Tokoh

ya tuhan, pelajaran apa ini?

ya tuhan, pelajaran apa ini?
kau kurniakan kepada kami ironi-ironi
yang mengusik pikiran dan nurani:
kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja
dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa
kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja
dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya

ya tuhan, pelajaran apa ini?
kau beri [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Da’wah Kampus Pasca Mataram

Da’wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da’wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da’wah di kampus, tumbuh [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Bapak Ceplas-ceplos Nasional

Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seolah-olah besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menunjukkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seolah-olah kecil kita abaikan.
Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal, sejatinya, unsur tampak remeh-temeh inilah yang [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Gus Dur sebagai “Orang Asing”

Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing.
Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel. Dalam [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Gus Dur, Raja Telah Mangkat, Hidup Raja!

Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan repitoir dari berbagai tulisan mengenai Gus Dur, yang ditulis oleh berbagai kalangan masyarakat, dan ada di mana-mana, baik lokal maupun nasional. Secara aklamasi semuanya sependapat bahwa Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional dan guru bangsa, terutama mengenai pluralisme dan multikulturalisme, baik ini nanti diformalkan atau tidak oleh pemerintah.
Ada tradisi di [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Gus Dur Manusia Setengah Dewa

Abdurrahman Wahid, Presiden keenam Indonesia (setelah Sukarno, Sjafrudin Prawiranegara, Assaat, Soeharto, dan Habibie) wafat 30 Desember 2009. Tentu ada berbagai cara dan perspektif dalam menilai ketokohannya. Termasuk bagaimana masyarakat serta para pengikutnya melihat dan memersepsikannya. Sewaktu masih sehat ia adalah pemikir/penulis cerdas yang berangkat dari dunia pesantren, memperoleh kematangan dengan memimpin sebuah organisasi masyarakat terbesar [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Gus Dur Pejuang Pluralisme Sejati

Sumbangsih terbesar Gus Dur terhadap bangsa adalah perjuangannya yang pantang mundur dalam mengusung pluralisme. Sebelum meninggal, Gus Dur berpesan, ”Saya ingin di kuburan saya ada tulisan: Di sinilah dikubur seorang pluralis” (Kompas, 3/1).
Gus Dur seorang pluralis. Gebrakannya yang terkenal: menjadikan Konghucu agama resmi negara. Gus Dur juga mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1967 yang [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib

Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib
Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim
Subhanallah

Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya.
Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.
Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Ataturk, Mahatma Gandhi, dan Gus Dur

Berkumpullah bersama semua manusia dari semua agama, suku, dan ras India di bawah satu panji, dan pompakan semangat solidaritas dan persatuan untuk mengusir eksklusivisme kelompok dan sentimen-sentimen yang picik dan sempit.(Gandhi)

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg

Gus Dur dan Inklusivisme NU

Dengan hanya mengenakan kaus oblong dan sarung, KH Sahal Mahfudz bersila. Beberapa ulama lain berbaring miring. Sebagian ada yang merokok. Suasana santai itu bukan waktu istirahat, tetapi justru mereka sedang membahas masalah penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
Para kiai yang sebagian sudah sepuh itu tengah membahas penggunaan kitab standar mazhab di pondok pesantren. Mereka ingin [...]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg