<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>ABDURAHMAN WAHID-WAHID</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=abdurahman-wahid-wahid</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bola Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan. Sayang Mesir tak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.</div>
<div id="_mcePaste">Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.</div>
<div id="_mcePaste">Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.</div>
<div id="_mcePaste">Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.</div>
<div id="_mcePaste">Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</div>
<p>Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.<br />
Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.<br />
Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.<br />
Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.<br />
Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.<br />
Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.<br />
Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;<br />
Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; color: #333333;">Ditulis Oleh: <a href="http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/kenduri-cinta/abdurahman-wahid-wahid/402949846563" target="_blank">Emha Ainun Nadjib</a></span></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;t=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;annotation=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;bodytext=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELAMAT JALAN PAHLAWANKU,TUTUR SAPAMU PENUH HIKMAH</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 15:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Nuril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;WALA TAHSABANALADZINA KUTILU FI SABILILLAHI AMWATAN BAL AHYA INDAROBIHIM YURZAQUN, &#8230;jangan engkau anggap seseorang yang meninggal di jalan Allah adalah mati,dia masih hidup,bahkan mendapatkan rejeki disisi Allah yang maha agung&#8221; (Al Qur&#8217;an) Syair : Akhir desember yang biru milyaran umat,mengenang jasamu sebagai bapak demokrasi tiada duanya di negeri ini. Wahai para penguasa yang kini sedang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">&#8220;WALA TAHSABANALADZINA KUTILU FI SABILILLAHI AMWATAN BAL AHYA INDAROBIHIM YURZAQUN,</div>
<div>&#8230;jangan engkau anggap seseorang yang meninggal di jalan Allah adalah mati,dia masih hidup,bahkan mendapatkan rejeki disisi Allah yang maha agung&#8221; (Al Qur&#8217;an)</div>
<div id="_mcePaste">Syair :</div>
<div id="_mcePaste">Akhir desember yang biru</div>
<div id="_mcePaste">milyaran umat,mengenang jasamu</div>
<div id="_mcePaste">sebagai bapak demokrasi</div>
<div id="_mcePaste">tiada duanya di negeri ini.</div>
<div id="_mcePaste">Wahai para penguasa</div>
<div id="_mcePaste">yang kini sedang bertahta</div>
<div id="_mcePaste">sudahkah tuan semua fikirkan</div>
<div id="_mcePaste">gelar pahlawan nasional,abdurahman wahid..</div>
<div id="_mcePaste">sang penebar kasih..abdurahman add dhakhil..</div>
<div id="_mcePaste">Selamat jalan pahlawanku,celotehmu penuh makna</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan pahlawanku,turusapamu yang hikmah</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan pahlawanku jasamu kukenang selalu</div>
<div id="_mcePaste">ach&#8230;gitu saja kok repot</div>
<div id="_mcePaste">semoga engkau dama disisi Nya</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan wahai bapak bangsa</div>
<div id="_mcePaste">kami siap jadi penggantimu</div>
<div id="_mcePaste">akan kuteruskan perjuangan mu</div>
<div id="_mcePaste">semoga engkau damai di sisi Nya</div>
<div id="_mcePaste">selamat jalan duhai sahabatku</div>
<div id="_mcePaste">aku jadi mata dan hatimu</div>
<div id="_mcePaste">akan ku tebarkan citra dirimu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;ya ayuhan nafsul muthma&#8217;inah irji&#8217;i ila robbiki rodhiatam mardiyah,fatkuli fi ibadi,fatkuli janati ..Allahuma inna nas aluka ridloka wal janah</div>
<div id="_mcePaste">wanaudzubika min sakhotika wan nar,ya azis ya ghofar</div>
<div id="_mcePaste">yaa robbal alamin.</div>
<div id="_mcePaste">Robbighfirli wali walidaya,warham huma kama robayni soghiroo&#8230;&#8230;&#8230;.</div>
<div id="_mcePaste">100 hari sang penakluk; (1)</div>
<div>Sejak meninggal dunia,sang walkiyullah dan wali internasional.bahkan Wali segala Agama itu tidak pernah hentinya kegiatan doa,solawat,yasinan,bacaan al qur&#8217;an,dipesantrenku sendiri para santri santri khafid membacakan alqur&#8217;an untuk beliau setelah didahului sholat ghoib.</div>
<div>Hampir semua TV menayangkan kehilangan sang putra terbaik bangsa ini,semua agama bersama para pengikutnya berdoa.Saya sendiri sampai heran,tokoh kristen seperti Pendeta Nathan,Gunarto dan DR .elyas dari isa al masyh,juga katholik mulai dari Romo Muji,Magnis,.Sapto dan Widi,juga semaua dipelosok negeri berdoa.Agama Kong Hucu,dan Budha serta Hindu,tidak kurang dari biksu Tji Tjai ing,dan temen temen Mas Wayan Suwisma,melantunkan puji doa.Langit terasa mendung dan kesejukan perdamaian sesaat di negeri yang sedang kisruh ini mengendur.Konsentrasi tertuju kepada seorang penakluk yang sering di sebut sebagai bapak bangsa, bapak demokrasi dan bapak reformasi sekaligus pluralisme.</div>
<div>Testimoni demi testimoni,muncul mulai dari KH Syafi&#8217;i Maarif, KH Hasyim Muzadi, Ady Masardhi, sampai Slamet Gundono, si dalang kontemporer wayang suket yang memang sudah menjadi &#8216;Anak&#8217; Gus Dur. Di halaman rumah Gus Dur, di bilangan Cinganjur sudah padat dengan ratusan ribu penziarah. Memang sejak meninggal sampai hari ke seratusnya tidak henti masa mengalir ke ndalem maupun ke pasarean beliau di Jombang, Jawa Timur.</div>
<div id="_mcePaste">Di seratus harinya Gus Dur, sebenarnya tidak di monopoli di Ciganjur, di Surabnaya, saya bersama Elzastro diundang PBB untuk ceramah, juga di Yogyakarta dan di Jombang dan daerah lain, khususnya ndalem Ci Ganjur.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah Profesor DR Said Aqil siroj, ketua PBNU yang baru, mengatakan bahwa jabatannya ini adalah nubuatan yang disampikan Gus Dur kepadanya, bahwa dia akan menjadi ketua PBNU pada usia 55 th. Dan saat ini benar adanya saya persis 55 tahun dan menjadi ketua PBNU.</div>
<div>Mahfud MD (Profesor doktor,Mahfud MD) juga bertestimoni,dan mendapatkan sambutan luar biasa,tidak kalah hebatnya Prof DR Nazarudin Umar. Dirjen depag itu bersamaku dalam satu pesawat membawa jenazah Gus Dur, dari Jakarta ke Jombang.</div>
<div>Intelektual muslim yang cerdas itu berdo&#8217;a khusu bareng dengan seorang habib dari kalimantan, namanya saya lupa tetapi dari farm Al Atas. Saya sendiri baru pertama kali ini diminta testimoni, rasanya tidak enak menolak. Tetapi sebenarnya masyarakat lebih berhak bertestimoni dibandingkan dengan gedibal sepertiku ini.</div>
<div>Semalam saya ditemui malaikat Mungkar dan malaikat Nakir, saya diminta menyampaikan kepada Kang Said (Prof DR Said Aqil Siroj) agar Kang Said menganjurkan kaum nahdliyin dan kaum lainya menghentikan dulu ziarah kubur. khususnya kuburnya Gus Dur. Karena sudah habis satu galon jamu pegel linu di minum malaikat Mungkar dan Nakir serta malaikat Rahmat, karena peziarah belum beranjak juga, sehingga sampai hari ke seratus malaikat belum menanyai Gus Dur. Mendengar ucapanku yang terbata bata itu, semua hadirin pada ketawa, tetapi saya tidak pedulikan dan saya sambung;</div>
<div>Sesuai hadist jika sesorang meninggal dan penziarahnya meninggalkan kubur tujuh langkah, malaikat sudah menanyai jenazah. Ini sudah 100 hari mereka tidak bergeming, bahkan tanah kuburan pun diambili dibawa pulang. Lalu masih dengan terbata bata, saya katakan saya tidak pandai berpidato, tetapi kemarin malam bersama sahabatku pembina santri jalanan KH Dian Jully, yang terkenal dengan sebutan Gus Dian Sanjaya, mengarang lagu untuk beliau. Dan syair di atas teriringi dengan gitar akustik tua milik mbah july, semua umat larut, dan Prof Dr Nazarudfin Umar, dirjen Depag, itu membisikiku, &#8220;<em>Gus kalau sudah direkam saya diberi CD nya nggih</em>&#8220;. Saya hanya menangis di sela doa, robighfirli&#8230;..</div>
<div>Lagu ini sebenarnya merekam kisah kecilku bersama Sang Penakluk dan Semar ngejowantah itu, yang selama ini menjadi tumpuan rakyat marginal, yang membongkar tatanan birokrasi istana presiden yang menyeramkan menjadi istana rakyat, yang simbok bakul sayur dengan sandal japitnya bisa mengunjungi dan melihat presidennya dengan pendar mata bahagia. Ya Sang Semar ngejowantah yang sangat simarudunya itu.</div>
<div>Saya paling tidak pernah meminta di foto bareng Gus Dur, apalagi di rumah sakit. Tetapi dua hari sebelum sahabat, bapak dan guru serta teman bersendagurau, sang ulama kampiun internasional, dan waliyullah akhir zaman itu meninggal kang Imam (Imam Agus Soesilo) mengajaku berfoto di samping beliau.</div>
<div>Ayoo&#8230; Gus buat foto kenang kenangan bersama bapak, saya nggak punya fotonya beliau meskipun sudah 10 tahun mendampingi bapak. Saya iyakan saja sambil menempatkan diri di perbaringan Gus Dur. Saya di sebelah kiri beliau sambil memegangi tangan kirinya yang bengkak sebesar betis kaki, sedangkan kang Imam di samping kanan. sementara itu Mbak Lily dan mas Dokter Imam memandangi kami berdua sembari tersenyum. Wakil ketua PKB pusat, Drs H Niam Salim tersenyum lega. Karena dialah satu satunya pengurus PKB versi Muhaimin yang meminta maaf dan dimaafkan oleh beliau.</div>
<div>Niam Salim ini seperti adik bagiku, ketika masih duduk di Jawa Tengah mencalonkan ketua Ansor juga sering minta advis kepadaku, ngleset di Pesantren Sokotunggal Semarang sudah biasa. apalagi kalau pas Banser ngadakan kegiatan, dan kurang dana, biasanya saya diminta nilpon itu dan ini. hahahahaha</div>
<div>Kebiasaan anak-anak muda NU yang ghiroh terhadap perjuangan tinggi seperti itu adalah biasa bagi tetua tua, karena sebelum dadi tetua juga melakukan itu hahahahaha. Sekarang Niam memang sudah gemuk dan nampak pejal tubuhnya konon menjadi calon menteri kabinet SBY, bersama Faisal Helmy dan Muhaimin sendiri.</div>
<div>Ternyata foto ini yang terakhir, saya mendampingi Gus Dur, saya pamit, gus saya pulang ke Semarang dulu nggih, anak-anak lagi ngecor masjid, Masjidnya diperluas menjadi 25 x 25 meter, yang semula hanya satu lantai di jadikan tiga lantai, soalnya merangkap madrasah, daripada membangun lagi lebih murah digandengkan sehingga mirip bangunan yang dulu dipakai para wali. Gambarnya sih indah gus, hanya ngecornya nunggu lailatul qodar. hahaha.</div>
<div id="_mcePaste">Gus Dur tertawa, sampean ini bisa aja , Gus, mosok ngecor ngenteni lailatul qodar, yang bener ya ngenteni dikirim semen sama pasir serta mollen, malaikat mikhail, hahahahahaha. Kami seruangan tertawa terbahak bahak, meskipun pipi Gus Dur menteng-menteng merah karena bengkak dari sakit giginya.</div>
<div>&#8220;Sampun nggih Gus dalem pamit, wong kantun sakit gigi mawon kok, enteng niku<em> (Saya pamit dulu Gus, Tinggal sakit gigi aja kok, ringaan itu)</em>&#8220;, kataku menyambung pembicaraan.</div>
<div>Ternyata Gus Dur menyambung lagi, &#8220;<em>Gus Nuril saya beri tahu kebenaran sebuah hadist. Hadist ini di riwayatkan oleh Megy Z Almarhum, bahwa: Lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi, itu ternyata benar dan saya mengalaminya masya Allah</em>&#8220;.</div>
<div>hahahahahahahahahahaha, ruangan 6 x6 m persegi itu lagi lagi meledak. Sampai seorang suster melongokan kepala dari balik pintu. Sudah sembuh to Gus katanya sembari menutup pintu. Sejurus kemudian membenarkan letak infus yang menempel di tangan kanan Gus Dur.</div>
<div>Saya belum sempat beranjak, Dr Imam Wahid adik Gus Dur, yang dulu menjadi dokter kepresidenan menawari Gus Dur, &#8220;<em>Kang besok operasi giginya di rumah sakit Medika atau di RSCM saja?</em>&#8220;.</div>
<div>Dijawab gus Dur, <em>&#8220;Di RSCM sajalah biar tidak di gusar gusur kesana kemari. Inggih Gus (Nuril) kulo tak istirahat, njenengan monggo nek bade mburu wekdal mengko pesawate  mabur njenengan telat, &#8230; , tapi benjang wangsul mriki maleh nggih kulo di anteraken (iya Gus saya mau istirahat, silahkan kalau mau mengejar pesawat, nanti kalau terbang bisa terlambat, &#8230;, tapi besok kembali kesini lagi saya diantarkan)</em>&#8220;.  Tanpa berfikir saya menjawab inggih.</div>
<div>Tetapi di luar ruangan saya menjadi bingung, gimana to ini Gus Dur wong sudah pamit kok disuruh kembali besuknya, emangnya Jakarta Semarang deket apa. wah aneh-aneh saja, tetapi kalau tidak aneh kan bukan Gus dur ya, gumamku sembari tersenyum, memantabkan niat, ah paling paling sudah ada Sulaiman, ada kang Latif dan mas Wiji biar beliau yang mengantar ke Dokter. Guntur Romli dan Adi serta Rusdi dan Nicko juga anak anak pesantren Abdurahman wahid saya minta siaga bergantian menjaga RCM, karena siapa tahu dibutuhkan, bisa cepat tumandang ing gawe.</div>
<div>Mirip Gus Mix</div>
<div id="_mcePaste">Di semarang, saya sempatkan memperbaiki tulisan di akun. Maklum lagi gemar berselancar di lautan maya lewat Facebook (FB). Jam empat sore saya ditelefon kang Acun ( KH Wahid) &#8220;<em>Gus Nuril teng Semarang nopo teng Jakarta (Gus nuril ada di Semarang apa di Jakarta ? )&#8221;</em>.</div>
<div>Saya jawab, &#8220;<em>di semarang, ada apa kang?&#8221;</em>, hati saya mulai was was, karena wajah Gus Dur Ngglibet (berkelebat) saja di depan mata. Pengalaman ini pernah  saya rasakan ketika salah seorang Waliyullah KH Hamim Jazuly sedo. Waliyullah nyentrik yang senantiasa memakai kaos, dan nygkelat siosir besar tapa kupluk, malah memakai jean itu sahabat langitku, bersama Gus Ali Sidoharjo (KH Ali Mashuri)</div>
<div>Kalau tidak salah tahun 1994, siang bolong, ketika habis solat duhur saya ketiban jadwal ceramah di Itihadul Mubhalighin Jawa Tengah, yang dikomandoi KH Wahid Anwar al Karangkimpuli (Allahuma yarkham). Di gedung PHI Semarang itu tiba tiba muncul Gus MIX, sembari dada dan mengatakan gus saya pamit rumiyen nggih. Demi mendengar ucapan Gus Mix itu saya spontan mengatakan &#8220;<em>ila ruhi wa jasadi hadratusy syeik KH Khamim Jazuli al fatekhah&#8221;</em>,&#8230;..</div>
<div>Kontan ratusan kyai dan calon Da&#8217;i yang mengikuti ceramah gemuruh membaca fathekhah, tetapi saya tahu ada keraguan di dalam hati mereka. Maklum waktu itu belum ada HP, tetapi setelah dia cek sana sini ternyata benar. Gus Mix merentas jalan membuka jalur bagi yunior yuniornya untuk menuju kefanaan arasy bumi ke seranagkaian galaxy langitnya Allah. Gus Mix sahabat sejati yang tidak pernah berpenampilan kiyai telah menuju pengabdian haqiqi, di samping Illahi robbi.</div>
<div>Maka demi melihat gambaran ngglibetnya Gus Dur di kornea mataku akau gelisah. &#8220;<em>Sudah rampung operasinya kok Gus, dan berhasil baik, hanya menunggu masa kritisnya saja&#8221;</em>. kata Kang acun menghiburku. Sementara itu saya menyampaikan khabar ini kepada para Wartawan perwakilan Kedaulatan Rakyat, dimana dulu saya pernah menjadi ketua Perwakilan dan kepala biro untuk Jawa Tengah dan sekitarnya.</div>
<div id="_mcePaste">Saya biasa main ke kantor ini. Meskipun pensiunku hanya Rp 19.350 (sembilan belas ribu tiga ratus lima puiluh rupiah saja, kenapa tidak dijangkepke (genapkan) Rp 19.500, saja. Karena apa ada uang pecahan seratus dan 50 rupiah&#8230;hahahaha&#8230;pen) tetapi kantor ini saya yang merintis sejak nol, bahkan saya salah satu pemegang piagam penyelamatan KR, saat digoncang excodus besar besaran ke kompas dan Bernas serta media indonesia. Tetapi ya itu pensiun tetap gak sampai Rp 20.000 sebulan. Buat beli permen saja tak cukup dinggo mut mutan sebulan, tetapi biarlah wong barokahnya mas Madi (Sumadi Martono Wonohito, dan kang Idham Samawi)</div>
<div>Saya tahu Kang Acun hanya menghiburku, saya mulai mengaitkan ucapan Gus Dur &#8220;<em>Mbenjang kulo di anter nggih Gus</em> &#8220;.  Wah jangan jangan. Maka saya bergegas pulang ke pesantren, di kamar hanya merenung, melihat santri pada menghafal al qur&#8217;an, ada rombongan kang Marno membenarkan ornamen masjid dan memasang pintu gebyok dari Kudus yang berusia ratusan tahun dan hargannya selangit, tidak menarik perhatianku, fikiranku terus ke Gus Dur.</div>
<div>Ketika HP saya buka, ratusan SMS sudah memenuhi layarnya hp 9500 tipe lama nokiaku, rata rata mereka bertanya bagaimana perkembangan kesehatan beliau, para wartawan cetak dan eletronik juga mulai nyinyir bertanya tanya, saya bungkam saja. Malas juga menjawab SMS yang berjibun begitu, mana fikiran lagi tidak fokus, ditambah udara panasnya gak karuan. Sebelum masuk kamar uzlah, saya sempatkan berpesan kepada Kang acun, tolong khabari saya setiap menit bahkan detik nya ya Kang.</div>
<div>&#8220;<em>Alhamdulillah Gus, Bapak sudah baik, Bapak sudah tidur dengan tenang, sekarang saya tinggal mencari makan dari kemarin belum makan, saya di depan warung RSCM Gus&#8221;</em>. Waktu itu jam sudah menunjuk an 18.00. saya siapkan diri mengambil air wudlu, dan mandi cepat cepat. KH Masnun al Rasyid al Khafid dan DRs KH Abdullah Adib Sudaha saya pesan, imami masjid ya saya solat di kamar, rasanya enggak enak badan mriyang semua.</div>
<div id="_mcePaste">Sembari sholat sunah sunah yang entah apa namanya, saya lirik jam dinding sudah menunjukan 18.30. Saya akhiri sholat Magrib cepat-cepat karena saya lihat di depanku Gus dur berdiri tegak tanpa penopang dan sedang sholat juga. bersamaan dengan salamku Gus Dur mengatakan &#8220;<em>Gus Saya pamit nggih,mau pulang&#8221;</em>. Saya terbengong di kamar tidak ada sepatah katapun keluar. Saya duduk menangis sampai terguncang dan uminya anak anak Dina Supriyanti, memeluku dari belakang. Dia hendak bertanya apa benar Gus Dur meninggal, tetapi demi melihatku menangis dia batalkan pertanyaannya, dan malah saya ditinggal sendiri. Dia tahu kalau soal Gus Dur tidak ada persoalan lain dapat menggeser konsentrasiku.</div>
<div id="_mcePaste">Pamitan Gus Dur itu saya coba cocokan dengan TV One, dan ternyata betul ada khabar SBY datang ke ruangan gus Dur. Kekasihku, sahabat dan guru bangsaku, al fathekah.  Pamitan Gus Dur sungguh mirip Gus Mix. Pamitan khas para Wali yang sedo memenuhi janjinya kepada sang khaliq. &#8220;<em>Kulo nderek Gus (saya ikut Gus) &#8230; &#8220;</em>samar samar terjawab &#8220;<em>mbenjang mawon kulo dipun rencani, kulo di ter nggih (Besok saja saya ditemani, saya diantar ya) ?&#8221;</em>&#8230;. Allahuma firlahum warkhamhum waafina wa&#8217;fu&#8217;anhum, njenengan negake kulo gus&#8230;hahahahaha mboten mboten kulo tasih ngawal SBY kok, hahahahaha</div>
<div></div>
<div>Oleh : <span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"><span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 16px; text-align: left;"><a class="actorName" style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: underline; font-weight: bold;" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000787393619">Gus Nuril Arifin<br />
</a></span></span></div>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;t=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;title=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH&amp;annotation=%22WALA%20TAHSABANALADZINA%20KUTILU%20FI%20SABILILLAHI%20AMWATAN%20BAL%20AHYA%20INDAROBIHIM%20YURZAQUN%2C%0D%0A...jangan%20engkau%20anggap%20seseorang%20yang%20meninggal%20di%20jalan%20Allah%20adalah%20mati%2Cdia%20masih%20hidup%2Cbahkan%20mendapatkan%20rejeki%20disisi%20Allah%20yang%20maha%20agung%22%20%28Al%20Qur%27an%29%0D%0ASyai" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F17%2Fselamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah%2F&amp;title=SELAMAT%20JALAN%20PAHLAWANKU%2CTUTUR%20SAPAMU%20PENUH%20HIKMAH&amp;bodytext=%22WALA%20TAHSABANALADZINA%20KUTILU%20FI%20SABILILLAHI%20AMWATAN%20BAL%20AHYA%20INDAROBIHIM%20YURZAQUN%2C%0D%0A...jangan%20engkau%20anggap%20seseorang%20yang%20meninggal%20di%20jalan%20Allah%20adalah%20mati%2Cdia%20masih%20hidup%2Cbahkan%20mendapatkan%20rejeki%20disisi%20Allah%20yang%20maha%20agung%22%20%28Al%20Qur%27an%29%0D%0ASyai" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/17/selamat-jalan-pahlawankututur-sapamu-penuh-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROTOKOL ALA NU</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=protokol-ala-nu</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 02:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi. Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja membuatku melenggang di jalan kramat bersama KH Soleh Asri pengajar Tafsir Jaalalain di Masjid Istiqlal. Tetapi saya sering meledek kyai Soleh sang pengajar tafsir jalan lain. Eh ternyata di PBNU ada acara malam ta&#8217;aruf.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Lho bukankah rencannya malam ta&#8217;aruf diadakan di Istiqlal tanggal 6 Mei mendatang</em>, tanyaku pada anak anak banser yang lalu lalang.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Mboten kok gus ndalu niki, monggo dalem dereke, ke gedung sebelah</em>.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ternyata di dalam gedung pertemuan Pegadaian jalan kramat itu sudah penuh. Saya sibuk ngelayani salaman saja,  sambil haha hihi,  sekali sekali berpose difoto, biasa anak-anak kalau ketemu kiyai begitu. Saya kebagian di depan baris kedua, bersama dengan KH Musthofa Aqil Siroj, adik bungsu Prof Said Aqil Siroj, dia memang sahabatku sejak lama. Ada dibarisan yang sama Dirjen Pembinaan Masyarakat, Depag .Prof Dr Umar dan pejabat pejabat. Di barisan depan adalah Dewonya NU, bangsa Mbah Sahal Mahfud, kemudian Mbah Gus Mus, mbah Dimyati Rois, mbah Idris dan Mbah Masduki sidoharjo.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Namun kursi kursi di depan itu sungguh bukan tempat yang pas. Karena kursi mbah Sahal seharusnya tepat di depan saya, demikian pula Yeni yang diundang mewakili Gus Dur, duduk dibelakang, padahal menurut daftar kursinya duduk di samping KH Said Aqil siroj, dan banyak lagi yang tidak pas.</div>
<div id="_mcePaste">Taufik Kiemas ketua MPR entah duduk dimana. Dan karena sudah biasa begitu, maka melihat Prof Mubarok mewakili partai demokrat bingung, demikian pula Akbar tanjung, maka nyeletuklah wagub Jatim yang ketua Ansor pusat syaifullah Yusuf, &#8220;<em>ya gitulah Priotokol NU</em>&#8221; tetapi mereka mengalir kok nanti kan ketemu tempatnya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Maka protokol NU itu jadi bukan berdasarkan pangkat dan kedudukannya. Tetapi berdasarkan tingkat usia, dan ketinggian ilmu serta maqom nya. Setinggi apapun pangkatnya kalau sudah masuk Sarang dan Singgasana NU dia akan tunduk dengan ketentuan peradatan NU. Sehingga malam itu seharusnya Dik Faisal Helmy atau Gus Faizal yang seharusnya menjadi fokus bersama Taufik Kiemas, sama sekali tidak memperoleh hak nya. Karena semua mata tertuju kepada Mbah Sahal dan Gus Mus, serta Kang Said. Menteri sama sekali tidak masuk hitungan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dan semakin aneh penampilan semakin laris, sehingga banyak yang minta foto minta di doani. Opo tumon wong acara taarufan kok tiba tiba ada fatayat mendekat, bah saya pingin di foto dan diodoakin agar anak yang dalam kandungan saya ini sehat. Setelah di doain saya bilang beri nama Omar Mohtar ya. Lho kok laki laki bah saya inginya perempuan kok. hahaha.</div>
<div id="_mcePaste">Singkat sekali.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Setelah ditunggu akhirnya menyanyikan lagu Indonesia raya dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan qur&#8217;an, alah seperti kebiasaan NU kampunglah. Kemudian tiba taaruf, maka oleh protokol dipanggili semua satu persatu, aneh ketika mbah sahal belum bangkit dari kursi,tidak ada satu orangpun yang bangkit., saya menahan geli melihat kebingungan kang As Aad, waka BIN yang baru pertama kali menjadi pengurus NU. Dia Sih (maksudnya As &#8216;ad) sebenatnya anak kiyai dan masih keponakan simbah Kyai Sahal, tetapi sudah lama meninggalkan ke NU an, karena menjadi atase di Arab sana, kemudian menjadi wakill BIN di tiga ketua. Mulai dari Zaman Kabakin /Ka Bin Letjen Ari Kumaat, sampai Hendro Priyono dan terakhir Samsir Siregar dan sekarang entah siapa yang menjabat saya malah kurang tahu. Karena tidak mengenalkan diri di pesantrenku hahahahahaha</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Nah setelah mbah Sahal Jengkar, semua baru berdiri. Sudah komplitlah diatas panggung, biasanaya di bacakan tata tertib dan SK dan sebagainya, kemudian di bacakan sumpah dan janji serta tetek bengeknya. Malam ini pelantikan PBNU sungguh berbeda. Setelah semua lengkap, maka Mbah Sahal hanya mengucapkan <strong>&#8220;<em>Bismilahirrohman nirohim</em></strong><em>; </em><strong><em>Ruditubillahir Robba</em>&#8220;</strong>.</div>
<div id="_mcePaste">Sesudah mengucapkan itu terus diam, yang di sumpah masih menunggu kelanjutan ucapan mbah sahal. Mereka beranggapan mbah sahal mengambil nafas dulu atau memang harus ada jeda, karena setiap kiyai memang memiliki cara cara sendiri, dan santri jangan harap boleh merubah atau usulkan perubahan hahaha.</div>
<div></div>
<div>Ternyata melihat yang dipanggung diam saja tidak pada minta salim mbah Sahal, mbah sahal mengatakan. Sudah semua sudah di ridloi Allah,sudah cukup turun semua sudah dianggap sah. Sontak hadirin dan yang di panggung meledak tawanya membahana. Hahahahahahahaha ini mbah sahal betul betul kramat guyonnya. Sudah pelantikannya di jalan Kramat, yang nglantik kramat dan ucapan pelantikannya kramat juga cukup sak rekaat &#8220;Roditubillahir Robba&#8221; Itu kalimat paling kramat, sesudah ada ucapan ridlo Allah, ya jangan diatambahi ucapan manusia yang lain, tidak kelas dan beda maqom sekaligus mengotori keridloan Allah, meskipun kalimat kalimat sumpah itu bagus bagus dan ndakik ndakik tapi gak ada apa apanya dibandingkan dengan Rodlitubillahir Robba &#8230;&#8230; nggih mbah. Maka yang diatas terus turun panggung, dan sambil ngrundel wah wah, mbah sahal ini sudah sepuh masih nyentrik juga.</div>
<div></div>
<div>Gus Mus tidak kalah menarik perhataian, kolumnis dan penyair teman seangkatan sekamar gus Dur ini, biasanya juga nyelelek, malam ini diaduk aduk oleh perasaan khusus, dan berdoa sembari menangis. Kontan setelah di buat geli oleh mbah sahal, langsung cepp khusuk dalam lautan doa asma&#8217;ul khusna Gus Mus.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dalam drama atau senetron atau teater itu sangat tidak mungkin, karena membangun suasan lucu, kemudian dibalik menjadi anti klimat nangis dan khusuk sangatlah susah. Tetapi ini NU bung, semua bisa mbolak mbalik tanpa ada kewaguan atau ketidak pas san, mengalir. Ya Allah Jadikan negeri ini makmur dan damai, tentram dan mensejahterakan rakyatnya lewat NU&#8230;&#8230;..amin.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">GNA/Gus Nuril Arifin.</div>
<div id="_mcePaste">DR.KH Nuril Arifin HSN.MBA</div>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;t=PROTOKOL%20ALA%20NU" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=PROTOKOL%20ALA%20NU%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;annotation=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;bodytext=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ALLAHU AKBAR</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=allahu-akbar</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[ALLAH AKBAR Allahu Akbar ! Pekik kalian menghalilintar Membuat makhluk makhluk kecil tergetar Allahu Akbar ! Allahu Maha Besar Urat urat leher kalian membesar Meneriakkan Allahu Akbar Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian terbakar Apa saja yang kalian anggap mungkar Allahu Akbar,Allah Maha Besar ! Seandainya 5 milyard manusia Penghuni bumi sebesar debu ini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="width: 160px; height: 120px;" classid="clsid:02bf25d5-8c17-4b23-bc80-d3488abddc6b" width="160" height="120" codebase="http://www.apple.com/qtactivex/qtplugin.cab#version=6,0,2,0"><param name="src" value="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/05/ALLAHU-AKBAR-BY-GUS-MUS.mp4" /><param name="align" value="left" /><param name="vspace" value="10" /><param name="hspace" value="10" /><embed style="width: 160px; height: 120px;" type="video/quicktime" width="160" height="120" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/05/ALLAHU-AKBAR-BY-GUS-MUS.mp4" hspace="10" vspace="10" align="left"></embed></object>ALLAH AKBAR</p>
<p>Allahu Akbar !<br />
Pekik kalian menghalilintar<br />
Membuat makhluk makhluk kecil tergetar<br />
Allahu Akbar !</p>
<p>Allahu Maha Besar<br />
Urat urat leher kalian membesar<br />
Meneriakkan Allahu Akbar<br />
Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian terbakar<br />
Apa saja yang kalian anggap mungkar</p>
<p>Allahu Akbar,Allah Maha Besar !<br />
Seandainya 5 milyard manusia<br />
Penghuni bumi sebesar debu ini<br />
Sesat semua atau saleh semua<br />
Tak sedikit pun mempengaruhi kebeseranNya</p>
<p>Melihat keganasan kalian aku yakin<br />
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman<br />
Yang kasih sayangNya meliputi segalanya</p>
<p>Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakaÑYa<br />
Ketika dengan pongah kau melibas mereka<br />
Yang sedang mencari jalan menujuNya?</p>
<p>Mengapa kalau mereka memang pantas masuk neraka<br />
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka yang menyiksa mereka<br />
Kapan kalian mendapat mandat<br />
Wewenang darINya untuk menyiksa dan melaknat?</p>
<p>Allahu Akbar!<br />
Syirik adalah dosa paling besar<br />
Dan syirik yang paling akbar<br />
Adalah mensekutukan diri sendiri<br />
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri</p>
<p>Laa ilaaha illallah!</p>
<p>By Gus Mus/Simbah Kakung<br />
10 muharam 1430 H<br />
Di Perguruan Islam Salafiyah Kajen Pati &#8221;</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000580056528#!/video/video.php?v=1164630402943&amp;ref=mf" target="_blank">Facebook</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;t=ALLAHU%20AKBAR" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ALLAHU%20AKBAR%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;title=ALLAHU%20AKBAR&amp;annotation=ALLAH%20AKBAR%0D%0A%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0APekik%20kalian%20menghalilintar%0D%0AMembuat%20makhluk%20makhluk%20kecil%20tergetar%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0A%0D%0AAllahu%20Maha%20Besar%0D%0AUrat%20urat%20leher%20kalian%20membesar%0D%0AMeneriakkan%20Allahu%20Akbar%0D%0ADan%20dengan%20semangat%20jihad%20nafsu%20kebencian%20kalian%20terba" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F03%2Fallahu-akbar%2F&amp;title=ALLAHU%20AKBAR&amp;bodytext=ALLAH%20AKBAR%0D%0A%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0APekik%20kalian%20menghalilintar%0D%0AMembuat%20makhluk%20makhluk%20kecil%20tergetar%0D%0AAllahu%20Akbar%20%21%0D%0A%0D%0AAllahu%20Maha%20Besar%0D%0AUrat%20urat%20leher%20kalian%20membesar%0D%0AMeneriakkan%20Allahu%20Akbar%0D%0ADan%20dengan%20semangat%20jihad%20nafsu%20kebencian%20kalian%20terba" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/05/03/allahu-akbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diantara Jalan Sufi Gusdur</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=diantara-jalan-sufi-gusdur</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH.M. Luqman Hakim</strong><br />
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.</p>
<p>Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali  ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.</p>
<p>Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.</p>
<p>Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial,  dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.</p>
<p>Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.</p>
<p>Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.</p>
<p>Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.</p>
<p>Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy,  maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.</p>
<p>Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?</p>
<p>Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.</p>
<p>Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”</p>
<p>Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.</p>
<p>Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.</p>
<p>Sumber : <a href="http://sufinews.com" target="_blank">SufiNews.com</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;t=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;annotation=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;bodytext=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ya tuhan, pelajaran apa ini?</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=ya-tuhan-pelajaran-apa-ini</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 02:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[ya tuhan, pelajaran apa ini? kau kurniakan kepada kami ironi-ironi yang mengusik pikiran dan nurani: kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan kepada kami ironi-ironi</div>
<div id="_mcePaste">yang mengusik pikiran dan nurani:</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasa</div>
<div id="_mcePaste">yang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca</div>
<div id="_mcePaste">oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka</div>
<div id="_mcePaste">dan kini mereka ikut larut atau terpana</div>
<div id="_mcePaste">oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya</div>
<div id="_mcePaste">untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</div>
<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?kau kurniakan kepada kami ironi-ironiyang mengusik pikiran dan nurani:<br />
kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa sajadan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apakau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa sajadan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasayang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka dan kini mereka ikut larut atau terpana oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;">rembang, 9/1/2010</span></p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;"> </span>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/simbah.kakung" target="_blank">Simbah Kakung</a></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="Gus Dur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/02/Gus-Dur-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;t=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;annotation=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;bodytext=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Kampus Pasca Mataram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=dawah-kampus-pasca-mataram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh dan berkembang seiring dengan da&#8217;wah di luar kampus. Kenyataan ini, sekali lagi membuktikan, bahwa Islam tidak dapat ditekan dan dilenyapkan dalam keadaan sulit macam apapun.</p>
<p><strong>Dinasti Mataram<br />
</strong>Jika diamati, ada kaitan erat antara perkembangan historis Ummat Islam dengan dunia perpolitikan Indonesia. Sejak keruntuhan Majapahit dan dimulainya kekuasaan Mataram, hingga saat ini, kasusnya sama saja. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki inti kekuasaan Jawa. Mereka mencoba merangkui Islam sebagai bagian dari Jawa, tapi dengan syarat, kebudayaan Islam yang murni harus diblokade sedemikian rupa sampai batas tertentu. Boleh salat, puasa dan seterusnya. Bila mengganggu kekuasaan jawa, Islam akan dihapus.</p>
<p>Pada zaman Mataram, sebagai misal, Islam tidak dilawan secara frontal. Namun justru dijadikan bagian dari kekuasan dinastik dengan kondisi kebudayaan Islam yang mandeg. Meskipun da&#8217;wah dewasa itu cukup berkembang, tapi sejarah tak bisa melupakan tragedi pembunuhan terhadap para ulama dan kiai pada zaman Amangkurat II.</p>
<p>Saat ini keadaannya tidak banyak berbeda. Meski formatnya lain, substansinya tetap sama. Artinya, secara politis, ideologis dan kultural, terdapat usaha-usaha yang ingin menghentikan pertumbuhan Islam. Bahkan ada kelompok yang bersikeras: Islam harus mandul di bumi Indonesia.</p>
<p>Islam dalam sejarah Indonesia, selalu dipakai pemberontak untuk merebut kekuasaan. Bila pemberontakan telah berhasil, maka Islam ditekan. Pada giliran berikutnya, Islam kembali dipakai pemberontak baru untuk merebut kekuasaan baru. Bila pemberontak yang ini berkuasa, maka Islam kembali ditekan dan dicampakkan. Demikian seterusnya, daur pemberontakan menjadi arus sejarah yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Penjelasan tersebut sesungguhnya diperlukan untuk memberikan latar belakang bagi pertumbuhan Islam yang begitu pesat saat ini. Fenomena da&#8217;wah di kampus atau gerak jilbabisasi, sesungguhnya tidak dikehendaki oleh gelombang kekuasaan&#8221;. namun mengapa .semua itu justru berkembang? Alasannya-sederhana. Justru ketika sekelompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya .</p>
<p><strong>Dewa Pemikiran</strong><br />
Selama ini, arena da&#8217;wah disemaraki dengan tema-tema pembaharuan atau pertumbuhan pemikiran Islam. Artinya, ada usaha mempelajari Qur&#8217;an dan Sunnah kembali. Hal ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang khas dalam sistem politik, ekonomi dan kebudayaan yang menganut garis kanan, seperti Indonesia. Dalam rumusan politik internasional, pada keadaan seperti sekarang akan tampil dua alternatif: gerakan kiri atau gerakan Islam militan. Bila di negeri Syi&#8217;ah bisa berkembang, maka radikalisme agama akan bangkit dengan mudahnya. Gerakan kiri dalam waktu 5-10 tahun belakangan ini, juga tumbuh pesat, waIau tidak memilki kekuatan yang pasti.</p>
<p>Keadaan seperti sekarang sebagian dari mekanisme sosial, kultur politik dan kekuatan ekonomi menghendaki jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian; apa yang harus diperbuat? Ada kelompok yang mencoba mencari jawaban Marxis. Tapi kita mencari jawaban dari Islam. Kita pelajari kembali Islam sebagai filsafat, tata nilai dan sistem kehidupan. Kita buka kembali Qur&#8217;an dan Sunnah untuk merumuskan keadaan.</p>
<p>Buku-buku tentang Islam terbit secara membludak. 0leh karena, begitu banyaknya buku-buku yang dipelajari, kita menjadi pintar mendadak. Namun, sebenarnya kita &#8220;bodoh&#8221;. Dalam arti, kita mengenali informasi tentang realitas Islam yang beraneka ragam melalui kata-kata dan pernyataan-pernyataan verbal. Padahal, akan berbeda, jika kita melihat dan memahami realitas itu melalui pengalaman nyata. Umpamanya, kita mengenal kemiskinan struktural atau kemiskinan kultural. Kita begitu fasih berbicara tentang problema kemiskinan dalam berbagai seminar dan diskusi, tetapi, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang siapa itu orang miskin dan bagaimana persisnya keadaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Islam kehilangan keramatnya sebagai pembebas kaum dhu&#8217;afa.</p>
<p>Ummat Islam Indonesia makin hari makin disibukkan oleh pembahasan pemikiran Islam yang kadang-kadang terlalu &#8220;Tinggi&#8221; tapi kadang-kadang juga terlalu &#8220;Sepele&#8221;. Dalam konteks tersebut, kita perlu memegang suatu prinsip. Dalam Figh aturan keagamaan yang formal kita perlu panutan yang luas, Namun dalam Syari&#8217;at &#8211; aturan yang luas meliputi ibadah muamalah, termasuk &#8220;Dak&#8217;wah sosial&#8221;, &#8220;puasa sosial&#8221;,puasa struktur&#8221; dan seterusnya kita tidak perlu mencari &#8220;dewa pemikiran &#8220;. Artinya kita tidak perlu menggabungkan diri dalam satu panutan.</p>
<p>Kita harus bersikap kritis terhadap diri kita, kakak-kakak kita dan bapak-bapak kita. Terhadap Gus Dur, Cak Nur, atau Cak Menteri Agama, kita tak boleh kehilangan sikap kritis. Kita harus kritis terhadap mereka, para pakar yang terlalu yakin menjamin kebenaran yang hendak kita can. Sikap kritis itu berguna. Agar kita sungguh-sungguh menjadi pemimpin bagi kita sendiri. Agar kita tidak terperangkap dalam perkara yang kita sendiri tidak mengerti ujung pangkalnya. Dengan demikian, kita tidak taqlid kepada orang yang tidak pantas untuk ditaqlidi.</p>
<p><strong>Berhitung Secara Politis</strong><br />
Dalam gerakan da&#8217;wah, terdapat dua dimensi. Yakni, dimensi intelektual dan dimensi politis-stategis. Kedua dimensi tersebut perlu dibedakan. Selama ini, kita terlalu mengkonsentrasikan diri pada dimensi intelektual. Kita terlalu sering terpaku untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dianggap politis-strategis dalam rangka intelektual. Misalnya, pertanyaan bahwa di dalam Islam tidak ada konsep kenegaraan. Mengapa hanya &#8220;negara Islam&#8221; saja yang ditolak, sedang &#8220;negara nasional&#8221; tidak? Secara intelektual itu tidak obyektif.</p>
<p>Da&#8217;wah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. Dalam hal ini, kita bisa terjebak. Karena sesungguhnya kita tidak hanya melakukan studi-studi Islam yang steril, namun juga sedang melakukan perjalanan proses gerakan sejarah, sebuah gerakan kebudayaan baru, kebudayaan agama namanya.</p>
<p>Gerakan tersebut juga dapat disebut gerakan sosial, karena merupakan mekanisme baru dalam dinamika sosial. Juga dapat dikategorikan gerakan politis, karena pertumbuIan gerakan kebudayaan baru. Maaf, kita tidak sedang nendiskusikan da&#8217;wah dalam kerangka politik praktis. Biar bagaimanapun, tetap saja diperlukan untuk memperhatikan dimensi-dimensi politik dalam aktivitas da&#8217;wah, termasuk dalam lembaga da&#8217;wah kampus. Gerakan da&#8217;wah di kampus tidak dapat dihentikan jika kita sendiri mengetahui dosis yang tepat untuk memfungsikannya.</p>
<p>Dalam rangka menemukan dan memahami seberapa dosis yang tepat itu, kita perlu memperhatikan blokade-blokade yang menghadang. Blokade tersebut mungkin tidak hanya berasal dari lapisan kekuasaan yang ada namun justru dari struktur di dalam kepemimpinan ummat Islam.</p>
<p>Dalam &#8220;organisasi ummat&#8221; yakni suatu bayangan tentang bangunan masyarakat Islam di Indonesia terdapat lapis massa, lapis elit, dan lapis di antara keduanya. Pelapisan memiliki varian-variannya sendiri.<br />
Orang-orang muda di kampus termasuk lapis tengah yang masih magnetis terhadap ummat dan sekaligus juga bergaul dengan elit di atas, sesungguhnya kebangkitan Islam yang sedang berlangsung, tercermin dalam lapis bawah dan menengah. Bukan lapisan atas. Sedangkan gairah ummat untuk mempelajari Islam kembali adalah suatu hal vang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sementara, mahasiswa yang belum terikat secara sosial-ekonomi, atau politis, masih memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Namun bila sudah bekerja, menikah, dan mapan dalam struktur kekuasaan, maka para mahasiswa itu akan berbenturan dengan idealis yang digembar-gemborkannya.</p>
<p>Khalayak mahasiswa yang sedang bergerak naik ke atas akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang over dosis atau dosis tinggi, yakni mereka yang akan segera berbenturan dengan struktur atas sehingga akan diamankan atau dilenyapkan. Kedua, kelompok yang menguap dalam arti tidak menjadi apa-apa, mujahid bukan dajjal pun bukan. Ketiga, kelompok yang kompromistis yang akan mengingkari segala sesuatu yang telah digembar-gemborkannya di masjid kampus. Akan masuk kemanakah kita nanti?</p>
<p><strong>Tema Pemikiran Yang Aneh</strong><br />
Para mahasiswa diijinkan untuk berbicara tentang tema-tema Islam struktural seperti ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya. Namun ketika pemikiran tersebut dibawa ke lapis atas, situasi jadi macet. Karena lapis elit telah terikat pada struktur dan menjadi bagian dari sistem yang mapan. Keadaan macam ini mungkin akan terulang; apabila mahasiswa nanti menjadi bagian dari lapis atas atau partner kekuasaan yang ada. Pemikiran Islamnya akan tersaring menuju tema-tema tertentu yang tidak penting dengan keadaan ummat, seperti tema-tema : &#8220;sekularisasi, Laailaaha ullaha&#8221;, &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; dan lain-lain. Tema-tema tersebut mungkin relevan jika dipaksakan. Tapi, jelas tidak urgen skala prioritasnya jadi aneh.<br />
Saya terus terang khawatir, jangan-jangan apa yang sedang hangat diperdebatkan saat ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh ummat. Memang ada pakar yang dengan sombong berkata, bahwa dia sedang bicara di kalangan akademis. Namun, siapa yang bisa menghilangkan eksistensi ummat. Hal semacam ini mungkin disebabkan, karena lapis atas atau elit muslim Indonesia secara relatif telah menjadi bagian dari kekuasaan yang besar.</p>
<p>Sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi penjelajah untuk menghubungkan lapis atas dengan lapis bawah. Mahasiswa diharapkan mampu mengisi kekosongan dengan menjelaskan maksud kelompok elit kepada ummat. Dan pada saat yang sama menyampaikan aspirasi umat kepada lapis atas. Jika saling pengertian dan pemahaman telah terjalin, maka kita akan mampu mendorong ummat ke arah tujuan yang dikehendaki bersama.(selesai)</p>
<p>Surabaya, 28 Januari 1988<br />
Ceramah di Forum Silaturahmi Lembaga Da&#8217;wah Kampus se-Jawa. Di masjid Universitas Airlangga Surabaya.<br />
(Emha Ainun Nadjib/ &#8220;Nasionalisme Muhammad&#8221; &#8211; Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;t=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;annotation=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;bodytext=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapak Ceplas-ceplos Nasional</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=bapak-ceplas-ceplos-nasional</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seolah-olah besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menunjukkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seolah-olah kecil kita abaikan. Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal, sejatinya, unsur tampak remeh-temeh inilah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seolah-olah besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menunjukkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seolah-olah kecil kita abaikan.</p>
<p>Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal, sejatinya, unsur tampak remeh-temeh inilah yang justru paling menentukan vitalnya kedudukan Gus Dur di tengah kemunafikan Nusantara.</p>
<p>Kalau sekadar tokoh yang bertumpu pada kekuatan pikiran, ada banyak tokoh sekelas Gus Dur. Baik itu gagasannya tentang pluralisme, demokrasi, maupun pembaruan pemikiran Islam. Ketokohan dan ”darah biru”-nya juga tidak kalah dibanding Gus Dur. Akan tetapi, arek Jombang ini menjadi kinclong dibanding tokoh-tokoh setarafnya justru karena bawah sadar kolektif kita yang munafik ini sebetulnya merindukan keterusterangan.</p>
<p>Jauh di dasar permukaan tata krama, sopan santun, basa-basi, dan seluruh perangkat kemunafikan lainnya, kita sesungguhnya mendambakan sesuatu yang urakan. Urakan bukan dalam nuansa arogan. Nuansanya egalitarian. Itulah keceplas-ceplosan Gus Dur.</p>
<p>Bima</p>
<p>Dari lubuk dasar yang permukaannya saja tampak hipokrit, kerinduan kita pada keterusterangan itu menjadi jelas kalau kita rujuk suku Jawa sebagai salah satu pengisi budaya nasional yang paling rumit tata kramanya. Tingkatan bahasa orang Jawa paling tidak ada tiga: ngoko (bahasa kasar), kromo madyo (bahasa sedang), dan kromo inggil (bahasa tinggi). Akan tetapi, bawah sadar kolektif nenek moyang orang Jawa yang tecermin dalam wayang justru menjadikan Bima yang cuma bisa ngoko alias blakblakan, sebagai manusia dengan derajat kesempurnaan tertinggi.</p>
<p>Dengan bahan baku Ramayana dan Mahabarata dari India, metabolisme kreatif lokal para leluhur orang Jawa tidak memilih tokoh-tokoh santun seperti Yudistira dan Kresna sebagai puncak idola. Pada lakon Dewa Ruci, lakon carangan atau gubahan lokal yang menjadi master- piece dunia pedalangan Jawa dan tidak terdapat dalam naskah asli India, hanya Bima seorang diri yang diberi hak oleh leluhur Jawa untuk bisa bertemu dan berdialog langsung dengan Tuhan semasa hidupnya.</p>
<p>Kemunculan Gus Dur yang fenomenal bisa dipahami dalam konteks memori bawah sadar kolektif kita, apalagi di tengah kancah kemunafikan tata krama yang makin bikin sumpek seperti sekarang. Mungkin ada beberapa tokoh ceplas-ceplos yang pluralis, demokratis, dan pembaru pemikiran Islam. Akan tetapi, keceplas-ceplosan Gus Dur sangat dekat pada model blaka suta (frankly speaking) yang diimpikan leluhur Jawa melalui karakter khayalan Bima. Bima bicara apa adanya dan ngoko dan tanpa basa-basi, tetapi tak satu pun lawan bicaranya sakit hati atau merasa tidak dihormati. Kuncinya adalah ketulusan, tanpa pretensi ataupun tendensi tertentu yang tersembunyi.</p>
<p>(Maaf) kentut</p>
<p>Satu lagi pertanda bahwa suku yang paling berpilin-pilin tata kramanya di Nusantara ini sesungguhnya bawah sadar kolektifnya menginginkan keterusterangan, termasuk dalam melanggar tabu, adalah direkanya tokoh Semar. Tokoh yang kejenakaan serta posturnya berkesan Gus Dur ini juga tak ada dalam Ramayana dan Mahabarata India.</p>
<p>Para leluhur Jawa, suku yang di permukaan tampak ruwet tata kramanya, memilih kentut Semar sebagai senjata paling ampuh di dunia, bukan senjata pamungkas pasopati milik Arjuna ataupun cakra milik Kresna.</p>
<p>Dalam konteks budaya, sebagai simbol, kentut adalah seluruh hal yang tabu di Nusantara, seperti sendawa pada orang-orang ”Barat”. Maknanya, bangsa yang kian sesak kemunafikan ini sesungguhnya di bawah sadar memori kolektifnya membolehkan malah mengharuskan pelanggaran hal-hal tabu untuk menyelesaikan masalah seperti, antara lain, persetujuan Gus Dur untuk perayaan Imlek.</p>
<p>Sungguh agak kurang sedap dan kurang inspiratif mengenang Gus Dur hanya dalam hal ketokohannya di ranah pluralisme, demokrasi, dan pembaruan pemikiran Islam, tanpa mengenang keceplas-ceplosannya termasuk dalam melanggar tabu-tabu. Ibarat mengenang garam tanpa kita kenang asinnya.</p>
<p>Oleh SUJIWO TEJO Dalang<br />
Sumber : Kompas.com</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;t=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;title=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20&amp;annotation=Banyak%20hal%20terkuak%20sepeninggal%20Gus%20Dur.%20Ternyata%20sebagai%20bangsa%20kita%20masih%20saja%20terlalu%20silau%20pada%20hal-hal%20yang%20seolah-olah%20besar%20dan%20mentereng.%20Sebutan%20%E2%80%9DBapak%20Pluralisme%E2%80%9D%20dan%20%E2%80%9DBapak%20Demokrasi%E2%80%9D%20buat%20almarhum%20menunjukkan%20keterpukauan%20itu.%20Yang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fbapak-ceplas-ceplos-nasional%2F&amp;title=Bapak%20Ceplas-ceplos%20Nasional%20&amp;bodytext=Banyak%20hal%20terkuak%20sepeninggal%20Gus%20Dur.%20Ternyata%20sebagai%20bangsa%20kita%20masih%20saja%20terlalu%20silau%20pada%20hal-hal%20yang%20seolah-olah%20besar%20dan%20mentereng.%20Sebutan%20%E2%80%9DBapak%20Pluralisme%E2%80%9D%20dan%20%E2%80%9DBapak%20Demokrasi%E2%80%9D%20buat%20almarhum%20menunjukkan%20keterpukauan%20itu.%20Yang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/bapak-ceplas-ceplos-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur sebagai &#8220;Orang Asing&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gus-dur-sebagai-orang-asing</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 15:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Georg Simmel]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>
		<category><![CDATA[The Stranger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing. Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing.</p>
<p>Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel. Dalam salah satu tulisannya, The Stranger, Simmel memberikan pengertian yang kompleks, khas, dan unik atas konsep orang asing.</p>
<p>Bagi Simmel, orang asing bukan sebuah tifikasi identitas (orang yang tidak dikenali asal-usulnya), melainkan suatu tifikasi relasi tertentu seseorang dalam suatu komunitas. Tipe relasi yang dimaksud adalah relasi interseksi yang dibangun atas dasar kedekatan (nearness), tetapi sekaligus berjarak (remoteness).</p>
<p>Dalam relasi interseksi, orang asing menjadi bagian dari komunitas, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari komunitas tersebut karena ia tetap mampu mengambil jarak dengannya. Orang asing adalah orang yang berada di dalam sekaligus di luar komunitas.</p>
<p>Gus Dur tepat disebut sebagai orang asing karena selama ini Gus Dur mengembangkan relasi interseksi tersebut tidak saja di dalam komunitas NU, tetapi juga dengan kekuasaan dan berbagai komunitas lain yang lebih luas.</p>
<p><strong>Kritik pedas</strong></p>
<p>Terlahir sebagai cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari; dididik secara kultural di dalam tradisi NU, memulai dan memantapkan karier politik di NU merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah elemen penting dan tak terpisahkan dari komunitas NU. Namun, pada saat yang sama, tidak jarang sikap Gus Dur berseberangan dengan tokoh-tokoh penting lainnya di NU dan secara terbuka kerap melancarkan kritik pedas terhadap beberapa kiai nahdliyin, seolah-olah ia tidak sedang menjadi bagian dari NU.</p>
<p>Begitu pula relasi Gus Dur dengan kekuasaan. Pada era Orde Baru, Gus Dur kerap mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto, tetapi—pada saat yang sama—”mengambil” dan menerima Pancasila, yang menjadi kebijakan politik resmi Orde Baru itu, sebagai asas NU.</p>
<p>Hal ini berlanjut saat Gus Dur sendiri berada dalam pusat kekuasaan, yaitu sebagai presiden ke-4 RI. Saat itu Gus Dur secara sinikal menyebut para anggota DPR ibarat murid taman kanak-kanak. Padahal, DPR saat itu diisi oleh banyak anggota yang berasal dari partai koalisi yang justru mendukung dan memilihnya sebagai presiden. Dengan sikapnya itu, Gus Dur dianggap tidak konsisten, mencla-mencle, dan berkhianat pada ikatan koalisi besar partai politik yang mendukungnya. Klimaksnya, Gus Dur pun dilengserkan dari kekuasaan oleh orang-orang yang dulu pernah mendukungnya.</p>
<p>Kendati begitu, dari situ kita bisa memetik pelajaran. Pertama, dengan relasi interseksi sejatinya Gus Dur berupaya untuk tetap (ber)independen terhadap segala bentuk ikatan, sekalipun itu ikatan dengan komunitas paling primordial baginya: NU, ataupun kekuasaan yang sesungguhnya bisa sangat menguntungkan dirinya. Kedua, Gus Dur berusaha mene- rapkan suatu perspektif sosial yang lebih obyektif dalam memandang individu, kelompok, atau institusi.</p>
<p>Obyektivitas</p>
<p>Persis dijelaskan Simmel bahwa orang asing adalah orang dengan pandangan yang obyektif. Obyektivitas orang asing adalah suatu pandangan yang hanya mungkin diperoleh dalam suatu relasi interseksi, yaitu kedekatan dan keberjarakan. Ini berbeda dengan obyektivitas kaum ilmiah positivistik yang hanya memandang sesuatu dengan mengambil jarak dari obyek.</p>
<p>Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas, seperti umat Konghucu dan Ahmadiyah, misalnya, bisa dipahami dalam kerangka obyektivitas orang asing ini. Gus Dur membela keberadaan mereka atas dasar pandangan obyektif dengan meneropong keberadaan mereka tidak hanya dari kejauhan, tetapi juga dari dekat. Dengan cara ini, Gus Dur mampu memahami cara hidup dan berkeyakinan mereka secara adil dan apa adanya. Maka, dengan cara pandang ini, tidak heran jika kemudian Gus Dur bisa diterima dan dikagumi oleh banyak orang dari berbagai kelompok dan golongan.</p>
<p>Terhadap lawan-lawan politiknya sekalipun, Gus Dur taat menerapkan pandangan obyektif semacam ini dan sangat piawai menjalin relasi interseksi dengan mereka. Dengan demikian, di mata Gus Dur, secara obyektif keberadaan lawan politik adalah sekaligus kawan politik. Sungguh ini sebuah estetika politik yang mungkin tidak mudah dilakukan tokoh politik lainnya.</p>
<p>Oleh: Wildan Pramudya Aktif di LP3ES<br />
Sumber: Kompas.com</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;t=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;title=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22&amp;annotation=Gelar%20kehormatan%20sebagai%20pahlawan%20nasional%2C%20Guru%20Bangsa%20dan%20Bapak%20Pluralisme%2C%20sungguh%20layak%20diberikan%20kepada%20mendiang%20Gus%20Dur.%20Namun%2C%20penulis%20ingin%20menghormati%20Gus%20Dur%20bukan%20dengan%20gelar-gelar%20kehormatan%20semacam%20itu%2C%20melainkan%20hanya%20dengan%20mengenangn" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-sebagai-orang-asing%2F&amp;title=Gus%20Dur%20sebagai%20%22Orang%20Asing%22&amp;bodytext=Gelar%20kehormatan%20sebagai%20pahlawan%20nasional%2C%20Guru%20Bangsa%20dan%20Bapak%20Pluralisme%2C%20sungguh%20layak%20diberikan%20kepada%20mendiang%20Gus%20Dur.%20Namun%2C%20penulis%20ingin%20menghormati%20Gus%20Dur%20bukan%20dengan%20gelar-gelar%20kehormatan%20semacam%20itu%2C%20melainkan%20hanya%20dengan%20mengenangn" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-sebagai-orang-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur, Raja Telah Mangkat, Hidup Raja!</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 15:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Multikultural]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan repitoir dari berbagai tulisan mengenai Gus Dur, yang ditulis oleh berbagai kalangan masyarakat, dan ada di mana-mana, baik lokal maupun nasional. Secara aklamasi semuanya sependapat bahwa Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional dan guru bangsa, terutama mengenai pluralisme dan multikulturalisme, baik ini nanti diformalkan atau tidak oleh pemerintah. Ada tradisi]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-185" style="margin: 5px;" title="gusdur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.jpg" alt="" width="200" height="182" />Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan repitoir dari berbagai tulisan mengenai Gus Dur, yang ditulis oleh berbagai kalangan masyarakat, dan ada di mana-mana, baik lokal maupun nasional. Secara aklamasi semuanya sependapat bahwa Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional dan guru bangsa, terutama mengenai pluralisme dan multikulturalisme, baik ini nanti diformalkan atau tidak oleh pemerintah.</p>
<p>Ada tradisi di (kerajaan) Barat, kalau ada seorang raja wafat, maka segera diumumkan: ”<em>The King is dead, Long live the King</em>”— ”Raja telah mangkat, hidup Raja”. Jadi, tidak ada ”vakum kekuasaan”. Begitu pula malam itu di Ciganjur: ”Gus Dur telah wafat, hidup Gus Dur”. Artinya, semua pelayat dengan sedih menerima bahwa Gus Dur telah wafat, tetapi semua pelayat mengakui pula bahwa ”roh” Gus Dur masih hidup.</p>
<p>Kenyataan ini diterima oleh semua yang hadir, juga oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Roh itu berupa ajaran dan keyakinan Gus Dur, terutama yang berupa pengakuan bahwa pluralisme dan multikulturalisme bangsa Indonesia adalah ajaran yang harus dihayati dan dilaksanakan oleh kita semua.</p>
<p>Bangsa Indonesia sebenarnya sudah mengetahui wawasan pluralisme dan multikulturalisme ini. Wawasan ini telah ada sejak diciptakannya semboyan Bhinneka Tunggal Ika oleh Empu Tantular, kemudian peneguhan pemuda di Nusantara yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, serta dicantumkannya semboyan Bhinneka Tunggal Ika di simbol Garuda Pancasila yang dipasang di semua kantor resmi ataupun logo ofisial kenegaraan lainnya.</p>
<p><strong>Mengapa tidak</strong></p>
<p>Gus Dur dengan tegas, tanpa ragu, dan serta merta mengakomodasi desakan dan keresahan daerah dan memberikan tempat yang layak dalam nation building Indonesia. Kalau pergolakan di Aceh itu disebabkan karena kebutuhan ditampungnya di dalam berlakunya syariah Islam, mengapa tak diberikan saja. Begitu saja kok repot.</p>
<p>Begitu pula kalau etnis Tionghoa akan merasa tidak dipinggirkan dengan pengakuan perayaan Imlek, pengakuan agama Konghucu, diperbolehkannya bahasa Tionghoa dengan aksara-aksara kanji serta barongsai, mengapa tidak! Dan untuk itu Gus Dur mengaku bahwa dirinya juga sebenarnya keturunan marga Tan. Semua jadi bahagia. Juga Irian Jaya menjadi Papua, ini memuaskan batin orang-orang Papua disertai bendera bintang kejora boleh dikibarkan sebab, kata beliau, PSSI pun punya benderanya sendiri: gitu saja kok dipersoalkan.</p>
<p>Dalam hubungan antaragama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, banyak sikap tegas yang ditunjukkan oleh Gus Dur. Soal ini sudah banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh agama non-Islam. Sebagai Ketua Nahdlatul Ulama dan tokoh Islam yang besar, beliau tanpa tedeng aling-aling berani mengoreksi berbagai sikap/tindakan primordialistik keagamaan Islam. Gus Dur, misalnya, mengatakan bahwa tokoh Katolik, seperti Benny Moerdani, setidaknya harus bisa dibicarakan sebagai calon presiden RI, dan dengan entengnya beliau menambahkan, toh dia tidak akan dapat terpilih.</p>
<p>Dr Andre Feiliard, sarjana Perancis, yang disertasinya tentang Nahdlatul Ulama, menyatakan, betapa karisma dan ketegasan Gus Dur yang telah dapat dengan segera mencegah dan menghentikan kekerasan/perusakan-perusakan yang bermotif agama yang terjadi di Jawa Timur pada waktu itu. Ini sungguh kepemimpinan yang patut dikagumi.</p>
<p>Dengan demikian, kini yang penting dan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia dalam situasi seperti sekarang ini adalah seorang pemimpin yang bersedia membawa ”roh” Gus Dur itu secara tegas, konsekuen dan berani, seperti halnya Gus Dur semasa hidupnya. Pada saat sekarang ini bangsa Indonesia sangat mendambakan pemimpin seperti itu. Gus Dur, R.I.P.</p>
<p>Oleh: HARRY TJAN SILALAHI Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies<br />
Sumber: Kompas.com</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;t=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;title=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21&amp;annotation=Tulisan%20ini%20sebenarnya%20hanya%20merupakan%20repitoir%20dari%20berbagai%20tulisan%20mengenai%20Gus%20Dur%2C%20yang%20ditulis%20oleh%20berbagai%20kalangan%20masyarakat%2C%20dan%20ada%20di%20mana-mana%2C%20baik%20lokal%20maupun%20nasional.%20Secara%20aklamasi%20semuanya%20sependapat%20bahwa%20Gus%20Dur%20adalah%20seorang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F11%2Fgus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja%2F&amp;title=Gus%20Dur%2C%20Raja%20Telah%20Mangkat%2C%20Hidup%20Raja%21&amp;bodytext=Tulisan%20ini%20sebenarnya%20hanya%20merupakan%20repitoir%20dari%20berbagai%20tulisan%20mengenai%20Gus%20Dur%2C%20yang%20ditulis%20oleh%20berbagai%20kalangan%20masyarakat%2C%20dan%20ada%20di%20mana-mana%2C%20baik%20lokal%20maupun%20nasional.%20Secara%20aklamasi%20semuanya%20sependapat%20bahwa%20Gus%20Dur%20adalah%20seorang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/11/gus-dur-raja-telah-mangkat-hidup-raja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
