<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/category/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>KOSTUM AGAMA</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang. Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya keagamaan Islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan kostum warna warni mewah meriah kita pajang.</p>
<p>Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehingga untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan Ramadhan, atau untuk pemirsa? Kita ber-khusnudhdhan bahwa kita semua ini sangat mencintai dan menghormati Allah.</p>
<p>Hanya saja &#8212; seakan-akan hanya pada bulan Ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada Ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli &#8212; seakan-akan hanya di depan kamera saja kita menghormati Allah.</p>
<p>Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh : MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;t=KOSTUM%20AGAMA" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=KOSTUM%20AGAMA%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;annotation=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fkostum-agama%2F&amp;title=KOSTUM%20AGAMA&amp;bodytext=Budaya%20keagamaan%20Islam%20mencapai%20puncak%20kemeriahannya%20terutama%20pada%20bulan%20Ramadhan.%20Televisi%20berlomba%20menggelar%20mubaligh%20dan%20presenter.%20Berbagai%20busana%20muslim-muslimah%20kita%20tonjolkan.%20Hiasan%20dan%20kostum%20warna%20warni%20mewah%20meriah%20kita%20pajang.%0D%0A%0D%0ASaya%20sen" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/kostum-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUDIK DUNIA AKHIRAT</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili, sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya. Mudik Lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai balik ke lingkungan primordial. Kampung halaman adalah tanah air konkret. Tanah dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili, sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.</p>
<p>Mudik Lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai balik ke lingkungan primordial.</p>
<p>Kampung halaman adalah tanah air konkret. Tanah dan air sejarah kelahiran mereka. Sehingga mudik episode kedua adalah kesadaran atau ikrar kembali bahwa diri manusia berasal dari tanah dan air yang akan kembali ke tanah dan air.</p>
<p>Episode mudik yang ketiga adalah kesadaran tentang Ibu Pertiwi dalam pengertian yang lebih batiniah. Yakni kekhusyukan menginsafi kasih sayang Ibunda, kandungan dan rahim Ibunda.</p>
<p>Betapa di puncak kepusingan hidup ini kita terkadang ingin kembali masuk ke gua garba Ibunda. Episode mudik berikutnya adalah kembalinya kita semua ke pencipta tanah air, ke sumber dan asal usul. Jadi, senantiasa siap kembali kepada Allah adalah puncak mudik, adalah mudik sejati.</p>
<p>Sumber : Milist padhang-mbulan-[at]-yahoogroups.com<br />
Oleh: MH Ainun Nadjib</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;t=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;title=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT&amp;annotation=Kerinduan%20untuk%20pulang%20ke%20kampung%20halaman%20dan%20bersilaturahmi%20dengan%20sanak%20famili%2C%20sesungguhnya%20adalah%20episode%20awal%20dari%20teater%20kebutuhan%20batin%20manusia%20untuk%20kembali%20ke%20asal%20usulnya.%0D%0A%0D%0AMudik%20Lebaran%20itu%20episode%20pulang%20secara%20geografis%20dan%20kultural.%20D" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F09%2F01%2Fmudik-dunia-akhirat%2F&amp;title=MUDIK%20DUNIA%20AKHIRAT&amp;bodytext=Kerinduan%20untuk%20pulang%20ke%20kampung%20halaman%20dan%20bersilaturahmi%20dengan%20sanak%20famili%2C%20sesungguhnya%20adalah%20episode%20awal%20dari%20teater%20kebutuhan%20batin%20manusia%20untuk%20kembali%20ke%20asal%20usulnya.%0D%0A%0D%0AMudik%20Lebaran%20itu%20episode%20pulang%20secara%20geografis%20dan%20kultural.%20D" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/09/01/mudik-dunia-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah dan Rahasia Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 04:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Hikmah dari puasa, baik puasa wajib atau sunnat, adalah: 1. Sesungguhnya badan itu jika penuh dengan makanan-makanan yang lezat dan minuman-minuman yang segar, dan terus menerus dalam kesempurnaan hidup, maka akan menjadi sombong dan congkak, banyak penyakitnya, dan lupa mengingat keadaan orang-orang fakir dan miskin yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu, hikmah menetapkan untuk mendidiknya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hikmah dari puasa, baik puasa wajib atau sunnat, adalah:</p>
<p>1. Sesungguhnya badan itu jika penuh dengan makanan-makanan yang lezat dan minuman-minuman yang segar, dan terus menerus dalam kesempurnaan hidup, maka akan menjadi sombong dan congkak, banyak penyakitnya, dan lupa mengingat keadaan orang-orang fakir dan miskin yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu, hikmah menetapkan untuk mendidiknya dengan membuat lapar dan haus yang dapat mengurangi kesenangan-kesenangannya dan dapat mengingatkan kepada urusan kembalinya di akhirat, dengan pen-didikan yang wajib dilakukan dengan jalan berpuasa setiap tahun sekali dalam bulan Ramadlan, dan puasasunnat yang dilakukan pada hari-hari lainnya.<br />
2. Puasa itu mendidik para hamba untuk merasakan betapa sakit perut yang lapar, agar mereka mengetahui kadar kenikmatan perut yang kenyang, seperti ujian jasmani yang diberikan oleh Allah swt. dengan penyakit agar mereka dapat merasakan kadar kenikmatan kesehatan pada waktu mendapat ujian penyakit tersebut, sehingga banyak mendekatkan diri dan memohon kepada Allah. Dan agar orang yang kaya dari mereka dapat mengingat orang yang fakir pada waktu kelaparan. dan mengetahui kadar penderitaan orang fakir karena tidak memiliki apa-apa, sehingga hal tersebut dapat mendorong dan menghasung dirinya untuk berbuat kebajikan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.<br />
3. Puasa itu dapat membuat orang yang melakukannya untuk menyerupai sifat-sifat para malaikat dalam meninggalkan makanan, minuman, dan kelezatan yang bersifat binatang.<br />
4. Puasa itu dapat menundukkanmusuh,yaitusyaithan,mengalahkan kekuasaannya, dan membatalkan amukannya dalam menjatuhkan nafsu dengan perantaraan syahwat, serta anjuran terhadap kesenangan-kesenangan yang mendekatkan kepada kecelakaan. Sedangkan lapar itu dapat menolak tipu daya syaithan dan memotong hujjahnya. Oleh karena itu telah datang dalam sebuah hadits:</p>
<p>اِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضّيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ وَالْعَطَشِ . (رواه البخاري ومسلم )</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya syaithan itu mengalir dari manusia pada tempat aliran darah. Oleh karena itu, sempitkanlah olehmu sekalian tempat-tempat aliran syaithan tersebut dengan lapar dan dahaga&#8221; . (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sumber : <a href="http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi" target="_blank">PPSSNH</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;t=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;title=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa&amp;annotation=Hikmah%20dari%20puasa%2C%20baik%20puasa%20wajib%20atau%20sunnat%2C%20adalah%3A%0D%0A%0D%0A1.%20Sesungguhnya%20badan%20itu%20jika%20penuh%20dengan%20makanan-makanan%20yang%20lezat%20dan%20minuman-minuman%20yang%20segar%2C%20dan%20terus%20menerus%20dalam%20kesempurnaan%20hidup%2C%20maka%20akan%20menjadi%20sombong%20dan%20congkak%2C%20bany" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fhikmah-dan-rahasia-puasa%2F&amp;title=Hikmah%20dan%20Rahasia%20Puasa&amp;bodytext=Hikmah%20dari%20puasa%2C%20baik%20puasa%20wajib%20atau%20sunnat%2C%20adalah%3A%0D%0A%0D%0A1.%20Sesungguhnya%20badan%20itu%20jika%20penuh%20dengan%20makanan-makanan%20yang%20lezat%20dan%20minuman-minuman%20yang%20segar%2C%20dan%20terus%20menerus%20dalam%20kesempurnaan%20hidup%2C%20maka%20akan%20menjadi%20sombong%20dan%20congkak%2C%20bany" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/hikmah-dan-rahasia-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;tikaf</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/itikaf/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/itikaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 04:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;tikaf adalah niat berdiam di dalam masjid dalam keadaan puasa menurut Imam Malik bin Anas. Menurut Imam Asy Syafi&#8217;i dan Ahmad bin Hambal, puasa itu bukanlah syarat dalam i&#8217;tikaf. Dan menurut Imam Abu Hanifah, puasa itu menjadi syarat dari i&#8217;tikaf yang wajib. I&#8217;tikaf ini hukumnya ditetapkan oleh Al Qur&#8217;an, As Sunnah dan Ijma&#8217;. Dalam surat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I&#8217;tikaf adalah niat berdiam di dalam masjid dalam keadaan puasa menurut Imam Malik bin Anas. Menurut Imam Asy Syafi&#8217;i dan Ahmad bin Hambal, puasa itu bukanlah syarat dalam i&#8217;tikaf. Dan menurut Imam Abu Hanifah, puasa itu menjadi syarat dari i&#8217;tikaf yang wajib. I&#8217;tikaf ini hukumnya ditetapkan oleh Al Qur&#8217;an, As Sunnah dan Ijma&#8217;.</p>
<p>Dalam surat Al Baqarah ayat 125, Allah swt. telah berfirman yang antara lain sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align: right;">. . . وَعَهِدْنَآ اِلَى اِبْرَاهِيْمَ وَاِسْمَاعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ .</h2>
<p>&#8220;. . . Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma&#8217;il : &#8220;Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i&#8217;tikaf, yang ruku&#8217; dan yang sujud&#8221;.</p>
<p>Dalam surat Al Baqarah ayat 187, Allah swt. juga berfirman yang antara lain sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align: right;">. . . وَلاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسَاجِدِ ؛ . . . الآية</h2>
<p>&#8220;. . . janganlah kamu sekalian campuri mereka itu (para isterimu), sedang kamu sekalian beri&#8217;tikaf dalam masjid. . . . &#8221;</p>
<p>I&#8217;tikaf itu ada tiga macam:</p>
<p>1. I&#8217;tikaf wajib, yaitu i&#8217;tikaf yang dijadikan nadzar.<br />
2. I&#8217;tikaf sunnat, yaitu i&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulanRamadlan.<br />
3. Mustahab, yaitu i&#8217;tikaf pada waktu-waktu selain tersebut di atas.</p>
<p>Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar telah melakukan i&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan sampai wafat beliau, kemudian setelah itu, para isteri beliau melakukan i&#8217;tikaf. Telah diriwayatkan dari Sayyidah &#8216;A&#8217;isyah ra. katanya:</p>
<h2 style="text-align: right;">كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ . (رواه الخمسة )</h2>
<p>&#8220;Adalah Nabi saw. selalu beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan sehingga beliau wafat, kemudian para isteri beliau beri&#8217;tikaf setelah kemangkatan beliau&#8221;(HR Lima orang ahli hadits)</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya:</p>
<h2 style="text-align: right;">كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشَرَةَ اَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيْهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا . (رواه البخاري)</h2>
<p>&#8220;Adalah Nabi saw. selalu beri&#8217;tikaf pada setiap bulan Ramadlan selama sepuluh hari. Maka tatkala pada tahun beliau wafat, beliau beri&#8217;tikaf selama duapuluh hari&#8221;(HR. Bukhari)</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">لاَ اعْتِكَافَ اِلاَّ بِصِيَامٍ . وَفِى رِوَايَةٍ : لَيْسَ عَلَى الْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ اِلاَّ اَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ .</h2>
<p>&#8220;Tidak ada i&#8217;tikaf kecuali dengan berpuasa. Dan dalam satu riwayat: Tidak ada kewajiban berpuasa bagi orang yang beri&#8217;tikaf, kecuali apabila dia menjadikan puasa tersebut sebagai kewajiban (karena dinadzarkan) atas dirinya&#8221;.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">كُلُّ مَسْجِدٍ فِيْهِ اِمَامٌ وَمُؤَذِّنٌ فَالإِعْتِكَافُ فِيْهِ يَصِحُّ .</h2>
<p>Setiap masjid yang mempunyai imam tetap (rawatib) dan muadz-dzin tetap, maka i`tikaf di masjid tersebut adalah sah.</p>
<p>I&#8217;tikaf itu menurut Imam As Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad bin Hambal, paling sebentar waktunya adalah cukup melebihi kadar thuma&#8217;ninah dalam shalat; dan tidak ada batas paling lama dari i&#8217;tikaf tersebut. Menurut Imam Malik bin Anas, paling sebentar adalah sehari semalam dan tidak ada batas paling lama. Menurut Imam Abu Hanifah, paling sebentar dalam i&#8217;tikaf sunnat adalah sekejap; pada i&#8217;tikaf yang wajib adalah sehari semalam, dan tidak ada batas paling lama. Dan i&#8217;tikaf itu hanya boleh dilakukan di masjid, dan tidak sah pada tempat lainnya.</p>
<p>Syarat-syarat i&#8217;tikaf: Islam, berakal, dan sepi dari hadats besar.</p>
<p>I&#8217;tikaf yang paling utama itu adalah pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan karena mengikuti pekerjaan Rasulullah saw. dan untuk mencari LAILATUL QADAR yang terbatas pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan, sebagaimana telah ditetapkan oleh Imam Asy Syafi&#8217;i ra. Di antara tanda lailatul qadar adalah malam yang cerah, udaranya tidak panas dan tidak pula dingin.</p>
<p>Ibnu Huzaimah telah meriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Nabi Muhammad saw. telah bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ ، تُضِيْءُ كَوَاكِبُهَا ، وَلاَ يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يُضِيْءَ فَجْرُهَا.</h2>
<p>&#8220;Lailatul Qadar itu adalah malam yang terang ben erang, tidak panas dan tidak pula dingin, bintang-bintangnya bersinar gemerlapan, dan tidak keluar syaithan ya (tidak ada meteor) sehingga terbit fajar&#8221;.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ .</h2>
<p>&#8220;Carilah olehmu sekalian Lailatul Qadar pada tanggal ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan&#8221;.</p>
<p>Abu Dawud telah meriwayatkan hadits dari Mu`awiyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ</h2>
<p>&#8220;Lailatul Qadar itu adalah malam tanggal duapuluh tujuh&#8221;.</p>
<p>Jumhur shahabat dan tabi&#8217;in berpendapat seperti hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas. Dan barang siapa bernadzar untuk i&#8217;tikafselama satu hari atau lebih, maka wajib dia melaksanakannya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk i`tikaf selama satu malam, maka wajib dia beri`tikaf satu hari satu malam.</p>
<p>Menurut Imam Abu Hanifah, wanita itu harus i&#8217;tikaf di tempat shalat dari rumahnya sendiri yang biasa dipergunakan untuk melakukan shalat setiap hari; dan tidak boleh i&#8217;tikaf di masjid tempat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Menurut tiga orang imam lainnya, i&#8217;tikaf wanita itu tidak sah kecuali di masjid seperti lainnya, karena masjid itu adalah syarat bagi keabsahan i&#8217;tikaf secara mutlak tanpa makruh. Dan tidak sah i&#8217;tikaf wanita, kecuali dengan idzin suaminya menurut kesepakatan para imam madzhab. Orang yang sedang melakukan i&#8217;tikaf, tidak boleh keluar dari masjid kecuali karena ada hajat syar&#8217;iy seperti: melakukan shalat Jum&#8217;at, shalat hari raya, atau karena hajatlainnya,seperti: kencing, berak, haidl, nifas, sakit yang sulit untuk tetap tinggal di masjid, mandi andaikata mimpi keluar mani, karena tidak boleh mandi di masjid. Jika orang yang beri&#8217;tikaf itu keluar dari masjid tanpa ada alasan yang diperbolehkan oleh syara&#8217;, maka menurut kesepakatan para imam madzhab, i&#8217;tikafnya batal.</p>
<p>Sumber : <a href="http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/" target="_blank">PPSSNH</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fitikaf%2F&amp;t=I%27tikaf" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=I%27tikaf%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fitikaf%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fitikaf%2F&amp;title=I%27tikaf&amp;annotation=I%27tikaf%20adalah%20niat%20berdiam%20di%20dalam%20masjid%20dalam%20keadaan%20puasa%20menurut%20Imam%20Malik%20bin%20Anas.%20Menurut%20Imam%20Asy%20Syafi%27i%20dan%20Ahmad%20bin%20Hambal%2C%20puasa%20itu%20bukanlah%20syarat%20dalam%20i%27tikaf.%20Dan%20menurut%20Imam%20Abu%20Hanifah%2C%20puasa%20itu%20menjadi%20syarat%20dari%20i%27tikaf%20y" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fitikaf%2F&amp;title=I%27tikaf&amp;bodytext=I%27tikaf%20adalah%20niat%20berdiam%20di%20dalam%20masjid%20dalam%20keadaan%20puasa%20menurut%20Imam%20Malik%20bin%20Anas.%20Menurut%20Imam%20Asy%20Syafi%27i%20dan%20Ahmad%20bin%20Hambal%2C%20puasa%20itu%20bukanlah%20syarat%20dalam%20i%27tikaf.%20Dan%20menurut%20Imam%20Abu%20Hanifah%2C%20puasa%20itu%20menjadi%20syarat%20dari%20i%27tikaf%20y" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/itikaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Menyehatkan Jasmani dan Rohani</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/ramadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/ramadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 03:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a href="ttp://gusmus.net/" target="_blank">A. Mustofa Bisri</a></p>
<p>Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.</p>
<p>Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.</p>
<p>Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:</p>
<h2 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</h2>
<p>&#8220;<em>Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa</em>.&#8221;(Q. 2. Al-Baqarah: 183)</p>
<p>Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).</p>
<p>Itu garis besarnya. Apabila kebahagiaan yang dicari manusia, itulah kuncinya. Kunci dari Sang Pencipta manusia dan kebahagiaan itu sendiri. Seringkali, manusia merasa mengerti dan tahu jalan menuju kebahagiaan. Mengabaikan tuntunan Tuhannya. Ternyata tersesat. Akhirnya, kebahagiaan yang dicari, kesengsaraan yang didapat. Di zaman modern ini misalnya, banyak orang menganggap kebahagiaan bisa didapat dari materi dan orang pun berlomba-lomba mengejar materi. Seringkali, sampai “kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki”. Ujung-ujungnya, karena materi ternyata tidak kunjung memberi kebahagiaan, mereka pun lari kepada yang lebih mudarat lagi: mengonsumsi obat-obatan. Narkoba.</p>
<p>Untunglah, Allah menyediakan satu bulan, bulan suci, dimana kita diberi kesempatan untuk melakukan muhasabah yang lebih intens. Kita diberi anugerah luar biasa yang namanya <strong>p u a s a</strong>. Di bulan Ramadan di mana kita berpuasa, ritme dan gaya hidup kita berubah. Jadwal makan pun berubah dengan satu kelebihan: kita memenuhinya dengan teratur. Maka, banyak kalangan ahli yang kemudian mengaitkan puasa dengan kesehatan, merujuk sabda Nabi kita, “Shuumuu tashihhuu”, (Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat).</p>
<p>Dengan berpuasa, tidak hanya makan-minum kita menjadi teratur; malah para ahli mengatakan bahwa puasa dapat membersihkan dari tubuh kita, unsur-unsur buruk yang membuat kita sakit.</p>
<p>Jadi, puasa bulan Ramadan, bukan saja dianugerahkan Allah bagi kepentingan ruhaniah, tapi juga jasmaniah kita. Atau dengan kata lain, Allah menganugerahkan kepada kita puasa sebagai sarana menyempurnakan diri. Jasmaniah dan ruhaniah. Kalau ungkapan “Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim” menyiratkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani agar akal menjadi sehat, maka puasa justru memberi peluang kepada kita untuk sekaligus meraih keduanya.</p>
<p>Dengan puasa, hamba Allah digembleng untuk menjadi manusia yang benar-benar sehat luar dalam yang selalu mengingat Sang Penciptanya. Bukan manusia penyakitan yang gampang lupa kepada Tuhannya. Orang yang lupa Tuhannya, seperti difirmankanNya sendiri dalam kitab sucinya al-Quran, dibuat lupa kepada dirinya sendiri.(Q. 59: 19).</p>
<p>Mari kita sikapi bulan Ramadan dengan segala suasana khusyuknya ini dengan sebaik-baiknya. Berpuasa sesuai aturan dan dengan merenungkan hikmah-hikmahnya. Kita penuhi saat-saatnya dengan meningkatkan amal ibadah yang tidak hanya bersifat ritual mahdhah. Dan dalam hal ini, perlu kita waspadai jebakan si serakah industri, termasuk dan utamanya industri pertelevisian, yang lagi-lagi memanfaatkan momentum bulan suci untuk mengeruk keuntungan materi dan membedaki tujuan komersialnya dengan pupur religi. Selamat Beribadah!</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Framadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani%2F&amp;t=Ramadhan%20Menyehatkan%20Jasmani%20dan%20Rohani" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Ramadhan%20Menyehatkan%20Jasmani%20dan%20Rohani%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Framadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Framadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani%2F&amp;title=Ramadhan%20Menyehatkan%20Jasmani%20dan%20Rohani&amp;annotation=Jadi%2C%20puasa%20yang%20diwajibkan%20sejak%20dulu%20kepada%20kaum%20sebelum%20kita%2C%20bertujuan%20utama%3A%20agar%20kita%20manusia%20ini%20bertakwa.%20Takwa%20adalah%20kondisi%20puncak%20hamba%20Allah.%20Hamba%20mukmin%20di%20dunia%20ini%2C%20dalam%20proses%20menuju%20ketakwaan%20kepada%20Allah%20SWT.%20Karena%20semua%20kebaikan%20hamba%20di%20dunia%20dan%20kebahagiaannya%20di%20akhirat%2C%20kuncinya%20adalah%20ketakwaan%20kepada-Nya.%20Mulai%20dari%20pujian%20Allah%20SWT%2C%20dukungan%20dan%20pertolongan-Nya%2C%20penjagaan-Nya%2C%20pengampunan-Nya%2C%20cinta-Nya%2C%20limpahan%20rejeki-Nya%2C%20pematutan%20amal%20dan%20penerimaan-Nya%20terhadapnya%3B%20hingga%20kebahagiaan%20abadi%20di%20sorga%2C%20ketakwaanlah%20kuncinya." title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Framadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani%2F&amp;title=Ramadhan%20Menyehatkan%20Jasmani%20dan%20Rohani&amp;bodytext=Jadi%2C%20puasa%20yang%20diwajibkan%20sejak%20dulu%20kepada%20kaum%20sebelum%20kita%2C%20bertujuan%20utama%3A%20agar%20kita%20manusia%20ini%20bertakwa.%20Takwa%20adalah%20kondisi%20puncak%20hamba%20Allah.%20Hamba%20mukmin%20di%20dunia%20ini%2C%20dalam%20proses%20menuju%20ketakwaan%20kepada%20Allah%20SWT.%20Karena%20semua%20kebaikan%20hamba%20di%20dunia%20dan%20kebahagiaannya%20di%20akhirat%2C%20kuncinya%20adalah%20ketakwaan%20kepada-Nya.%20Mulai%20dari%20pujian%20Allah%20SWT%2C%20dukungan%20dan%20pertolongan-Nya%2C%20penjagaan-Nya%2C%20pengampunan-Nya%2C%20cinta-Nya%2C%20limpahan%20rejeki-Nya%2C%20pematutan%20amal%20dan%20penerimaan-Nya%20terhadapnya%3B%20hingga%20kebahagiaan%20abadi%20di%20sorga%2C%20ketakwaanlah%20kuncinya." title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/ramadhan-menyehatkan-jasmani-dan-rohani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Hikmah yang Terlupakan</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/mutiara-hikmah-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/mutiara-hikmah-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 03:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Sejak di surga, sesungguhnya Nabi Adam AS sudah dibekali Allah dengan Ilmu yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmunya malaikat. Allah telah menyatakan itu melalui firman-Nya: وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ “Dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak di surga, sesungguhnya Nabi Adam AS sudah dibekali Allah dengan Ilmu yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmunya malaikat. Allah telah menyatakan itu melalui firman-Nya:</p>
<h2 style="text-align: right;">وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ</h2>
<p>“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: &#8220;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!&#8221; &#8211; Mereka menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. 2; 31-32)</p>
<p>Namun demikian, karena proses pengamalan ilmu tersebut juga akan menghasilkan ilmu lagi yang disebut ilmu pengalaman yang bisa mendewasakan jiwa manusia (dalam kaitan agama disebut ilmu rasa atau ilmu spiritual) maka untuk mencapai kedewasaan jiwa tersebut manusia harus menjalani suratan takdir hidup yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, baik takdir buruk maupun takdir baiknya. Hal itu disebabkan, karena hanya dengan ilmu praktek (ilmu rasa) inilah, ilmu pengetahuan secara teoritik itu diharapkan dapat menghasilkan manfaat yang optimal. Yaitu meningkatkan kualitas iman sehingga mampu menghasilkan keyakinan kuat dalam hati, padahal untuk menumbuhkan keyakinan tersebut, orang harus menempuh proses latihan-latihan dan melewati tahapan-tahapan perjalanan hidup yang panjang.</p>
<p>Itulah sistem kompetisi dan seleksi alam sebagai sunnatullah (tata kosmos kehidupan) yang tidak akan berubah lagi untuk selamanya dan diperuntukkan bagi manusia, tanpa terkecuali. Sunnatullah itu sesungguhnya merupakan tarbiyah azaliah dari Tuhannya. Siapa yang berhasil melewatinya dengan baik, maka Allah akan meningkatkan derajat hidupnya di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Oleh karena itu, Nabi Adam AS oleh suratan takdir hidupnya memang harus terlebih dahulu mencicipi pahitnya kehidupan dunia akibat dosa yang diperbuat di surga. Dengan itu supaya kemudian mampu merasakan manisnya pahala ketika beliau telah dikembalikan lagi di surga. Manisnya pahala tersebut sebagai buah ibadah dan pengabdian yang dijalani di dunia. Itulah contoh kejadian pertama dalam lembaran sejarah kehidupan manusia pertama yang dapat menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang mampu memperhatikan dan menelaah serta mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Nabi Adam AS ternyata mampu dan berhasil menjalani awal proses kehidupannya di dunia, walau perjalanan itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan. Yakni dengan sendirian harus mencari dan membuka lahan yang terbentang luas untuk bercocok tanam, mencari dan menanam bibit di tanah garapan dan baru dapat dimakan hasilnya ketika saat panen tiba, dan berbagai macam tantangan hidup yang harus dihadapi. Kemampuan itu karena sejatinya Nabi Adam AS telah terlebih dulu mengenali jalan hidup yang harus ditempuh sebagai akibat dosa yang telah diperbuat sehingga manusia harus diturunkan dari kebahagiaan ke dalam jurang penderitaan. Dengan itu Nabi Adam AS menjadi tahu, apabila orang ingin dikembalikan kepada kebahagian yang abadi, surga yang telah ditinggalkan dahulu, maka tidak ada jalan lain, kecuali terlebih dahulu harus bertaubat dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat itu. Bahkan tidak cukup itu saja, Nabi Adam AS juga harus memperbaiki perilakunya, membangun diri dengan amal bakti, supaya tidak kembali terjebak tipudaya setan yang pernah menurunkan dirinya dari surga.</p>
<p>Tamsil yang demikian itu, agar dalam lembaran hidup yang dijalaninya, manusia tidak cukup hanya membekali diri dengan ilmu pengetahuan secara lahir saja, namun juga perjalanan hidup dan karya utama yang dapat membuahkan ILMU BATIN atau ILMU SPIRITUAL sehingga mampu menancapkan KEYAKINAN HATI yang kuat sehingga berhasil mendapatkan derajat tinggi disisi Tuhannya, karena orang beriman telah bertakwa kepada Tuhannya. Allah kemudian menurunkan pelajaran bagi Nabi Adam AS dengan apa yang telah dinyatakan firman-Nya:</p>
<h2 style="text-align: right;">فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ</h2>
<p>“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Baqoroh; 2/37)</p>
<p>Lalu Nabi Adam As menindaklanjuti pelajaran itu dengan amal bakti dan taubatan nasuha dengan bermunajat melalui kalimat:</p>
<h2 style="text-align: right;">قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</h2>
<p>“Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. al-A’raaf; 7/23)</p>
<p>Ternyata tidak cukup hanya dengan penyesalan di hati saja, namun juga, penyesalan itu harus mampu diaktualisasikan dalam bentuk amal ibadah kongkrit, yaitu berdzikir, bermunajat, memohon ampun dan bertaubat dengan taubatan nasuha serta memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sudah diperbuat, hal itu dilakukan sampai Allah benar-benar menerima taubat hamba-Nya.</p>
<p>Tanda-tanda penerimaan tersebut dapat dirasakan dalam hati, berupa kedamaian dan kesejukan ruhani yang meresap dalam sanubari sehingga mampu mengusir keraguan dan dapat membangkitkan gairah hidup baru untuk beramal shaleh dalam pengabdian. Seperti di atas tanah kering, ketika hujan turun, tidak hanya kesejukan yang dirasakan, namun juga, tanah yang asalnya tandus itu menjadi subur dan siap tanam. Inilah pelajaran pertama yang diturunkan Allah Pemelihara Alam Semesta kepada umat manusia. Dari peristiwa yang asalnya gaib, kemudian dimunculkan lagi dan diabadikan dalam Kitab Suci yang abadi, al-Qur’an al-Karim. Yaitu sejarah perjalanan hidup manusia pertama yang di dalamnya ada MUTIARA HIKMAH yang dapat dijadikan pelajaran dasar dan suri tauladan bagi umat selanjutnya.</p>
<p>Mutiara hikmah itu ialah, bahwa ternyata manusia memang selamanya tidak sepi dari kesalahan dan dosa bahkan MANUSIA PERTAMA itu telah memulai lembaran hidupnya dengan kesalahan dan dosa sehingga mengakibatkan duka dan derita. Namun demikian, apabila dengan penyesalan mendalam atas dosa dan kesalahan tersebut ternyata mampu menjadi penyebab seorang hamba melaksanakan taubatan nasuha, melaksanakan pengabdian yang diterima di sisi Allah dengan ditandai perubahan karakter sehingga yang asalnya jelek menjadi baik dan mampu membangun akhlakul karimah serta meningkatkan ketakwaan, maka di sinilah letak rahasia “mutiara hikmah” yang sangat berharga ini. Pembelajaran hidup yang bermanfaat bagi pendewasaan jiwa manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, barangsiapa mampu menelaah dan meneladani peristiwa sejarah manusia pertama ini, lalu diterapkan dalam kehidupannya dengan benar dan arif, berarti akan mendapat kebahagiaan hakiki sebagaimana yang telah didapatkan pendahulunya. Dalam arti, bukan dosa dan salahnya yang diteladani, namun bagaimana cara menyikapi dosa dan salah tersebut. Namun itu dengan catatan, dosa dan salah tersebut adalah dosa dan kesalahan manusiawi yang terkadang memang suka memaksa orang untuk melakukannya, bukan dosa dan kesalahan yang sengaja dilakukan orang sebagai bentuk keingkaran hatinya kepada Allah dan rasul-Nya. Terbukti tidak selamanya kita mampu menghindari perbuatan salah dan dosa. Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=1298566904" target="_blank">Muhammad Luthfi Ghozali</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fmutiara-hikmah-yang-terlupakan%2F&amp;t=Mutiara%20Hikmah%20yang%20Terlupakan" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Mutiara%20Hikmah%20yang%20Terlupakan%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fmutiara-hikmah-yang-terlupakan%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fmutiara-hikmah-yang-terlupakan%2F&amp;title=Mutiara%20Hikmah%20yang%20Terlupakan&amp;annotation=Sejak%20di%20surga%2C%20sesungguhnya%20Nabi%20Adam%20AS%20sudah%20dibekali%20Allah%20dengan%20Ilmu%20yang%20tinggi%20bahkan%20lebih%20tinggi%20dibanding%20ilmunya%20malaikat.%20Allah%20telah%20menyatakan%20itu%20melalui%20firman-Nya%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E%20%D8%A2%D9%8E%D8%AF%D9%8E%D9%85%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A3%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E%20%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F29%2Fmutiara-hikmah-yang-terlupakan%2F&amp;title=Mutiara%20Hikmah%20yang%20Terlupakan&amp;bodytext=Sejak%20di%20surga%2C%20sesungguhnya%20Nabi%20Adam%20AS%20sudah%20dibekali%20Allah%20dengan%20Ilmu%20yang%20tinggi%20bahkan%20lebih%20tinggi%20dibanding%20ilmunya%20malaikat.%20Allah%20telah%20menyatakan%20itu%20melalui%20firman-Nya%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E%20%D8%A2%D9%8E%D8%AF%D9%8E%D9%85%D9%8E%20%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A3%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E%20%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/29/mutiara-hikmah-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBADAH PUASA ADALAH PELAKSANAAN “TAUHIDUL QOSHDI” (HANYA SATU TUJUAN).</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/24/ibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%e2%80%9ctauhidul-qoshdi%e2%80%9d-hanya-satu-tujuan/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/24/ibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%e2%80%9ctauhidul-qoshdi%e2%80%9d-hanya-satu-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 14:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[TADARUS (Part-9) Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW -3 عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه “Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TADARUS (Part-9) Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW -3</p>
<h3>عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه</h3>
<p>“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “<em>Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya</em>” (Muttafaq ‘Alaih).</p>
<p>Setiap ibadah, di dalamnya berpotensi syirik, kecuali puasa. Gambaran orang-orang musyrikin sebagaimana dinyatakan Allah adalah orang-orang yang menyembah berhala, matahari, bulan maupun api. Di mana dengan bersujud kepada sesembahan itu mereka mengira dapat mendekati Tuhan. Padahal sesungguhnya mereka terjerumus dalam kesyirikan. Allah memberikan sinyalemen tentang hal tersebut dengan fimanNya:</p>
<h3 style="text-align: right;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ</h3>
<p>“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: &#8220;<em>Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?</em>&#8220;, niscaya mereka menjawab: &#8220;<em>Allah</em>&#8220;. Katakanlah: &#8220;Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: &#8220;<em>Cukuplah Allah bagiku</em>&#8220;. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. az-Zumar; 38).</p>
<p>Dalam pelaksanaan ibadah puasa, tidak ada seorangpun berpuasa demi matahari dan bulan, melainkan hanya untuk Allah. Oleh karena itu puasa hanya disandarkan kepada-Nya:</p>
<h3 style="text-align: right;">فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ</h3>
<p><em>“Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalas dengannya”.</em></p>
<p>Dengan berpuasa, sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat Rububiyah kepada orang-orang beriman, bukan rahmat Ikhtiariyah. Artinya siapapun yang sanggup melaksanakan puasa, sesungguhnya terbit atas dasar taufiq-Nya, bukan dari kemampuan pribadi. Dengan puasa itu, Allahlah yang memilih, bukan mereka memilih. Karena Allah yang berkehendak atas segala sesuatu bukan mereka yang berkehendak untuk sesuatu: “<em>Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana</em>”.(QS.Al-Insan(76)30).</p>
<p>Jika orang ingin melihat inayah kasat mata yang diturunkan kepada orang-orang beriman (mukminin), maka lihatlah orang yang berpuasa. Bukankah ketika orang tidak berpuasa, pada jam makan siang misalnya, terlambat makan sedikit saja, sakitnya lapar rasanya tidak dapat tertahankan, bahkan badan menjadi gemetar dan perut kembung karena masuk angin. Namun di kala orang sedang berpuasa, mengapa hal seperti itu tidak terjadi? Dengan lapar di luar puasa orang menjadi potensial sakit, tapi lapar di dalam berpuasa malah menjadikan sehat.</p>
<p>Itulah yang dimaksud inayah (pertolongan) Allah yang kasat mata. Namun demikian orang-orang yang hatinya ingkar tidak juga mau beriman meski setiap tahun melihat keajaiban besar itu. Bahkan mereka bertanya dengan penuh keheranan: “Mengapa orang-orang beriman mampu melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh bahkan dengan hati senang?” Jika orang tersebut mampu mencerna maka tidak seharusnya mereka bertanya seperti itu. Jawabannya, karena saat itu Allah menurunkan pertolongan kepada orang beriman yang mau melaksanakan perintahNya. Bahkan tidak sekedar itu saja, namun juga, sesungguhnya tidak ada seorangpun masuk surga kecuali semata-mata karena Allah terlebih dahulu menetapkan kebaikan baginya.</p>
<p>Memang awal datangnya inayah tersebut harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, itulah yang dimaksud mujahadah di jalan Allah. Usaha itu adalah sebab yang harus dibangun oleh seorang hamba sedangkan inayah itu merupakan akibat yang didatangkan kepada mereka. Apabila mujahadah itu dilaksanakan dengan ‘menahan lapar’ berarti itu mujahadah emosional dan apabila dengan ‘menahan bicara’, berarti itu mujahadah rasional. Hakekat kedua mujahadah itu sejatinya sama, yakni bersungguh-sungguh manahan kehendak nafsu, dengan itu Allah akan menurunkan inayah-Nya. Sungguh benar firman Allah:</p>
<h3 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ</h3>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad; 7)</em></p>
<p>Apabila ibadah puasa dapat diwujudkan dalam bentuk mujahadah emosional dan rasional, tidak sekedar menahan haus dan lapar, berarti orang tersebut telah mampu menyatukan tujuan amal, yaitu semata-mata menghadap kepada Allah, itulah yang dimaksud dengan Tauhidul Qosdi, sehingga ibadah puasa itu secara otomatis bersandar kepada Allah. Seandainya seluruh pelaksanaan amal ibadah mampu dilaksanakan seperti orang mengerjakan puasa, yaitu dengan niat semata-mata mengharap ridho Allah, niscaya ibadah-ibadah tersebut akan menjadi ibadah yang wushul kepada-Nya. Ibadah yang mampu membangun landasan tauhid dalam hati dan menancapkan keyakinan yang kuat sehingga setiap munajat yang ada di dalamnya segera mendapat ijabah. Semoga kita mampu menggapainya di Ramadhan tahun ini.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1298566904" target="_blank">Muhammad Luthfi Ghozali</a></p>
<p>[Orang yang pandai slalu bertanya apa yang akan Allah lakukan dan bukan apa yang akan ia(orang) kerjakan]</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F24%2Fibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%25e2%2580%259ctauhidul-qoshdi%25e2%2580%259d-hanya-satu-tujuan%2F&amp;t=IBADAH%20PUASA%20ADALAH%20PELAKSANAAN%20%E2%80%9CTAUHIDUL%20QOSHDI%E2%80%9D%20%28HANYA%20SATU%20TUJUAN%29." title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=IBADAH%20PUASA%20ADALAH%20PELAKSANAAN%20%E2%80%9CTAUHIDUL%20QOSHDI%E2%80%9D%20%28HANYA%20SATU%20TUJUAN%29.%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F24%2Fibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%25e2%2580%259ctauhidul-qoshdi%25e2%2580%259d-hanya-satu-tujuan%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F24%2Fibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%25e2%2580%259ctauhidul-qoshdi%25e2%2580%259d-hanya-satu-tujuan%2F&amp;title=IBADAH%20PUASA%20ADALAH%20PELAKSANAAN%20%E2%80%9CTAUHIDUL%20QOSHDI%E2%80%9D%20%28HANYA%20SATU%20TUJUAN%29.&amp;annotation=TADARUS%20%28Part-9%29%20Puasa%20dari%20Makna%20Sabda%20Nabi%20SAW%20-3%0D%0A%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%90%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D8%A9%D9%8F%20%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%91%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%85%D9%8F%20%3A%20%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%AD%D9%90%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8B%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90%D9%87%D9%90%20%D8%AA%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%89%20%3A%20%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F24%2Fibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%25e2%2580%259ctauhidul-qoshdi%25e2%2580%259d-hanya-satu-tujuan%2F&amp;title=IBADAH%20PUASA%20ADALAH%20PELAKSANAAN%20%E2%80%9CTAUHIDUL%20QOSHDI%E2%80%9D%20%28HANYA%20SATU%20TUJUAN%29.&amp;bodytext=TADARUS%20%28Part-9%29%20Puasa%20dari%20Makna%20Sabda%20Nabi%20SAW%20-3%0D%0A%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%90%20%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D8%A9%D9%8F%20%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%91%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%85%D9%8F%20%3A%20%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%20%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%20%D8%AD%D9%90%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8B%20%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%20%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90%D9%87%D9%90%20%D8%AA%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%89%20%3A%20%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8F%20%D8%B9%D9%8E%D9" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/24/ibadah-puasa-adalah-pelaksanaan-%e2%80%9ctauhidul-qoshdi%e2%80%9d-hanya-satu-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa itu Perisai</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/23/puasa-itu-perisai/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/23/puasa-itu-perisai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 12:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/2009/08/23/puasa-itu-perisai/</guid>
		<description><![CDATA[Inti sebuah amal adalah niat atau sering disebut dengan kesadaran, dan keikhlasan. Innamal a&#8217;malu bi niah(al hadits). Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Puasa hendaknya bisa menjadi perisai buat mata, telinga, mulut, perut, pikiran atau akal atau imajinasi, tangan, kemaluan. Share :]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inti sebuah amal adalah niat atau sering disebut dengan kesadaran, dan keikhlasan.<br />
Innamal a&#8217;malu bi niah(al hadits).<br />
Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.<br />
Puasa hendaknya bisa menjadi perisai buat mata, telinga, mulut, perut, pikiran atau akal atau imajinasi, tangan, kemaluan.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F23%2Fpuasa-itu-perisai%2F&amp;t=Puasa%20itu%20Perisai" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Puasa%20itu%20Perisai%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F23%2Fpuasa-itu-perisai%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F23%2Fpuasa-itu-perisai%2F&amp;title=Puasa%20itu%20Perisai&amp;annotation=Inti%20sebuah%20amal%20adalah%20niat%20atau%20sering%20disebut%20dengan%20kesadaran%2C%20dan%20keikhlasan.%0D%0AInnamal%20a%27malu%20bi%20niah%28al%20hadits%29.%0D%0ASesungguhnya%20amal%20itu%20tergantung%20pada%20niatnya.%0D%0APuasa%20hendaknya%20bisa%20menjadi%20perisai%20buat%20mata%2C%20telinga%2C%20mulut%2C%20perut%2C%20pikiran%20ata" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F23%2Fpuasa-itu-perisai%2F&amp;title=Puasa%20itu%20Perisai&amp;bodytext=Inti%20sebuah%20amal%20adalah%20niat%20atau%20sering%20disebut%20dengan%20kesadaran%2C%20dan%20keikhlasan.%0D%0AInnamal%20a%27malu%20bi%20niah%28al%20hadits%29.%0D%0ASesungguhnya%20amal%20itu%20tergantung%20pada%20niatnya.%0D%0APuasa%20hendaknya%20bisa%20menjadi%20perisai%20buat%20mata%2C%20telinga%2C%20mulut%2C%20perut%2C%20pikiran%20ata" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/23/puasa-itu-perisai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Tingkat Puasa</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/tiga-tingkat-puasa/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/tiga-tingkat-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tadarus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Ulama’ membagi puasa menjadi tiga tingkat: Pertama : Puasanya orang umum (`awam) Kedua : Puasanya orang khusus (khawwas) Ketiga : Puasanya orang khususnya khusus (khawwas al-khawwas) Pertama: Puasanya orang umum (awam). Puasa orang awam ini adalah puasa yang dilakukan hanya dengan tujuan untuk menahan kemauan perut dan kelamin untuk mendatangi nafsu syahwat. Puasa yang dilakukan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulama’ membagi puasa menjadi tiga tingkat:<br />
Pertama : Puasanya orang umum (`awam)<br />
Kedua : Puasanya orang khusus (khawwas)<br />
Ketiga : Puasanya orang khususnya khusus (khawwas al-khawwas)</p>
<p>Pertama:<br />
Puasanya orang umum (awam). Puasa orang awam ini adalah puasa yang dilakukan hanya dengan tujuan untuk menahan kemauan perut dan kelamin untuk mendatangi nafsu syahwat. Puasa yang dilakukan sekedar mengerti bahwa dirinya saat itu sedang diwajibkan berpuasa namun tidak pernah mengerti, untuk apa puasa itu diwajibkan.</p>
<p>Inilah puasanya orang kebanyakan, hanya menjalankan kewajiban puasa itu secara syariat saja. Hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa tahu hikmah dan rahasia di balik kewajiban tersebut. Namun, meski demikian, asal ibadah puasa itu dapat dilaksanakan dengan dasar hati yang ikhlas dan tanpa dicampuri sifat-sifat yang dapat membatalkan pahala puasa, maka tetap saja akan mendapatkan pahala dari puasa yang dilakukan itu. Hanya saja barangkali sulit bisa menggapai “rahasia amal” sebagai buah ibadah yang disembunyikan di balik kewajiban tersebut. Rahasia amal itu, menurut istilah para Ulama’ Sufi disebut “Khususiyah”, dengan khususiah itu jiwa seorang hamba akan menjadi lebih matang, dewasa dan kharismatik.</p>
<p>Kedua:<br />
Puasanya orang khusus (khawwas) adalah puasanya orang-orang shaleh, yakni puasa dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat dan dosa. Mereka tidak hanya menahan kebutuhan perut dan kelamin saja, namun juga mata, telinga dan pikiran. Puasa pada tingkat ini hasilnya tidak bisa sempurna kecuali dengan membiasakan atau mendawamkan lima perkara:<br />
1) Menundukkan pandangan mata dari segala sesuatu yang dilarang agama.<br />
2) Menjaga lisan dari pembicaraan jelek, seperti membicarakan kejelekan orang lain, berbicara bohong, mengadu domba, dan melaksanakan sumpah bohong, sebagaimana yang telah ditegaskan Baginda Nabi SAW dari sahabat Anas RA :</p>
<h4 style="text-align: right;">خَمْسَةُ أَشْيَاءَ تُحِيْطُ الصَّوْمَ . أَىْ تُبْطِلُ ثَوَابَهُ . اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ اَلْغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ .</h4>
<p>“Lima perkara yang dapat membatalkan (pahala) puasa: berkata bohong, membicarakan kejelekan orang lain, mengadu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat”.</p>
<p>3) Menahan telinga dari mendengarkan apa-apa yang dilarang agama.<br />
4) Menahan seluruh anggota badan dari perbuatan yang makruh dan membatasi perut di saat berbuka dari rezeki yang syubhat. Hal itu harus dilakukan, karena yang dimaksud dengan puasa adalah menahan syahwat dari makanan halal, maka apalah artinya apabila puasa itu dibuka dengan rizki yang haram. Maka orang yang berbuka dengan rizki yang haram sama halnya dengan membangun istana tetapi dengan menghancurkan kota. Rasulullah SAW bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;">كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ ِصيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ .</h3>
<p>“Banyak dari orang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga&#8221;.<br />
5) Berbuka dengan tidak terlalu kenyang meski dengan rizki yang halal, hal itu dilakukan supaya perut tidak terlalu penuh dengan makanan. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:</p>
<h3 style="text-align: right;">مَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضَ إِلَى اللهِ مِنْ بَطْنٍ مُلِئَ مِنَ الْحَلاَلِ</h3>
<p>“Tidak ada lagi tempat yang paling tidak disukai oleh Allah selain perut yang selalu kenyang dengan halal”.</p>
<p>Puasa pada tingkat kedua ini banyak dilakukan oleh orang-orang ahli thoriqah, yaitu orang-orang yang telah mengerti tujuan amal ibadah yang sedang dikerjakan. Artinya dengan kewajiban puasa yang sedang dilakukan itu, di samping mereka mengharapkan pahala yang sudah dijanjikan, juga mengharapkan derajat tinggi di sisi Allah, yakni bagaimana mereka dapat mencintai dan dicintai-Nya. Mencintai (‘Asyiq) dalam arti mampu merasakan kenikmatan ibadah dan munajat, hal itu bisa terjadi, karena saat itu mereka merasa sedang dekat dengan yang dicintai. Sedangkan dicintai (Masyuq) artinya ridla kepada segala ketetapan dan takdir-Nya, itu disebabkan karena yang sedang berkehendak dengan segala ketetapan dan takdir itu adalah Dzat yang mencintainya.</p>
<p>Untuk tujuan yang sangat mulia tersebut, para khawwas itu menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan persiapan prima. Mereka memanfaatkan segala kesempatan hidup untuk dapat meningkatkan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah, bahkan terkadang untuk sementara waktu harus meninggalkan segala urusan duniawi Mereka melaksanakan kholwat (menyepi) di tempat yang sepi dan terpencil, terutama disaat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan telah tiba. Yang demikian itu mereka lakukan semata-mata karena mereka berharap mendapatkan hasil yang sempurna, karena tanpa usaha yang sempurna apa saja yang dikerjakan manusia hasilnya tidak akan menjadi sempurna.</p>
<p>Ketiga:<br />
Puasanya orang khususnya khusus (khawwas al-khawwas) ini adalah puasa hati. Yaitu bagaimana dengan puasa itu mereka dapat mengendalikan dan menahan perasaaan serta kecenderungan hati dari cita-cita duniawi, dan dari selain Allah. Orang yang berpuasa pada tingkat ketiga ini, apabila di dalam puasanya masih sempat berpikir urusan selain Allah, meski ingin masuk surga misalnya, yang demikian itu sudah cukup menjadikan sebab batalnya makna puasa tersebut. Inilah tingkat puasanya para Wali dan para Nabi. Puasa pada tingkat ini hakekatnya semata-mata hanya untuk menghadapkan wajah (wijhah) kepada Allah dan memalingkan diri dari selain-Nya. (Sebagian dikutip dari Durrotun Nasihin)</p>
<p>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=1298566904" target="_blank">Muhammad Luthfi Ghozal</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Ftiga-tingkat-puasa%2F&amp;t=Tiga%20Tingkat%20Puasa" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Tiga%20Tingkat%20Puasa%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Ftiga-tingkat-puasa%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Ftiga-tingkat-puasa%2F&amp;title=Tiga%20Tingkat%20Puasa&amp;annotation=Ulama%E2%80%99%20membagi%20puasa%20menjadi%20tiga%20tingkat%3A%0D%0APertama%20%3A%20Puasanya%20orang%20umum%20%28%60awam%29%0D%0AKedua%20%3A%20Puasanya%20orang%20khusus%20%28khawwas%29%0D%0AKetiga%20%3A%20Puasanya%20orang%20khususnya%20khusus%20%28khawwas%20al-khawwas%29%0D%0A%0D%0APertama%3A%0D%0APuasanya%20orang%20umum%20%28awam%29.%20Puasa%20orang%20awam%20ini%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Ftiga-tingkat-puasa%2F&amp;title=Tiga%20Tingkat%20Puasa&amp;bodytext=Ulama%E2%80%99%20membagi%20puasa%20menjadi%20tiga%20tingkat%3A%0D%0APertama%20%3A%20Puasanya%20orang%20umum%20%28%60awam%29%0D%0AKedua%20%3A%20Puasanya%20orang%20khusus%20%28khawwas%29%0D%0AKetiga%20%3A%20Puasanya%20orang%20khususnya%20khusus%20%28khawwas%20al-khawwas%29%0D%0A%0D%0APertama%3A%0D%0APuasanya%20orang%20umum%20%28awam%29.%20Puasa%20orang%20awam%20ini%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/tiga-tingkat-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Khusus Di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/keutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/keutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tadarus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Dari Salman RA. Rasulullah SAW telah berkhutbah kepada kita pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban, Beliau bersabda: “Hai manusia, sungguh telah membayangi di belakang kalian, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan di mana di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai ibadah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Salman RA. Rasulullah SAW telah berkhutbah kepada kita pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban, Beliau bersabda: “Hai manusia, sungguh telah membayangi di belakang kalian, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan di mana di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai ibadah wajib, dan shalat malam sebagai ibadah tambahan (sunah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebajikan atau melaksanakan ibadah-ibadah wajib, maka dia seperti melaksanakan tujuh puluh ibadah wajib di luar bulan itu.&#8221;</p>
<p>Bulan itu adalah bulan sabar. Pahalanya adalah surga dan bulan penuh keluasan serta bulan di mana rezeki orang-orang beriman menjadi bertambah. Barangsiapa pada bulan itu memberikan buka puasa, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dibebaskan dari api neraka serta mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang ia beri makanan untuk buka puasanya itu tanpa dikurangi sedikitpun.</p>
<p>Para sahabat bertanya: ”Kalau kami tidak mempunyai apa-apa yang bisa kami berikan untuk berbuka bagi orang yang puasa?” Rasulullah SAW menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan buka bagi orang yang berpuasa dengan sebiji kurma atau air minum ataupun seteguk susu”.<br />
وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ</p>
<p>“Ia adalah bulan, awalnya adalah rahmat, dan pertengahannya adalah pengampunan dan akhirnya adalah kebebasan dari neraka”.</p>
<p>Perbanyaklah dengan mengerjakan empat amal kebajikan di dalamnya, yang dua akan menjadikan sebab Tuhanmu ridla kepadamu dan yang dua lagi, kamu tidak akan dapat mencukupinya sendiri bagimu. Adapun dua hal yang akan menjadikan sebab Tuhanmu ridla kepadamu adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan permohonan ampunanmu kepada-Nya. Sedangkan yang dua yang kamu tidak dapat mencukupi sendiri darinya, adalah permintaanmu kepada Allah akan surga dan permohonan perlindunganmu kepada Allah dari neraka. (Syekh Abdul Qodir al-Jilany, Al-Ghunyah; 2/6)</p>
<p>Dari Abi Said Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ وَأَبْوَابَ السَّمَآءِ لَتُفْتَحُ لأَِوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ, وَلاَ تُغْلَقُ إِلَى آَخِرِ لَيْلَةٍ مِنْهُ , لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ أَوْ أَمَّةٍ يُصَلّىِ فِي لَيْلَةٍ مِنْهُ إِلاَّ كَتَبَ اَللهُ لَهُ بِكُلِّ سَجْدَةٍ أَلْفًا وَسَبْعَمِائَةٍ حَسَنَةَ .</p>
<p>“Sungguh beberapa pintu surga dan beberapa pintu langit benar-benar dibuka pada awal malam dari bulan Ramadhan dan tidak ditutup sampai akhir dari malamnya, tidak ada dari seorang hamba atau umat yang mendirikan shalat pada malam dari malam-malamnya, kecuali ditetapkan oleh Allah baginya, setiap sekali sujud dengan 1700 kebaikan”.</p>
<p>Dari Abu Hurairah RA berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:<br />
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِدَتْ الشَّيَاطِيْنُ</p>
<p>“Apabila bulan Ramadhan telah datang, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”<br />
Allah SWT yang menolong kepada agama-Nya, Allah yang memuliakan para Auliya’-Nya dan menolong mereka, sejak zaman azali sampai zaman kejadiannya. “Bukan kalian yang menghendaki kecuali apabila Allah yang menghendaki, Tuhan semesta alam” (QS. 81/29). Bukan manusia yang mengadakan Ramadhan, bukan manusia yang merencanakannya, bukan manusia yang mendatangkannya, akan tetapi pada saat itu Allah dengan segala Keagungan dan Rahmat-Nya sedang “punya kerja”. Orang-orang yang beriman diundang untuk menghadirinya, jamuannya adalah puasa, tarawih, tadarus dan shadaqah serta ibadah-ibadah yang lainnya.</p>
<p>Setiap tamu yang hadir boleh bebas sesuka hati menyantap hidangan-hidangan tersebut, sekehendak hati dan sekemampuan mereka. Yang dapat menghabiskan banyak akan mendapatkan pahala yang banyak pula, bahkan ditawarkan bonus baginya yaitu malam lebih baik dari seribu bulan. Demikian juga, di akhir perhelatan itu, bagi yang telah mengikuti segala acara dengan sempurna akan mendapatkan tambahan bonus lagi, yaitu tiket kebebasan dari belenggu dosa dan belenggu kesalahan yang selanjutnya akan dibebaskan dari api neraka.</p>
<p>Seandainya Allah tidak mengadakan Ramadhan, seandainya tidak ada puasa dan tarawih serta tadarus, tidak ada zakat fitrah dan shadaqah, sehingga tidak ada malam Qadr, barangkali agama Islam sekarang hanya tinggal namanya saja, tinggal ilmu pengetahuan dan hukum–hukumnya saja, atau bahkan tinggal peninggalan dan tapak tilas perjalanan pengikut–pengikutnya yang dilupakan orang dan tidak ada lagi manusia yang mampu menjalani syari’at-syari’atnya.</p>
<p>Dengan Ramadhan itu Allah berkehendak mendidik dan mentarbiyah hamba-hamba-Nya dengan mengadakan sarana latihan selama satu bulan penuh. Mewajibkan puasa pada siang harinya dan menganjurkan bertarawih dan bertadarus di malam harinya, serta diberikan taufiq dan pertolongan supaya mereka kuat dan mudah dalam menjalaninya. Hasil yang diharapkan dari itu, supaya manusia menjadi orang yang bertakwa. Artinya, secara individu supaya manusia menjadi kuat, baik jasmani maupun ruhani dan secara komunitas, supaya mereka mampu menciptakan syi’ar sebagai tanda-tanda akan kebesaran dan kekuasaan Allah.</p>
<p>Dalam sebuah haditsnya yang sangat masyhur Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka dosa–dosanya yang telah lewat akan diampuni.” Maksudnya, ketika puasa Ramadhan itu sudah dilaksanakan dengan baik sehingga dosa-dosa seorang hamba sudah diampuni, maka manusia akan kembali bersih dan suci sebagaimana fitrahnya. Saat itulah, ketika di dalam hati yang sudah bersih dan suci itu kemudian dimasukkan benih–benih takwa yang baru sebagai buah puasa yang dijanjikan, maka manusia bersemangat untuk memulai hidup barunya di alam yang baru.</p>
<p>Seperti tanah yang baru dibajak kemudian mendapatkan guyuran air hujan, meski tanpa disebari bibit, seketika tanah itu akan menjadi hijau. Terlebih apabila tanah itu kemudian ditanami bibit yang unggul, maka tanah itu akan menjadi semakin produktif. Demikian pula hati orang-orang beriman, sejak tanggal pertama di bulan Syawal, seharusnya di dalamnya segera tumbuh semangat baru. Terlebih ketika mereka kemudian mampu memasukkan ilmu yang baik dan bergaul dengan lingkungan yang baik pula, maka perubahan baik itu tentunya akan mampu membuahkan kebaikan. Selanjutnya supaya masa mendatang semangat itu dapat tumbuh lebih kuat dan lebih kokoh lagi, terutama dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan yang ada dalam kehidupan. Yaitu dengan Ramadhan itu supaya manusia mampu menatap hidupnya ke depan dengan pandangan yang cemerlang, penuh yakin dan percaya diri, bahwa seperti selama sebulan penuh ini mereka telah mendapat pertolongan dari Tuhannya, sehingga mampu melaksanakan kewajiban puasa, maka sebesar apapun rintangan dan halangan yang akan dihadapi mendatang, hatinya tetap yakin bahwa pertolongan dan rahmat Allah pasti akan lebih besar pula baginya. Marhaban Ya Ramadhan, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN</p>
<p>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=1298566904" target="_blank">Muhammad Luthfi Ghozal</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Fkeutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan%2F&amp;t=Keutamaan%20Khusus%20Di%20Bulan%20Ramadhan" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Keutamaan%20Khusus%20Di%20Bulan%20Ramadhan%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Fkeutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Fkeutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan%2F&amp;title=Keutamaan%20Khusus%20Di%20Bulan%20Ramadhan&amp;annotation=Dari%20Salman%20RA.%20Rasulullah%20SAW%20telah%20berkhutbah%20kepada%20kita%20pada%20suatu%20hari%20di%20akhir%20bulan%20Sya%E2%80%99ban%2C%20Beliau%20bersabda%3A%20%E2%80%9CHai%20manusia%2C%20sungguh%20telah%20membayangi%20di%20belakang%20kalian%2C%20bulan%20yang%20agung%2C%20bulan%20yang%20penuh%20berkah%2C%20bulan%20di%20mana%20di%20dalamnya%20a" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F08%2F21%2Fkeutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan%2F&amp;title=Keutamaan%20Khusus%20Di%20Bulan%20Ramadhan&amp;bodytext=Dari%20Salman%20RA.%20Rasulullah%20SAW%20telah%20berkhutbah%20kepada%20kita%20pada%20suatu%20hari%20di%20akhir%20bulan%20Sya%E2%80%99ban%2C%20Beliau%20bersabda%3A%20%E2%80%9CHai%20manusia%2C%20sungguh%20telah%20membayangi%20di%20belakang%20kalian%2C%20bulan%20yang%20agung%2C%20bulan%20yang%20penuh%20berkah%2C%20bulan%20di%20mana%20di%20dalamnya%20a" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/08/21/keutamaan-khusus-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
