<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Sufi</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/category/sufi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Diantara Jalan Sufi Gusdur</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=diantara-jalan-sufi-gusdur</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH.M. Luqman Hakim</strong><br />
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan  kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma  dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.</p>
<p>Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali  ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.</p>
<p>Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.</p>
<p>Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial,  dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.</p>
<p>Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.</p>
<p>Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.</p>
<p>Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.</p>
<p>Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy,  maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.</p>
<p>Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?</p>
<p>Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.</p>
<p>Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”</p>
<p>Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.</p>
<p>Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.</p>
<p>Sumber : <a href="http://sufinews.com" target="_blank">SufiNews.com</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;t=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;annotation=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F20%2Fdiantara-jalan-sufi-gusdur%2F&amp;title=Diantara%20Jalan%20Sufi%20Gusdur&amp;bodytext=Oleh%3A%20KH.M.%20Luqman%20Hakim%0D%0AKharisma%20Gus%20Dur%2C%20setelah%20wafatnya%2C%20ternyata%20melebihi%20realitas%20kehidupannya.%20Keharuman%20spiritual%20yang%20eksotis%2C%20begitu%20lekat%20dan%20fenomenal.%20Hal%20ini%20tentu%20berhubungan%20dengan%C2%A0%20kondisi%20sosiologis%20masyarakat%20NU%20yang%20seringkali%20m" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/20/diantara-jalan-sufi-gusdur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 04:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani :: Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani ::</p>
<p>Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk menampung pengalaman dan rasa. Bahasa adalah hasil dari konvensi, kesepakatan. Bahasa ditetapkan secara arbitrer. Penanda dan petanda, atau signifier/signified, ditetapkan secara arbitrer sebagai hasil kesepakatan. Adakah alasan mengapa tempat duduk dikatakan kursi dan tempat tidur dikatakan ranjang? Kalau nenek moyang kita berabad-abad lalu menyebut tempat duduk sebagai onde-onde, maka mungkin kita sekarang mengatakan, “Sang pengantin duduk di Onde-Onde pelaminan,” bukan “duduk di kursi pelaminan.”</p>
<p>Karena itu, pada titik di mana kita harus mengabarkan pengalaman dan rasa kita, maka pada saat itulah kita menggunakan “tafsir.” Kita menafsirkan pengalaman kita. Tetapi, celakanya, kadang-kadang kita kesulitan mengabarkan pengalaman kita dengan penafsiran yang canggih dan filosofis sekalipun. Saat kita hati kita senang karena jatuh cinta, apa yang harus kita ampaikan kepada orang untuk mengabarkan apa yang sedang kita rasakan? Pada akhirnya kita terpaksa menggunakan kiasan, perlambang, simbol, yang kemungkinan besar bisa mewakili perasaan kita. Jaman dulu orang mengatakan, “hatinya sedang berbunga-bunga,” untuk menunjukkan betapa bahagianya seseorang yang jatuh cinta. Titik Puspa bahkan hanya bisa bilang, “Jatuh cinta, berjuta rasanya.” Tetapi “rasa cinta” itu sendiri tetap tak terungkapkan, tak bisa dirasakan oleh pendengarnya, kecuali si pendengar itu erasakan sendiri “jatuh cinta.”</p>
<p>Dan bahkan, dua orang yang sama-sama sedang jatuh cinta, bisa jadi berbeda dalam menafsirkan pengalamannya sendiri. Orang yang pernah patah hati, lalu kemudian cintanya diterima, akan merasakan dan menafsirkan cinta secara berbeda dengan orang yang kisah cintanya lancar-lancar saja.</p>
<p>Pengalaman sufi barangkali mirip dengan keadaan seperti ini. Tak mengherankan sufi ssangat sering menggunakan perlambang dan jangan heran jika sufi juga sering berbeda pendapat dalam menafsirkan pegalaman “persatuannya.” Dalam konteks sufistik ini, hadits “perbedaan adalah rahmat” menunjukkan makna uniknya – bukan sekedar perbedaan debat rasional atau akal atau sekedar perbedaan mahzab. Beragamnya pengalaman, dan beragamnya tafsir atas pengalaman sungguh merupakan “rahmat” tersendiri bagi para “pencari” Tuhan. Dengan memahami ini, sang pencari bisa tercegah untuk mengambil kesimpulan bahwa pengalaman dirinyalah yang paling valid. Dalam analisis terakhir, para sufi menyadari bahwa Allah tak bisa dipahami hanya melalui satu cara saja, dan karenanya tidak ada klaim tafsir tunggal tentang Tauhid atau ajaran Islam pada umumnya.</p>
<p>Ibn ‘Arabi, sepengetahuan saya, adalah sufi paling jenius dalam soal ini. Dia mengobrak-abrik tafsir tunggal kita tentang Tuhan. Kita sering mengatakan, berdasarkan pengetahuan dari buku dan tafsir eksoteris, bahwa Tuhan adalah ini dan itu. Tetapi, pengetahuan adalah kekuasaan, dan kekuasaan selalu membatasi atau melingkupi obyek pengetahuan. Bagaimana mungkin kita membatasi Tuhan dalam pengetahuan kita? Tuhan senantiasa tak terjangkau, sebab bila Dia bisa dijangkau, berarti Dia bisa dipahami, dan berarti Dia berada dalam kekuasaan pengetahuan kita, dan karenanya Dia menjadi terbatas. JIka kita menggunakan alur ini, maka secara epistemologis, bangunan tesis ini menjadi rapuh, dan mudah untuk diragukan.</p>
<p>Inilah yang namanya sifat dari akal. <strong>Aql</strong> dalam bahasa arab juga berarti <em>membatasi, mengikat</em>. Karenanya, sekeras apapun akal berusaha memahaminya, maka ia hanya memahaminya secara sangat terbatas. Akal adalah seperti jaring ikan. Setiap jaring ada lobangnya. Bayangkan kita punya jaring seluas samudera dengan lobang-lobang jaring berdiameter 10 meter. Maka yang kita bisa ambil mungkin hanya ikan paus. Tetapi jika lobang itu diperkecil, maka hiu bisa tertangkap. Semakin kecil, semakin banyak yang tertangkap – ubur-ubur, teri, plankton dst. Jaring akal hanya menangkap pengetahuan yang umum, yang sesuai dengan pra-struktur pengetahuan yang telah terakumulasi dalam otak/akal kita. Bisa jadi ia bertambah, atau berkurang (mungkin karena lupa atau yang lainnya). Akal adalah jaring. Lalu, adakah jaring yang tak berlobang, yang bisa menciduk seluruh isi samudera? Tuhan pernah bilang, “Semesta tak bisa menampung-Ku, tapi hati orang beriman bisa.” Hati adalah jaring tak berlobang. Bukan sembarang hati, tetapi hati orang beriman. Lalu siapakah orang beriman itu?</p>
<p>Dalam kenyataan banyak orang (mengaku atau diakui) beriman. Karenanya, orang beriman di sini lebih dari sekedar beriman KTP. Sufi selalu memahami lebih dari dalam dari yang tersurat, bahkan lebih halus dari yang tersirat. Iman adalah sebentuk kepasrahan. Tetapi, paradoksnya kepasrahan adalah sebentuk perjuangan, sebab jika tak ada perjuangan, maka ia jatuh menjadi putus asa. Batas antara pasrah dan putus asa sedemikian halus – inilah titian sirathal mustaqim, bagai rambut dibelah tujuh. Orang kadang susah membedakan mana itu pasrah, mana itu putus asa. Ah, saya jadi melantur.</p>
<p>Baik mari kita kembali ke hati. Hati orang beriman manakah yang bisa “menampung” Tuhan? Agar sebuah wadah bisa menampung sesuatu, ia harus kosong dulu. Seorang guru zen pernah menuang air ke gelas yang sudah ada isinya, dan karenanya, airnya meluber sia-sia. Hati kita telah penuh dengan hal-hal selain Tuhan, dan karenanya, bagaimana mungkin ia bisa menampung (pengetahuan) Allah? Jadi hati harus dibersihkan, demikian kata para sufi. Inilah <em><strong>Takhali</strong></em>. Sesudah bersih, hati harus diisi dengan hal yang baik. Ini adalah <em><strong>Tahalli</strong></em>. Apa itu hal yang baik? Pantulan asma Allah, asma al-husna. Dalam terminologi sufi, “hati adam itu laksana cermin.” Jika cermin itu bersih, maka ia akan memantulkan asma Allah. Ibn ‘Arabi mengatakan alam, kosmos, adalah cermin, tapi cermin yang sempurna adalah adam (yang juga bermakna kekosongan). Karena itu semua yang ada di alam memantulkan asma Allah dalam tingkat tertentu, dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda. Dan yang paling jernih dan jelas pantulannya adalah hati adam, yakni insan kamil, hati yang sudah dibersihkan sebersih-bersihnya. Jika sudah begitu, maka <em><strong>Tajalli</strong></em>.</p>
<p>Secara simbolis, sufi mengatakan kita harus melebur titik di atas (huruf kha) menjadi kekosongan (hurf ha) hingga titik itu bisa berada di tengah-tengah (huruf jim) – <em>takhali</em>, <em>tahalli</em>, <em>tajalli</em>. Dengan kata lain, titik adalah simbol pusat dari segala pandangan. Pusat harus dipindah dari benak nalar kepala ke “nalar” hati yang fitrah, sampai muncul realisasi bahwa “kemana pun engkau menghadap, disitulah wajah Allah.” Agar bisa sampai realisasi, maka pertama-tama titik itu harus lenyap (huruf ha yg tak ada titiknya). Pelenyapan ini adalah fana, lalu fana fi fana, yakni fana itu harus di-fana-kan lagi, hingga baqa, langgeng, hingga akhirnya titik berada di tengah – simbol keseimbangan.</p>
<p>Maka, ini barangkali tafsir sufi untuk pernyataan “umat Islam adalah umat yang berada di tengah-tengah.” Selama kita masih berada di ruang dan waktu, di mana layar kesadaran (laufh al-mahfudz – papan yang terjaga) kita belum terjaga benar, kita harus berhati-hati, harus berpegang kepada “tali Allah” agar tetap menjaga “titik lingkaran hidup” selalu berada di tengah. Miring sedikit, maka lingkaran hidup menjadi tak imbang. Bagaimana titik agar bisa istiqamah berada di tengah? Masuklah ke alam keabadian, ketika lingkaran hidup tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ketika lingkaran menjadi tak bertepi (atau pinjam istilah Ibn Arabi, “Samudera tak berpantai”) maka di manapun anda berada, anda selalu berada di tengah-tengah. Maka, para sufi berusaha memperluas “lingkaran” kehidupannya, bahkan sebelum mereka masuk alam keabadian. Mereka menghilangkan batas lingkaran bahkan saat mereka masih berada di alam yang terbatas, masih hidup di dunia ini.Maka, inilah barangkali makna dari “matilah kamu sebelum mati.”</p>
<p>Contoh dahsyat dari layar kesadaran tak bertepi ini adalah Nabi Khidr.Karena ia dianugerahi ilmu ladunni, ilmu dari sisi Allah, Khidr telah bisa menggapai khazanah Lauf al-Mahfudz, dan karenanya ia adalah titik poros itu sendiri. Di manapun khidr berada, ia selalu berada di tengah. Maka, Khidr dengan enteng membunuh seorang anak kecil. Dari perspektif kesadaran ruang dan waktu, ini adalah tindakan bodoh dan kejam. Tetapi,jika anda telah melampaui batasan ini, maka tindakan itu adalah sah,sebab pengetahuan Allah, ilm ladunni, tidaklah dibatasi oleh sebab-akibat atau baik dan buruk, sebab bagaimana mungkin Ia dibatasi sementara Ia sendiri adalah Sumber dari Segala Sumber? . Tetapi, terlalu sulit secara epistemologis untuk menopang argumen ini, sebab ini bukan wilayah akal. Karenanya, Khidr memperingatkan Musa as agar bersabar sebab Khidr tahu bahwa Musa masih berlandaskan pada “sebab-akibat.” Tetapi Musa tak bisa bersabar, sebab layar kesadarannya masih bertepi. Maka ia ditinggalkan oleh Khidr.</p>
<p>Tafsir spekulatif seperti di atas bisa jadi memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya, kalau begitu, ini sama artinya dengan mengatakan bahwa sufi atau para wali Allah lebih tinggi kedudukannya dibanding Musa, yang nabi. Jelas para penentang tasawuf akan menggunakan penjelasan semacam ini sebagai senjata untuk menghantam para sufi. Ini adalah salah satu kasus, di mana ketika pengalaman diungkapkan, yang muncul adalah paparan yang reduksionis – selalu ada yang luput dari jaring kata dan akal. Para penentang tasawuf sering lupa bahwa Sufi dan para wali Allah selalu lebih mengunggulkan Musa di atas mereka sendiri, sebab Allah telah berkenan berdialog dengannya di bukit Sinai. Episode Khidr adalah salah satu fase saja dari seluruh fase kenabian Musa, dan karenanya tak bisa dipakai untuk menjustifikasi bahwa kedudukan sufi lebih tinggi dari pada nabi. Ibn ‘Arabi pernah dikecam habis karena dalam salah satu esainya dalam futuhat (atau fusuh? Saya agak lupa) dia mengkritik metode dakwah Nabi Nuh. Menurut Ibn’Arabi, Nuh terlalu menekankan transendensi (tanzih) dan karenanya dakwahnya yang ratusan tahun tak bisa dipahami. Menurut Ibn ‘Arabi, dakwah akan efektif jika menyatukan transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih). Apakah ini sebentuk “kesombongan” Ibn ‘Arabi? Tidak, sebab syaikh al-akbar tak pernah mengklaim lebih tinggi dari nabi. Konsep Ibn ‘Arabi tentang wali, walayah, khataman awliya, nabi, dan seterusnya, adalah sebuah konsep yang rumit, sebab ia didasarkan pada ilham rabbaniyah, dan karenanya, jika kita berusaha memahaminya dari segi teksnya, atau maknanya berdasarkan “sudut pandang” kita, maka kesan “pelecehan” atas nabi pasti muncul. Bagi saya, syaikh al-Akbar tak pernah melecehkan<br />
siapapun, apalagi nabi (ah, barangkali ini kesan subyektif saya saja, karena saya sangat kagum kepada as-Syaikh ini hingga saya sulit “berjarak” dengannya…wallahu a’lam)</p>
<p>“Tali Allah” begitu kokoh dan karenanya tak boleh dibuang supaya kita bisa tetap berada di tengah-tengah. Ini adalah syari’at. Maka, siapapun yang mengaku bertarekat tanpa syariat, maka ia bisa dipastikan tersesat. Syariat adalah informasi yang valid, sedangkan tarekat adalah proses transformasi, dan hakikat-ma’rifat adalah afirmasi. Jika informasinya salah, atau inputnya keliur, prosesnya juga akan keliru. Jika sepeda motor diberi minyak tanah, maka mesinnya akan rusak, atau proses pembakaran di mesin kacau, sebab inputnya tidak benar, dan karenanya motor tidak bisa jalan, dan bahkan rusak.</p>
<p>Tetapi, banyak orang yang telah bersyariat tetapi tetap tidak naik-naik kedudukan spiritualnya. Dalam bahasa sufi, banyak orang beriman mengikuti syariat, tetapi tetap tak sampai pada hakikat – yang terbatas tak sampai-sampai juga pada kesadaran yang tak terbatas, kepada ma’rifat Allah. Lalu, bagaimana agar yang terbatas ini bisa “sampai” kepada yang tak terbatas.</p>
<p>Salah satu cara tahalli adalah dengan zikir, yang oleh nabi dikiaskan sebagai “membersihkan (menggosok) karat di hati” agar hati bisa menjadi cermin yang memantulkan asma al-husna dan karenanya menjadi layar kesadaran yang tak terbatas. Para sufi, kita tahu, sangat menekankan praktik zikir yang benar.</p>
<p>Sesudah zikir merasuk ke ingatan, pintu ke organ batin akan terbuka.Dan dari sana, zikir bisa masuk ke dalam lathifah. Berapa jumlah lathifah itu? Ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan sepuluh, tujuh atau lima. Imam al-Ghazali menyebut lathifah ini hakikat insan – tempat ma’rifat kepada Allah dan tempat bersemayamnya Nur Ilahiah. Ini adalah<br />
sirr, atau rasa yang rahasia, seperti disebut dalam hadits qudsi yang kerap dikutip Syaikh sufi, sanu sirri wa ana sirrhu, manusia itu rasa (rahasia) Ku, dan n Aku dirasakan manusia. Sirr itu semacam inti, seperti dikatakan dalam hadits lainnya yang kira-kira artinya begini —</p>
<p>Aku jadikan pada anak adam itu ada istana, di situ ada dada dan didalamnya ada <strong><em>qalbu</em></strong>, tempat bolak-baliknya ingatan, dan di dalam qalbu ada <strong><em>fu’ad</em></strong>, kejujuran dalam ingatan, dan di dalamnya ada <strong><em>syaghaf</em></strong>, atau kerinduan dan di dalamnya ada <strong><em>lubbun </em></strong>atau kerinduan yang amat membara, dan di dalamnya ada <strong><em>sirr</em></strong>, kemesraan, dan dalam sirr ada <strong><em>Aku</em></strong>.</p>
<p>Sedangkan Imam Qusyairy meringkasnya menjadi tiga urutan, dari <strong><em>qalb </em></strong>ke <em><strong>ruh </strong></em>lalu ke <em><strong>sirr</strong></em>.”</p>
<p>Dalam tarekat qadiriyah wa naqshabandiyah, misalnya, zikir nafi-itsbat,atau kalimat tahlil, dilakukan dengan cara tertentu sehingga aliran zikirnya menyentuh semua lathifah, dari latifah <em>qalb</em>,<em> ruh</em>, <em>sirr</em>, <em>khafi</em>, <em>akhfa</em>, <em>nafsi</em> dan akhirnya ke seluruh tubuh, sehingga tercapai apa yang difirmankan bahwa seluruh keberadaan orang mukmin akan gemetar ketika asma Allah disebut. Zikir itu akan menimbulkan getaran pada lathifah dan orang yang sudah kasyaf bisa melihat lathifah itu akan memunculkan cahaya ilahiah yang tak terhingga. Tapi karena zikir menyentuh semua lathifah, maka semua lathifah itu akan bercahaya, ada yang merah,hijau, putih, hitam dan kuning. Jika beruntung dikaruniai pembukaan mata hati, kita akan bisa melihat tubuh orang yang berzikir akan bercahaya warna-warni.</p>
<p>Tetapi zikir saja, meski banyak bermanfaat, belumlah cukup untuk sampai ke ketakterhinggaan. Harus ada ikhlas. Uniknya, ada proses yang terbalik dalam zikir. Zikir justru bisa menciptakan rasa ikhlas dan ihsan. Ikhlas itu mengembalikan semua keberadaan kita kepada adam, kekosongan, ketiadaan, sebab sesungguhnya hanya ada Allah, la maujuda illa Allah, dan karenanya semuanya kembali kepada Allah.</p>
<p>Orang yang terikat pada keduniawian berpikir bahwa dengan mengumpulkan banyak harta, ketenaran, menumpuk-numpuk kebaikan tanpa mengembalikannya hakikatnya kepada Allah, seolah-olah mereka adalah pemilik kebaikan itu sendiri, maka mereka pikir itu akan membuat merka mencapai ketinggian martabat. Tetapi, mereka lupa bahwa penjumlahan, akumulasi, tidak akan mengantarkan kepada ketakterhinggaan. Ada sebagian orang lain yang secara tak sadar mendasarkan diri pada ‘perkalian.’ Mereka percaya bisa hidup berkali-kali, dalam wujud yang berbeda berkali-kali, seperti paham reinkarnasi, inkarnasi,transmigrasi ruh dan sebagainya. Ini keliru. Sebab perkalian tidak akan<br />
membawa kita kepada ketakterhinggaan. Lalu apa? Pembagian nol! Jika bilangan dibagi dengan nol, hasilnya tak terhingga. Dengan kata lain, segala tindakan dan amal saleh kita jika dilambari dengan ikhlas, akan menghasilkan ketakterhinggaan.</p>
<p>Seorang wali Allah pernah berkata jika kita berzikir dengan kalimat tahlil dengan benar, maka dunia akan berada di genggamanmu, tetapi dunia tidak akan pernah bersemayam di hatimu. La illaha illa Allah sangat dahsyat, sebab ia diwariskan dari jiwa yang senantiasa hidup, sebab ia diteruskan melalui mata rantai silsilah keruhanian yang tak terputus. Menurut Qur’an, Islam adalah agama sempurna, dan sesudah Muhammad tak ada lagi nabi dan rasul. Tetapi, Nur Muhammad tak akan lenyap. Ia akan senantiasa ada. Karenanya, kalimat tahlil adalah satu-satunya kalimat yang terjamin kesinambungan manfaat ruhaniahnya.</p>
<p>Hanya Rasulullah Muhammad yang diberi hak sebagai pembawa risalah yang berlanjut hingga akhir zaman. Melalui beliaulah nikmat Tuhan dicukupkan dan syariat disempurnakan. Karena itu kita bisa memahami mengapa, misalnya, meski Islam dan para terutama Sufi menghormati keyakinan dan jalan agama lain, mereka tidak lantas jatuh dalam sinkretisme. Meski para Sufi memahami ada banyak jalan menuju Allah, tetapi para Sufi tidak pernah mencampuradukkan agama, tak pernah meninggalkan shalat – pendeknya, mereka tak pernah meninggalkan syariat Islam. Ketika sufi agung Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa agamanya adalah agama cinta, dan hatinya terbuka untuk semua hal yang membawa ke jalan cinta, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Sampai akhir hayatnya, Ibn ‘Arabi adalah muslim yang taat pada syariat.</p>
<p>Wa Allahu a&#8217;lam bi ash-shawab<br />
Sumber : <a href="http://www.facebook.com/triwibs.kanyut" target="_blank">Mbah Kanyut al-Kenthirikhwan TQN</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;t=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;annotation=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F03%2F17%2Foleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten%2F&amp;title=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten&amp;bodytext=Oleh-oleh%20dari%20yangkruk%20di%20rumah%20Syaikhuna%20Abah%20Qamaruzzaman%20al-Husaini%2C%20Banten%20%3A%3A%20Tentang%20Pengalaman%20Ruhani%20%3A%3A%0D%0A%0D%0AKetika%20kita%20mengalami%20sesuatu%2C%20dan%20kita%20hendak%20berbagi%20pengalaman%20itu%20ke%20orang%20lain%20yang%20belum%20mengalami%20pengalaman%20seperti%20yang%20kita%20a" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/03/17/oleh-oleh-dari-yangkruk-di-rumah-syaikhuna-abah-qamaruzzaman-al-husaini-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ya tuhan, pelajaran apa ini?</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=ya-tuhan-pelajaran-apa-ini</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 02:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[ya tuhan, pelajaran apa ini? kau kurniakan kepada kami ironi-ironi yang mengusik pikiran dan nurani: kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan kepada kami ironi-ironi</div>
<div id="_mcePaste">yang mengusik pikiran dan nurani:</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa</div>
<div id="_mcePaste">kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja</div>
<div id="_mcePaste">dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasa</div>
<div id="_mcePaste">yang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca</div>
<div id="_mcePaste">oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</div>
<div id="_mcePaste">
ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<div id="_mcePaste">khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka</div>
<div id="_mcePaste">dan kini mereka ikut larut atau terpana</div>
<div id="_mcePaste">oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya</div>
<div id="_mcePaste">untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</div>
<div id="_mcePaste">ya tuhan, pelajaran apa ini?</div>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?kau kurniakan kepada kami ironi-ironiyang mengusik pikiran dan nurani:<br />
kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa sajadan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apakau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa sajadan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasayang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?<br />
khalifahmu yang kau pilih telah ditolak mereka dan kini mereka ikut larut atau terpana oleh jutaan hamba yang engkau gerakkan hatinya untuk mengangkatnya setelah mangkatnya</p>
<p>ya tuhan, pelajaran apa ini?</p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;">rembang, 9/1/2010</span></p>
<p><span style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 14px; font-size: 11px; color: #333333;"> </span>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/simbah.kakung" target="_blank">Simbah Kakung</a></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="Gus Dur" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/02/Gus-Dur-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;t=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;annotation=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F11%2Fya-tuhan-pelajaran-apa-ini%2F&amp;title=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F&amp;bodytext=ya%20tuhan%2C%20pelajaran%20apa%20ini%3F%0D%0Akau%20kurniakan%20kepada%20kami%20ironi-ironi%0D%0Ayang%20mengusik%20pikiran%20dan%20nurani%3A%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20buta%20yang%20mengetahui%20apa%20saja%0D%0Adan%20sekian%20banyak%20tokoh%20tak%20buta%20yang%20tak%20mampu%20melihat%20apa-apa%0D%0Akau%20kurniakan%20hamba%20yang%20terta" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/11/ya-tuhan-pelajaran-apa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akar kata istilah Tasawuf &#8220;Tashawwuf&#8221;</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 10:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[1. Shafa/Shafwun = bersih Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]). Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8]. 2. Ahl Al-Shuffah (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Shafa/Shafwun = bersih</strong><br />
Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]).<br />
Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan &#8220;yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih&#8221;[8].</p>
<p>2. <strong>Ahl Al-Shuffah</strong> (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid Nabi saw. selama beliau masih hidup (Q.S. al-Kahfi [18]:28)</p>
<p>3. <strong>Al-Shuf </strong>yang berati bulu domba, karena orang saleh di Kufah terbiasa menggunakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.</p>
<p>4. <strong>Shuffa al -kaffa</strong> yang berarti spon halus. Kata ini dikaitkan dengan kaum sufi yang saking bersihnya hati meraka menjadi begitu lembut</p>
<p>Sumber: Tasawuf dan Ihsan &#8211; Syeh Muhammad Hisyam Kabbani &#8211; Serambi</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;t=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;annotation=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fakar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf%2F&amp;title=Akar%20kata%20istilah%20Tasawuf%20%22Tashawwuf%22&amp;bodytext=1.%20Shafa%2FShafwun%20%3D%20bersih%0D%0ADalam%20hadits%20Nabi%20Muhammad%20menjelaskan%20bahwa%20negeri%20Syam%20%28Damaskus%29%20sebagai%20negeri%20Allah%20yang%20paling%20bersih%20diantara%20negeri-negeri%20lainya%20%28Shafwat%20Allahu%20min%20bilaadihi%5B7%5D%29.%0D%0ADalam%20kamus%20al-Nihayah%20Ibn%20al-Atsir%20mendefinisika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/akar-kata-istilah-tasawuf-tashawwuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isyarat-Isyarat IQ,EQ dan SQ dalam Al-Qur&#8217;aI</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:54:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Al Gazali]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ibn Arabi]]></category>
		<category><![CDATA[id]]></category>
		<category><![CDATA[IQ]]></category>
		<category><![CDATA[Jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[Ruh]]></category>
		<category><![CDATA[SQ]]></category>
		<category><![CDATA[superego]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). IQ ialah kecerdasan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan<br />
</strong>Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau <span style="text-decoration: underline;"><em>al-hayawan al-nathiq</em></span> (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan intelektual </span>(<strong>IQ</strong>), <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan emosional </span>(<strong>EQ</strong>), dan <span style="text-decoration: underline;">kecerdasan spiritual </span>(<strong>SQ</strong>).</p>
<p><strong>IQ</strong> ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat <strong><span style="color: #ff6600;">di otak</span></strong>, <strong>EQ</strong> ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas emosional yang berpusat <span style="color: #ff6600;"><strong>di dalam jiwa</strong></span>, dan <strong>SQ </strong>ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas rohani yang mengambil lokus <span style="color: #ff6600;"><strong>di sekitar wilayah roh</strong></span>.</p>
<p>Ketiga aktifitas kreatif di atas mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian <em>Sigmund Freud</em> (1856-1939), yaitu <strong>id</strong>, <strong>ego</strong>, dan <strong>superego</strong>. <span style="text-decoration: underline;"> Id</span> adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir. <span style="text-decoration: underline;">Id</span> ini menjadi inspirator kedua struktur berikutnya. <span style="text-decoration: underline;">IdEgo</span>, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari Id. <span style="text-decoration: underline;">Ego</span> berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. <span style="text-decoration: underline;">Ego</span> membantu seseorang keluar dari berbagai problem subyektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas. <span style="text-decoration: underline;">Superego </span>berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. <span style="text-decoration: underline;">Superego</span> juga selalu mengingatkan dan mengontrol Ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya terhadap id.[1]</p>
<p>Meskipun tidak identik, IQ dapat dihubungkan dengan Id, Ego dapat dihubungkan dengan EQ, dan Superego dapat dihubungkan dengan SQ.</p>
<p>Pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses; sementara pemilik IQ pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh EQ. Mekanisme EQ tidak berdiri sendiri di dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri manusia tetapi intensitas dan efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh unsur kecerdasan ketiga (SQ).</p>
<p>SQ sulit sekali diperoleh tanpa kehadiran EQ, dan EQ tidak dapat diperoleh tanpa IQ. Sinergi ketiga kecerdasan ini biasanya disebut <em><strong>multiple intelligences </strong></em>yang bertujuan untuk melahirkan pribadi utuh (“al-insan al-kamilah). Untuk penyiapan SDM di masa depan, internalisasi ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat ditawar lagi.</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, masih perlu dikaji lebih mendalam beberapa kata kunci yang berhubungan dengan ketiga pusat kecerdasan yang dihubungkan dengan ketiga substansi manusia, yaitu unsur <em><strong>jasad </strong></em>yang membutuhkan IQ, unsur <em><strong>nafsani </strong></em>yang membutuhkan EQ, dan unsur <em><strong>roh </strong></em>yang membutuhkan SP.</p>
<p><strong>Substansi Manusia dalam Al-Qur’an</strong><br />
Substansi manusia dalam Al-Qur’an mempunyai tiga unsur, yaitu unsur <em>jasmani, unsur nafsani, </em>dan<em> unsur rohani</em>. Keterangan seperti ini dapat difahami di dalam beberapa ayat, antara lain Q.S. al-Mu&#8217;min­n/23:12-14 sebagai berikut:</p>
<p><em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13).  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu  Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik (14).<br />
</em><br />
Kata dalam ayat ini menurut para mufassir dimaksudkan sebagai unsur <em>rohani </em>setelah unsur <em>jasad </em>dan <em>nyawa </em>(nafsani). Hal ini sesuai dengan riwayat Ibn Abbas yang menafsirkan kata dengan  (penciptaan roh ke dalam diri Adam)[2] Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur <em>ruhani, </em>atau <em>lahut </em>atau <em>malakut. </em>yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus merupakan penyempurnaan substansi manusia sebagaimana ditegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam Q.S. al-Hijr/15:28-29:</p>
<p><em>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.</em></p>
<p><em></em>Setelah penciptaan unsur ketiga ini selesai maka para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepadanya dan alam raya pun ditundukkan (taskhir) kepada Adam. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas mamnusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi (Q.S. al-An‘am/6:165) di samping sebagai hamba (Q.S. al-zariyat/51:56).</p>
<p>Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (<em><span style="text-decoration: underline;">ahsan taqwim</span></em>/Q.S. al-Tin/95:4), ia tidak mustahil akan turun ke derajat &#8220;paling rendah&#8221; (<span style="text-decoration: underline;"><em>asfala safilin</em></span>/Q.S. al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah daripada binatang (Q.S. al-A‘raf/7:179). Eksistensi kesempurnaan manusia dapat dicapai manakala ia mampu mensinergikan secara seimbang potensi kecerdasan yang dimilikinya, yaitu kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsani (EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ).</p>
<p><strong>Kecerdasan Intelektual (IQ)</strong><br />
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.</p>
<p>Otak dapat dibagi menjadi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki fungsi analisis dan otak kanan memiliki fungsi kreatif. Meskipun masih banyak ditentang, kalangan ilmuan mengidentifikasi otak kiri sebagai <em><span style="text-decoration: underline;">otak feminin </span></em>dan otak kanan sebagai <em><span style="text-decoration: underline;">otak maskulin</span></em>. Walaupun terpisah tetapi keduanya saling berhubungan secara fungsional. Kelainan akan terjadi manakala hubungan fungsional itu terganggu.</p>
<p>Wilayah aktifitas otak juga dapat dibedakan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Wilayah pikiran sadar hanya sekitar 12 % dan selebihnya (88%) adalah wilayah pikiran bawah sadar. Di antara kedua wilayah ini, ada garis pemisah yang disebut <em><span style="text-decoration: underline;">Reticular Activating System (RAT)</span></em>, yang berfungsi untuk menyaring informasi tidak perlu atau berlebihan supaya kita tetap bisa waras. Di wilayah bawah sadar tersimpan semua ingatan dan kebiasaan, kepribadian dan citra diri kita.</p>
<p>Di dalam sistem otak kita ada suatu bagian yang disebut <em><span style="text-decoration: underline;"><strong>limbik </strong></span></em>(otak kecil), terletak di bawah tulang tengkorak di atas tulang belakang. Otak kecil ini ditemukan oleh para ilmuan memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.</p>
<p>Dari sini difahami bahwa otak dan emosi memiliki hubungan yang fungsional yang saling menentukan antara satu dan lainnya. Penelitian Rappaport di tahun 1970-an menyimpulkan  bahwa emosi tidak hanya diperlukan dalam penciptaan ingatan, tetapi emosi adalah dasar dari pengaturan memori. Orang tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali mereka senang menggeluti bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan <span style="text-decoration: underline;"><em>accelerated learning</em></span>, tidak dapat dicapai tanpa bantuan aktifitas emosional yang positif.[3]</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, kecerdasan intelektual dapat dihubungkan dengan beberapa kata kunci seperti kata aql    (saecara harfiah berarti mengikat)  yang terulang sebanyak 49 kali dan tidak pernah digunakan dalam bentuk kata benda (ism) tetapi hanya digunakan dalam bentuk kata kerja (fi’il), yaitu bentuk fi’il madli sekali dan bentuk fi’il mudlari’ 48 kali. Penggunaan kata ‘aql  dalam ayat-ayat tersebut pada umumnya digunakan untuk menganalisis fenomena hukum alam (seperti Q.S. al-Baqarah/2:164) dan hukum-hukum perubahan sosial (seperti Q.S. al-‘Ankab­t/29:43).</p>
<p>Selain kata ‘aql juga dapat dihubungkan dengan predikat orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual seperti kata  (orang-orang yang mempunyai pikiran) yang terulang sebanyak 16 kali. Seorang yang mencapai predikat ul­ al-bab belum tentu memiliki kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, karena masih ditemukan beberapa ayat yang menyerukan kepada kaum ul­ al-bab untuk bertakwa kepada Allah Swt (Q.S.al-Maidah/5:100 dan S. al-Thalaq/65:10). Namun, ul­ al-bab  juga dapat digunakan bagi pemilik IQ yang sudah menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi di balik kemampuan akal pikiran (Q.S. al-Baqarag/2:269 dan S. al-Zumar/39:9). Dan masih banyak lagi istilah yang mengisyaratkan aktifitas kecerdasan intelektual kesemuanya itu dapat disimpulkan bahwa ontologi akal hanya terbatas pada obyek-obyek yang dapat diindera, kepada obyek-obyek yang bersifat metafisik.</p>
<p>Penguasaan kecerdasan intelektual bukan jaminan untuk memperoleh kualitas iman atau kualitas spiritual yang lebih baik, karena terbukti banyak orang yang cerdas secara intelektual tetapi tetap kufur terhadap Tuhan. Hal ini juga ditegaskan di dalam Q.S.al-Baqarah/2:75:</p>
<p>Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Q.S.al-Baqarah/2:75).</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan bahwa bahwa kecerdasan intelektual terkadang digunakan untuk meligitimasi kekufuran. Padahal, idealnya kecerdasan intelektual digunakan untuk memperoleh kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Seorang ilmuan yang arif tidak berhenti pada level kecerdasan intelektual tetapi melakukan sinergi dengan kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Inilah makna simbol ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an: Iqara’ bi ism Rabbik: “Membaca” harus selalu dikaitkan dengan “nama Tuhan”.</p>
<p><strong>Kecerdasan Emosional[4] (EQ)</strong><br />
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan didorong oleh emosi, dalam arti bagaimana yang bersangkutan dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menjadi begitu tidak rasional pada saat yang lain. Dengan demikian, emosi mempunyai nalar dan logikanya sendiri. Tidak setiap orang dapat memberikan respon yang sama terhadap kecenderungan emosinya. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.</p>
<p>Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Daniel Goleman menggambarkan bahwa otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa keserdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.[5]</p>
<p>Jenis dan sifat emosi dapat dikelompokkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Amarah</span></em>: Bringas, mengamuk, benci, marah besar, jenkel, kesal hati, terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, sampai kepada kebencian bersifat patologis.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Kesediahan</span></em>: Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Rasa takut</span></em>: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, tidak tenang, negeri, kecut, fobia, dan panik.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Kenikmatan</span></em>: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, dan batas ujungnya mania.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Cinta</span></em>: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Terkejut</span></em>: terkesima, takjub, terpana.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Jengkel</span></em>: hina, jijik, muak, mual, dan benci.</li>
<li><em><span style="text-decoration: underline;">Malu</span></em>: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, aib, dan hati hancur lebur.[6]</li>
</ol>
<p>Kelompok-kelompok emosi tersebut di atas menurut <em><span style="text-decoration: underline;">Paul Ekman</span></em> dari Universitas California, akan menampilkan ekspresi wajah yang Universal di hampir seluruh etnik, artinya dari suku dan etnik manapun seorang yang mengalami berbagai jenis emosi di atas akan menampilkan ekspresi raut muka yang sama.[7]</p>
<p>Di dalam Al-Qur’an, aktifitas kecerdasan emosional seringkali dihubungkan dengan kalbu. Oleh karena itu, kata kunci utama EQ di dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri melalui kata kunci   (kalbu) dan tentu saja dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (???), intuisi, dan beberapa istilah lainnya.</p>
<p>Jenis-jenis dan sifat-sifat kalbu (qalb) dalam Al-Qur’an dapat sikelompokkan sebagai berikut:</p>
<p>*  Kalbu yang positif :</p>
<ol>
<li>Kalbu yang damai (Q.S. al-Syura/26:89).</li>
<li>Kalbu yang penuh rasa takut (Q.S.Qafl50:33)</li>
<li>Kalbu yang tenang  (Q.S. al-Nahl/16:6)</li>
<li>Kalbu yang berfikir  (Q.S.al-Haj/2:46)</li>
<li>Kalbu yang mukmin (Q.S.al-Fath/48:4)</li>
</ol>
<p>*  Kalbu tang Negatif:</p>
<ol>
<li>Kalbu yang sewenang-wenang (Q.S. Gafir/40:35)</li>
<li>Kalbu yang sakit  (Q.S. al-Ahdzab/33:32)</li>
<li>Kalbu yang melampaui batas  (Q.S.Yunus/10:74)</li>
<li>Kalbu yang berdosa (Q.S.al-Hijr/15:12)</li>
<li>Kalbu  yang terkunci, tertutup  (Q.S.al-Baqarah/2:7)</li>
<li>Kalbu yang terpecah-pecah (Q.S.al-Hasyr/59:14)</li>
</ol>
<p>Kalau qalb di atas dapat diartikan sebagai emosi maka dapat difahami adanya emosi cerdas dan tidak cerdas. Emosi yang cerdas dapat dilihat pada sifat-sifat emosi positif dan emosi yang tidak cerdas pada sifat-sifat emosi negatif.</p>
<p>Eksistensi kecerdasan emosional dijelaskan dengan begitu jelas di dalam beberapa ayat berikut ini:</p>
<p><em>Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S.al-Haj/22:46)<br />
</em><br />
<em>Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.al-A’raf/5:179)</em></p>
<p><em>Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S.al-Jatsiyah/45:23)</em></p>
<p>Ayat-ayat tersebut di atas cukup jelas menggambarkan kepada kita bahwa faktor kecerdasan emosional ikutserta menentukan eksistensi martabat manusia di depan Tuhan. Menurut S.H.Nasr, emosi inilah yang menjadi faktor penting yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk eksistensialis, yang bisa turun-naik derajatnya di mata Tuhan. Binatang tidak akan pernah meningkat menjadi manusia dan malaikat tidak akan pernah “turun” menjadi manusia karena mereka tidak memiliki unsur kedua dan unsur ketiga seperti yang dimiliki manusia.[8]</p>
<p>Upaya mendapatkan kecerdasan emosional dalam Islam sangat terkait dengan upaya memperoleh kecerdasan spiritual. Keduanya mempunyai beberapa persamaan metode dan mekanisme, yaitu keduanya menuntut latihan-latihan yang bersifat telaten dan sungguh-sungguh (<span style="text-decoration: underline;"><em><strong>mujahadah</strong></em></span>) dengan melibatkan “kekuatan dalam” (inner power) manusia. Bedanya, mungkin terletak pada sarana dan proses perolehan. Aktifitas kecerdasan emosional seolah-olah masih tetap berada di dalam lingkup diri manusia (<span style="text-decoration: underline;"><em>sub-conciousnes</em></span>), sedangkan kecerdasan spiritual sudah melibatkan unsur asing dari diri manusia (<em>supra-conciousnes</em>).</p>
<p><strong>Kecerdasan Spiritual (SQ)</strong><br />
Kecerdasan spiritual menjadi salah satu wacana yang mulai mencuak akhir-akhir ini. Wacana ini muncul seolah-olah kelanjutan dari wacana yang pernah dipopulerkan oleh <em>Daniel Goleman </em>dengan Emotional Intelligence-nya. Kini sudah mulai bermunculan karya-karya baru tentang kecerdasan ketiga ini dengan metode pembahasan yang berbeda-beda. Yang lebih menarik lagi karena buku-buku ini muncul di dunia Barat. Apakah ini pertanda bahwa Barat kini sudah mulai melakukan reorientasi pandangan hidup atau karena sedang terjadi suatu krisis di Barat.</p>
<p>Kalangan ilmuan kini semakin sadar betapa pentingnya manusia kembali berpaling untuk memahami dirinya sendiri lebih mendalam. Sebab hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual saja manusia tidak akan sampai kepada martabat yang ideal. Atas dasar inilah, <span style="text-decoration: underline;"><em>Danah Zohar </em></span>dan <em><span style="text-decoration: underline;">Ian Marshal </span></em>menerbitkan satu buku yang amat menarik yang diberinya judul: <strong><em><span style="text-decoration: underline;">SQ Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence</span></em></strong>. Dalam buku ini diawali dengan tinjauan secara kritis kelemahan-kelemahan dunia Barat dalam kurun waktu terakhir ini karena mengabaikan faktur kecerdasan spiritual ini. Sebaliknya, buku ini memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap nilai-nilai humanisme ketimuran yang dikatakannya lebih konstruktif daripada nilai-nilai humanisme yang hidup di Barat.[9]</p>
<p>Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para <strong>sufi. </strong>Kecerdasan spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia. Seperti telah dijelaskan terdahulu bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah Swt tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya. Hal ini dapat difahami melalui penggunaan redaksional ayat sebagai berikut:</p>
<p><em>Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S.al-Hijr/15:29)</em></p>
<p><em>Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya&#8221;. (Q.S.Shad/38:72).</em></p>
<p>Ayat tersebut di atas menggunakan kata (dari ruh-Ku) , bukan kata (dari roh Kami) sebagaimana lazimnya pada penciptaan makhluk lain. Ini mengisyaratkan bahwa roh yang ada dalam diri manusia itulah yang menjadi unsur ketiga  dan unsur ketiga ini pula yang menyebabkan seluruh makhluk harus sujud kepada Adam. Ini menggambarkan seolah-olah ada obyek sujud lain selain Allah. Unsur ketiga ini pula yang mem-backup manusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi.</p>
<p>Kehadiran roh atau unsur ketiga pada diri seseorang memungkinkannya untuk mengakses kecerdasan spiritual. Namun, upaya untuk mencapai kecerdasan itu tidak sama bagi setiap orang. Seorang Nabi atau wali tentu lebih berpotensi untuk mendapatkan kecerdasan ini, karena ia diberikan kekhususan-kekhususan yang lebih dibanding orang-orang lainnya. Namun tidak berati manusia biasa tidak bisa mendapatkan kecerdasan ini.</p>
<p>Kisah menarik di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya seorang anak manusia bernama Khidlir ditunjuk menjadi guru spiritual Nabi Musa. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Musa baru saja mencapai kemenangan dengan tenggelamnya Raja Fir’an ke dasar laut.</p>
<p>Seseorang datang bertanya kepada Nabi Musa, <em>apakah masih ada orang yang lebih hebat dari anda? </em></p>
<p>Secara spontanitas Nabi Musa menjawab, <em>tidak ada</em>.</p>
<p>Seketika itu Allah Swt memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada seseorang, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Kahfi/17:65 sebagai berikut:</p>
<p>Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.</p>
<p>Ketika Nabi Musa diterima sebagai murid dengan persyaratan Musa harus bersabar dan tidak diperkenangkan untuk bertanya secara logika, maka setelah keduanya tiba di suatu tempat, ditemukan sejumlah perahu nelayang yang ditambatkan di pantai. Sang guru lalu melubangi satu demi satu perahu itu. Nabi musa tergoda untuk bertanya, apa arti perbuatan gurunya, bukankah perahu nelayan ini satusatunya alat mata pencaharian nelayan miskin di desa ini? Khidlir mengingatkan perjanjian yang telah disetujui, Musa belum diperkenankan untuk bertanya, kemudian Musa minta maaf lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di satu tempat, keduanya menjumpai segerombolan anak-anak kecil sedang bermain-main lau salah seorang dari anak-anak itu ditangkap lalu dibunuh oleh sang guru. Nabi Musa kembali mengintrubsi gurunya dengan mengatakan, ini apa artinya? Bukankah anak ini belum mempunyai dosa? Akhirnya Nabi Musa kembali harus meminta maaf atas kelancangannya. Setelah tiba di suatu tempat, keduanya menjumpai tembok tua yang hampir roboh, kemudian keduanya berhari-hari membangun kembali bangunan tembok tua itu. Setelah selesai dipugar, Khidlir mengajak Nabi Musa untuk meninggalkan tepat itu. Musa pun kembali bertanya, ini untuk apa semua  dilakukan? Untuk yang ketiga kali ini, Nabi Musa tidak lagi dapat dianggap sabar untuk menjadi murid dan Musa pun sudah tabah untuk tidak lagi melanjutkan pelajaran kepada gurunya. Sebelum keduanya berpisah, sang guru tidak lupa menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah ia lakukan.</p>
<p>Gurunya memberikan penjelasan bahwa para pemilik perahu nelayan itu kini sedang berutang budi terhadap orang yang pernah melubangi peruhunya. Mereka bersyukur karena seandainya perahu tidak dilubangi sudah barang tentu perahu itu ikut dijarah oleh pasukan Raja dlalim yang merayakan hari ulangtahunnya di laut. Anak itu sengaja dibunuh karena Khidlir diberikan ilmu khusus dari Allah Swt bahwa anak itu kalau sudah besar akan menjadi racun di dalam masyarakat termasuk mengkufurkan kedua orang tuanya, sementara kedua orang tua anak tersebut masih akan dikaruniai anak-anak yang shaleh. Tembok tua itu dipugar karena di bawah tembok itu tersimpan harta karun yang luar biasa besarnya, sementara pemiliknya masih dalam keadaan bayi. Tembok itu akan roboh ketika anak itu sudah besar dan sudah dapat mendayagunakan hartanya[10]</p>
<p>Kisah simbolik ini mengisyaratkan adanya tingkatan-tingkatan kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki Khidlir dapat dikategorikan kecerdasan spiritual. Sementara model kecerdasan yang ditampilkan Nabi Musa adalah kecerdasan intelektual. Kisah ini juga mengisyarakan bahwa kecerdasan spiritual tidak hanya dapat diakses oleh para Nabi tetapi manusia yang buka Nabi pun berpotensi untuk memperolehnya.</p>
<p><strong>Pengalaman Al-Gazali dan Ibn Arabi</strong><br />
Al-Gazali sesungguhnya sudah lama telah memperkenalkan model kecerdasan spiritual ini dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan konsep ma’rifah-nya. Menurut Al-Gazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (ungkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan. Roh tidak lagi terselubung oleh khayalan pikiran dan akal pikiran tidak lagi menutup penglihatan terhadap kenyataan Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan-kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa. Mukasyafah  ini juga merupakan sasaran terakhir dari para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya dalam di atas kepastian. Kepastian yang mutlak tentang sebuah kebenaran hanya mungkin ada pada tingkat ini.[11]</p>
<p>Kecerdasan spiritual menurut Al-Gazali dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan “kata-kata” yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya dengan maksud supaya disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk_nya. Sedangkan ilham hanya merupakan “pengungkapan” (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan oleh Allah.</p>
<p>Menurut Al-Gazali, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah Swt, itulah yang disebut ‘Ilm al-Ladunny oleh Al-Gazali.[12]</p>
<p>Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai, karena kepandaian itu dari Allah Swt. Al-Gazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip Q.S. Al-Baqarah/2:269:</p>
<p>Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).</p>
<p>Al-Gazali mengakui adanya hierarki kecerdasan dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia. Namun Al-Gazali hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akan (al-‘aql)</li>
<li>Kecerdasan Spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan ruhani, yang ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.[13]</li>
</ol>
<p>Ibn Arabi menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu yaitu pengetahuan kudus (<strong><em>‘ilm al-ladunni</em></strong>), ilmu pengetahuan misteri-misteri (<em><strong>‘ilm al-asrar</strong></em>) dan ilmu pengetahuan tentang gaib (<strong><em>‘ilm al-gaib</em></strong>).[14] Ketiga jenis ilmu pengetahuan ini tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual. Tentang kecerdasan intelektual, Ibn ‘Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan bahwa intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah yang mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.</p>
<p>Al-Gazali dan Ibn ‘Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksessibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Gazali, jika seseorang mampu mensinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada diri manusia, maka yang bersangkutan dapat “membaca” alam semesta. Kemampuan membaca alam semesta di sini merupakan anak tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta menurut Al-Gazali merupaka “tulisan” Allah Swt.</p>
<p>Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. Fenomena “kenabian” bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk “menerimanya”. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, maka “kenabian” menjadi fenomena alami. Keajaiban yang menyertai para Rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral dari “kenabian”, tetapi hanyalah alat untuk pelengkap alam mempercepat umat percaya dan meyakini risalah para Rasul itu.</p>
<p>[1]Lips, Hilary M., Sex &amp; Gender an: Introduction, California, London, Toronto: Mayfield Publishing Company, 1993, h. 40.</p>
<p>[2]Lihat misalnya dalam  Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, Juz  8  Libanon: Dar Ihya’ wa al-Turats al-‘Arabi, 1990., h.265. Lihat pula Sa’id Hawwa, al-Usas fi al-Tafsir, Juz 7, Mesir: Dar al-Salam, 1999, h. 3628-3629.</p>
<p>[3]Lihat Sandy MacGregor, Piece of Mind, Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar untuk Mencapai Tujuan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, h.41.</p>
<p>[4]Kata emosi berasal dari akar kata movere (Latin), berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti bergerak menjauh”. Secara literal emosi diartikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.(Lihat Daniel Goleman, Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional Mengapa Lebih Penting daripada IQ), Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama, 2000, h. 7.) Emosi dalam arti ini dalam bahasa arab dapat disepadankan dengan kata qalb, berasal dari akar kata qalaba yang secara harfiah berarti “merubah, membalikkan, menjauhkan”.</p>
<p>[5]Goleman, op, cit., h. 15.<br />
[6]Ibid, h. 411-422.<br />
[7]Goleman, Op. cit., h. 412.<br />
[8]S.H.Nasr, Ideals and Realities of Islam, London: George Allen &amp; Unwil Ltd, 1975, h. 18-19.<br />
[9]Danah Zohar &amp; Ian Marshal, Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence, London: Bloomsbury, 2000, h.31-32.<br />
[10]Kisah ini disadur dari Kitab Tafsir al-Thabari tentang kisa perjalanan spiritual seorang anak hamba yang bernama Ali AS.<br />
[11]Al-Gazali dalam Muqaddimah Ihya ‘Ul­m al-Din.<br />
[12]Al-Gazali, Al-Risalah al-Ladunniyyah, (Kumpulan Karangan pendek yang dibukukan), h, 29-30.<br />
[13]Lihat Ali Issa Othman, Manusia Menurut Al-Gazali, Bandung: Pustaka Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1981, h, 70-71.<br />
[14]Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Juz IV, h. 394. Bandingkan dengan Fush­sh al-Hikam, h. 369.</p>
<p>Oleh : Nasaruddin Umar<br />
Sumber: <a href="http://www.republika.co.id/node/29676" target="_blank">Republika.or.id</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;t=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;title=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI&amp;annotation=Pendahuluan%0D%0AAsumsi%20manusia%20sebagai%20homo%20sapiens%20atau%20al-hayawan%20al-nathiq%20%28spesies%20yang%20berfikir%29%20ternyata%20dianggap%20keliru.%20Visi%20baru%20para%20ilmuan%20menemukan%20bukti%20porsi%20intelektualitas%20manusia%20hanya%20merupakan%20bagian%20terkecil%20dari%20totalitas%20kecerdasan" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F13%2Fisyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran%2F&amp;title=Isyarat-Isyarat%20IQ%2CEQ%20dan%20SQ%20dalam%20Al-Qur%27aI&amp;bodytext=Pendahuluan%0D%0AAsumsi%20manusia%20sebagai%20homo%20sapiens%20atau%20al-hayawan%20al-nathiq%20%28spesies%20yang%20berfikir%29%20ternyata%20dianggap%20keliru.%20Visi%20baru%20para%20ilmuan%20menemukan%20bukti%20porsi%20intelektualitas%20manusia%20hanya%20merupakan%20bagian%20terkecil%20dari%20totalitas%20kecerdasan" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/13/isyarat-isyarat-iqeq-dan-sq-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 04:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Maiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim Subhanallah Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya. Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya. Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-183" style="margin: 5px;" title="Cak Nun" src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/uploads/2010/01/Cak-Nun.png" alt="" width="233" height="259" />Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib<br />
Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim</p>
<p><strong><em>Subhanallah<br />
</em></strong></p>
<ol>
<li>Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya.</li>
<li> Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.</li>
<li> Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi saya.</li>
<li> Saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada di antara hamba dengan Tuhannya.</li>
<li> Saya tidak boleh meninggikan suara melebihi suara Nabi, apalagi meninggikan suara melebihi Tuhan.</li>
<li> Saya tidak boleh lebih dikenal oleh siapapun melebihi pengenalannya kepada Nabi, apalagi Tuhan.</li>
<li> Saya wajib menghindari kemasyhuran yang membuat orang lebih memperhatikan saya, lebih dari kadar perhatiannya kepada Allah dan Nabi.</li>
<li>Saya wajib menolak kedekatan siapapun kepada saya melebihi kedekatannya kepada Nabi dan terutama kedekatannya kepada Tuhan.</li>
<li>Saya tidak boleh mendengarkan siapapun dan apapun melebihi pendengaran saya kepada Allah dan Nabi, kecuali suara siapapun dan apapun itu saya gali kandungan suara Allah dan Nabi.</li>
<li>Saya tidak boleh mengucapkan dan melakukan apapun kepada siapapun kecuali mengantarkan atau mengakselerasikan ucapan dan tindakan Allah dan Nabi.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><strong><em>Wa-lhamdulillah<br />
</em></strong></p>
<ol>
<li> Maiyah itu sama sekali bukan Agama, apalagi Agama baru, serta tidak pernah saya maksudkan sebagai suatu aliran teologi atau madzhab.</li>
<li> Maiyah tidak pernah saya niati untuk menjadi kelompok thariqat, sekte peribadatan, apalagi organisasi massa, terlebih lagi lembaga politik atau jenis institusi sosial apapun.</li>
<li> Namun demikian saya tidak berposisi untuk memiliki hak apapun untuk mengharuskan atau melarang Maiyah menjadi apapun, karena Maiyah mempersyarati dan dipersyarati oleh nilai-nilainya sendiri.</li>
<li>Di dalam diri saya Maiyah saya niati menjauh dari mempersaingkan diri dengan gerakan sosial, kemanusiaan, intelektual atau spiritual apapun, tidak merebut apapun dan tidak berkehendak menguasai apapun di dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.</li>
<li>Maiyah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan dirinya sendiri.</li>
<li>Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan berbagai jalan ijtihad ilmu, berbagai cara budaya, berbagai alat teknologi sosial, berbagai perangkat jasad dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.</li>
<li>Pencarian dan penemuan itu berlangsung dinamis, mandiri, dialogis, tidak ada ujung jalannya, tidak ada batas ruangnya, tidak ada disain dan target waktunya, sebab seluruhnya itu adalah perjalanan kerinduan kepada yang sejati dan abadi.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah mencari, menemukan atau menyadari adanya garis nilai antara dirinya dengan Tuhan dengan semua struktur sunnah-Nya, dengan sesama manusia dan makhluk dengan semua tatanan dan regulasinya, serta dengan jagat raya dengan semua habitat, dzat dan habitatnya.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah memiliki hak sementara dan bersifat pinjaman dari Sang Pemilik Sejati untuk berhenti di suatu koordinat sejarah dan membangun Maiyah sebagai ‘kata benda’, tetapi kata benda itu tetap merupakan titik beku dari ‘kata kerja’ kehidupan yang sesungguhnya tak pernah ada ‘waqaf’nya.</li>
<li>Setiap Orang Maiyah menghimpun warisan nilai dan perilaku Maiyah kepada para akselerator hidupnya hingga anak cucu keseribu, namun sesungguhnya para akselerator bukanlah pihak yang secara pasif mewarisi, karena sampai kapanpun setiap Orang Maiyah adalah pewaris yang mewarisi, sebagaimana setiap mereka adalah yang mewarisi dan kemudian mewariskan.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Wa La Ilaha Ill-Allah<br />
</strong></em></p>
<ol>
<li>Maiyah itu dinamika tafsir tanpa ujung, sehingga tidak ada pertanyaan ‘Apa itu Maiyah’ yang bersifat baku dan beku. Meskipun bisa ada ‘regulasi’ tertentu yang berlaku pada ruang dan waktu tertentu dengan disain nilai tertentu, namun ia hanya sebuah titik, yang disusul oleh titik demi titik berikutnya menuju keabadian.</li>
<li> Mengislamkan diri menurut cara berpikir Maiyah adalah perjuangan mengidentifikasi diri, menemukan dan mengukuhkan posisinya untuk mengerahkan seluruh urusan hidupnya agar bergabung ke dalam keabadian dan kesejatian Allah.</li>
<li>Mengabadikan dan mensejatikan hidup adalah di mana jasad, rumah, keluarga, uang, harta benda, kota dan gedung-gedung, desa dan sawah ladang, semua perangkat pekerjaan, segala faktor sosial, Negara atau Kerajaan, kebudayaan dan peradaban, dilaksanakan dengan upaya penyesuaian yang terus menerus dengan kehendak Allah.</li>
<li>Manusia bukan hanya tidak mungkin menolak keabadian, tapi afdhal mencari dan menempuhnya, sebagai satu-satunya jalan di dalam kehidupan, sebab keberadaannya berasal dari Yang Maha Abadi dan sedang pasti menuju kembali kepada Yang Maha Abadi. Semua makhluk tidak mungkin menolaknya karena tidak ada wilayah lain kecuali keabadian Allah.</li>
<li>Metoda Maiyah yang paling prinsipil untuk menempuh jalan keabadian adalah selalu memastikan setiap urusan agar berpihak, memasuki dan bergabung di dalam kesejatian. Cara yang dialektis untuk memahami kesejatian adalah mencari perbedaannya, jaraknya, intervalnya, dengan kepalsuan.</li>
<li>Kesejatian dan kepalsuan mengartikulasikan dirinya dalam wujud-wujud yang bermacam-macam, mengacu kepada ranah dan konteksnya. Ada kesejatian dan kepalsuan moral, mental, intelektual, spiritual, juga dalam konteks-konteks aplikasi budaya, ekonomi, politik, hukum dan apapun saja yang diperjanjikan oleh komunitas manusia untuk menjadi idiomatik managemen dan komunikasi di antara mereka.</li>
<li>Bahkan bagi para pembelajar jagat jasad, ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, sampai ke ilmu-ilmu murni, termasuk para pembelajar ruh, sifat, dzat, hingga DNA, proton electron neutron, fermion, bozon, quark dst insyaallah terkuak semakin benderang di pandangannya interval antara kesejatian dengan kepalsuan.</li>
<li>Tidak ada apapun, makhluk hidup atau makhluk tidak hidup, jasad dan jiwa, benda dan peristiwa, kwantitas dan kwalitas, hutan atau taman, nomaden atau kapitalisme, koteka atau demokrasi, apapun saja siapapun saja, yang berada di luar wilayah akselerasi replikasi dari Allah, yang pada akhirnya juga tak menemukan ruang dan waktu, atau yang non-ruang dan non-waktu, yang tak tiba kembali di pangkuan Tuhan.</li>
<li>Peradaban ummat manusia ini sampai ke apapun, siapapun, di manapun, kenapapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tidak merdeka dari gagasan Allah, ide-Nya, aspirasi-Nya, model-Nya, replikasi-Nya, prototype-Nya, nuansa-Nya, sebab memang hanya Ia satu-satunya Yang Maha Sejati dan Maha Abadi.</li>
<li>Orang Maiyah menemukan bahwa kehidupan ummat manusia itu sangat mengalami kegagalan replikasi dari Tuhan ke peradabannya, sehingga yang sanggup dibangun adalah manusia cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, akal cacat, mental cacat, moral cacat. Orang Maiyah berkumpul dan bekerjasama untuk menggali ilmu, mentradisikan pelatihan dan lelaku hidup untuk mengurangi kecacatan diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik anak-anak cucu-cucu cacat.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Allahu Akbar</strong></em></p>
<ol>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang maiyah tidak terbebas oleh nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negaranya.</li>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya tidak mengandalkan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, untuk membangun kehidupannya dan menyembuhkan penyakitnya, maka Orang Maiyah tetap menggali segala sesuatu dari Bangsa dan Negaranya yang masih bisa diandalkan, serta tidak berputus asa untuk terus membangun kehidupan serta menyembuhkan penyakit Bangsa dan Negaranya, dalam skala, kapasitas dan kwalitas yang bisa dijangkaunya.</li>
<li>Kalau Bangsa dan Negaranya melecehkan, merendahkan dan memperhinakan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang Maiyah mengerti tidak ada perlunya memberikan hal yang sama, karena makhluk receh remeh dan hina sudah receh remeh hina tanpa diper-receh-kan diper-remeh-kan dan diperhinakan.</li>
<li>Kalau nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, tidak dihitung oleh siapapun sebagai sesuatu yang potensial dan aplikatif untuk berbagai keperluan urgen Bangsa dan Negaranya, maka Orang Maiyah tidak kehilangan tempatnya dalam sejarah, karena Maiyah tetap mereka andalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarga-keluarganya dan selingkup persaudaraan di antara mereka.</li>
<li>Di dalam kehidupan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, Bangsa dan Negaranya, Orang Maiyah tekun mencari, menemukan dan mempelajari “La ilaha” yang sangat penuh tipuan dan fatamorga, sehingga atau karena atau maka mereka sangat merindukan perkenan Allah untuk memasuki “Illallah” yang sangat indah, sejati dan abadi.</li>
<li>Di dalam diri Orang Maiyah selalu berlangsung konsentrasi untuk menemukan segala sesuatu yang ‘tidak’ dan yang ‘ya’ berdasarkan pandangan Tuhan. Konsentrasi berikutnya adalah secara radikal atau sedikit demi sedikit menghilangkan segala yang ‘tidak’ itu dan memasukkan segala yang ‘ya’ menurut peta ilmu dan kehendak Tuhan.</li>
<li>Diri Orang Maiyah tidak terbatas pada diri pribadinya sendiri melainkan diri yang lebih besar: keluarganya, anak istrinya, sanak familinya, rekan-rekan sepersaudaraannya, serta lingkup yang lebih luas yang berada dalam skala tanggung jawab kehidupannya berdasarkan pandangan Tuhan mengenai kehidupan bersama dalam rahmat untuk seluruh alam semesta dengan segala isinya.</li>
<li>Sampai batas tertentu yang dinamis dan relatif, perikehidupan masyarakat dan Bangsanya bisa juga termasuk lingkup tanggungjawab eksistensi kemakhlukannya. Akan tetapi Orang Maiyah tidak bertinggi hati untuk meletakkan diri sebagai penyelamat Bangsa dan Negaranya, melainkan berendah hati dan sangat menahan diri untuk berbuat di skala luas itu sejauh ada kepatutan bersama dan keridlaan satu sama lain.</li>
<li>Orang Maiyah selalu mengupayakan dan mendoakan Bangsa dan Negaranya agar dituntun Allah dalam menapakkan kaki menyongsong Gerbang Ghaib yang sangat dekat di depan mata kehidupan mereka. Semoga doa Orang Maiyah bagi sangat banyak orang yang belum tentu mencintai mereka dan belum tentu memerlukan upaya dan doa mereka, diperkenankan oleh Allah menjadi perahu ‘izzatullah penampung dan pengayom keluarga-keluarga Maiyah setelah tiba di Gerbang Ghaib iradah Allah itu.</li>
<li>Innallaha Balighu amri-Hi, qad ja’alallahu likulli syai-in Qadra.</li>
<li>12 13 14 15 sampai tak terhingga.</li>
</ol>
<p><em><strong>Wa la haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.</strong></em></p>
<p>Kadipiro 25 Desember 2009.<br />
Muhammad Ainun Nadjib.</p>
<p>Sumber : Milist Maiyah</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;t=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;title=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib&amp;annotation=Kepada%20Mujahidin%20Mujtahidin%20Maiyah%20Dari%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0ABismillah-ir-Rahman-ir-Rahim%0D%0A%0D%0ASubhanallah%0D%0A%0D%0A%0D%0A%09Maiyah%20bukan%20karya%20saya%2C%20bukan%20ajaran%20saya%20dan%20bukan%20milik%20saya.%0D%0A%09%20Orang-orang%20Maiyah%20bukan%20santri%20saya%2C%20bukan%20murid%20saya%2C%20bukan%20anak%20bu" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F07%2Forang-maiyah-dan-gerbang-ghaib%2F&amp;title=Orang%20Maiyah%20dan%20Gerbang%20Ghaib&amp;bodytext=Kepada%20Mujahidin%20Mujtahidin%20Maiyah%20Dari%20Muhammad%20Ainun%20Nadjib%0D%0ABismillah-ir-Rahman-ir-Rahim%0D%0A%0D%0ASubhanallah%0D%0A%0D%0A%0D%0A%09Maiyah%20bukan%20karya%20saya%2C%20bukan%20ajaran%20saya%20dan%20bukan%20milik%20saya.%0D%0A%09%20Orang-orang%20Maiyah%20bukan%20santri%20saya%2C%20bukan%20murid%20saya%2C%20bukan%20anak%20bu" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/07/orang-maiyah-dan-gerbang-ghaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 10:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak? ‘Alamat’ dan ‘Jurusan’ Syahadah. Salah satu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?</p>
<p><strong>‘Alamat’ dan ‘Jurusan’</strong></p>
<p><strong>Syahadah</strong>. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.</p>
<p>Pandangan tentang ’<em>sangkan paran</em>’, semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi <em>wahyu</em>, <em>mawaddah wa rahmah</em>, juga <em>huda, bayyinat, wa furqan) </em>menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.</p>
<p><strong>Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan</strong></p>
<p>Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.</p>
<p>Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.</p>
<p>Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.</p>
<p>Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.</p>
<p>Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.</p>
<p>Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.</p>
<p><strong>Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil</strong></p>
<p>Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.</p>
<p>Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.</p>
<p>Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.</p>
<p>Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (’air hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).</p>
<p>Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.</p>
<p><strong>Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan</strong></p>
<p>Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.</p>
<p>Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.</p>
<p>Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.</p>
<p>Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.</p>
<p>Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.</p>
<p>Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.</p>
<p>Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.<br />
<strong><br />
Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal</strong></p>
<p>Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?</p>
<p>Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.</p>
<p>Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.</p>
<p>Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.</p>
<p>Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.</p>
<p>Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.</p>
<p>Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.</p>
<p>Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.</p>
<p>Melampiaskan dan Mengendalikan</p>
<p>Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.</p>
<p>Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.</p>
<p>Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.</p>
<p>Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.</p>
<p>Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.</p>
<p>Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.</p>
<p>Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’&#8211;kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.</p>
<p>Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa. []</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=127192446563&amp;ref=nf" target="_blank">Keduri Cinta</a><br />
Oleh: MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;t=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;annotation=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F02%2Fmakna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa%2F&amp;title=Makna%20Spiritual%20Dan%20Sosial%20Ibadah%20Puasa&amp;bodytext=Tulisan%20ini%20bisa%20dimulai%20dari%20perspektif%20Rukun%20Islam.%20Dari%20syahadah%20hingga%20menunaikan%20haji%20di%20rumah%20suci%20Allah.%20Kita%20mencoba%20menjelaskan%20satu%20per%20satu%20maqam%20Rukun%20Islam%20tersebut.%20Dan%2C%20pada%20akhirnya%2C%20kita%20akan%20melihat%20maqam%20ibadah%20puasa%2C%20yang%20menjadi%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/02/makna-spiritual-dan-sosial-ibadah-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOSTUM AGAMA</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=kostum-agama</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang. Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang.</p>
<p>Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau untuk pemirsa? Kita ber-khusnudhdhan bahwa kita semua ini sangat mencintai dan menghormati Allah.</p>
<p>Hanya saja &#8212; seakan-akan hanya pada bulan Ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada Ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli &#8212; seakan-akan hanya di depan kamera saja kita menghormati Allah.</p>
<p>Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh : MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;t=KOSTUM%20AGAMA" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=KOSTUM%20AGAMA%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;annotation=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;bodytext=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENABUNG SORGA</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=menabung-sorga</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Diam-diam Allah menganugerahkan anjuran agar manusia tidak mengumbar dan menghabis-habiskan kegembiraan dan pesta pora sesuai bulan Ramadhan. Mungkin agar tabungan kebahagiaan kita di sorga bisa bertumpuk sebanyak-banyaknya. Makan jangan terlalu banyak. Kita dididik untuk belajar ngincipi sejumput makanan, dan selebihnya kita nikmati dengan cara memandanginya saja, untuk kita investasikan untuk kegembiraan yang lebih tinggi kelak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diam-diam Allah menganugerahkan anjuran agar manusia tidak mengumbar dan menghabis-habiskan kegembiraan dan pesta pora sesuai bulan Ramadhan.</p>
<p>Mungkin agar tabungan kebahagiaan kita di sorga bisa bertumpuk sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Makan jangan terlalu banyak. Kita dididik untuk belajar ngincipi sejumput makanan, dan selebihnya kita nikmati dengan cara memandanginya saja, untuk kita investasikan untuk kegembiraan yang lebih tinggi kelak. Justru itulah nikmatnya berpuasa. Menahan diri di depan makanan dan kenikmatan.</p>
<p>Bukankah sehari sesudah Idul Fitri, justru tatkala kita sedang berada di puncak kemenangan dan pesta &#8212; Allah malah men-sunnat-kan kita untuk melakukan puasa Syawal, yang produk pahala, kemuliaan dan kenikmatannya berlipat-lipat?</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh : MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;t=MENABUNG%20SORGA" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=MENABUNG%20SORGA%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;title=MENABUNG%20SORGA&amp;annotation=Diam-diam%20Allah%20menganugerahkan%20anjuran%20agar%20manusia%20tidak%20mengumbar%20dan%20menghabis-habiskan%20kegembiraan%20dan%20pesta%20pora%20sesuai%20bulan%20Ramadhan.%0D%0A%0D%0AMungkin%20agar%20tabungan%20kebahagiaan%20kita%20di%20sorga%20bisa%20bertumpuk%20sebanyak-banyaknya.%0D%0A%0D%0AMakan%20jangan%20terlal" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmenabung-sorga%2F&amp;title=MENABUNG%20SORGA&amp;bodytext=Diam-diam%20Allah%20menganugerahkan%20anjuran%20agar%20manusia%20tidak%20mengumbar%20dan%20menghabis-habiskan%20kegembiraan%20dan%20pesta%20pora%20sesuai%20bulan%20Ramadhan.%0D%0A%0D%0AMungkin%20agar%20tabungan%20kebahagiaan%20kita%20di%20sorga%20bisa%20bertumpuk%20sebanyak-banyaknya.%0D%0A%0D%0AMakan%20jangan%20terlal" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/menabung-sorga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah dan Rahasia Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=hikmah-dan-rahasia-puasa</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 04:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Hikmah dari puasa, baik puasa wajib atau sunnat, adalah: 1. Sesungguhnya badan itu jika penuh dengan makanan-makanan yang lezat dan minuman-minuman yang segar, dan terus menerus dalam kesempurnaan hidup, maka akan menjadi sombong dan congkak, banyak penyakitnya, dan lupa mengingat keadaan orang-orang fakir dan miskin yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu, hikmah menetapkan untuk mendidiknya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hikmah dari puasa, baik puasa wajib atau sunnat, adalah:</p>
<p>1. Sesungguhnya badan itu jika penuh dengan makanan-makanan yang lezat dan minuman-minuman yang segar, dan terus menerus dalam kesempurnaan hidup, maka akan menjadi sombong dan congkak, banyak penyakitnya, dan lupa mengingat keadaan orang-orang fakir dan miskin yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu, hikmah menetapkan untuk mendidiknya dengan membuat lapar dan haus yang dapat mengurangi kesenangan-kesenangannya dan dapat mengingatkan kepada urusan kembalinya di akhirat, dengan pen-didikan yang wajib dilakukan dengan jalan berpuasa setiap tahun sekali dalam bulan Ramadlan, dan puasasunnat yang dilakukan pada hari-hari lainnya.<br />
2. Puasa itu mendidik para hamba untuk merasakan betapa sakit perut yang lapar, agar mereka mengetahui kadar kenikmatan perut yang kenyang, seperti ujian jasmani yang diberikan oleh Allah swt. dengan penyakit agar mereka dapat merasakan kadar kenikmatan kesehatan pada waktu mendapat ujian penyakit tersebut, sehingga banyak mendekatkan diri dan memohon kepada Allah. Dan agar orang yang kaya dari mereka dapat mengingat orang yang fakir pada waktu kelaparan. dan mengetahui kadar penderitaan orang fakir karena tidak memiliki apa-apa, sehingga hal tersebut dapat mendorong dan menghasung dirinya untuk berbuat kebajikan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.<br />
3. Puasa itu dapat membuat orang yang melakukannya untuk menyerupai sifat-sifat para malaikat dalam meninggalkan makanan, minuman, dan kelezatan yang bersifat binatang.<br />
4. Puasa itu dapat menundukkanmusuh,yaitusyaithan,mengalahkan kekuasaannya, dan membatalkan amukannya dalam menjatuhkan nafsu dengan perantaraan syahwat, serta anjuran terhadap kesenangan-kesenangan yang mendekatkan kepada kecelakaan. Sedangkan lapar itu dapat menolak tipu daya syaithan dan memotong hujjahnya. Oleh karena itu telah datang dalam sebuah hadits:</p>
<p>اِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضّيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ وَالْعَطَشِ . (رواه البخاري ومسلم )</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya syaithan itu mengalir dari manusia pada tempat aliran darah. Oleh karena itu, sempitkanlah olehmu sekalian tempat-tempat aliran syaithan tersebut dengan lapar dan dahaga&#8221; . (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sumber : <a href="http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi" target="_blank">PPSSNH</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;t=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;title=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa&amp;annotation=Hikmah%20dari%20puasa%2C%20baik%20puasa%20wajib%20atau%20sunnat%2C%20adalah%3A%0D%0A%0D%0A1.%20Sesungguhnya%20badan%20itu%20jika%20penuh%20dengan%20makanan-makanan%20yang%20lezat%20dan%20minuman-minuman%20yang%20segar%2C%20dan%20terus%20menerus%20dalam%20kesempurnaan%20hidup%2C%20maka%20akan%20menjadi%20sombong%20dan%20congkak%2C%20bany" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;title=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa&amp;bodytext=Hikmah%20dari%20puasa%2C%20baik%20puasa%20wajib%20atau%20sunnat%2C%20adalah%3A%0D%0A%0D%0A1.%20Sesungguhnya%20badan%20itu%20jika%20penuh%20dengan%20makanan-makanan%20yang%20lezat%20dan%20minuman-minuman%20yang%20segar%2C%20dan%20terus%20menerus%20dalam%20kesempurnaan%20hidup%2C%20maka%20akan%20menjadi%20sombong%20dan%20congkak%2C%20bany" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
