Sufi
I’tikaf
Aug 29th
I’tikaf adalah niat berdiam di dalam masjid dalam keadaan puasa menurut Imam Malik bin Anas. Menurut Imam Asy Syafi’i dan Ahmad bin Hambal, puasa itu bukanlah syarat dalam i’tikaf. Dan menurut Imam Abu Hanifah, puasa itu menjadi syarat dari i’tikaf yang wajib. I’tikaf ini hukumnya ditetapkan oleh Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’.
Dalam surat Al Baqarah ayat 125, Allah swt. telah berfirman yang antara lain sebagai berikut:
. . . وَعَهِدْنَآ اِلَى اِبْرَاهِيْمَ وَاِسْمَاعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ .“. . . Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il : “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
Dalam surat Al Baqarah ayat 187, Allah swt. juga berfirman yang antara lain sebagai berikut:
. . . وَلاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسَاجِدِ ؛ . . . الآية“. . . janganlah kamu sekalian campuri mereka itu (para isterimu), sedang kamu sekalian beri’tikaf dalam masjid. . . . ”
I’tikaf itu ada tiga macam:
1. I’tikaf wajib, yaitu i’tikaf yang dijadikan nadzar. 2. I’tikaf sunnat, yaitu i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulanRamadlan. 3. Mustahab, yaitu i’tikaf pada waktu-waktu selain tersebut di atas.
Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar telah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari More >
Ramadhan Menyehatkan Jasmani dan Rohani
Aug 29th
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.
Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.
Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”(Q. 2. Al-Baqarah: 183)
Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. More >
Mutiara Hikmah yang Terlupakan
Aug 29th
Sejak di surga, sesungguhnya Nabi Adam AS sudah dibekali Allah dengan Ilmu yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmunya malaikat. Allah telah menyatakan itu melalui firman-Nya:
وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” – Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. 2; 31-32)
Namun demikian, karena proses pengamalan ilmu tersebut juga akan menghasilkan ilmu lagi yang disebut ilmu pengalaman yang bisa mendewasakan jiwa manusia (dalam kaitan agama disebut ilmu rasa atau ilmu spiritual) maka untuk mencapai kedewasaan jiwa tersebut manusia harus menjalani suratan takdir hidup yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, baik takdir buruk maupun takdir baiknya. Hal itu disebabkan, karena hanya dengan ilmu praktek (ilmu rasa) inilah, ilmu pengetahuan secara teoritik itu diharapkan dapat menghasilkan manfaat yang optimal. Yaitu meningkatkan kualitas iman sehingga mampu menghasilkan keyakinan kuat dalam hati, padahal untuk menumbuhkan More >
IBADAH PUASA ADALAH PELAKSANAAN “TAUHIDUL QOSHDI” (HANYA SATU TUJUAN).
Aug 24th
TADARUS (Part-9) Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW -3
عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (Muttafaq ‘Alaih).
Setiap ibadah, di dalamnya berpotensi syirik, kecuali puasa. Gambaran orang-orang musyrikin sebagaimana dinyatakan Allah adalah orang-orang yang menyembah berhala, matahari, bulan maupun api. Di mana dengan bersujud kepada sesembahan itu mereka mengira dapat mendekati Tuhan. Padahal sesungguhnya mereka terjerumus dalam kesyirikan. Allah memberikan sinyalemen tentang hal tersebut dengan fimanNya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?“, niscaya mereka menjawab: “Allah“. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: More >
Tiga Tingkat Puasa
Aug 21st
Ulama’ membagi puasa menjadi tiga tingkat: Pertama : Puasanya orang umum (`awam) Kedua : Puasanya orang khusus (khawwas) Ketiga : Puasanya orang khususnya khusus (khawwas al-khawwas)
Pertama: Puasanya orang umum (awam). Puasa orang awam ini adalah puasa yang dilakukan hanya dengan tujuan untuk menahan kemauan perut dan kelamin untuk mendatangi nafsu syahwat. Puasa yang dilakukan sekedar mengerti bahwa dirinya saat itu sedang diwajibkan berpuasa namun tidak pernah mengerti, untuk apa puasa itu diwajibkan.
Inilah puasanya orang kebanyakan, hanya menjalankan kewajiban puasa itu secara syariat saja. Hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa tahu hikmah dan rahasia di balik kewajiban tersebut. Namun, meski demikian, asal ibadah puasa itu dapat dilaksanakan dengan dasar hati yang ikhlas dan tanpa dicampuri sifat-sifat yang dapat membatalkan pahala puasa, maka tetap saja akan mendapatkan pahala dari puasa yang dilakukan itu. Hanya saja barangkali sulit bisa menggapai “rahasia amal” sebagai buah ibadah yang disembunyikan di balik kewajiban tersebut. Rahasia amal itu, menurut istilah para Ulama’ Sufi disebut “Khususiyah”, dengan khususiah itu jiwa seorang hamba akan menjadi lebih matang, dewasa dan kharismatik.
Kedua: Puasanya orang khusus (khawwas) adalah puasanya orang-orang shaleh, yakni puasa dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat dan dosa. Mereka tidak hanya menahan kebutuhan perut dan kelamin saja, namun More >
Keutamaan Khusus Di Bulan Ramadhan
Aug 21st
Dari Salman RA. Rasulullah SAW telah berkhutbah kepada kita pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban, Beliau bersabda: “Hai manusia, sungguh telah membayangi di belakang kalian, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan di mana di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai ibadah wajib, dan shalat malam sebagai ibadah tambahan (sunah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebajikan atau melaksanakan ibadah-ibadah wajib, maka dia seperti melaksanakan tujuh puluh ibadah wajib di luar bulan itu.”
Bulan itu adalah bulan sabar. Pahalanya adalah surga dan bulan penuh keluasan serta bulan di mana rezeki orang-orang beriman menjadi bertambah. Barangsiapa pada bulan itu memberikan buka puasa, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dibebaskan dari api neraka serta mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang ia beri makanan untuk buka puasanya itu tanpa dikurangi sedikitpun.
Para sahabat bertanya: ”Kalau kami tidak mempunyai apa-apa yang bisa kami berikan untuk berbuka bagi orang yang puasa?” Rasulullah SAW menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan buka bagi orang yang berpuasa dengan sebiji kurma atau air minum ataupun seteguk susu”. وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Ia adalah bulan, awalnya adalah More >
Hak NYA
Aug 11th
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah … semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan More >
KEKELOMPOKAN JAHILIYAH
Jul 31st
Temukan Diri Lewat Pintu Tasawuf
Jul 14th
Oleh: Muhammad Soffa Ihsan Sumber : GusMus.net
Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi?
Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk terunggul. Dimana letak keunggulan itu? Tantangan ini muncul dalam buku Jalan Kebahagiaan, Tasawuf Kalbu Islam, karya Syeikh Khaled Bentounes, Pemimpin Tarekat Alawiyyah. Pelaku sufisme yang tinggal di Perancis ini pernah berkunjung ke Yogyakarta 2008 lalu. Pemikiran sufisme itu berujung pada penemuan manusia atas dirinya sendiri. Manusia tidak terasing dari dirinya, sehingga terbebas dari segala insting, kecuali menjadi pelayan Tuhan. Itulah manusia universal yang bisa melihat dirinya sendiri. Kehidupan, nalar, dan ajaran pada dasarnya untuk seluruh manusia. Ini karena manusia berasal dari unsur yang sama, yaitu tanah dan kedudukannya sama bak gigi sisir. Yang membedakan ada pada tataran tindakan. Jadi, dalam dunia materi, kehidupan sosial kehidupan sehari-hari dan di lingkungan sekitar harus selalu ditanyakan akan peran kita, apa yang kita perlukan dan apa yang bisa kita berikan.
Syeikh Khaled memaparkan pemikiran itu melalui diagram lingkaran. Setiap lingkaran menunjukkan tingkatan kehidupan manusia, seperti dalam lingkaran yang dipakai oleh para sufi More >