Budaya
Hak NYA
Aug 11th
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah … semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan More >
Dua Kuburan, Dua Tanda
Aug 11th
Oleh : YUDI LATIF
Apa yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar belasungkawa semiresmi secara membahana saat kematian Mbah Surip, tetapi nyaris tak terdengar ucapannya saat WS Rendra wafat? Apakah hal itu pertanda derajat kaum ”gelandangan” ditinggikan di atas kaum intelektual-budayawan?
Terpujilah jika negara memiliki empati yang lebih besar kepada orang yang lebih menderita. Masalahnya, biografi Mbah Surip berkata lain. Seseorang yang memilih jalan gelandangan sebagai jalan survival, mewakili jutaan gelandangan lainnya yang hidup tidak tergantung dan tanpa perlindungan negara. Sekali negara hadir, hal itu pertanda bencana.
Dalam situasi ordinary, kehadiran negara justru tidak dikehendaki karena menambah beban hidup, tersirat dari kelakar Mbah Surip yang kerap mengaduh, ”Ampun pemerintah!” Dalam situasi unordinary, negara hanya hadir saat prahara menerjang, musim pemilu tiba, atau demam Cinderella melanda, tatkala orang-orang biasa sontak terkenal. Itu pun bukanlah karena kepedulian kepada orang biasa, melainkan demi citra dan popularitas (pejabat) negara.
Sebagian kecil dari kaum gelandangan ini berkat perjuangan pantang menyerah berhasil membangun rumah kehidupan, tetapi lebih banyak lagi yang jatuh dari sarangnya. Tanpa peran negara, pahlawan kaum gelandangan ini mengemban misi penyelamatan, ”menggendong” beban hidup sesamanya.
Apa yang keluar dari hati akan membekas di hati, seperti spontanitas lagu-lagu Mbah Surip yang bergema di jiwa jutaan pendengarnya. Kekuatan senyawa komunitas inilah yang More >
IN MEMORIAM RENDRA: Tanahku, Hutanku, Kuburanku
Aug 10th
Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib
Rencananya, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan.
Memasuki kampung padat gang sempit penuh orang dan wartawan, tiba juga kami di depan rumah Mamiek. Pintu ditutup rapat. Manohara barusan masuk. Kami tidak punya ”kompetensi” untuk berjuang agar bisa dibukakan pintu sebab kami tidak tahu posisi kami dalam dunia Mbah Surip: apakah kami termasuk di lingkaran primer sahabatnya, atau lingkungan sekunder, ataukah fans belaka sebagai ratusan khalayak yang memadati tempat itu.
Bersama Dr Nursamad Kamba, aktivis Thariqat Naqshabandy Mesir, kami mengaji dan berdoa di sebuah pojok, kemudian berniat langsung saja ke Cipayung, tempat Mbah Surip akan disemayamkan. Jalan kami terdesak-desak oleh arus massa yang berlomba mengerumuni dan menciumi tangan Manohara, tetapi syukur bisa lolos juga dan langsung menuju kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung.
Sesampai di sana kami terbentur problem ”kompetensi etis” lagi sehingga hanya berkumpul di sebuah rumah tetangga Rendra untuk berdoa dan shalat More >
Who is Mbah Surip?
Aug 6th
Siapa sebenarnya mbah Surip? entahlah saya juga tidak tahu persis siapa mbah Surip sebenarnya. Yang saya tahu mbah Surip bisa dikatakan selalu hadir dalam acara Kenduri Cinta bersama Cak Nun yang diadakan di halaman parkir Taman Ismail Marjuki (TIM) Jakarta tiap jumah kedua.
MBah Surip adalah “I Love You Full” entah apa arti dan maknanya. Tetapi saya yakin mBah Surip ingin memberikan Cinta Penuh 100% kepada siapapun dan apapun. Tentu “I Love You Full” nya mBah surip tidak perlu diragukan lagi karena mBah Surip mampu mengendong kita (dengan “Tak Gendong” nya). Gendongan mBah Surip pun dirasakan rakyat Indonesia dengan memberikan suasana bahagia dengan tawanya yang ditularkan kepada kita “Ha Ha Ha“. Bagi mbah Surip Rakyat Indonesia mungkin bagai anak-anak yang diajak main-main dengan gendongannya, dikala orang tua (Pemimpin) sudah tidak bisa memberikan suasana aman, damai dan sejahtera. Tetapi mabah surip mampu mendatangkan suasana bahagia bahkan penuh dengan Cinta yang murni dan tulus, walaupun akhirnya mbah Surip Capek, dan beristirahat untuk yang lama.
Bagaimana dengan semangat mbah surip? Jangan diragukan lagi, mbah Surip memberikan spirit yang demikian kuat kepada kita untuk tetap bahagia, tertawa, berkreasi, pantang menyerah, dan lain sebagainya bahkan Cak Nun memberikan title “Manusia Indonesia Sejati” untuk mBah Surip.
Kesederhanaan mbah Surip? More >
KEKELOMPOKAN JAHILIYAH
Jul 31st
Rakyat Sudah Dewasa
Jul 14th
Sebelum pilpres, mengikuti perkembangan pilpres di Iran, banyak di antara kita yang ketir-ketir. Apalagi, dinamika kampanye para kandidat dan tim-tim sukses mereka begitu luar biasa. “Kampanye putih“, “kampanye abu-abu“, hingga “kampanye hitam” keluar semua dari sana-sini.
Namun, alhamdulillah, pilpres kita kemarin berlangsung aman dan lancar. Rakyat yang berdatangan ke TPS-TPS terlihat begitu santai dan guyub. Setelah mencontreng, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing seperti biasa.
Setelah itu, mereka secara sendiri-sendiri atau beramai-ramai nonton hasil pencontrengan mereka di quick count. Bahkan, banyak yang nonton bareng sesama pencontreng yang berbeda pilihan. Mereka tertawa-tawa, kadang-kadang saling ledek laiknya sesaudara. Lihatlah, betapa dewasanya mereka.
Kalau harus ada yang diacungi jempol dalam pesta demokrasi ini, tidak diragukan lagi yang pertama-tama berhak kita acungi jempol adalah mereka: rakyat Indonesia.
Rakyat Indonesia, rupanya, benar-benar belajar dan menyerap pelajaran dengan baik. Dengan berkali-kali pemilu dan pilkada, mereka semakin terbiasa dengan pengamalan demokrasi. Sudah dua kali pilpres, mereka menunjukkan kedewasaannya. Bahkan, jika dibandingkan dengan para pemimpin dan tokoh politik di atas yang sok demokratis, tampaknya, mereka lebih dewasa.
Mungkin mereka -rakyat Indonesia itu- belajar juga dari kompetisi sepak bola dunia yang begitu enak ditonton. Para pemain begitu serius dan sungguh-sungguh dalam bertanding; masing-masing berusaha dengan segenap daya untuk mengalahkan More >
Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus
Jul 11th
Sumber: Sumber http://gusmus.net
OLEH: Emha Ainun Nadjib Untuk Dr. HC-nya Gus Mus Sumber : Facebook Kenduri Cinta’s Notes
Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.
Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi – dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.
Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan dan dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.
Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.
Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati More >
Gus Mus Dianugerahi Gelar Doctor Honoris Causa
Jul 10th
Sumber : Detik.com
KH Ahmad Mustofa Bisri
Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam.
Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan di kampus UIN Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Sabtu (30/5/2009). Acara itu dipimpin langsung Rektor Prof Dr H. Amin Abdullah. Turut hadir dalam acara itu diantaranya budayawan asal Madura D. Zawawi Imron, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan M. Sobari.
Dalam penganugerahan gelar itu, Gus Mus mengambil pidato berjudul ‘Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam’.
Seusai pidato kepada wartawan, Gus Mus mengaku merasa senang meski sebelumnya sempat menolak gelar tersebut. Dia menolak ketika tim Senat Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bertemu untuk menyampaikannya. Tim Senat menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Setelah itu Gus Mus pun berkenan menerima anugerah tersebut.
“Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak More >
Pesan Gus Mus, Jangan Bawa Tuhan ke Politik
Jul 10th
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/
KH Ahmad Mustofa Bisri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Hingar bingar politik di Indonesia, banyak politikus yang membawa-bawa agama sebagai bemper kiprah politik mereka. Terutama Islam. “Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik,” kata Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahamd Mustofa Bisri usai menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (30/5).
Menurut dia, umat islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia, sehingga umat Islamlah yang paling bertanggungjawab terhadap baik-buruknya Indonesia. Yang membuat Indonesia baik atau buruk , menurut dia, tergantung seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan Islam. Islam yang indah bisa menjaga dan mengembalikan keindahan Indonesia.
Ia menambahkan, akhir-akhir ini keindahan islam justru bukan hanya tidak tampak. Tetapi dalam banyak hal menampakkan kebalikannya. Keindahan Islam hanya tampak dalam sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan.
“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi dan kepentingan diri sendiri. Sehingga, sila-sila pada Pancasila yang lain otomatis tidak bermakna,” kata dia dalam pidato nya.
Gus Mus pun mempertanyakan pandangan umat Islam tentang makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan, More >