adanya emosi cerdas dan tidak cerdas. Emosi yang cerdas dapat dilihat pada sifat-sifat emosi positif dan emosi yang tidak cerdas pada sifat-sifat emosi negatif.</p>
<p>Eksistensi kecerdasan emosional dijelaskan dengan begitu jelas di dalam beberapa ayat berikut ini:</p>
<p><em>Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S.al-Haj/22:46)<br />
</em><br />
<em>Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.al-A’raf/5:179)</em></p>
<p><em>Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S.al-Jatsiyah/45:23)</em></p>
<p>Ayat-ayat tersebut di atas cukup jelas menggambarkan kepada kita bahwa faktor kecerdasan emosional ikutserta menentukan eksistensi martabat manusia di depan Tuhan. Menurut S.H.Nasr, emosi inilah yang menjadi faktor penting yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk eksistensialis, yang bisa turun-naik derajatnya di mata Tuhan. Binatang tidak akan pernah meningkat menjadi manusia dan malaikat tidak akan pernah “turun” menjadi manusia karena mereka tidak memiliki unsur kedua dan unsur ketiga seperti yang dimiliki manusia.[8]</p>
<p>Upaya mendapatkan kecerdasan emosional dalam Islam sangat terkait dengan upaya memperoleh kecerdasan spiritual. Keduanya mempunyai beberapa persamaan metode dan mekanisme, yaitu keduanya menuntut latihan-latihan yang bersifat telaten dan sungguh-sungguh (<span style="text-decoration: underline;"><em><strong>mujahadah</strong></em></span>) dengan melibatkan “kekuatan dalam” (inner power) manusia. Bedanya, mungkin terletak pada sarana dan proses perolehan. Aktifitas kecerdasan emosional seolah-olah masih tetap berada di dalam lingkup diri manusia (<span style="text-decoration: underline;"><em>sub-conciousnes</em></span>), sedangkan kecerdasan spiritual sudah melibatkan unsur asing dari diri manusia (<em>supra-conciousnes</em>).</p>
<p><strong>Kecerdasan Spiritual (SQ)</strong><br />
Kecerdasan spiritual menjadi salah satu wacana yang mulai mencuak akhir-akhir ini. Wacana ini muncul seolah-olah kelanjutan dari wacana yang pernah dipopulerkan oleh <em>Daniel Goleman </em>dengan Emotional Intelligence-nya. Kini sudah mulai bermunculan karya-karya baru tentang kecerdasan ketiga ini dengan metode pembahasan yang berbeda-beda. Yang lebih menarik lagi karena buku-buku ini muncul di dunia Barat. Apakah ini pertanda bahwa Barat kini sudah mulai melakukan reorientasi pandangan hidup atau karena sedang terjadi suatu krisis di Barat.</p>
<p>Kalangan ilmuan kini semakin sadar betapa pentingnya manusia kembali berpaling untuk memahami dirinya sendiri lebih mendalam. Sebab hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual saja manusia tidak akan sampai kepada martabat yang ideal. Atas dasar inilah, <span style="text-decoration: underline;"><em>Danah Zohar </em></span>dan <em><span style="text-decoration: underline;">Ian Marshal </span></em>menerbitkan satu buku yang amat menarik yang diberinya judul: <strong><em><span style="text-decoration: underline;">SQ Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence</span></em></strong>. Dalam buku ini diawali dengan tinjauan secara kritis kelemahan-kelemahan dunia Barat dalam kurun waktu terakhir ini karena mengabaikan faktur kecerdasan spiritual ini. Sebaliknya, buku ini memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap nilai-nilai humanisme ketimuran yang dikatakannya lebih konstruktif daripada nilai-nilai humanisme yang hidup di Barat.[9]</p>
<p>Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para <strong>sufi. </strong>Kecerdasan spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia. Seperti telah dijelaskan terdahulu bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah Swt tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya. Hal ini dapat difahami melalui penggunaan redaksional ayat sebagai berikut:</p>
<p><em>Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S.al-Hijr/15:29)</em></p>
<p><em>Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya&#8221;. (Q.S.Shad/38:72).</em></p>
<p>Ayat tersebut di atas menggunakan kata (dari ruh-Ku) , bukan kata (dari roh Kami) sebagaimana lazimnya pada penciptaan makhluk lain. Ini mengisyaratkan bahwa roh yang ada dalam diri manusia itulah yang menjadi unsur ketiga  dan unsur ketiga ini pula yang menyebabkan seluruh makhluk harus sujud kepada Adam. Ini menggambarkan seolah-olah ada obyek sujud lain selain Allah. Unsur ketiga ini pula yang mem-backup manusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi.</p>
<p>Kehadiran roh atau unsur ketiga pada diri seseorang memungkinkannya untuk mengakses kecerdasan spiritual. Namun, upaya untuk mencapai kecerdasan itu tidak sama bagi setiap orang. Seorang Nabi atau wali tentu lebih berpotensi untuk mendapatkan kecerdasan ini, karena ia diberikan kekhususan-kekhususan yang lebih dibanding orang-orang lainnya. Namun tidak berati manusia biasa tidak bisa mendapatkan kecerdasan ini.</p>
<p>Kisah menarik di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya seorang anak manusia bernama Khidlir ditunjuk menjadi guru spiritual Nabi Musa. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Musa baru saja mencapai kemenangan dengan tenggelamnya Raja Fir’an ke dasar laut.</p>
<p>Seseorang datang bertanya kepada Nabi Musa, <em>apakah masih ada orang yang lebih hebat dari anda? </em></p>
<p>Secara spontanitas Nabi Musa menjawab, <em>tidak ada</em>.</p>
<p>Seketika itu Allah Swt memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada seseorang, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Kahfi/17:65 sebagai berikut:</p>
<p>Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.</p>
<p>Ketika Nabi Musa diterima sebagai murid dengan persyaratan Musa harus bersabar dan tidak diperkenangkan untuk bertanya secara logika, maka setelah keduanya tiba di suatu tempat, ditemukan sejumlah perahu nelayang yang ditambatkan di pantai. Sang guru lalu melubangi satu demi satu perahu itu. Nabi musa tergoda untuk bertanya, apa arti perbuatan gurunya, bukankah perahu nelayan ini satusatunya alat mata pencaharian nelayan miskin di desa ini? Khidlir mengingatkan perjanjian yang telah disetujui, Musa belum diperkenankan untuk bertanya, kemudian Musa minta maaf lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di satu tempat, keduanya menjumpai segerombolan anak-anak kecil sedang bermain-main lau salah seorang dari anak-anak itu ditangkap lalu dibunuh oleh sang guru. Nabi Musa kembali mengintrubsi gurunya dengan mengatakan, ini apa artinya? Bukankah anak ini belum mempunyai dosa? Akhirnya Nabi Musa kembali harus meminta maaf atas kelancangannya. Setelah tiba di suatu tempat, keduanya menjumpai tembok tua yang hampir roboh, kemudian keduanya berhari-hari membangun kembali bangunan tembok tua itu. Setelah selesai dipugar, Khidlir mengajak Nabi Musa untuk meninggalkan tepat itu. Musa pun kembali bertanya, ini untuk apa semua  dilakukan? Untuk yang ketiga kali ini, Nabi Musa tidak lagi dapat dianggap sabar untuk menjadi murid dan Musa pun sudah tabah untuk tidak lagi melanjutkan pelajaran kepada gurunya. Sebelum keduanya berpisah, sang guru tidak lupa menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah ia lakukan.</p>
<p>Gurunya memberikan penjelasan bahwa para pemilik perahu nelayan itu kini sedang berutang budi terhadap orang yang pernah melubangi peruhunya. Mereka bersyukur karena seandainya perahu tidak dilubangi sudah barang tentu perahu itu ikut dijarah oleh pasukan Raja dlalim yang merayakan hari ulangtahunnya di laut. Anak itu sengaja dibunuh karena Khidlir diberikan ilmu khusus dari Allah Swt bahwa anak itu kalau sudah besar akan menjadi racun di dalam masyarakat termasuk mengkufurkan kedua orang tuanya, sementara kedua orang tua anak tersebut masih akan dikaruniai anak-anak yang shaleh. Tembok tua itu dipugar karena di bawah tembok itu tersimpan harta karun yang luar biasa besarnya, sementara pemiliknya masih dalam keadaan bayi. Tembok itu akan roboh ketika anak itu sudah besar dan sudah dapat mendayagunakan hartanya[10]</p>
<p>Kisah simbolik ini mengisyaratkan adanya tingkatan-tingkatan kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki Khidlir dapat dikategorikan kecerdasan spiritual. Sementara model kecerdasan yang ditampilkan Nabi Musa adalah kecerdasan intelektual. Kisah ini juga mengisyarakan bahwa kecerdasan spiritual tidak hanya dapat diakses oleh para Nabi tetapi manusia yang buka Nabi pun berpotensi untuk memperolehnya.</p>
<p><strong>Pengalaman Al-Gazali dan Ibn Arabi</strong><br />
Al-Gazali sesungguhnya sudah lama telah memperkenalkan model kecerdasan spiritual ini dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan konsep ma’rifah-nya. Menurut Al-Gazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (ungkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan. Roh tidak lagi terselubung oleh khayalan pikiran dan akal pikiran tidak lagi menutup penglihatan terhadap kenyataan Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan-kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa. Mukasyafah  ini juga merupakan sasaran terakhir dari para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya dalam di atas kepastian. Kepastian yang mutlak tentang sebuah kebenaran hanya mungkin ada pada tingkat ini.[11]</p>
<p>Kecerdasan spiritual menurut Al-Gazali dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan “kata-kata” yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya dengan maksud supaya disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk_nya. Sedangkan ilham hanya merupakan “pengungkapan” (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan oleh Allah.</p>
<p>Menurut Al-Gazali, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah Swt, itulah yang disebut ‘Ilm al-Ladunny oleh Al-Gazali.[12]</p>
<p>Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai, karena kepandaian itu dari Allah Swt. Al-Gazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip Q.S. Al-Baqarah/2:269:</p>
<p>Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).</p>
<p>Al-Gazali mengakui adanya hierarki kecerdasan dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia. Namun Al-Gazali hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akan (al-‘aql)</li>
<li>Kecerdasan Spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan ruhani, yang ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.[13]</li>
</ol>
<p>Ibn Arabi menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu yaitu pengetahuan kudus (<strong><em>‘ilm al-ladunni</em></strong>), ilmu pengetahuan misteri-misteri (<em><strong>‘ilm al-asrar</strong></em>) dan ilmu pengetahuan tentang gaib (<strong><em>‘ilm al-gaib</em></strong>).[14] Ketiga jenis ilmu pengetahuan ini tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual. Tentang kecerdasan intelektual, Ibn ‘Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan bahwa intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah yang mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.</p>
<p>Al-Gazali dan Ibn ‘Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksessibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Gazali, jika seseorang mampu mensinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada diri manusia, maka yang bersangkutan dapat “membaca” alam semesta. Kemampuan membaca alam semesta di sini merupakan anak tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta menurut Al-Gazali merupaka “tulisan” Allah Swt.</p>
<p>Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. Fenomena “kenabian” bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk “menerimanya”. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, maka “kenabian” menjadi fenomena alami. Keajaiban yang menyertai para Rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral dari “kenabian”, tetapi hanyalah alat untuk pelengkap alam mempercepat umat percaya dan meyakini risalah para Rasul itu.</p>
<p>[1]Lips, Hilary M., Sex &amp; Gender an: Introduction, California, London, Toronto: Mayfield Publishing Company, 1993, h. 40.</p>
<p>[2]Lihat misalnya dalam  Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, Juz  8  Libanon: Dar Ihya’ wa al-Turats al-‘Arabi, 1990., h.265. Lihat pula Sa’id Hawwa, al-Usas fi al-Tafsir, Juz 7, Mesir: Dar al-Salam, 1999, h. 3628-3629.</p>
<p>[3]Lihat Sandy MacGregor, Piece of Mind, Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar untuk Mencapai Tujuan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, h.41.</p>
<p>[4]Kata emosi berasal dari akar kata movere (Latin), berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti bergerak menjauh”. Secara literal emosi diartikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.(Lihat Daniel Goleman, Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional Mengapa Lebih Penting daripada IQ), Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama, 2000, h. 7.) Emosi dalam arti ini dalam bahasa arab dapat disepadankan dengan kata qalb, berasal dari akar kata qalaba yang secara harfiah berarti “merubah, membalikkan, menjauhkan”.</p>
<p>[5]Goleman, op, cit., h. 15.<br />
[6]Ibid, h. 411-422.<br />
[7]Goleman, Op. cit., h. 412.<br />
[8]S.H.Nasr, Ideals and Realities of Islam, London: George Allen &amp; Unwil Ltd, 1975, h. 18-19.<br />
[9]Danah Zohar &amp; Ian Marshal, Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence, London: Bloomsbury, 2000, h.31-32.<br />
[10]Kisah ini disadur dari Kitab Tafsir al-Thabari tentang kisa perjalanan spiritual seorang anak hamba yang bernama Ali AS.<br />
[11]Al-Gazali dalam Muqaddimah Ihya ‘Ul­m al-Din.<br />
[12]Al-Gazali, Al-Risalah al-Ladunniyyah, (Kumpulan Karangan pendek yang dibukukan), h, 29-30.<br />
[13]Lihat Ali Issa Othman, Manusia Menurut Al-Gazali, Bandung: Pustaka Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1981, h, 70-71.<br />
[14]Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Juz IV, h. 394. Bandingkan dengan Fush­sh al-Hikam, h. 369.</p>
<p>Oleh : Nasaruddin Umar<br />
Sumber: <a href="http://www.republika.co.id/node/29676" target="_blank">Republika.or.id</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;t=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;title=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI&amp;annotation=Pendahuluan%0D%0AAsumsi%20manusia%20sebagai%20homo%20sapiens%20atau%20al-hayawan%20al-nathiq%20%28spesies%20yang%20berfikir%29%20ternyata%20dianggap%20keliru.%20Visi%20baru%20para%20ilmuan%20menemukan%20bukti%20porsi%20intelektualitas%20manusia%20hanya%20merupakan%20bagian%20terkecil%20dari%20totalitas%20kecerdasan" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;title=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI&amp;bodytext=Pendahuluan%0D%0AAsumsi%20manusia%20sebagai%20homo%20sapiens%20atau%20al-hayawan%20al-nathiq%20%28spesies%20yang%20berfikir%29%20ternyata%20dianggap%20keliru.%20Visi%20baru%20para%20ilmuan%20menemukan%20bukti%20porsi%20intelektualitas%20manusia%20hanya%20merupakan%20bagian%20terkecil%20dari%20totalitas%20kecerdasan" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polemik Pluralisme di Indonesia</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/polemik-pluralisme-di-indonesia/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=polemik-pluralisme-di-indonesia</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/polemik-pluralisme-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 23:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism.
Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : &#8220;In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism.</p>
<p>Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : &#8220;<em>In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.</em>&#8221; Atau dalam bahasa Indonesia : &#8220;Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).&#8221;</p>
<p><strong>Polemik</strong></p>
<p>Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya yaitu pluralism sehingga memiliki arti :</p>
<ul>
<li>pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial kultural</li>
<li>pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama</li>
<li> pluralisme digunakan sebagai alasan untuk merubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain</li>
</ul>
<p>Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris. Dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak.</p>
<p>Pertentangan yang terjadi semakin membingungkan karena munculnya kerancuan bahasa. Sebagaimana seorang mengucapkan pluralism dalam arti non asimilasi akan bingung jika bertemu dengan kata pluralisme dalam arti asimilasi. Sudah semestinya muncul pelurusan pendapat agar tidak timbul kerancuan.</p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p>Belakangan, muncul fatwa dari MUI yang melarang pluralisme sebagai respons atas pemahaman yang tidak semestinya itu. Dalam fatwa tersebut, MUI menggunakan sebutan &#8220;<em><strong>pluralisme agama</strong></em>&#8221; (sebagai obyek persoalan yang ditanggapi) dalam arti &#8220;<em>suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga&#8221;</em>. Kalau pengertian pluralisme agama semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan dengan ajaran agama Islam.</p>
<p>Bagi mereka yang mendefinisikan pluralism &#8211; non asimilasi, hal ini di-salah-paham-i sebagai pelarangan terhadap pemahaman mereka, dan dianggap sebagai suatu kemunduran kehidupan berbangsa. Keseragaman memang bukan suatu pilihan yang baik bagi masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, bermacam ras, agama dan sebagainya. Sementara di sisi lain bagi penganut definisi pluralisme &#8211; asimilasi, pelarangan ini berarti pukulan bagi ide yang mereka kembangkan. Ide mereka untuk mencampurkan ajaran yang berbeda menjadi tertahan perkembangannya.</p>
<p><strong>Kristalisasi polemik</strong></p>
<p>Dengan tingkat pendidikan yang kurang baik, sudah bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan penduduk indonesia kurang kritis dalam menangani suatu informasi. Sebuah kata yang masih rancu pun menjadi polemik karena belum adanya kemauan untuk mengkaji lebih dalam. Emosi dan perasaan tersinggung seringkali melapisi aroma debat antar tiga pihak yaitu :</p>
<ol>
<li>penganut pluralisme dalam arti asimilasi</li>
<li>penganut pluralism dalam arti non asimilasi</li>
<li>penganut anti-pluralisme (yang sebenarnya setuju dengan pluralism dalam arti non-asimilasi)</li>
</ol>
<p>Sumber : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polemik_pluralisme_di_Indonesia" target="_blank">Wikipedia</a></p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fpolemik-pluralisme-di-indonesia%2F&amp;t=Polemik%20Pluralisme%20di%20Indonesia" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Polemik%20Pluralisme%20di%20Indonesia%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fpolemik-pluralisme-di-indonesia%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fpolemik-pluralisme-di-indonesia%2F&amp;title=Polemik%20Pluralisme%20di%20Indonesia&amp;annotation=Pluralisme%20sebagai%20paham%20religius%20artifisial%20yang%20berkembang%20di%20Indonesia%2C%20mengalami%20perubahan%20ke%20bentuk%20lain%20dari%20asimilasi%20yang%20semula%20menyerap%20istilah%20pluralism.%0D%0A%0D%0AMenurut%20asal%20katanya%20Pluralisme%20berasal%20dari%20bahasa%20inggris%2C%20pluralism.%20Apabila%20me" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fpolemik-pluralisme-di-indonesia%2F&amp;title=Polemik%20Pluralisme%20di%20Indonesia&amp;bodytext=Pluralisme%20sebagai%20paham%20religius%20artifisial%20yang%20berkembang%20di%20Indonesia%2C%20mengalami%20perubahan%20ke%20bentuk%20lain%20dari%20asimilasi%20yang%20semula%20menyerap%20istilah%20pluralism.%0D%0A%0D%0AMenurut%20asal%20katanya%20Pluralisme%20berasal%20dari%20bahasa%20inggris%2C%20pluralism.%20Apabila%20me" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/polemik-pluralisme-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapak Ceplas-ceplos Nasional</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=bapak-ceplas-ceplos-nasional</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seolah-olah besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menunjukkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seolah-olah kecil kita abaikan.
Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal, sejatinya, unsur tampak remeh-temeh inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seolah-olah besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menunjukkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seolah-olah kecil kita abaikan.</p>
<p>Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal, sejatinya, unsur tampak remeh-temeh inilah yang justru paling menentukan vitalnya kedudukan Gus Dur di tengah kemunafikan Nusantara.</p>
<p>Kalau sekadar tokoh yang bertumpu pada kekuatan pikiran, ada banyak tokoh sekelas Gus Dur. Baik itu gagasannya tentang pluralisme, demokrasi, maupun pembaruan pemikiran Islam. Ketokohan dan ”darah biru”-nya juga tidak kalah dibanding Gus Dur. Akan tetapi, arek Jombang ini menjadi kinclong dibanding tokoh-tokoh setarafnya justru karena bawah sadar kolektif kita yang munafik ini sebetulnya merindukan keterusterangan.</p>
<p>Jauh di dasar permukaan tata krama, sopan santun, basa-basi, dan seluruh perangkat kemunafikan lainnya, kita sesungguhnya mendambakan sesuatu yang urakan. Urakan bukan dalam nuansa arogan. Nuansanya egalitarian. Itulah keceplas-ceplosan Gus Dur.</p>
<p>Bima</p>
<p>Dari lubuk dasar yang permukaannya saja tampak hipokrit, kerinduan kita pada keterusterangan itu menjadi jelas kalau kita rujuk suku Jawa sebagai salah satu pengisi budaya nasional yang paling rumit tata kramanya. Tingkatan bahasa orang Jawa paling tidak ada tiga: ngoko (bahasa kasar), kromo madyo (bahasa sedang), dan kromo inggil (bahasa tinggi). Akan tetapi, bawah sadar kolektif nenek moyang orang Jawa yang tecermin dalam wayang justru menjadikan Bima yang cuma bisa ngoko alias blakblakan, sebagai manusia dengan derajat kesempurnaan tertinggi.</p>
<p>Dengan bahan baku Ramayana dan Mahabarata dari India, metabolisme kreatif lokal para leluhur orang Jawa tidak memilih tokoh-tokoh santun seperti Yudistira dan Kresna sebagai puncak idola. Pada lakon Dewa Ruci, lakon carangan atau gubahan lokal yang menjadi master- piece dunia pedalangan Jawa dan tidak terdapat dalam naskah asli India, hanya Bima seorang diri yang diberi hak oleh leluhur Jawa untuk bisa bertemu dan berdialog langsung dengan Tuhan semasa hidupnya.</p>
<p>Kemunculan Gus Dur yang fenomenal bisa dipahami dalam konteks memori bawah sadar kolektif kita, apalagi di tengah kancah kemunafikan tata krama yang makin bikin sumpek seperti sekarang. Mungkin ada beberapa tokoh ceplas-ceplos yang pluralis, demokratis, dan pembaru pemikiran Islam. Akan tetapi, keceplas-ceplosan Gus Dur sangat dekat pada model blaka suta (frankly speaking) yang diimpikan leluhur Jawa melalui karakter khayalan Bima. Bima bicara apa adanya dan ngoko dan tanpa basa-basi, tetapi tak satu pun lawan bicaranya sakit hati atau merasa tidak dihormati. Kuncinya adalah ketulusan, tanpa pretensi ataupun tendensi tertentu yang tersembunyi.</p>
<p>(Maaf) kentut</p>
<p>Satu lagi pertanda bahwa suku yang paling berpilin-pilin tata kramanya di Nusantara ini sesungguhnya bawah sadar kolektifnya menginginkan keterusterangan, termasuk dalam melanggar tabu, adalah direkanya tokoh Semar. Tokoh yang kejenakaan serta posturnya berkesan Gus Dur ini juga tak ada dalam Ramayana dan Mahabarata India.</p>
<p>Para leluhur Jawa, suku yang di permukaan tampak ruwet tata kramanya, memilih kentut Semar sebagai senjata paling ampuh di dunia, bukan senjata pamungkas pasopati milik Arjuna ataupun cakra milik Kresna.</p>
<p>Dalam konteks budaya, sebagai simbol, kentut adalah seluruh hal yang tabu di Nusantara, seperti sendawa pada orang-orang ”Barat”. Maknanya, bangsa yang kian sesak kemunafikan ini sesungguhnya di bawah sadar memori kolektifnya membolehkan malah mengharuskan pelanggaran hal-hal tabu untuk menyelesaikan masalah seperti, antara lain, persetujuan Gus Dur untuk perayaan Imlek.</p>
<p>Sungguh agak kurang sedap dan kurang inspiratif mengenang Gus Dur hanya dalam hal ketokohannya di ranah pluralisme, demokrasi, dan pembaruan pemikiran Islam, tanpa mengenang keceplas-ceplosannya termasuk dalam melanggar tabu-tabu. Ibarat mengenang garam tanpa kita kenang asinnya.</p>
<p>Oleh SUJIWO TEJO Dalang<br />
Sumber : Kompas.com</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;t=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;title=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20&amp;annotation=Banyak%20hal%20terkuak%20sepeninggal%20Gus%20Dur.%20Ternyata%20sebagai%20bangsa%20kita%20masih%20saja%20terlalu%20silau%20pada%20hal-hal%20yang%20seolah-olah%20besar%20dan%20mentereng.%20Sebutan%20%E2%80%9DBapak%20Pluralisme%E2%80%9D%20dan%20%E2%80%9DBapak%20Demokrasi%E2%80%9D%20buat%20almarhum%20menunjukkan%20keterpukauan%20itu.%20Yang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;title=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20&amp;bodytext=Banyak%20hal%20terkuak%20sepeninggal%20Gus%20Dur.%20Ternyata%20sebagai%20bangsa%20kita%20masih%20saja%20terlalu%20silau%20pada%20hal-hal%20yang%20seolah-olah%20besar%20dan%20mentereng.%20Sebutan%20%E2%80%9DBapak%20Pluralisme%E2%80%9D%20dan%20%E2%80%9DBapak%20Demokrasi%E2%80%9D%20buat%20almarhum%20menunjukkan%20keterpukauan%20itu.%20Yang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur sebagai &#8220;Orang Asing&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gus-dur-sebagai-orang-asing</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 15:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Georg Simmel]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>
		<category><![CDATA[The Stranger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing.
Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing.</p>
<p>Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel. Dalam salah satu tulisannya, The Stranger, Simmel memberikan pengertian yang kompleks, khas, dan unik atas konsep orang asing.</p>
<p>Bagi Simmel, orang asing bukan sebuah tifikasi identitas (orang yang tidak dikenali asal-usulnya), melainkan suatu tifikasi relasi tertentu seseorang dalam suatu komunitas. Tipe relasi yang dimaksud adalah relasi interseksi yang dibangun atas dasar kedekatan (nearness), tetapi sekaligus berjarak (remoteness).</p>
<p>Dalam relasi interseksi, orang asing menjadi bagian dari komunitas, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari komunitas tersebut karena ia tetap mampu mengambil jarak dengannya. Orang asing adalah orang yang berada di dalam sekaligus di luar komunitas.</p>
<p>Gus Dur tepat disebut sebagai orang asing karena selama ini Gus Dur mengembangkan relasi interseksi tersebut tidak saja di dalam komunitas NU, tetapi juga dengan kekuasaan dan berbagai komunitas lain yang lebih luas.</p>
<p><strong>Kritik pedas</strong></p>
<p>Terlahir sebagai cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari; dididik secara kultural di dalam tradisi NU, memulai dan memantapkan karier politik di NU merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah elemen penting dan tak terpisahkan dari komunitas NU. Namun, pada saat yang sama, tidak jarang sikap Gus Dur berseberangan dengan tokoh-tokoh penting lainnya di NU dan secara terbuka kerap melancarkan kritik pedas terhadap beberapa kiai nahdliyin, seolah-olah ia tidak sedang menjadi bagian dari NU.</p>
<p>Begitu pula relasi Gus Dur dengan kekuasaan. Pada era Orde Baru, Gus Dur kerap mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto, tetapi—pada saat yang sama—”mengambil” dan menerima Pancasila, yang menjadi kebijakan politik resmi Orde Baru itu, sebagai asas NU.</p>
<p>Hal ini berlanjut saat Gus Dur sendiri berada dalam pusat kekuasaan, yaitu sebagai presiden ke-4 RI. Saat itu Gus Dur secara sinikal menyebut para anggota DPR ibarat murid taman kanak-kanak. Padahal, DPR saat itu diisi oleh banyak anggota yang berasal dari partai koalisi yang justru mendukung dan memilihnya sebagai presiden. Dengan sikapnya itu, Gus Dur dianggap tidak konsisten, mencla-mencle, dan berkhianat pada ikatan koalisi besar partai politik yang mendukungnya. Klimaksnya, Gus Dur pun dilengserkan dari kekuasaan oleh orang-orang yang dulu pernah mendukungnya.</p>
<p>Kendati begitu, dari situ kita bisa memetik pelajaran. Pertama, dengan relasi interseksi sejatinya Gus Dur berupaya untuk tetap (ber)independen terhadap segala bentuk ikatan, sekalipun itu ikatan dengan komunitas paling primordial baginya: NU, ataupun kekuasaan yang sesungguhnya bisa sangat menguntungkan dirinya. Kedua, Gus Dur berusaha mene- rapkan suatu perspektif sosial yang lebih obyektif dalam memandang individu, kelompok, atau institusi.</p>
<p>Obyektivitas</p>
<p>Persis dijelaskan Simmel bahwa orang asing adalah orang dengan pandangan yang obyektif. Obyektivitas orang asing adalah suatu pandangan yang hanya mungkin diperoleh dalam suatu relasi interseksi, yaitu kedekatan dan keberjarakan. Ini berbeda dengan obyektivitas kaum ilmiah positivistik yang hanya memandang sesuatu dengan mengambil jarak dari obyek.</p>
<p>Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas, seperti umat Konghucu dan Ahmadiyah, misalnya, bisa dipahami dalam kerangka obyektivitas orang asing ini. Gus Dur membela keberadaan mereka atas dasar pandangan obyektif dengan meneropong keberadaan mereka tidak hanya dari kejauhan, tetapi juga dari dekat. Dengan cara ini, Gus Dur mampu memahami cara hidup dan berkeyakinan mereka secara adil dan apa adanya. Maka, dengan cara pandang ini, tidak heran jika kemudian Gus Dur bisa diterima dan dikagumi oleh banyak orang dari berbagai kelompok dan golongan.</p>
<p>Terhadap lawan-lawan politiknya sekalipun, Gus Dur taat menerapkan pandangan obyektif semacam ini dan sangat piawai menjalin relasi interseksi dengan mereka. Dengan demikian, di mata Gus Dur, secara obyektif keberadaan lawan politik adalah sekaligus kawan politik. Sungguh ini sebuah estetika politik yang mungkin tidak mudah dilakukan tokoh politik lainnya.</p>
<p>Oleh: Wildan Pramudya Aktif di LP3ES<br />
Sumber: Kompas.com</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;t=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;title=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22&amp;annotation=Gelar%20kehormatan%20sebagai%20pahlawan%20nasional%2C%20Guru%20Bangsa%20dan%20Bapak%20Pluralisme%2C%20sungguh%20layak%20diberikan%20kepada%20mendiang%20Gus%20Dur.%20Namun%2C%20penulis%20ingin%20menghormati%20Gus%20Dur%20bukan%20dengan%20gelar-gelar%20kehormatan%20semacam%20itu%2C%20melainkan%20hanya%20dengan%20mengenangn" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;title=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22&amp;bodytext=Gelar%20kehormatan%20sebagai%20pahlawan%20nasional%2C%20Guru%20Bangsa%20dan%20Bapak%20Pluralisme%2C%20sungguh%20layak%20diberikan%20kepada%20mendiang%20Gus%20Dur.%20Namun%2C%20penulis%20ingin%20menghormati%20Gus%20Dur%20bukan%20dengan%20gelar-gelar%20kehormatan%20semacam%20itu%2C%20melainkan%20hanya%20dengan%20mengenangn" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur, Raja Telah Mangkat, Hidup Raja!</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 15:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Multikultural]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan repitoir dari berbagai tulisan mengenai Gus Dur, yang ditulis oleh berbagai kalangan masyarakat, dan ada di mana-mana, baik lokal maupun nasional. Secara aklamasi semuanya sependapat bahwa Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional dan guru bangsa, terutama mengenai pluralisme dan multikulturalisme, baik ini nanti diformalkan atau tidak oleh pemerintah.
Ada tradisi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan repitoir dari berbagai tulisan mengenai Gus Dur, yang ditulis oleh berbagai kalangan masyarakat, dan ada di mana-mana, baik lokal maupun nasional. Secara aklamasi semuanya sependapat bahwa Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional dan guru bangsa, terutama mengenai pluralisme dan multikulturalisme, baik ini nanti diformalkan atau tidak oleh pemerintah.</p>
<p>Ada tradisi di (kerajaan) Barat, kalau ada seorang raja wafat, maka segera diumumkan: ”<em>The King is dead, Long live the King</em>”— ”Raja telah mangkat, hidup Raja”. Jadi, tidak ada ”vakum kekuasaan”. Begitu pula malam itu di Ciganjur: ”Gus Dur telah wafat, hidup Gus Dur”. Artinya, semua pelayat dengan sedih menerima bahwa Gus Dur telah wafat, tetapi semua pelayat mengakui pula bahwa ”roh” Gus Dur masih hidup.</p>
<p>Kenyataan ini diterima oleh semua yang hadir, juga oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Roh itu berupa ajaran dan keyakinan Gus Dur, terutama yang berupa pengakuan bahwa pluralisme dan multikulturalisme bangsa Indonesia adalah ajaran yang harus dihayati dan dilaksanakan oleh kita semua.</p>
<p>Bangsa Indonesia sebenarnya sudah mengetahui wawasan pluralisme dan multikulturalisme ini. Wawasan ini telah ada sejak diciptakannya semboyan Bhinneka Tunggal Ika oleh Empu Tantular, kemudian peneguhan pemuda di Nusantara yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, serta dicantumkannya semboyan Bhinneka Tunggal Ika di simbol Garuda Pancasila yang dipasang di semua kantor resmi ataupun logo ofisial kenegaraan lainnya.</p>
<p><strong>Mengapa tidak</strong></p>
<p>Gus Dur dengan tegas, tanpa ragu, dan serta merta mengakomodasi desakan dan keresahan daerah dan memberikan tempat yang layak dalam nation building Indonesia. Kalau pergolakan di Aceh itu disebabkan karena kebutuhan ditampungnya di dalam berlakunya syariah Islam, mengapa tak diberikan saja. Begitu saja kok repot.</p>
<p>Begitu pula kalau etnis Tionghoa akan merasa tidak dipinggirkan dengan pengakuan perayaan Imlek, pengakuan agama Konghucu, diperbolehkannya bahasa Tionghoa dengan aksara-aksara kanji serta barongsai, mengapa tidak! Dan untuk itu Gus Dur mengaku bahwa dirinya juga sebenarnya keturunan marga Tan. Semua jadi bahagia. Juga Irian Jaya menjadi Papua, ini memuaskan batin orang-orang Papua disertai bendera bintang kejora boleh dikibarkan sebab, kata beliau, PSSI pun punya benderanya sendiri: gitu saja kok dipersoalkan.</p>
<p>Dalam hubungan antaragama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, banyak sikap tegas yang ditunjukkan oleh Gus Dur. Soal ini sudah banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh agama non-Islam. Sebagai Ketua Nahdlatul Ulama dan tokoh Islam yang besar, beliau tanpa tedeng aling-aling berani mengoreksi berbagai sikap/tindakan primordialistik keagamaan Islam. Gus Dur, misalnya, mengatakan bahwa tokoh Katolik, seperti Benny Moerdani, setidaknya harus bisa dibicarakan sebagai calon presiden RI, dan dengan entengnya beliau menambahkan, toh dia tidak akan dapat terpilih.</p>
<p>Dr Andre Feiliard, sarjana Perancis, yang disertasinya tentang Nahdlatul Ulama, menyatakan, betapa karisma dan ketegasan Gus Dur yang telah dapat dengan segera mencegah dan menghentikan kekerasan/perusakan-perusakan yang bermotif agama yang terjadi di Jawa Timur pada waktu itu. Ini sungguh kepemimpinan yang patut dikagumi.</p>
<p>Dengan demikian, kini yang penting dan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia dalam situasi seperti sekarang ini adalah seorang pemimpin yang bersedia membawa ”roh” Gus Dur itu secara tegas, konsekuen dan berani, seperti halnya Gus Dur semasa hidupnya. Pada saat sekarang ini bangsa Indonesia sangat mendambakan pemimpin seperti itu. Gus Dur, R.I.P.</p>
<p>Oleh: HARRY TJAN SILALAHI Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies<br />
Sumber: Kompas.com</p>



Share :


	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;t=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;title=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21&amp;annotation=Tulisan%20ini%20sebenarnya%20hanya%20merupakan%20repitoir%20dari%20berbagai%20tulisan%20mengenai%20Gus%20Dur%2C%20yang%20ditulis%20oleh%20berbagai%20kalangan%20masyarakat%2C%20dan%20ada%20di%20mana-mana%2C%20baik%20lokal%20maupun%20nasional.%20Secara%20aklamasi%20semuanya%20sependapat%20bahwa%20Gus%20Dur%20adalah%20seorang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a>
	<a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;title=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21&amp;bodytext=Tulisan%20ini%20sebenarnya%20hanya%20merupakan%20repitoir%20dari%20berbagai%20tulisan%20mengenai%20Gus%20Dur%2C%20yang%20ditulis%20oleh%20berbagai%20kalangan%20masyarakat%2C%20dan%20ada%20di%20mana-mana%2C%20baik%20lokal%20maupun%20nasional.%20Secara%20aklamasi%20semuanya%20sependapat%20bahwa%20Gus%20Dur%20adalah%20seorang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a>


<br/><br/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
