<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menitih Harapan Menuju Cahaya &#187; Catatan</title>
	<atom:link href="http://blog.sangsurya.com/category/catatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sangsurya.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jul 2010 15:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>PROTOKOL ALA NU</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=protokol-ala-nu</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 02:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi. Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">SUNGGUH SUNGGUH TERJADI itulah salah satu rubrik di harian Kedaulatan rakyat,sebagai redaktur senior di harian ini, maka faham sekali tentang sungguh terjadi yang mencantumkan tulisan lucu dan langka sekaligus bernuansa aneh, tetapi sungguh sungguh terjadi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya sesungguhnya tidak sengaja datang ke kantor PBNU, karena hanya ingin ngobrol dengan KH Said Aqil Siroj (Prof DR) saja membuatku melenggang di jalan kramat bersama KH Soleh Asri pengajar Tafsir Jaalalain di Masjid Istiqlal. Tetapi saya sering meledek kyai Soleh sang pengajar tafsir jalan lain. Eh ternyata di PBNU ada acara malam ta&#8217;aruf.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Lho bukankah rencannya malam ta&#8217;aruf diadakan di Istiqlal tanggal 6 Mei mendatang</em>, tanyaku pada anak anak banser yang lalu lalang.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Mboten kok gus ndalu niki, monggo dalem dereke, ke gedung sebelah</em>.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ternyata di dalam gedung pertemuan Pegadaian jalan kramat itu sudah penuh. Saya sibuk ngelayani salaman saja,  sambil haha hihi,  sekali sekali berpose difoto, biasa anak-anak kalau ketemu kiyai begitu. Saya kebagian di depan baris kedua, bersama dengan KH Musthofa Aqil Siroj, adik bungsu Prof Said Aqil Siroj, dia memang sahabatku sejak lama. Ada dibarisan yang sama Dirjen Pembinaan Masyarakat, Depag .Prof Dr Umar dan pejabat pejabat. Di barisan depan adalah Dewonya NU, bangsa Mbah Sahal Mahfud, kemudian Mbah Gus Mus, mbah Dimyati Rois, mbah Idris dan Mbah Masduki sidoharjo.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Namun kursi kursi di depan itu sungguh bukan tempat yang pas. Karena kursi mbah Sahal seharusnya tepat di depan saya, demikian pula Yeni yang diundang mewakili Gus Dur, duduk dibelakang, padahal menurut daftar kursinya duduk di samping KH Said Aqil siroj, dan banyak lagi yang tidak pas.</div>
<div id="_mcePaste">Taufik Kiemas ketua MPR entah duduk dimana. Dan karena sudah biasa begitu, maka melihat Prof Mubarok mewakili partai demokrat bingung, demikian pula Akbar tanjung, maka nyeletuklah wagub Jatim yang ketua Ansor pusat syaifullah Yusuf, &#8220;<em>ya gitulah Priotokol NU</em>&#8221; tetapi mereka mengalir kok nanti kan ketemu tempatnya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Maka protokol NU itu jadi bukan berdasarkan pangkat dan kedudukannya. Tetapi berdasarkan tingkat usia, dan ketinggian ilmu serta maqom nya. Setinggi apapun pangkatnya kalau sudah masuk Sarang dan Singgasana NU dia akan tunduk dengan ketentuan peradatan NU. Sehingga malam itu seharusnya Dik Faisal Helmy atau Gus Faizal yang seharusnya menjadi fokus bersama Taufik Kiemas, sama sekali tidak memperoleh hak nya. Karena semua mata tertuju kepada Mbah Sahal dan Gus Mus, serta Kang Said. Menteri sama sekali tidak masuk hitungan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dan semakin aneh penampilan semakin laris, sehingga banyak yang minta foto minta di doani. Opo tumon wong acara taarufan kok tiba tiba ada fatayat mendekat, bah saya pingin di foto dan diodoakin agar anak yang dalam kandungan saya ini sehat. Setelah di doain saya bilang beri nama Omar Mohtar ya. Lho kok laki laki bah saya inginya perempuan kok. hahaha.</div>
<div id="_mcePaste">Singkat sekali.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Setelah ditunggu akhirnya menyanyikan lagu Indonesia raya dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan qur&#8217;an, alah seperti kebiasaan NU kampunglah. Kemudian tiba taaruf, maka oleh protokol dipanggili semua satu persatu, aneh ketika mbah sahal belum bangkit dari kursi,tidak ada satu orangpun yang bangkit., saya menahan geli melihat kebingungan kang As Aad, waka BIN yang baru pertama kali menjadi pengurus NU. Dia Sih (maksudnya As &#8216;ad) sebenatnya anak kiyai dan masih keponakan simbah Kyai Sahal, tetapi sudah lama meninggalkan ke NU an, karena menjadi atase di Arab sana, kemudian menjadi wakill BIN di tiga ketua. Mulai dari Zaman Kabakin /Ka Bin Letjen Ari Kumaat, sampai Hendro Priyono dan terakhir Samsir Siregar dan sekarang entah siapa yang menjabat saya malah kurang tahu. Karena tidak mengenalkan diri di pesantrenku hahahahahaha</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Nah setelah mbah Sahal Jengkar, semua baru berdiri. Sudah komplitlah diatas panggung, biasanaya di bacakan tata tertib dan SK dan sebagainya, kemudian di bacakan sumpah dan janji serta tetek bengeknya. Malam ini pelantikan PBNU sungguh berbeda. Setelah semua lengkap, maka Mbah Sahal hanya mengucapkan <strong>&#8220;<em>Bismilahirrohman nirohim</em></strong><em>; </em><strong><em>Ruditubillahir Robba</em>&#8220;</strong>.</div>
<div id="_mcePaste">Sesudah mengucapkan itu terus diam, yang di sumpah masih menunggu kelanjutan ucapan mbah sahal. Mereka beranggapan mbah sahal mengambil nafas dulu atau memang harus ada jeda, karena setiap kiyai memang memiliki cara cara sendiri, dan santri jangan harap boleh merubah atau usulkan perubahan hahaha.</div>
<div></div>
<div>Ternyata melihat yang dipanggung diam saja tidak pada minta salim mbah Sahal, mbah sahal mengatakan. Sudah semua sudah di ridloi Allah,sudah cukup turun semua sudah dianggap sah. Sontak hadirin dan yang di panggung meledak tawanya membahana. Hahahahahahahaha ini mbah sahal betul betul kramat guyonnya. Sudah pelantikannya di jalan Kramat, yang nglantik kramat dan ucapan pelantikannya kramat juga cukup sak rekaat &#8220;Roditubillahir Robba&#8221; Itu kalimat paling kramat, sesudah ada ucapan ridlo Allah, ya jangan diatambahi ucapan manusia yang lain, tidak kelas dan beda maqom sekaligus mengotori keridloan Allah, meskipun kalimat kalimat sumpah itu bagus bagus dan ndakik ndakik tapi gak ada apa apanya dibandingkan dengan Rodlitubillahir Robba &#8230;&#8230; nggih mbah. Maka yang diatas terus turun panggung, dan sambil ngrundel wah wah, mbah sahal ini sudah sepuh masih nyentrik juga.</div>
<div></div>
<div>Gus Mus tidak kalah menarik perhataian, kolumnis dan penyair teman seangkatan sekamar gus Dur ini, biasanya juga nyelelek, malam ini diaduk aduk oleh perasaan khusus, dan berdoa sembari menangis. Kontan setelah di buat geli oleh mbah sahal, langsung cepp khusuk dalam lautan doa asma&#8217;ul khusna Gus Mus.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dalam drama atau senetron atau teater itu sangat tidak mungkin, karena membangun suasan lucu, kemudian dibalik menjadi anti klimat nangis dan khusuk sangatlah susah. Tetapi ini NU bung, semua bisa mbolak mbalik tanpa ada kewaguan atau ketidak pas san, mengalir. Ya Allah Jadikan negeri ini makmur dan damai, tentram dan mensejahterakan rakyatnya lewat NU&#8230;&#8230;..amin.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">GNA/Gus Nuril Arifin.</div>
<div id="_mcePaste">DR.KH Nuril Arifin HSN.MBA</div>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;t=PROTOKOL%20ALA%20NU" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=PROTOKOL%20ALA%20NU%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;annotation=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F05%2F15%2Fprotokol-ala-nu%2F&amp;title=PROTOKOL%20ALA%20NU&amp;bodytext=SUNGGUH%20SUNGGUH%20TERJADI%20itulah%20salah%20satu%20rubrik%20di%20harian%20Kedaulatan%20rakyat%2Csebagai%20redaktur%20senior%20di%20harian%20ini%2C%20maka%20faham%20sekali%20tentang%20sungguh%20terjadi%20yang%20mencantumkan%20tulisan%20lucu%20dan%20langka%20sekaligus%20bernuansa%20aneh%2C%20tetapi%20sungguh%20sungguh%20t" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/05/15/protokol-ala-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Disayang, Diampuni atau Dimurkai</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms hikmah tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus. Fazdakkir innafa’ati dzikro. Ibadah sholat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari jumuah terkenal dengan kepala hari, atau bisa dibilang hari rayanya hari dalam satu minggu, sampai-sampai ada yang memberikan sms <em>hikmah</em> tiap hari jumuah secara bergiliran kepada sahabatnya, kemudian sahabatnya me-forword kesahabat yang lain, sampai penerima sms yang terakhir dikirim kepada pengirim petama, yang menandakan mata rantai persahabatan tidak putus.</p>
<p><em>Fazdakkir innafa’ati dzikro.</em></p>
<p>Ibadah sholat merupakan ibadah terpenting bagi umat Islam, atau bisa dikatakan ia adalah kunci dari semua <strong><em>ilmu</em></strong> dan <strong><em>amal</em></strong> yang bisa dijadikan barometer <em>bagi diri masing-masing</em>. Jikalau sholat diawal waktu, itu menandakan kasih sayang Tuhan kepada hambanya, dan setelah itu adalah ampunan sampai akhir waktu yang telah ditentukan, dan yang melewati batas waktu sholat tentunya akan dimurkai.</p>
<p>Terserah kita pilih yang mana, Disayang, Diampuni atau Dimurkai?</p>
<p>Demikian juga tingkatan tertinggi manusia adalah <em>tawadlu’</em> dan <em>tawakkal</em> bukan <em>takabbur</em>. Kedua kata diatas berasal dari <em>wadlo’a</em> yang artinya meletakkan yang kemudian diartikan pasrah dan <em>wakala</em> yang artinya mewakilkan atau menyerahkan semua perkara secara penuh kepada yang mewakili.</p>
<p>Demikian lah orang yang sholat diawal waktu, dia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa semua urusan telah diwakilkan kepada Allah kembali dan dia menghadap kepada Yang Maha Besar (Allahu Akbar) dalam shalatnya.  Sebagaimana aku tahu bahwa semua perkara itu kecil dibandingkan dengan keAgungan Tuhan, tapi justru perkara lain itu nampak begitu besar melabihi ke Akbar – an Tuhan. Bagaikan pelupuk mata yang kecil, menutupi pandangan terhadap hamparan lautan yang luas. Itu karena kebodohanku, rabunya mata hatiku dan ketidakyakinanku bahwa sesuatu yang ku wakilkan kepada Tuhan akan lebih baik, padahal aku tahu Tuhan adalah sebaik-baik wakil.</p>
<p><em>Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir</em></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;t=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;annotation=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F02%2F19%2Fmemilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai%2F&amp;title=Memilih%20Disayang%2C%20Diampuni%20atau%20Dimurkai&amp;bodytext=Hari%20jumuah%20terkenal%20dengan%20kepala%20hari%2C%20atau%20bisa%20dibilang%20hari%20rayanya%20hari%20dalam%20satu%20minggu%2C%20sampai-sampai%20ada%20yang%20memberikan%20sms%20hikmah%20tiap%20hari%20jumuah%20secara%20bergiliran%20kepada%20sahabatnya%2C%20kemudian%20sahabatnya%20me-forword%20kesahabat%20yang%20lain%2C%20sa" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/02/19/memilih-disayang-diampuni-atau-dimurkai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Kampus Pasca Mataram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=dawah-kampus-pasca-mataram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Da&#8217;wah di kampus merupakan sebuah fenomena mengesankan. Kampus sebagai lapisan masyarakat tersendiri, adalah agen penting dari pertumbuhan hari depan bangsa. Namun, tak dapat diabaikan pula tumbuhnya lembaga da&#8217;wah di luar kampus, yang formatnya sudah bukan tradisi lagi. Di Yogyakarta, misalnya, ada angkatan muda masjid yang begitu gairah mengaji Islam. Dengan demikian, da&#8217;wah di kampus, tumbuh dan berkembang seiring dengan da&#8217;wah di luar kampus. Kenyataan ini, sekali lagi membuktikan, bahwa Islam tidak dapat ditekan dan dilenyapkan dalam keadaan sulit macam apapun.</p>
<p><strong>Dinasti Mataram<br />
</strong>Jika diamati, ada kaitan erat antara perkembangan historis Ummat Islam dengan dunia perpolitikan Indonesia. Sejak keruntuhan Majapahit dan dimulainya kekuasaan Mataram, hingga saat ini, kasusnya sama saja. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki inti kekuasaan Jawa. Mereka mencoba merangkui Islam sebagai bagian dari Jawa, tapi dengan syarat, kebudayaan Islam yang murni harus diblokade sedemikian rupa sampai batas tertentu. Boleh salat, puasa dan seterusnya. Bila mengganggu kekuasaan jawa, Islam akan dihapus.</p>
<p>Pada zaman Mataram, sebagai misal, Islam tidak dilawan secara frontal. Namun justru dijadikan bagian dari kekuasan dinastik dengan kondisi kebudayaan Islam yang mandeg. Meskipun da&#8217;wah dewasa itu cukup berkembang, tapi sejarah tak bisa melupakan tragedi pembunuhan terhadap para ulama dan kiai pada zaman Amangkurat II.</p>
<p>Saat ini keadaannya tidak banyak berbeda. Meski formatnya lain, substansinya tetap sama. Artinya, secara politis, ideologis dan kultural, terdapat usaha-usaha yang ingin menghentikan pertumbuhan Islam. Bahkan ada kelompok yang bersikeras: Islam harus mandul di bumi Indonesia.</p>
<p>Islam dalam sejarah Indonesia, selalu dipakai pemberontak untuk merebut kekuasaan. Bila pemberontakan telah berhasil, maka Islam ditekan. Pada giliran berikutnya, Islam kembali dipakai pemberontak baru untuk merebut kekuasaan baru. Bila pemberontak yang ini berkuasa, maka Islam kembali ditekan dan dicampakkan. Demikian seterusnya, daur pemberontakan menjadi arus sejarah yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Penjelasan tersebut sesungguhnya diperlukan untuk memberikan latar belakang bagi pertumbuhan Islam yang begitu pesat saat ini. Fenomena da&#8217;wah di kampus atau gerak jilbabisasi, sesungguhnya tidak dikehendaki oleh gelombang kekuasaan&#8221;. namun mengapa .semua itu justru berkembang? Alasannya-sederhana. Justru ketika sekelompok manusia merasa ditekan, merasa menjadi pinggiran dan merasa akan musnah, maka tumbuh dan berkembanglah sebentuk kesadaran untuk mempertahankan eksistensinya .</p>
<p><strong>Dewa Pemikiran</strong><br />
Selama ini, arena da&#8217;wah disemaraki dengan tema-tema pembaharuan atau pertumbuhan pemikiran Islam. Artinya, ada usaha mempelajari Qur&#8217;an dan Sunnah kembali. Hal ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang khas dalam sistem politik, ekonomi dan kebudayaan yang menganut garis kanan, seperti Indonesia. Dalam rumusan politik internasional, pada keadaan seperti sekarang akan tampil dua alternatif: gerakan kiri atau gerakan Islam militan. Bila di negeri Syi&#8217;ah bisa berkembang, maka radikalisme agama akan bangkit dengan mudahnya. Gerakan kiri dalam waktu 5-10 tahun belakangan ini, juga tumbuh pesat, waIau tidak memilki kekuatan yang pasti.</p>
<p>Keadaan seperti sekarang sebagian dari mekanisme sosial, kultur politik dan kekuatan ekonomi menghendaki jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian; apa yang harus diperbuat? Ada kelompok yang mencoba mencari jawaban Marxis. Tapi kita mencari jawaban dari Islam. Kita pelajari kembali Islam sebagai filsafat, tata nilai dan sistem kehidupan. Kita buka kembali Qur&#8217;an dan Sunnah untuk merumuskan keadaan.</p>
<p>Buku-buku tentang Islam terbit secara membludak. 0leh karena, begitu banyaknya buku-buku yang dipelajari, kita menjadi pintar mendadak. Namun, sebenarnya kita &#8220;bodoh&#8221;. Dalam arti, kita mengenali informasi tentang realitas Islam yang beraneka ragam melalui kata-kata dan pernyataan-pernyataan verbal. Padahal, akan berbeda, jika kita melihat dan memahami realitas itu melalui pengalaman nyata. Umpamanya, kita mengenal kemiskinan struktural atau kemiskinan kultural. Kita begitu fasih berbicara tentang problema kemiskinan dalam berbagai seminar dan diskusi, tetapi, kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang siapa itu orang miskin dan bagaimana persisnya keadaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Islam kehilangan keramatnya sebagai pembebas kaum dhu&#8217;afa.</p>
<p>Ummat Islam Indonesia makin hari makin disibukkan oleh pembahasan pemikiran Islam yang kadang-kadang terlalu &#8220;Tinggi&#8221; tapi kadang-kadang juga terlalu &#8220;Sepele&#8221;. Dalam konteks tersebut, kita perlu memegang suatu prinsip. Dalam Figh aturan keagamaan yang formal kita perlu panutan yang luas, Namun dalam Syari&#8217;at &#8211; aturan yang luas meliputi ibadah muamalah, termasuk &#8220;Dak&#8217;wah sosial&#8221;, &#8220;puasa sosial&#8221;,puasa struktur&#8221; dan seterusnya kita tidak perlu mencari &#8220;dewa pemikiran &#8220;. Artinya kita tidak perlu menggabungkan diri dalam satu panutan.</p>
<p>Kita harus bersikap kritis terhadap diri kita, kakak-kakak kita dan bapak-bapak kita. Terhadap Gus Dur, Cak Nur, atau Cak Menteri Agama, kita tak boleh kehilangan sikap kritis. Kita harus kritis terhadap mereka, para pakar yang terlalu yakin menjamin kebenaran yang hendak kita can. Sikap kritis itu berguna. Agar kita sungguh-sungguh menjadi pemimpin bagi kita sendiri. Agar kita tidak terperangkap dalam perkara yang kita sendiri tidak mengerti ujung pangkalnya. Dengan demikian, kita tidak taqlid kepada orang yang tidak pantas untuk ditaqlidi.</p>
<p><strong>Berhitung Secara Politis</strong><br />
Dalam gerakan da&#8217;wah, terdapat dua dimensi. Yakni, dimensi intelektual dan dimensi politis-stategis. Kedua dimensi tersebut perlu dibedakan. Selama ini, kita terlalu mengkonsentrasikan diri pada dimensi intelektual. Kita terlalu sering terpaku untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dianggap politis-strategis dalam rangka intelektual. Misalnya, pertanyaan bahwa di dalam Islam tidak ada konsep kenegaraan. Mengapa hanya &#8220;negara Islam&#8221; saja yang ditolak, sedang &#8220;negara nasional&#8221; tidak? Secara intelektual itu tidak obyektif.</p>
<p>Da&#8217;wah di kampus perlu dirumuskan secara jelas. Apakah akan digunakan untuk mencari kebenaran obyektif dalam rangka ilmu atau mencari kebenaran sejarah dalam kerangka politis. Dalam hal ini, kita bisa terjebak. Karena sesungguhnya kita tidak hanya melakukan studi-studi Islam yang steril, namun juga sedang melakukan perjalanan proses gerakan sejarah, sebuah gerakan kebudayaan baru, kebudayaan agama namanya.</p>
<p>Gerakan tersebut juga dapat disebut gerakan sosial, karena merupakan mekanisme baru dalam dinamika sosial. Juga dapat dikategorikan gerakan politis, karena pertumbuIan gerakan kebudayaan baru. Maaf, kita tidak sedang nendiskusikan da&#8217;wah dalam kerangka politik praktis. Biar bagaimanapun, tetap saja diperlukan untuk memperhatikan dimensi-dimensi politik dalam aktivitas da&#8217;wah, termasuk dalam lembaga da&#8217;wah kampus. Gerakan da&#8217;wah di kampus tidak dapat dihentikan jika kita sendiri mengetahui dosis yang tepat untuk memfungsikannya.</p>
<p>Dalam rangka menemukan dan memahami seberapa dosis yang tepat itu, kita perlu memperhatikan blokade-blokade yang menghadang. Blokade tersebut mungkin tidak hanya berasal dari lapisan kekuasaan yang ada namun justru dari struktur di dalam kepemimpinan ummat Islam.</p>
<p>Dalam &#8220;organisasi ummat&#8221; yakni suatu bayangan tentang bangunan masyarakat Islam di Indonesia terdapat lapis massa, lapis elit, dan lapis di antara keduanya. Pelapisan memiliki varian-variannya sendiri.<br />
Orang-orang muda di kampus termasuk lapis tengah yang masih magnetis terhadap ummat dan sekaligus juga bergaul dengan elit di atas, sesungguhnya kebangkitan Islam yang sedang berlangsung, tercermin dalam lapis bawah dan menengah. Bukan lapisan atas. Sedangkan gairah ummat untuk mempelajari Islam kembali adalah suatu hal vang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sementara, mahasiswa yang belum terikat secara sosial-ekonomi, atau politis, masih memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Namun bila sudah bekerja, menikah, dan mapan dalam struktur kekuasaan, maka para mahasiswa itu akan berbenturan dengan idealis yang digembar-gemborkannya.</p>
<p>Khalayak mahasiswa yang sedang bergerak naik ke atas akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang over dosis atau dosis tinggi, yakni mereka yang akan segera berbenturan dengan struktur atas sehingga akan diamankan atau dilenyapkan. Kedua, kelompok yang menguap dalam arti tidak menjadi apa-apa, mujahid bukan dajjal pun bukan. Ketiga, kelompok yang kompromistis yang akan mengingkari segala sesuatu yang telah digembar-gemborkannya di masjid kampus. Akan masuk kemanakah kita nanti?</p>
<p><strong>Tema Pemikiran Yang Aneh</strong><br />
Para mahasiswa diijinkan untuk berbicara tentang tema-tema Islam struktural seperti ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya. Namun ketika pemikiran tersebut dibawa ke lapis atas, situasi jadi macet. Karena lapis elit telah terikat pada struktur dan menjadi bagian dari sistem yang mapan. Keadaan macam ini mungkin akan terulang; apabila mahasiswa nanti menjadi bagian dari lapis atas atau partner kekuasaan yang ada. Pemikiran Islamnya akan tersaring menuju tema-tema tertentu yang tidak penting dengan keadaan ummat, seperti tema-tema : &#8220;sekularisasi, Laailaaha ullaha&#8221;, &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; dan lain-lain. Tema-tema tersebut mungkin relevan jika dipaksakan. Tapi, jelas tidak urgen skala prioritasnya jadi aneh.<br />
Saya terus terang khawatir, jangan-jangan apa yang sedang hangat diperdebatkan saat ini benar-benar tidak bisa dimengerti oleh ummat. Memang ada pakar yang dengan sombong berkata, bahwa dia sedang bicara di kalangan akademis. Namun, siapa yang bisa menghilangkan eksistensi ummat. Hal semacam ini mungkin disebabkan, karena lapis atas atau elit muslim Indonesia secara relatif telah menjadi bagian dari kekuasaan yang besar.</p>
<p>Sesungguhnya mahasiswa dapat menjadi penjelajah untuk menghubungkan lapis atas dengan lapis bawah. Mahasiswa diharapkan mampu mengisi kekosongan dengan menjelaskan maksud kelompok elit kepada ummat. Dan pada saat yang sama menyampaikan aspirasi umat kepada lapis atas. Jika saling pengertian dan pemahaman telah terjalin, maka kita akan mampu mendorong ummat ke arah tujuan yang dikehendaki bersama.(selesai)</p>
<p>Surabaya, 28 Januari 1988<br />
Ceramah di Forum Silaturahmi Lembaga Da&#8217;wah Kampus se-Jawa. Di masjid Universitas Airlangga Surabaya.<br />
(Emha Ainun Nadjib/ &#8220;Nasionalisme Muhammad&#8221; &#8211; Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;t=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;annotation=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F20%2Fdawah-kampus-pasca-mataram%2F&amp;title=Da%27wah%20Kampus%20Pasca%20Mataram&amp;bodytext=Da%27wah%20di%20kampus%20merupakan%20sebuah%20fenomena%20mengesankan.%20Kampus%20sebagai%20lapisan%20masyarakat%20tersendiri%2C%20adalah%20agen%20penting%20dari%20pertumbuhan%20hari%20depan%20bangsa.%20Namun%2C%20tak%20dapat%20diabaikan%20pula%20tumbuhnya%20lembaga%20da%27wah%20di%20luar%20kampus%2C%20yang%20formatnya%20suda" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/20/dawah-kampus-pasca-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja Kala Sekularisme</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=senja-kala-sekularisme</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 06:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Komaruddin Hidayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang. You don’t need God for a war, demikian John Micklethwait, pemimpin redaksi majalah The Economist, bersama Adrian Wooldridge seorang kolumnis, dalam karyanya God is Back. Buku setebal 405 halaman ini menyajikan fakta sosial seputar kebangkitan keyakinan agama yang meramaikan panggung politik global di awal abad ini. Jika Anda naik]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang. You don’t need God for a war, demikian John Micklethwait, pemimpin redaksi majalah The Economist, bersama Adrian Wooldridge seorang kolumnis, dalam karyanya God is Back. Buku setebal 405 halaman ini menyajikan fakta sosial seputar kebangkitan keyakinan agama yang meramaikan panggung politik global di awal abad ini.</p>
<p>Jika Anda naik pesawat terbang dan mendarat di Bandar Udara Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, Anda akan disambut tulisan selamat datang: Music City, USA. Menurut Micklethwait, mestinya ditambah lagi dengan papan nama: Faith City, atau Jesus City, bahkan lebih mengena: Southern Baptist City, mengingat di kota ini terdapat sedikitnya 700 gereja, 65 persen penduduknya mengaku religius. Nashville juga dikenal sebagai kota produsen buku-buku dan kaset keagamaan yang diekspor ke seluruh dunia. Banyak penyanyi papan atas melakukan rekaman lagu-lagu keagamaan di kota ini, sebut saja Hank Williams, Johnny Cash, atau Carrie Underwood.</p>
<p>Penggemar lagu-lagu gereja tak akan sulit mencari kaset semisal Jesus Remembered Me, Jesus Dies for Me, How Can You Refuse Him Now?, I Talk to Jesus Everyday, dan lainnya. Suasana batin ini jauh berbeda dengan akhir abad ke-19 ketika seluruh universitas papan atas AS menggusur ke pinggir posisi agama. Now God is returning to intellectual life, tulisnya. Dulu orang belajar agama dianggap aneh atau semacam hobi bagi sekelompok orang, tetapi sekarang belajar agama merupakan hal yang lumrah, bahkan suatu kebutuhan.</p>
<p>Rapuhnya institusi keluarga dan berkembangnya demoralisasi sosial telah ikut mendorong pertumbuhan agama yang sangat mengesankan. Dikatakan, Islam and Pentecostalism today occupy a ”social space” analogous to early twentieth century socialism. Marx has reemerged in the guise of radical imams and Pentecostal preachers.</p>
<p><strong>Pisau bermata dua</strong></p>
<p>Janji-janji surga dunia ideologi besar marxisme dan kapitalisme yang tidak kunjung tiba telah ikut mendorong agama untuk tampil kembali. Ada kerinduan dan harapan masyarakat modern terhadap agama. Namun, agama yang berkembang dalam masyarakat yang kian mengglobal ini tampil semakin warna-warni, beragam paham dan keyakinan. Keragaman agama ini sekaligus juga potensial menimbulkan konflik. Oleh karena itu, kehadiran kembali agama ini dalam waktu yang sama juga menimbulkan ketakutan, dikhawatirkan akan semakin mengintensifkan konflik dan perang atas nama Tuhan. Ketakutan ini cukup beralasan mengingat perang atas nama Tuhan memang memiliki sejarah panjang.</p>
<p>Konflik agama bisa dibedakan menjadi dua, yaitu konflik internal antarsekte dan konflik eksternal, yaitu melawan agama lain. Konflik antara Protestan dan Katolik dan antara Sunni dan Syiah, misalnya, telah menelan korban ribuan nyawa dan menyisakan luka di antara mereka. Dalam ranah global, dua agama yang selalu menyimpan konflik adalah antara Kristen dan Islam. Agama Yahudi terbatas hanya untuk keturunan Israel, Hindu lebih berpusat pada rakyat India, Tao dan Konghucu untuk orang-orang China Daratan dan perantauan, dan Shinto lebih banyak bagi masyarakat Jepang.</p>
<p>Namun, konflik internal antarsekte juga sangat fenomenal. Di kawasan Timur Tengah, terutama Irak dan Lebanon, konflik berdarah-darah antara kelompok Sunni dan Syiah diperkirakan masih akan berlanjut terus. Contoh ini bisa ditambah dengan menyajikan kasus Ahmadiyah di Indonesia yang dihujat dan diserang oleh mayoritas Sunni. Bukanlah mustahil, kalau suatu saat Syiah membesar sangat mungkin akan muncul konflik seperti di Irak.</p>
<p>Jadi, meskipun gerakan agama kembali bangkit, masih ada pertanyaan besar, apa jaminannya bahwa kebangkitan agama akan memberikan kehidupan lebih baik di masa depan? Di sini muncul keraguan di balik God is Back. Tanpa melibatkan Tuhan saja berbagai peperangan yang sadis dan brutal terjadi di mana-mana. Terlebih lagi jika emosi agama ikut hadir menambah amunisi peperangan. Micklethwait mengatakan, kebangkitan agama akan melipatgandakan jumlah orang yang siap untuk saling berbunuhan dengan alasan agama. Konfrontasi antara nuklir Iran di satu pihak dan Israel serta Amerika di pihak lain pasti akan menggema ke seluruh dunia dan orang pun akan segera menafsirkan sebagai perseteruan agama.</p>
<p>Perseteruan antara India dan Pakistan soal Kashmir pasti akan melibatkan emosi keagamaan meskipun pada dasarnya merupakan persengketaan wilayah. Belum lagi di Filipina dan Indonesia, hubungan antara minoritas dan mayoritas Islam-Kristen juga selalu menyimpan bara konflik. Namun, tanpa melibatkan Tuhan dan agama sesungguhnya manusia telah mengukir sejarah konflik berdarah-darah dan berkesinambungan. Abad dua puluh adalah abad paling sekuler dan sekaligus paling berdarah-darah. Apa yang disebut ”the Godless religions of Nazism and Communism” telah membunuh puluhan juta manusia. Begitu juga pembantaian di Kamboja, Kongo, dan Rwanda, kesemuanya sama sekali tidak melibatkan nama Tuhan. Lalu terorisme yang terjadi di Sri Lanka dan Eropa juga bersifat sekuler.</p>
<p>Dengan kata lain, akar terorisme tidak selalu dimotivasi oleh agama. Bahkan, dalam berbagai kasus agama dijadikan jubah dan penambah amunisi, padahal akarnya bisa jadi adanya dominasi mayoritas terhadap minoritas atau kekuatan asing yang akan menguasai atau menjarah wilayah bangsa lain.</p>
<p><strong>Politik identitas</strong></p>
<p>Di tengah maraknya gelombang demokratisasi di berbagai belahan dunia, salah satu konsekuensi yang kurang diperhitungkan sebelumnya adalah munculnya gerakan politik identitas. Proses demokratisasi yang tidak disertai penegakan hukum, partsipasi pendidikan dan kesejahteraan sosial yang merata, maka politik identitas untuk memperjuangkan kelompok etnis dan agama akan semakin menguat. Fenomena ini mesti dicermati dan diantisipasi di Indonesia.</p>
<p>Agenda kelompok berdasarkan kepentingan etnis, daerah, agama, dan parpol mendapatkan ruang manuver secara leluasa dengan dalih hak asasi dan demokrasi. Indonesia sebagai negara bangsa yang masih amat muda, sementara korupsi masih akut, lalu pemerintah yang tengah berkuasa sangat diwarnai politik balas budi dan perkoncoan, sangat rawan untuk menghadapi menguatnya politik identitas yang jika kebablasan akan memperlemah demokrasi dan kohesi bangsa. Terlebih lagi jika ideologi transnasional yang tidak setia pada semangat kemerdekaan RI dan Pancasila ikut bermain.</p>
<p>Jadi, tanpa melibatkan Tuhan saja potensi konflik antardaerah dan etnis cukup rawan. Dan itu sudah terjadi. Terlebih lagi jika memperoleh amunisi tambahan berupa ketidakadilan ekonomi dan pendidikan serta sentimen agama, maka proses demokratisasi yang kita perjuangkan akan digerogoti oleh konflik antarkelompok kepentingan yang tidak rasional. Slogan Bhinneka Tungal Ika, keragaman dalam kesatuan, beralih menjadi perseteruan dalam keragaman yang tidak kunjung reda.</p>
<p>Oleh: Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta<br />
Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/15/02581695/senja.kala.sekularisme">Kompas.com</a></p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;t=Senja%20Kala%20Sekularisme" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Senja%20Kala%20Sekularisme%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;title=Senja%20Kala%20Sekularisme&amp;annotation=Anda%20tidak%20perlu%20Tuhan%20untuk%20berperang.%20You%20don%E2%80%99t%20need%20God%20for%20a%20war%2C%20demikian%20John%20Micklethwait%2C%20pemimpin%20redaksi%20majalah%20The%20Economist%2C%20bersama%20Adrian%20Wooldridge%20seorang%20kolumnis%2C%20dalam%20karyanya%20God%20is%20Back.%20Buku%20setebal%20405%20halaman%20ini%20menyajika" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2010%2F01%2F15%2Fsenja-kala-sekularisme%2F&amp;title=Senja%20Kala%20Sekularisme&amp;bodytext=Anda%20tidak%20perlu%20Tuhan%20untuk%20berperang.%20You%20don%E2%80%99t%20need%20God%20for%20a%20war%2C%20demikian%20John%20Micklethwait%2C%20pemimpin%20redaksi%20majalah%20The%20Economist%2C%20bersama%20Adrian%20Wooldridge%20seorang%20kolumnis%2C%20dalam%20karyanya%20God%20is%20Back.%20Buku%20setebal%20405%20halaman%20ini%20menyajika" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2010/01/15/senja-kala-sekularisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyesalan yang Mendalam : Orang yang tidak manusia</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/07/18/penyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=penyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/07/18/penyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 15:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[BOM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, kembali dilanda peristiwa yang begitu memilukan dan memalukan, penyeboman Hotel Marriot &#38; Ritz Carlton pada jum&#8217;at pagi hari 17 Juli 2009. Kalau pecinta sepakbola kagum dengan MU, yakinlah dunia kagum dengan Indonesia dengan demokrasinya, yang bisa berjalan dengan relatif aman dan damai dalam pemilihan presiden dan wakilnya, walaupun masih banyak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, kembali dilanda peristiwa yang begitu memilukan dan memalukan, penyeboman Hotel Marriot &amp; Ritz Carlton pada jum&#8217;at pagi hari 17 Juli 2009.</p>
<p>Kalau pecinta sepakbola kagum dengan MU, yakinlah dunia kagum dengan Indonesia dengan demokrasinya, yang bisa berjalan dengan relatif aman dan damai dalam pemilihan presiden dan wakilnya, walaupun masih banyak masalah, tapi tentunya bisa diselesaikan melalui proses hukum. Paling tidak ini terjadi kekaguman ini menjadi catatan sejarah dunia. Tapi sayang peristiwa pengeboman itu menghancurkan catatan sejarah keindahan dan keramahan Indonesia.</p>
<p>Siapa pelakunya? tentunya kita tidak  bisa serta  merta menuduh kelompok tertentu sebelum ada bukti yang nyata. Tetapi dengan adanya peristiwa tersebut kita bisa mengolongkan dengan melihat dampak yang diakibatkan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Orang yang tidak suka dengan Indonesia, sehingga berusaha menciptakan situasi dan suasana tidak kondusif dan tidak nyaman.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Orang yang iri dengan Indonesia, sehingga memberikan citra buruk kepada dunia tentang Indonesia.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Orang yang tidak suka dengan demokrasi Indonesia, diakui ataupun tidak oleh dunia, rakyat indonesia telah berperan dengan sebaik mungkin dalam proses demokrasi. terbukti dengan situasi aman damai dalam PEMILU presiden dan walik, dan mungkin <a href="http://blog.sangsurya.com/2009/07/14/rakyat-sudah-dewasa/">rakyat lebih dewasa dibanding dengan penguasa</a>.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Orang yang tidak suka dengan Islam. Tentunya kita sudah mengetahui  sejarah tahun-tahun sebelumnya, bahwa aksi &#8211; aksi kekerasan banyak dihubungkan dengan Islam. Padahal Islam yang aku pahami adalah islam yang memberikan kasih sayang, bukan hanya pada sesama muslim, tapi manusia seluruhnya,  lingkungan, masyarakat, pemerintahan bahkan seluruh alam baik di bumi bahkan luar angkasa.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Orang yang tidak manusia. Dilihat dari para korban, mereka adalah rakyat biasa, yang mencari nafkah untuk anak dan keluarganya. Sungguh tidak manusiawi.</p>
<p>Kalaupun mereka[pelaku] mengibarkan bendera perang, pertanyaanya adalah, kepada siapa? dan mengapa harus di Indonesia? apakah Indonesia selama ini memberikan keburukan? Kenapa Indonesia dibenci?</p>
<p>Saudaraku, apakah engkau puas, tersenyum, dan bahkan tertawa melihat peristiwa ini? Melihat tanah airmu diinjak-injak? Melihat akhlak, moral dan mentalmu diporak-poprandakan dengan tingkah tolol pelaku pengeboman? Agama mu bahkan Tuhamnu pun dihina dinakan.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F18%2Fpenyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia%2F&amp;t=Penyesalan%20yang%20Mendalam%20%3A%20Orang%20yang%20tidak%20manusia" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Penyesalan%20yang%20Mendalam%20%3A%20Orang%20yang%20tidak%20manusia%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F18%2Fpenyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F18%2Fpenyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia%2F&amp;title=Penyesalan%20yang%20Mendalam%20%3A%20Orang%20yang%20tidak%20manusia&amp;annotation=Jakarta%20khususnya%20dan%20Indonesia%20umumnya%2C%20kembali%20dilanda%20peristiwa%20yang%20begitu%20memilukan%20dan%20memalukan%2C%20penyeboman%20Hotel%20Marriot%20%26amp%3B%20Ritz%20Carlton%20pada%20jum%27at%20pagi%20hari%2017%20Juli%202009.%0D%0A%0D%0AKalau%20pecinta%20sepakbola%20kagum%20dengan%20MU%2C%20yakinlah%20dunia%20kagum%20d" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F07%2F18%2Fpenyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia%2F&amp;title=Penyesalan%20yang%20Mendalam%20%3A%20Orang%20yang%20tidak%20manusia&amp;bodytext=Jakarta%20khususnya%20dan%20Indonesia%20umumnya%2C%20kembali%20dilanda%20peristiwa%20yang%20begitu%20memilukan%20dan%20memalukan%2C%20penyeboman%20Hotel%20Marriot%20%26amp%3B%20Ritz%20Carlton%20pada%20jum%27at%20pagi%20hari%2017%20Juli%202009.%0D%0A%0D%0AKalau%20pecinta%20sepakbola%20kagum%20dengan%20MU%2C%20yakinlah%20dunia%20kagum%20d" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/07/18/penyesalan-yang-mendalam-orang-yang-tidak-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook: Halal Haram</title>
		<link>http://blog.sangsurya.com/2009/06/02/facebook-halal-haram/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=facebook-halal-haram</link>
		<comments>http://blog.sangsurya.com/2009/06/02/facebook-halal-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 01:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sangsurya.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Halal haram facebook oleh beberapa pesantren di jawa timur sekarang ini menjadi perdebatan. Ada yang memutuskan haram dan ada yang memutuskan halal. Bagaimana cara menyikapinya? Pondok Pesantren Lirboyo menyatakan haram dan Pondok Pesantren Ploso menyatakan halal. Kedua pondok tersebut merupakan pondok besar dan terkenal di jawatimur yang notabenya berbasiskan NU. Mengapa haram dan mengapa halal?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halal haram facebook oleh beberapa pesantren di jawa timur sekarang ini menjadi perdebatan. Ada yang memutuskan haram dan ada yang memutuskan halal. Bagaimana cara menyikapinya?</p>
<p>Pondok Pesantren Lirboyo menyatakan haram dan Pondok Pesantren Ploso menyatakan halal. Kedua pondok tersebut merupakan pondok besar dan terkenal di jawatimur yang notabenya berbasiskan NU. Mengapa haram dan mengapa halal? Hal tersebut telah dibawas dalam bahsul masail masing-masing pesantren. Halal karena digunakan untuk sesuatu yang haram(banyak mudlarat) dan halal karena digunakan untuk sesuatu yang halal (Banyak manfaat), tinggal kita ambil pendapat yang mana?</p>
<p>Ada dua hal yang menurut penulis menarik dibahas di sini. <strong>Pertama</strong> sesungguhnya apa yang diharamkan? Facebooknya (benda) atau cara menggunakannya (pekerjaan/perbuatannya)? Kalau facebooknya (bendanya), otomatis bukan hanya facebook yang haram, tapi nantinya juga akan merambah ke hal-hal lain , dan mungkin bisa mengharamkan alat komunikasi semisal internet, telephone dan lain sebagainya. Akan tetapi kalau perbuatannya yang diharamkan berarti kita memang harus benar-benar menyaring apa yang diharamkan dan apa yang dihalalkan di dalam berbagai macam tingkah laku dalam hidup.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, memandang siapa yang menghalalkan dan mengharamkan. Kedua Pesantren Lirboyo dan Ploso merupakan pesantren besar yang berbasis NU. Walaupun kedua pesantren ini mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah khususnya facebook, tetapi mereka saling menghargai pendapat masing-masing tanpa terjadi konflik.</p>
<p>Kejadian ini, perbedaan pendapat antara pesantren NU satu dengan yang lainnya bukan hanya terjadi satu dua kali, bahkan hampir sering terjadi dalam diskusi-diskusi kecil-kecilan seperti Syawir ataupun dalam lingkup besar seperti Bahsul Masail.</p>

<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline">
<strong>Share :</strong>
</div>
<ul>
	<li class="sociablefirst"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F06%2F02%2Ffacebook-halal-haram%2F&amp;t=Facebook%3A%20Halal%20Haram" title="Facebook"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/facebook.png" title="Facebook" alt="Facebook" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://twitter.com/home?status=Facebook%3A%20Halal%20Haram%20-%20http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F06%2F02%2Ffacebook-halal-haram%2F" title="Twitter"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/twitter.png" title="Twitter" alt="Twitter" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F06%2F02%2Ffacebook-halal-haram%2F&amp;title=Facebook%3A%20Halal%20Haram&amp;annotation=Halal%20haram%20facebook%20oleh%20beberapa%20pesantren%20di%20jawa%20timur%20sekarang%20ini%20menjadi%20perdebatan.%20Ada%20yang%20memutuskan%20haram%20dan%20ada%20yang%20memutuskan%20halal.%20Bagaimana%20cara%20menyikapinya%3F%0D%0A%0D%0APondok%20Pesantren%20Lirboyo%20menyatakan%20haram%20dan%20Pondok%20Pesantren%20Ploso%20" title="Google Bookmarks"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/googlebookmark.png" title="Google Bookmarks" alt="Google Bookmarks" class="sociable-hovers" /></a></li>
	<li class="sociablelast"><a rel="nofollow"  target="_blank" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fblog.sangsurya.com%2F2009%2F06%2F02%2Ffacebook-halal-haram%2F&amp;title=Facebook%3A%20Halal%20Haram&amp;bodytext=Halal%20haram%20facebook%20oleh%20beberapa%20pesantren%20di%20jawa%20timur%20sekarang%20ini%20menjadi%20perdebatan.%20Ada%20yang%20memutuskan%20haram%20dan%20ada%20yang%20memutuskan%20halal.%20Bagaimana%20cara%20menyikapinya%3F%0D%0A%0D%0APondok%20Pesantren%20Lirboyo%20menyatakan%20haram%20dan%20Pondok%20Pesantren%20Ploso%20" title="Digg"><img src="http://blog.sangsurya.com/wp-content/plugins/sociable/images/digg.png" title="Digg" alt="Digg" class="sociable-hovers" /></a></li>
</ul>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sangsurya.com/2009/06/02/facebook-halal-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
