<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Cak Nun</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/category/tokoh/cak-nun/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>ABDURAHMAN WAHID-WAHID</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=abdurahman-wahid-wahid</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bola Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan. Sayang Mesir tak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.</div>
<div id="_mcePaste">Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.</div>
<div id="_mcePaste">Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.</div>
<div id="_mcePaste">Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.</div>
<div id="_mcePaste">Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</div>
<p>Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping-amping &#8211; tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.<br />
Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai-sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu. Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid&#8230;Maka Mesir gagal ke Piala Dunia.<br />
Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.<br />
Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.<br />
Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.<br />
Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara &#8211; karena tempatnya dekat Kutub Selatan &#8211; saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :&#8221;Itali juara Cak!&#8221;. Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional-estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad-abad yang lalu.<br />
Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam&#8230;<br />
Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam&#8230;&#8230;***</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; color: #333333;">Ditulis Oleh: <a href="http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/kenduri-cinta/abdurahman-wahid-wahid/402949846563" target="_blank">Emha Ainun Nadjib</a></span></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;t=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;annotation=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F06%2F18%2Fabdurahman-wahid-wahid%2F&amp;title=ABDURAHMAN%20WAHID-WAHID&amp;bodytext=Lambat%20atau%20cepat%20hegemoni%20kekuatan%20persepakbolaan%20dunia%20akan%20bergeser%20ke%20Afrika%2C%20meskipun%20kemudian%20akan%20bergilir%20ke%20wilayah%20lainnya.%20Sejak%20piala%20dunia%20beberapa%20kali%20yang%20lalu%20Aljazair%2C%20Camerun%2C%20Nigeria%2C%20Marokko%2C%20sudah%20ngamping-amping%20-%20tetapi%20memang" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/06/18/abdurahman-wahid-wahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Kampus Pasca Mataram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=dawah-kampus-pasca-mataram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh dan berkembang seiring dengan da&#8217;wah di luar kampus. Kenyataan ini, sekali lagi membuktikan, bahwa Islam tidak dapat ditekan dan dilenyapkan dalam keadaan sulit macam apapun.</p>
<p><strong>Dinasti Mataram<br />
</strong>Jika diamati, ada kaitan erat antara perkembangan historis Ummat Islam dengan dunia perpolitikan Indonesia. Sejak keruntuhan Majapahit dan dimulainya kekuasaan Mataram, hingga saat ini, kasusnya sama saja. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki inti kekuasaan Jawa. Mereka mencoba merangkui Islam sebagai bagian dari Jawa, tapi dengan syarat, kebudayaan Islam yang murni harus diblokade sedemikian rupa sampai batas tertentu. Boleh salat, puasa dan seterusnya. Bila mengganggu kekuasaan jawa, Islam akan dihapus.</p>
<p>Pada zaman Mataram, sebagai misal, Islam tidak dilawan secara frontal. Namun justru dijadikan bagian dari kekuasan dinastik dengan kondisi kebudayaan Islam yang mandeg. Meskipun da&#8217;wah dewasa itu cukup berkembang, tapi sejarah tak bisa melupakan tragedi pembunuhan terhadap para ulama dan kiai pada zaman Amangkurat II.</p>
<p>Saat ini keadaannya tidak banyak berbeda. Meski formatnya lain, substansinya tetap sama. Artinya, secara politis, ideologis dan kultural, terdapat usaha-usaha yang ingin menghentikan pertumbuhan Islam. Bahkan ada kelompok yang bersikeras: Islam harus mandul di bumi Indonesia.</p>
<p>Islam dalam sejarah Indonesia, selalu dipakai pemberontak untuk merebut kekuasaan. Bila pemberontakan telah berhasil, maka Islam ditekan. Pada giliran berikutnya, Islam kembali dipakai pemberontak baru untuk merebut kekuasaan baru. Bila pemberontak yang ini berkuasa, maka Islam kembali ditekan dan dicampakkan. Demikian seterusnya, daur pemberontakan menjadi arus sejarah yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Penjelasan tersebut sesungguhnya diperlukan untuk memberikan latar belakang bagi pertumbuhan Islam yang begitu pesat saat ini. Fenomena da&#8217;wah di kampus atau gerak jilbabisasi, sesungguhnya tidak dikehendaki oleh gelombang kekuasaan&#8221;. namun mengapa .semua itu justru berkembang? Alasannya-sederhana. Justru ketika sekelompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya .</p>
<p><strong>Dewa Pemikiran</strong><br />
Selama ini, arena da&#8217;wah disemaraki dengan tema-tema pembaharuan atau pertumbuhan pemikiran Islam. Artinya, ada usaha mempelajari Qur&#8217;an dan Sunnah kembali. Hal ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang khas dalam sistem politik, ekonomi dan kebudayaan yang menganut garis kanan, seperti Indonesia. Dalam rumusan politik internasional, pada keadaan seperti sekarang akan tampil dua alternatif: gerakan kiri atau gerakan Islam militan. Bila di negeri Syi&#8217;ah bisa berkembang, maka radikalisme agama akan bangkit dengan mudahnya. Gerakan kiri dalam waktu 5-10 tahun belakangan ini, juga tumbuh pesat, waIau tidak memilki kekuatan yang pasti.</p>
<p>Keadaan seperti sekarang sebagian dari mekanisme sosial, kultur politik dan kekuatan ekonomi menghendaki jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian; apa yang harus diperbuat? Ada kelompok yang mencoba mencari jawaban Marxis. Tapi kita mencari jawaban dari Islam. Kita pelajari kembali Islam sebagai filsafat, tata nilai dan sistem kehidupan. Kita buka kembali Qur&#8217;an dan Sunnah untuk merumuskan keadaan.</p>
<p>Buku-buku tentang Islam terbit secara membludak. 0leh karena, begitu banyaknya buku-buku yang dipelajari, kita menjadi pintar mendadak. Namun, sebenarnya kita &#8220;bodoh&#8221;. Dalam arti, kita mengenali informasi tentang realitas Islam yang beraneka ragam melalui kata-kata dan pernyataan-pernyataan verbal. Padahal, akan berbeda, jika kita melihat dan memahami realitas itu melalui pengalaman nyata. Umpamanya, kita mengenal kemiskinan struktural atau kemiskinan kultural. Kita begitu fasih berbicara tentang problema kemiskinan dalam berbagai seminar dan diskusi, tetapi, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang siapa itu orang miskin dan bagaimana persisnya keadaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Islam kehilangan keramatnya sebagai pembebas kaum dhu&#8217;afa.</p>
<p>Ummat Islam Indonesia makin hari makin disibukkan oleh pembahasan pemikiran Islam yang kadang-kadang terlalu &#8220;Tinggi&#8221; tapi kadang-kadang juga terlalu &#8220;Sepele&#8221;. Dalam konteks tersebut, kita perlu memegang suatu prinsip. Dalam Figh aturan keagamaan yang formal kita perlu panutan yang luas, Namun dalam Syari&#8217;at &#8211; aturan yang luas meliputi ibadah muamalah, termasuk &#8220;Dak&#8217;wah sosial&#8221;, &#8220;puasa sosial&#8221;,puasa struktur&#8221; dan seterusnya kita tidak perlu mencari &#8220;dewa pemikiran &#8220;. Artinya kita tidak perlu menggabungkan diri dalam satu panutan.</p>
<p>Kita harus bersikap kritis terhadap diri kita, kakak-kakak kita dan bapak-bapak kita. Terhadap Gus Dur, Cak Nur, atau Cak Menteri Agama, kita tak boleh kehilangan sikap kritis. Kita harus kritis terhadap mereka, para pakar yang terlalu yakin menjamin kebenaran yang hendak kita can. Sikap kritis itu berguna. Agar kita sungguh-sungguh menjadi pemimpin bagi kita sendiri. Agar kita tidak terperangkap dalam perkara yang kita sendiri tidak mengerti ujung pangkalnya. Dengan demikian, kita tidak taqlid kepada orang yang tidak pantas untuk ditaqlidi.</p>
<p><strong>Berhitung Secara Politis</strong><br />
Dalam gerakan da&#8217;wah, terdapat dua dimensi. Yakni, dimensi intelektual dan dimensi politis-stategis. Kedua dimensi tersebut perlu dibedakan. Selama ini, kita terlalu mengkonsentrasikan diri pada dimensi intelektual. Kita terlalu sering terpaku untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dianggap politis-strategis dalam rangka intelektual. Misalnya, pertanyaan bahwa di dalam Islam tidak ada konsep kenegaraan. Mengapa hanya &#8220;negara Islam&#8221; saja yang ditolak, sedang &#8220;negara nasional&#8221; tidak? Secara intelektual itu tidak obyektif.</p>
<p>Da&#8217;wah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. Dalam hal ini, kita bisa terjebak. Karena sesungguhnya kita tidak hanya melakukan studi-studi Islam yang steril, namun juga sedang melakukan perjalanan proses gerakan sejarah, sebuah gerakan kebudayaan baru, kebudayaan agama namanya.</p>
<p>Gerakan tersebut juga dapat disebut gerakan sosial, karena merupakan mekanisme baru dalam dinamika sosial. Juga dapat dikategorikan gerakan politis, karena pertumbuIan gerakan kebudayaan baru. Maaf, kita tidak sedang nendiskusikan da&#8217;wah dalam kerangka politik praktis. Biar bagaimanapun, tetap saja diperlukan untuk memperhatikan dimensi-dimensi politik dalam aktivitas da&#8217;wah, termasuk dalam lembaga da&#8217;wah kampus. Gerakan da&#8217;wah di kampus tidak dapat dihentikan jika kita sendiri mengetahui dosis yang tepat untuk memfungsikannya.</p>
<p>Dalam rangka menemukan dan memahami seberapa dosis yang tepat itu, kita perlu memperhatikan blokade-blokade yang menghadang. Blokade tersebut mungkin tidak hanya berasal dari lapisan kekuasaan yang ada namun justru dari struktur di dalam kepemimpinan ummat Islam.</p>
<p>Dalam &#8220;organisasi ummat&#8221; yakni suatu bayangan tentang bangunan masyarakat Islam di Indonesia terdapat lapis massa, lapis elit, dan lapis di antara keduanya. Pelapisan memiliki varian-variannya sendiri.<br />
Orang-orang muda di kampus termasuk lapis tengah yang masih magnetis terhadap ummat dan sekaligus juga bergaul dengan elit di atas, sesungguhnya kebangkitan Islam yang sedang berlangsung, tercermin dalam lapis bawah dan menengah. Bukan lapisan atas. Sedangkan gairah ummat untuk mempelajari Islam kembali adalah suatu hal vang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sementara, mahasiswa yang belum terikat secara sosial-ekonomi, atau politis, masih memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Namun bila sudah bekerja, menikah, dan mapan dalam struktur kekuasaan, maka para mahasiswa itu akan berbenturan dengan idealis yang digembar-gemborkannya.</p>
<p>Khalayak mahasiswa yang sedang bergerak naik ke atas akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang over dosis atau dosis tinggi, yakni mereka yang akan segera berbenturan dengan struktur atas sehingga akan diamankan atau dilenyapkan. Kedua, kelompok yang menguap dalam arti tidak menjadi apa-apa, mujahid bukan dajjal pun bukan. Ketiga, kelompok yang kompromistis yang akan mengingkari segala sesuatu yang telah digembar-gemborkannya di masjid kampus. Akan masuk kemanakah kita nanti?</p>
<p><strong>Tema Pemikiran Yang Aneh</strong><br />
Para mahasiswa diijinkan untuk berbicara tentang tema-tema Islam struktural seperti ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya. Namun ketika pemikiran tersebut dibawa ke lapis atas, situasi jadi macet. Karena lapis elit telah terikat pada struktur dan menjadi bagian dari sistem yang mapan. Keadaan macam ini mungkin akan terulang; apabila mahasiswa nanti menjadi bagian dari lapis atas atau partner kekuasaan yang ada. Pemikiran Islamnya akan tersaring menuju tema-tema tertentu yang tidak penting dengan keadaan ummat, seperti tema-tema : &#8220;sekularisasi, Laailaaha ullaha&#8221;, &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; dan lain-lain. Tema-tema tersebut mungkin relevan jika dipaksakan. Tapi, jelas tidak urgen skala prioritasnya jadi aneh.<br />
Saya terus terang khawatir, jangan-jangan apa yang sedang hangat diperdebatkan saat ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh ummat. Memang ada pakar yang dengan sombong berkata, bahwa dia sedang bicara di kalangan akademis. Namun, siapa yang bisa menghilangkan eksistensi ummat. Hal semacam ini mungkin disebabkan, karena lapis atas atau elit muslim Indonesia secara relatif telah menjadi bagian dari kekuasaan yang besar.</p>
<p>Sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi penjelajah untuk menghubungkan lapis atas dengan lapis bawah. Mahasiswa diharapkan mampu mengisi kekosongan dengan menjelaskan maksud kelompok elit kepada ummat. Dan pada saat yang sama menyampaikan aspirasi umat kepada lapis atas. Jika saling pengertian dan pemahaman telah terjalin, maka kita akan mampu mendorong ummat ke arah tujuan yang dikehendaki bersama.(selesai)</p>
<p>Surabaya, 28 Januari 1988<br />
Ceramah di Forum Silaturahmi Lembaga Da&#8217;wah Kampus se-Jawa. Di masjid Universitas Airlangga Surabaya.<br />
(Emha Ainun Nadjib/ &#8220;Nasionalisme Muhammad&#8221; &#8211; Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;t=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;annotation=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;bodytext=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 04:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Maiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim Subhanallah Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya. Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya. Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-183" style="margin: 5px;" title="Cak Nun" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/Cak-Nun.png" alt="" width="233" height="259" />Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib<br />
Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim</p>
<p><strong><em>Subhanallah<br />
</em></strong></p>
<ol>
<li>Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya.</li>
<li> Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.</li>
<li> Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi saya.</li>
<li> Saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada di antara hamba dengan Tuhannya.</li>
<li> Saya tidak boleh meninggikan suara melebihi suara Nabi, apalagi meninggikan suara melebihi Tuhan.</li>
<li> Saya tidak boleh lebih dikenal oleh siapapun melebihi pengenalannya kepada Nabi, apalagi Tuhan.</li>
<li> Saya wajib menghindari kemasyhuran yang membuat orang lebih memperhatikan saya, lebih dari kadar perhatiannya kepada Allah dan Nabi.</li>
<li>Saya wajib menolak kedekatan siapapun kepada saya melebihi kedekatannya kepada Nabi dan terutama kedekatannya kepada Tuhan.</li>
<li>Saya tidak boleh mendengarkan siapapun dan apapun melebihi pendengaran saya kepada Allah dan Nabi, kecuali suara siapapun dan apapun itu saya gali kandungan suara Allah dan Nabi.</li>
<li>Saya tidak boleh mengucapkan dan melakukan apapun kepada siapapun kecuali mengantarkan atau mengakselerasikan ucapan dan tindakan Allah dan Nabi.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><strong><em>Wa-lhamdulillah<br />
</em></strong></p>
<ol>
<li> Maiyah itu sama sekali bukan Agama, apalagi Agama baru, serta tidak pernah saya maksudkan sebagai suatu aliran teologi atau madzhab.</li>
<li> Maiyah tidak pernah saya niati untuk menjadi kelompok thariqat, sekte peribadatan, apalagi organisasi massa, terlebih lagi lembaga politik atau jenis institusi sosial apapun.</li>
<li> Namun demikian saya tidak berposisi untuk memiliki hak apapun untuk mengharuskan atau melarang Maiyah menjadi apapun, karena Maiyah mempersyarati dan dipersyarati oleh nilai-nilainya sendiri.</li>
<li>Di dalam diri saya Maiyah saya niati menjauh dari mempersaingkan diri dengan gerakan sosial, kemanusiaan, intelektual atau spiritual apapun, tidak merebut apapun dan tidak berkehendak menguasai apapun di dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.</li>
<li>Maiyah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan dirinya sendiri.</li>
<li>Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan berbagai jalan ijtihad ilmu, berbagai cara budaya, berbagai alat teknologi sosial, berbagai perangkat jasad dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.</li>
<li>Pencarian dan penemuan itu berlangsung dinamis, mandiri, dialogis, tidak ada ujung jalannya, tidak ada batas ruangnya, tidak ada disain dan target waktunya, sebab seluruhnya itu adalah perjalanan kerinduan kepada yang sejati dan abadi.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah mencari, menemukan atau menyadari adanya garis nilai antara dirinya dengan Tuhan dengan semua struktur sunnah-Nya, dengan sesama manusia dan makhluk dengan semua tatanan dan regulasinya, serta dengan jagat raya dengan semua habitat, dzat dan habitatnya.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah memiliki hak sementara dan bersifat pinjaman dari Sang Pemilik Sejati untuk berhenti di suatu koordinat sejarah dan membangun Maiyah sebagai ‘kata benda’, tetapi kata benda itu tetap merupakan titik beku dari ‘kata kerja’ kehidupan yang sesungguhnya tak pernah ada ‘waqaf’nya.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah menghimpun warisan nilai dan perilaku Maiyah kepada para akselerator hidupnya hingga anak cucu keseribu, namun sesungguhnya para akselerator bukanlah pihak yang secara pasif mewarisi, karena sampai kapanpun setiap Orang Maiyah adalah pewaris yang mewarisi, sebagaimana setiap mereka adalah yang mewarisi dan kemudian mewariskan.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Wa La Ilaha Ill-Allah<br />
</strong></em></p>
<ol>
<li>Maiyah itu dinamika tafsir tanpa ujung, sehingga tidak ada pertanyaan ‘Apa itu Maiyah’ yang bersifat baku dan beku. Meskipun bisa ada ‘regulasi’ tertentu yang berlaku pada ruang dan waktu tertentu dengan disain nilai tertentu, namun ia hanya sebuah titik, yang disusul oleh titik demi titik berikutnya menuju keabadian.</li>
<li> Mengislamkan diri menurut cara berpikir Maiyah adalah perjuangan mengidentifikasi diri, menemukan dan mengukuhkan posisinya untuk mengerahkan seluruh urusan hidupnya agar bergabung ke dalam keabadian dan kesejatian Allah.</li>
<li>Mengabadikan dan mensejatikan hidup adalah di mana jasad, rumah, keluarga, uang, harta benda, kota dan gedung-gedung, desa dan sawah ladang, semua perangkat pekerjaan, segala faktor sosial, Negara atau Kerajaan, kebudayaan dan peradaban, dilaksanakan dengan upaya penyesuaian yang terus menerus dengan kehendak Allah.</li>
<li>Manusia bukan hanya tidak mungkin menolak keabadian, tapi afdhal mencari dan menempuhnya, sebagai satu-satunya jalan di dalam kehidupan, sebab keberadaannya berasal dari Yang Maha Abadi dan sedang pasti menuju kembali kepada Yang Maha Abadi. Semua makhluk tidak mungkin menolaknya karena tidak ada wilayah lain kecuali keabadian Allah.</li>
<li>Metoda Maiyah yang paling prinsipil untuk menempuh jalan keabadian adalah selalu memastikan setiap urusan agar berpihak, memasuki dan bergabung di dalam kesejatian. Cara yang dialektis untuk memahami kesejatian adalah mencari perbedaannya, jaraknya, intervalnya, dengan kepalsuan.</li>
<li>Kesejatian dan kepalsuan mengartikulasikan dirinya dalam wujud-wujud yang bermacam-macam, mengacu kepada ranah dan konteksnya. Ada kesejatian dan kepalsuan moral, mental, intelektual, spiritual, juga dalam konteks-konteks aplikasi budaya, ekonomi, politik, hukum dan apapun saja yang diperjanjikan oleh komunitas manusia untuk menjadi idiomatik managemen dan komunikasi di antara mereka.</li>
<li>Bahkan bagi para pembelajar jagat jasad, ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, sampai ke ilmu-ilmu murni, termasuk para pembelajar ruh, sifat, dzat, hingga DNA, proton electron neutron, fermion, bozon, quark dst insyaallah terkuak semakin benderang di pandangannya interval antara kesejatian dengan kepalsuan.</li>
<li>Tidak ada apapun, makhluk hidup atau makhluk tidak hidup, jasad dan jiwa, benda dan peristiwa, kwantitas dan kwalitas, hutan atau taman, nomaden atau kapitalisme, koteka atau demokrasi, apapun saja siapapun saja, yang berada di luar wilayah akselerasi replikasi dari Allah, yang pada akhirnya juga tak menemukan ruang dan waktu, atau yang non-ruang dan non-waktu, yang tak tiba kembali di pangkuan Tuhan.</li>
<li>Peradaban ummat manusia ini sampai ke apapun, siapapun, di manapun, kenapapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tidak merdeka dari gagasan Allah, ide-Nya, aspirasi-Nya, model-Nya, replikasi-Nya, prototype-Nya, nuansa-Nya, sebab memang hanya Ia satu-satunya Yang Maha Sejati dan Maha Abadi.</li>
<li>Orang Maiyah menemukan bahwa kehidupan ummat manusia itu sangat mengalami kegagalan replikasi dari Tuhan ke peradabannya, sehingga yang sanggup dibangun adalah manusia cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, akal cacat, mental cacat, moral cacat. Orang Maiyah berkumpul dan bekerjasama untuk menggali ilmu, mentradisikan pelatihan dan lelaku hidup untuk mengurangi kecacatan diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik anak-anak cucu-cucu cacat.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Allahu Akbar</strong></em></p>
<ol>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang maiyah tidak terbebas oleh nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negaranya.</li>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya tidak mengandalkan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, untuk membangun kehidupannya dan menyembuhkan penyakitnya, maka Orang Maiyah tetap menggali segala sesuatu dari Bangsa dan Negaranya yang masih bisa diandalkan, serta tidak berputus asa untuk terus membangun kehidupan serta menyembuhkan penyakit Bangsa dan Negaranya, dalam skala, kapasitas dan kwalitas yang bisa dijangkaunya.</li>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya melecehkan, merendahkan dan memperhinakan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang Maiyah mengerti tidak ada perlunya memberikan hal yang sama, karena makhluk receh remeh dan hina sudah receh remeh hina tanpa diper-receh-kan diper-remeh-kan dan diperhinakan.</li>
<li>Kalau nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, tidak dihitung oleh siapapun sebagai sesuatu yang potensial dan aplikatif untuk berbagai keperluan urgen Bangsa dan Negaranya, maka Orang Maiyah tidak kehilangan tempatnya dalam sejarah, karena Maiyah tetap mereka andalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarga-keluarganya dan selingkup persaudaraan di antara mereka.</li>
<li>Di dalam kehidupan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, Bangsa dan Negaranya, Orang Maiyah tekun mencari, menemukan dan mempelajari “La ilaha” yang sangat penuh tipuan dan fatamorga, sehingga atau karena atau maka mereka sangat merindukan perkenan Allah untuk memasuki “Illallah” yang sangat indah, sejati dan abadi.</li>
<li>Di dalam diri Orang Maiyah selalu berlangsung konsentrasi untuk menemukan segala sesuatu yang ‘tidak’ dan yang ‘ya’ berdasarkan pandangan Tuhan. Konsentrasi berikutnya adalah secara radikal atau sedikit demi sedikit menghilangkan segala yang ‘tidak’ itu dan memasukkan segala yang ‘ya’ menurut peta ilmu dan kehendak Tuhan.</li>
<li>Diri Orang Maiyah tidak terbatas pada diri pribadinya sendiri melainkan diri yang lebih besar: keluarganya, anak istrinya, sanak familinya, rekan-rekan sepersaudaraannya, serta lingkup yang lebih luas yang berada dalam skala tanggung jawab kehidupannya berdasarkan pandangan Tuhan mengenai kehidupan bersama dalam rahmat untuk seluruh alam semesta dengan segala isinya.</li>
<li>Sampai batas tertentu yang dinamis dan relatif, perikehidupan masyarakat dan Bangsanya bisa juga termasuk lingkup tanggungjawab eksistensi kemakhlukannya. Akan tetapi Orang Maiyah tidak bertinggi hati untuk meletakkan diri sebagai penyelamat Bangsa dan Negaranya, melainkan berendah hati dan sangat menahan diri untuk berbuat di skala luas itu sejauh ada kepatutan bersama dan keridlaan satu sama lain.</li>
<li>Orang Maiyah selalu mengupayakan dan mendoakan Bangsa dan Negaranya agar dituntun Allah dalam menapakkan kaki menyongsong Gerbang Ghaib yang sangat dekat di depan mata kehidupan mereka. Semoga doa Orang Maiyah bagi sangat banyak orang yang belum tentu mencintai mereka dan belum tentu memerlukan upaya dan doa mereka, diperkenankan oleh Allah menjadi perahu ‘izzatullah penampung dan pengayom keluarga-keluarga Maiyah setelah tiba di Gerbang Ghaib iradah Allah itu.</li>
<li>Innallaha Balighu amri-Hi, qad ja’alallahu likulli syai-in Qadra.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Wa la haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.</strong></em></p>
<p>Kadipiro 25 Desember 2009.<br />
Muhammad Ainun Nadjib.</p>
<p>Sumber : Milist Maiyah</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;t=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;title=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib&amp;annotation=Kepada%20Mujahidin%20Mujtahidin%20Maiyah%20Dari%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0ABismillah-ir-Rahman-ir-Rahim%0D%0A%0D%0ASubhanallah%0D%0A%0D%0A%0D%0A%09Maiyah%20bukan%20karya%20saya%2C%20bukan%20ajaran%20saya%20dan%20bukan%20milik%20saya.%0D%0A%09%20Orang-orang%20Maiyah%20bukan%20santri%20saya%2C%20bukan%20murid%20saya%2C%20bukan%20anak%20bu" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;title=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib&amp;bodytext=Kepada%20Mujahidin%20Mujtahidin%20Maiyah%20Dari%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0ABismillah-ir-Rahman-ir-Rahim%0D%0A%0D%0ASubhanallah%0D%0A%0D%0A%0D%0A%09Maiyah%20bukan%20karya%20saya%2C%20bukan%20ajaran%20saya%20dan%20bukan%20milik%20saya.%0D%0A%09%20Orang-orang%20Maiyah%20bukan%20santri%20saya%2C%20bukan%20murid%20saya%2C%20bukan%20anak%20bu" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 10:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak? ‘Alamat’ dan ‘Jurusan’ Syahadah. Salah satu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?</p>
<p><strong>‘Alamat’ dan ‘Jurusan’</strong></p>
<p><strong>Syahadah</strong>. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.</p>
<p>Pandangan tentang ’<em>sangkan paran</em>’, semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi <em>wahyu</em>, <em>mawaddah wa rahmah</em>, juga <em>huda, bayyinat, wa furqan) </em>menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.</p>
<p><strong>Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan</strong></p>
<p>Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.</p>
<p>Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.</p>
<p>Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.</p>
<p>Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.</p>
<p>Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.</p>
<p>Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.</p>
<p><strong>Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil</strong></p>
<p>Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.</p>
<p>Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.</p>
<p>Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.</p>
<p>Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (’air hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).</p>
<p>Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.</p>
<p><strong>Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan</strong></p>
<p>Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.</p>
<p>Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.</p>
<p>Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.</p>
<p>Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.</p>
<p>Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.</p>
<p>Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.</p>
<p>Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.<br />
<strong><br />
Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal</strong></p>
<p>Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?</p>
<p>Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.</p>
<p>Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.</p>
<p>Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.</p>
<p>Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.</p>
<p>Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.</p>
<p>Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.</p>
<p>Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.</p>
<p>Melampiaskan dan Mengendalikan</p>
<p>Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.</p>
<p>Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.</p>
<p>Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.</p>
<p>Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.</p>
<p>Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.</p>
<p>Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.</p>
<p>Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’&#8211;kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.</p>
<p>Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa. []</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=127192446563&amp;ref=nf" target="_blank">Keduri Cinta</a><br />
Oleh: MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;t=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;annotation=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;bodytext=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOSTUM AGAMA</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=kostum-agama</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang. Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang.</p>
<p>Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau untuk pemirsa? Kita ber-khusnudhdhan bahwa kita semua ini sangat mencintai dan menghormati Allah.</p>
<p>Hanya saja &#8212; seakan-akan hanya pada bulan Ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada Ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli &#8212; seakan-akan hanya di depan kamera saja kita menghormati Allah.</p>
<p>Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh : MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;t=KOSTUM%20AGAMA" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=KOSTUM%20AGAMA%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;annotation=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;bodytext=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENABUNG SORGA</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=menabung-sorga</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Diam-diam Allah menganugerahkan anjuran agar manusia tidak mengumbar dan menghabis-habiskan kegembiraan dan pesta pora sesuai bulan Ramadhan. Mungkin agar tabungan kebahagiaan kita di sorga bisa bertumpuk sebanyak-banyaknya. Makan jangan terlalu banyak. Kita dididik untuk belajar ngincipi sejumput makanan, dan selebihnya kita nikmati dengan cara memandanginya saja, untuk kita investasikan untuk kegembiraan yang lebih tinggi kelak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diam-diam Allah menganugerahkan anjuran agar manusia tidak mengumbar dan menghabis-habiskan kegembiraan dan pesta pora sesuai bulan Ramadhan.</p>
<p>Mungkin agar tabungan kebahagiaan kita di sorga bisa bertumpuk sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Makan jangan terlalu banyak. Kita dididik untuk belajar ngincipi sejumput makanan, dan selebihnya kita nikmati dengan cara memandanginya saja, untuk kita investasikan untuk kegembiraan yang lebih tinggi kelak. Justru itulah nikmatnya berpuasa. Menahan diri di depan makanan dan kenikmatan.</p>
<p>Bukankah sehari sesudah Idul Fitri, justru tatkala kita sedang berada di puncak kemenangan dan pesta &#8212; Allah malah men-sunnat-kan kita untuk melakukan puasa Syawal, yang produk pahala, kemuliaan dan kenikmatannya berlipat-lipat?</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh : MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;t=MENABUNG%20SORGA" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=MENABUNG%20SORGA%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;title=MENABUNG%20SORGA&amp;annotation=Diam-diam%20Allah%20menganugerahkan%20anjuran%20agar%20manusia%20tidak%20mengumbar%20dan%20menghabis-habiskan%20kegembiraan%20dan%20pesta%20pora%20sesuai%20bulan%20Ramadhan.%0D%0A%0D%0AMungkin%20agar%20tabungan%20kebahagiaan%20kita%20di%20sorga%20bisa%20bertumpuk%20sebanyak-banyaknya.%0D%0A%0D%0AMakan%20jangan%20terlal" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;title=MENABUNG%20SORGA&amp;bodytext=Diam-diam%20Allah%20menganugerahkan%20anjuran%20agar%20manusia%20tidak%20mengumbar%20dan%20menghabis-habiskan%20kegembiraan%20dan%20pesta%20pora%20sesuai%20bulan%20Ramadhan.%0D%0A%0D%0AMungkin%20agar%20tabungan%20kebahagiaan%20kita%20di%20sorga%20bisa%20bertumpuk%20sebanyak-banyaknya.%0D%0A%0D%0AMakan%20jangan%20terlal" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUDIK DUNIA AKHIRAT</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=mudik-dunia-akhirat</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili, sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya. Mudik Lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai balik ke lingkungan primordial. Kampung halaman adalah tanah air konkret. Tanah dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili, sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.</p>
<p>Mudik Lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai balik ke lingkungan primordial.</p>
<p>Kampung halaman adalah tanah air konkret. Tanah dan air sejarah kelahiran mereka. Sehingga mudik episode kedua adalah kesadaran atau ikrar kembali bahwa diri manusia berasal dari tanah dan air yang akan kembali ke tanah dan air.</p>
<p>Episode mudik yang ketiga adalah kesadaran tentang Ibu Pertiwi dalam pengertian yang lebih batiniah. Yakni kekhusyukan menginsafi kasih sayang Ibunda, kandungan dan rahim Ibunda.</p>
<p>Betapa di puncak kepusingan hidup ini kita terkadang ingin kembali masuk ke gua garba Ibunda. Episode mudik berikutnya adalah kembalinya kita semua ke pencipta tanah air, ke sumber dan asal usul. Jadi, senantiasa siap kembali kepada Allah adalah puncak mudik, adalah mudik sejati.</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh: MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;t=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;title=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT&amp;annotation=Kerinduan%20untuk%20pulang%20ke%20kampung%20halaman%20dan%20bersilaturahmi%20dengan%20sanak%20famili%2C%20sesungguhnya%20adalah%20episode%20awal%20dari%20teater%20kebutuhan%20batin%20manusia%20untuk%20kembali%20ke%20asal%20usulnya.%0D%0A%0D%0AMudik%20Lebaran%20itu%20episode%20pulang%20secara%20geografis%20dan%20kultural.%20D" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;title=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT&amp;bodytext=Kerinduan%20untuk%20pulang%20ke%20kampung%20halaman%20dan%20bersilaturahmi%20dengan%20sanak%20famili%2C%20sesungguhnya%20adalah%20episode%20awal%20dari%20teater%20kebutuhan%20batin%20manusia%20untuk%20kembali%20ke%20asal%20usulnya.%0D%0A%0D%0AMudik%20Lebaran%20itu%20episode%20pulang%20secara%20geografis%20dan%20kultural.%20D" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IN MEMORIAM RENDRA: Tanahku, Hutanku, Kuburanku</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/10/in-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=in-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/10/in-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 10:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[mBah Surip]]></category>
		<category><![CDATA[WS Rendra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib</p>
<p>Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan.</p>
<p>Memasuki kampung padat gang sempit penuh orang dan wartawan, tiba juga kami di depan rumah Mamiek. Pintu ditutup rapat. Manohara barusan masuk. Kami tidak punya ”<em>kompetensi</em>” untuk berjuang agar bisa dibukakan pintu sebab kami tidak tahu posisi kami dalam dunia Mbah Surip: apakah kami termasuk di lingkaran primer sahabatnya, atau lingkungan sekunder, ataukah fans belaka sebagai ratusan khalayak yang memadati tempat itu.</p>
<p>Bersama Dr Nursamad Kamba, aktivis Thariqat Naqshabandy Mesir, kami mengaji dan berdoa di sebuah pojok, kemudian berniat langsung saja ke Cipayung, tempat Mbah Surip akan disemayamkan. Jalan kami terdesak-desak oleh arus massa yang berlomba mengerumuni dan menciumi tangan Manohara, tetapi syukur bisa lolos juga dan langsung menuju kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung.</p>
<p>Sesampai di sana kami terbentur problem ”<em>kompetensi etis</em>” lagi sehingga hanya berkumpul di sebuah rumah tetangga Rendra untuk berdoa dan shalat gaib bersama. Kami menyepakati agar Noe ”<em>Letto</em>” dan satu dua teman yang masuk ke tempat jenazah Mbah Surip disemayamkan.</p>
<p>Pukul 20.00, kami cabut menuju Pesona Khayangan Kav-5 untuk menemani Rendra yang terbaring sakit. Problem jantung dan ginjal beliau semakin mereda sesudah berpindah tiga rumah sakit, tetapi lalu tiba-tiba terserang demam berdarah sehingga rencana untuk keluar dari RS Mitra tertunda menunggu trombositnya naik. Syukur beliau akhirnya diizinkan pulang dan mulai ditangani oleh sebuah klinik herbal di Jakarta Barat.</p>
<p><strong>”Menonton” Mbah Surip</strong></p>
<p>Rendra telentang, rambutnya dipotong pendek sejak seminggu sebelumnya, tubuhnya masih kuyu, tetapi wajahnya mulai bersinar.</p>
<p>”<em>Hatinya lebih tenteram di sini, Mas</em>?” saya menyapa sambil memegangi tangannya. Rendra tersenyum, menganggukkan kepala, dan memancarkan sorot mata optimisme. Rendra bukan orang yang pernah suka menyembunyikan isi hatinya sehingga kalau hatinya tidak benar-benar lebih tenteram, ia pasti menjawab dengan keras dan tegas, ”<em>Ora</em>!”</p>
<p>Kami berbisik-bisik mengobrol pendek-pendek, tentang kelegaannya ditangani dengan metode yang lebih natural, tetapi menyepakati kesiapan seluruh segi untuk sewaktu-waktu berpindah ke rumah sakit di Singapura, yang memang sudah kami runding sejak dua minggu sebelumnya.</p>
<p>Ken Zuraida, istri beliau, dan Meme, putri mereka, lalu lalang menyiapkan ini itu yang diperlukan. A’u alias Clara Shinta, putri Rendra dari istri pertamanya, Sunarti, tak pernah diperbolehkan papanya lepas beberapa meter saja pun darinya, siang dan malam. Juga Arifin, semacam asisten pribadi Rendra yang senantiasa siap ceplas-ceplos bergurau menyegarkan jiwa Rendra, tidak pernah bisa beranjak dari seputar Rendra. Jika beranjak akan terdengar suara berat memanggil-manggilnya, ”Fiiin! Fiiin!”</p>
<p>Namun, malam itu Rachell, putri Rendra dari Sitoresmi, sedang pamit ke Yogyakarta sehingga tak terdengar gurauan liberal yang segar antara bapak dan putrinya.</p>
<p>Suasana di pembaringan Rendra kemudian bahkan agak berubah sendu. Di seberang pandang Rendra, televisi sedang menayangkan siaran langsung prosesi pemakaman Mbah Surip.</p>
<p>Ribuan orang dan ratusan wartawan memenuhi ”rumah Rendra”. Rendra menatap televisi dengan ekspresi wajah yang tidak segera bisa saya raba. Apakah mereka tahu di mana gerangan tuan rumahnya Mbah Surip berada? Kenapa Rendra tak tampak turut takziah kepada tamunya? Apakah ada yang tahu bahwa si tuan rumah sedang terbaring sakit sejak dua bulan sebelum Mbah Surip meninggalkannya?</p>
<p><strong>Anatomi nilai</strong></p>
<p>Tatkala terbaring di rumah sakit, Rendra pernah berbisik, ”<em>Kapan saya pulang, Nun?</em>” Saya agak mengelak, ”<em>Kalau pulang, ke mana, Mas?</em>” Ia menjawab, ”<em>Ke Cipayung. Itu tanahku, itu hutanku, itu kuburanku….</em>”</p>
<p>Lalu, tatkala diperkenankan pulang, ia mengambil keputusan, akan pulang ke rumah putrinya, A’u. Saya memahaminya sebagai ungkapan kearifan dan kemuliaan hatinya untuk berbagi kegembiraan dan keadilan bagi siapa saja di dalam lingkup keluarganya. Ternyata kemuliaan hati Rendra itu dituntun Tuhan. Sesudah dua hari berbaring di rumah putrinya, ia rebah di ”tanahku, hutanku, kuburanku”.</p>
<p>Tiba-tiba, tatkala bersama Komunitas Padangbulan saya berbincang di bawah cahaya bulan purnama di Jombang, 6 Agustus pukul 22.05, di panggung saya memperoleh telepon bahwa Rendra telah dijemput oleh Malaikat Izroil karena lamaran cintanya diterima Allah SWT. Beberapa jam sebelumnya, tatkala maghrib, ia memanggil A’u dan Arifin, bertanya, ”<em>Kalau aku mati, kamu ikut siapa?</em>” Tentu saja mereka berdua menjawab, ”<em>Papa tidak boleh omong seperti itu.</em>”</p>
<p>Hati saya mungkin kotor karena spontan yang muncul di benak saya sesudah mendengar kepergian Rendra adalah ”<em>apakah akan ada siaran langsung juga sebagaimana Mbah Surip?</em>”</p>
<p>Saya mencoba memaafkan diri sendiri dengan meyakini bahwa pertanyaan itu muncul tidak dari konteks eksistensialisme dan kemasyhuran, melainkan ujian berpikir bagi diri saya sendiri, dan syukur bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia jurnalisme negeri ini. Apakah tidak sebaiknya kita mempertanyakan kembali parameter-parameter nilai kehidupan yang berlaku.</p>
<p>Bagaimana sebenarnya kita menggambar ”<em>anatomi nilai</em>” kebudayaan kita? Yang mana dan siapa ”<em>kepala</em>”, yang mana dan siapa ”<em>tangan</em>”, ”<em>kaki</em>”, ”<em>otak</em>”, ”<em>nurani</em>”, dan ”<em>kelamin</em>”?</p>
<p>Jangan dulu bertanya tentang kaliber karya dan kepribadian Rendra. Kita benahi dulu: yang primer itu akal ataukah nurani, ataukah kelamin? Yang utama bagi informasi dan komunikasi kebudayaan kita ini prestasi akal, pencapaian estetika dan nurani, atau euforia nafsu dangkal kelamin—baik yang diekspresikan dan diperjualbelikan secara eksplisit kelamin maupun yang implisit dan tak kentara bahwa sesungguhnya ”<em>rating tertinggi</em>” yang kita imani adalah ”<em>packaging</em>” kedangkalan, kekonyolan, kehinaan, dan kerendahan?</p>
<p>Wallahualam. Saya berdebar dari detik ke detik. Di tangan saya tergenggam lembar kertas yang bertuliskan puisi terakhir Rendra yang ia tulis pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga….</p>
<p>(Sumber: Kompas, Sabtu, 8 Agustus 2009)</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F10%2Fin-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku%2F&amp;t=IN%20MEMORIAM%20RENDRA%3A%20Tanahku%2C%20Hutanku%2C%20Kuburanku" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=IN%20MEMORIAM%20RENDRA%3A%20Tanahku%2C%20Hutanku%2C%20Kuburanku%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F10%2Fin-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F10%2Fin-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku%2F&amp;title=IN%20MEMORIAM%20RENDRA%3A%20Tanahku%2C%20Hutanku%2C%20Kuburanku&amp;annotation=Ditulis%20Oleh%3A%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0A%0D%0ARencananya%2C%20sesudah%20diskusi%20ulang%20tahun%20ke-52%20Lembaga%20Administrasi%20Nasional%2C%204%20Agustus%20pagi%20itu%2C%20saya%20janji%20langsung%20ke%20Rumah%20Sakit%20Mitra%20Keluarga%20untuk%20turut%20mengantarkan%20Rendra%20pulang%20ke%20rumah%20Clara%20Shinta%2C%20pu" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F10%2Fin-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku%2F&amp;title=IN%20MEMORIAM%20RENDRA%3A%20Tanahku%2C%20Hutanku%2C%20Kuburanku&amp;bodytext=Ditulis%20Oleh%3A%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0A%0D%0ARencananya%2C%20sesudah%20diskusi%20ulang%20tahun%20ke-52%20Lembaga%20Administrasi%20Nasional%2C%204%20Agustus%20pagi%20itu%2C%20saya%20janji%20langsung%20ke%20Rumah%20Sakit%20Mitra%20Keluarga%20untuk%20turut%20mengantarkan%20Rendra%20pulang%20ke%20rumah%20Clara%20Shinta%2C%20pu" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/10/in-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benar Sendiri</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/04/benar-sendiri/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=benar-sendiri</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/04/benar-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 02:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Ada tiga model kebenaran yang bisa kita temukan. Pertama, model kebenaran yang dipakai sendiri: benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, kebenaran yang diakui banyak orang (benere wong akeh), dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati). Sejak mendidik bayi sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama. Artinya,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada tiga model kebenaran yang bisa kita temukan. Pertama, model kebenaran yang dipakai sendiri: benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, kebenaran yang diakui banyak orang (benere wong akeh), dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati).</p>
<p>Sejak mendidik bayi sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama. Artinya, orang yang berlaku berdasarkan benarnya sendiri, pasti mengganggu orang lain, menyiksa lingkungannya, merusak tatanan hidup bersama, dan pada akhirnya pasti akan menghancurkan diri si pelakunya sendiri.</p>
<p>Benarnya sendiri ini berlaku dari soal-soal di rumah tangga, pergaulan di kampung, di pasar, kantor, sampai ke  manifestasi-manifestasinya dalam skala sosial yang lebih luas berupa otoritarianisme, diktatorisme, anarkisme, bahkan pada banyak hal juga berlaku pada monarkisme atau teokrasi. Benarnya sendiri melahirkan firaun-firaun besar dalam skala negara dan dunia, serta memproduk firaun-firaun kecil di rumah tangga, di lingkaran pergaulan, di organisasi, bahkan di warung dan gardu.</p>
<p>Tidak mengagetkan pula jika benarnya sendiri juga terjadi di kalangan yang yakin bahwa mereka sedang menjalankan demokrasi. Ada seribu kejadian sejarah yang mencerminkan pandangan benarnya sendiri. Para pelaku demokrasi banyak menerapkan demokrasi berdasarkan paham benarnya sendiri tentang arti demokrasi itu. Orang yang selama berpuluh-puluh tahun diyakini sebagai seorang demokrat sejati, ditulis di koran-koran, buku-buku, digunjingkan di forum-forum nasional maupun internasional sebagai seorang demokrat teladan &#8211;ternyata pandangan-pandangan kolektif itu khilaf.&#8221;<br />
Seumber : (Emha Ainun Nadjib/Republika/04 Nopember 2001/PadhangmBulanNetDok), Milist Maiyah</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F04%2Fbenar-sendiri%2F&amp;t=Benar%20Sendiri" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Benar%20Sendiri%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F04%2Fbenar-sendiri%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F04%2Fbenar-sendiri%2F&amp;title=Benar%20Sendiri&amp;annotation=Ada%20tiga%20model%20kebenaran%20yang%20bisa%20kita%20temukan.%20Pertama%2C%20model%20kebenaran%20yang%20dipakai%20sendiri%3A%20benarnya%20sendiri%20%28benere%20dhewe%29.%20Kedua%2C%20kebenaran%20yang%20diakui%20banyak%20orang%20%28benere%20wong%20akeh%29%2C%20dan%2C%20ketiga%20kebenaran%20hakiki%20%28bener%20kang%20sejati%29.%0D%0A%0D%0ASejak%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F04%2Fbenar-sendiri%2F&amp;title=Benar%20Sendiri&amp;bodytext=Ada%20tiga%20model%20kebenaran%20yang%20bisa%20kita%20temukan.%20Pertama%2C%20model%20kebenaran%20yang%20dipakai%20sendiri%3A%20benarnya%20sendiri%20%28benere%20dhewe%29.%20Kedua%2C%20kebenaran%20yang%20diakui%20banyak%20orang%20%28benere%20wong%20akeh%29%2C%20dan%2C%20ketiga%20kebenaran%20hakiki%20%28bener%20kang%20sejati%29.%0D%0A%0D%0ASejak%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/04/benar-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/11/emha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=emha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/11/emha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 10:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Tak akan didengarkan orang kalau ada seorang Doktor berfatwa, sebagaimana kalau KH Mustafa Bisri (andaikan beliau mau) berfatwa. Sebab ‘fatwa’ arti telanjang epistemologisnya adalah kedewasaan yang ‘jangkep’. Doktor masih kedewasaan parsial dan ‘githang’.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_48" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/f1246018285.jpg"><img class="size-medium wp-image-48" title="KH Ahmad Mustofa Birsi" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2009/07/f1246018285-300x190.jpg" alt="Sumber: Sumber http://gusmus.net" width="300" height="190" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber: Sumber http://gusmus.net</p></div>
<p>OLEH: Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus<br />
Sumber : Facebook Kenduri Cinta&#8217;s Notes</p>
<p>Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.</p>
<p>Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi – dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.</p>
<p>Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama <strong>Doctor Honoris Causa</strong>. Menghampirinya. ‘<em>Ngenger</em>’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan dan dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.</p>
<p>Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.</p>
<p>Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati beliau tidak puas untuk memohon “<em>Ya Allah, sayangilah para pengemis, mudahkanlah kehidupan mereka, limpahilah dengan rizqi-Mu yang luasnya tak terhingga kali seluruh jagat raya</em>”. Bunyi perasaan terdalam beliau agak lebih radikal: “<em>Alangkah mudahnya bagi-Mu ya Allah untuk sejak awal menciptakan pagar-pagar qadla dan qadar agar dalam peradaban ummat manusia tak usah ada pengemis, tak usah ada hamba-hamba yang selemah itu, apalagi sampai dilemahkan, di-pengemis-kan</em>”.</p>
<p>Memang di dalam salah satu cara berpikir tasawuf para pemberi membutuhkan mereka yang diberi. Orang kaya membutuhkan orang miskin, sebab orang miskin adalah jalan memperbanyak pemberian, infaq dan shadaqah. Orang miskin adalah lahan subur untuk menanam kasih sayang. Gus Mus setahu saya tidak turut menikmati bermain logika dan simulasi sosial sufisme. Beliau transenden dari pola-pola adegan itu dengan mempertapakan dambaan cinta alangkah indahnya kehidupan tanpa orang-orang miskin yang meruntuhkan hati dan memeras airmata.</p>
<p>Bahasa gamblangnya: Gus Mus pada dasarnya tidak merasa krasan juga Doctor Honoris Causa melamar-lamar dirinya. Dan lebih sangat “<strong>haram mu’aqqad</strong>” lagi kalau sampai ada bagian dari kehidupan ini di mana Gus Mus yang melamar gelar Doktor, mendambakannya, mengambisiinya, merakusinya, merindukannya, apalagi sampai menyiapkan uang dalam jumlah sangat besar dalam rangka memperhinakan dirinya.</p>
<p>Lho, apakah gelar Doktor itu hina? O tidak lah yaoo… Ini hanya pernyataan ta’aqqud dan tafaqquh bahwa yang selain Tuhan selalu menjadi jatuh hina jika diperlakukan sebagaimana Tuhan. Hanya Allah yang memiliki maqam untuk didambakan untuk diraih, diserakahi untuk ‘dimiliki’, digadang-gadang serta dicita-citakan untuk bersanding. Selain Allah, bahkanpun Rasulullah, juga seluruh manusia dan alam semesta, cocoknya dicintai, disayang.</p>
<p>Gus Mus menyayangi gelar Doktor beliau, tapi insyaallah tak sampai mencintai. Disayang karena mereka yang memberinya gelar itu juga sangat sayang kepada Gus Mus. Namun tidak sampai mencintai, karena beliau bukan orang bodoh.</p>
<p>Gelar Doktor mencerminkan pencapaian ilmu maksimal pada ukuran mesin berpikir manusia. Tidak sempurna dan belum puncak, dalam arti potensialitas yang dianugerahkan Allah atas daya akal manusia masih menyediakan cakrawala luas dan langit tinggi yang masih amat jauh di luar jangkauan pencapaian peradaban berpikir ummat manusia sampai sekian puluh abad. Sedangkan gelar Proffesor menggambarkan kelulusan komitmen terhadap dunia ilmu dan kesetiaan terhadap tradisi kemuliaan pemeliharan dan penyebaran ilmu. Tafaqquh ‘ilmi wan-tisyaruh.</p>
<p>Itu idiomatik dan simbol dari dunia persekolahan di mana pencarian ilmu di-institusionalisasi-kan, dengan ‘<strong>syubhan</strong>’ politik dan perdagangan – tetapi yang terakhir ini tidak menjadi perhatian dalam tulisan ini. Di luar sekolah, masyarakat (Indonesia, Jawa) membangun sendiri idiomatic dan simbol-simbolnya untuk mengukuhkan pencapaian manusia di antara mereka: Kiai, Panembahan, Ki, Begawan, Pendekar, Pandito. Pada tataran yang lebih popular dan sehari-hari muncul symbol: Mbah, Lurah, Danyang, mBahurekso, dst, yang semuanya menggambarkan pengakuan umum atas pencapaian tertentu dari seseorang.</p>
<p>Kalau memang ‘<em>terpaksa</em>’, KH. Mustafa Bisri kita lengkapi saja atributnya: Mbah Lurah Danyang mBahurekso Pandito Begawan Panembahan Ki Kiai Profesor Doktor Mustafa Bisri, dan saya urun nambahi satu tapi tanpa upacara: Karromallohu wajhah…. Karena insyaallah beliau karib dan sehabitat dengan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dalam sejumlah konteks, utamanya <em>ta’aqqudul iman</em>, <em>tafaqquhul ‘ilmi wa ni’matul ma’rifah</em> serta thariqat ‘<em>suwung</em>’, <em>fana</em>’.</p>
<p>Doktor itu kedewasaan ilmu, namun tidak menjamin kematangan mentalitas dan spiritualitas. Bahkan tidak menjanjikan kedewasaan sosial dan kultural. Sedangkan Gus Mus mohon maaf: memiliki semua itu.</p>
<p>Tak akan didengarkan orang kalau ada seorang Doktor berfatwa, sebagaimana kalau KH Mustafa Bisri (andaikan beliau mau) berfatwa. Sebab ‘<em>fatwa</em>’ arti telanjang epistemologisnya adalah kedewasaan yang ‘<em>jangkep</em>’. Doktor masih kedewasaan parsial dan ‘<em>githang</em>’.</p>
<p>Fatwa bukan produk dari rapat sekian ratus Ulama yang naik pesawat dari berbagai propinsi untuk mengacungkan tangan dan meneriakkan “<em>Setuju</em>!” dalam sebuah rapat yang berprosedur demokrasi, penjajagan pendapat untuk mencapai kesepakatan. Atau lebih rendah lagi: pendapat sudah disediakan, dan ratusan Ulama bersegera menyetujuinya karena hal itu merupakan ujung dari suatu eskalasi politik, mobilisasi berpikir dan honorarium. Untuk Indonesia, tradisi semacam itu sudah ma’ruf wa mafhum, dan semua tinggal meng-amin-i.</p>
<p>Sesungguhnya Gus Mus adalah seorang Al-Mufti. Hanya saja beliau terlalu rendah hati. Sekurang-kurangnya Al-Mufti adalah kwalitas dan maqam beliau. Dan kalau beliau hampir tidak pernah menduduki kursi itu dan tidak ‘<em>nyuwuk</em>’ fatwa apa-apa kepada bangsa dan ummat yang tidak mengerti kegelapan (apalagi cahaya) ini, kita orang dusun tahunya barangkali memang beliau tidak memperoleh ‘<em>wangsit</em>’ untuk berfatwa. Allah sendiri menerapkan sifat As-Shobur kepada bangsa Indonesia, Gus Mus nginthil di belakang-Nya.</p>
<p>Dan sungguh saya selalu merasa gatal untuk menggoda Gus Mus, di tengah perjalanan hidup ‘asyik ma’syuk di tengah hutan belantara penuh comberan ini.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F11%2Femha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus%2F&amp;t=Emha%20Ainun%20Nadjib%20Untuk%20Dr.%20HC-nya%20Gus%20Mus" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Emha%20Ainun%20Nadjib%20Untuk%20Dr.%20HC-nya%20Gus%20Mus%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F11%2Femha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F11%2Femha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus%2F&amp;title=Emha%20Ainun%20Nadjib%20Untuk%20Dr.%20HC-nya%20Gus%20Mus&amp;annotation=Tak%20akan%20didengarkan%20orang%20kalau%20ada%20seorang%20Doktor%20berfatwa%2C%20sebagaimana%20kalau%20KH%20Mustafa%20Bisri%20%28andaikan%20beliau%20mau%29%20berfatwa.%20Sebab%20%E2%80%98fatwa%E2%80%99%20arti%20telanjang%20epistemologisnya%20adalah%20kedewasaan%20yang%20%E2%80%98jangkep%E2%80%99.%20Doktor%20masih%20kedewasaan%20parsial%20dan%20%E2%80%98githang%E2%80%99." title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F11%2Femha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus%2F&amp;title=Emha%20Ainun%20Nadjib%20Untuk%20Dr.%20HC-nya%20Gus%20Mus&amp;bodytext=Tak%20akan%20didengarkan%20orang%20kalau%20ada%20seorang%20Doktor%20berfatwa%2C%20sebagaimana%20kalau%20KH%20Mustafa%20Bisri%20%28andaikan%20beliau%20mau%29%20berfatwa.%20Sebab%20%E2%80%98fatwa%E2%80%99%20arti%20telanjang%20epistemologisnya%20adalah%20kedewasaan%20yang%20%E2%80%98jangkep%E2%80%99.%20Doktor%20masih%20kedewasaan%20parsial%20dan%20%E2%80%98githang%E2%80%99." title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/11/emha-ainun-nadjib-untuk-dr-hc-nya-gus-mus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
