Sejak di surga, sesungguhnya Nabi Adam AS sudah dibekali Allah dengan Ilmu yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmunya malaikat. Allah telah menyatakan itu melalui firman-Nya:

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” – Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. 2; 31-32)

Namun demikian, karena proses pengamalan ilmu tersebut juga akan menghasilkan ilmu lagi yang disebut ilmu pengalaman yang bisa mendewasakan jiwa manusia (dalam kaitan agama disebut ilmu rasa atau ilmu spiritual) maka untuk mencapai kedewasaan jiwa tersebut manusia harus menjalani suratan takdir hidup yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, baik takdir buruk maupun takdir baiknya. Hal itu disebabkan, karena hanya dengan ilmu praktek (ilmu rasa) inilah, ilmu pengetahuan secara teoritik itu diharapkan dapat menghasilkan manfaat yang optimal. Yaitu meningkatkan kualitas iman sehingga mampu menghasilkan keyakinan kuat dalam hati, padahal untuk menumbuhkan keyakinan tersebut, orang harus menempuh proses latihan-latihan dan melewati tahapan-tahapan perjalanan hidup yang panjang.

Itulah sistem kompetisi dan seleksi alam sebagai sunnatullah (tata kosmos kehidupan) yang tidak akan berubah lagi untuk selamanya dan diperuntukkan bagi manusia, tanpa terkecuali. Sunnatullah itu sesungguhnya merupakan tarbiyah azaliah dari Tuhannya. Siapa yang berhasil melewatinya dengan baik, maka Allah akan meningkatkan derajat hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, Nabi Adam AS oleh suratan takdir hidupnya memang harus terlebih dahulu mencicipi pahitnya kehidupan dunia akibat dosa yang diperbuat di surga. Dengan itu supaya kemudian mampu merasakan manisnya pahala ketika beliau telah dikembalikan lagi di surga. Manisnya pahala tersebut sebagai buah ibadah dan pengabdian yang dijalani di dunia. Itulah contoh kejadian pertama dalam lembaran sejarah kehidupan manusia pertama yang dapat menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang mampu memperhatikan dan menelaah serta mengambil pelajaran darinya.

Nabi Adam AS ternyata mampu dan berhasil menjalani awal proses kehidupannya di dunia, walau perjalanan itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan. Yakni dengan sendirian harus mencari dan membuka lahan yang terbentang luas untuk bercocok tanam, mencari dan menanam bibit di tanah garapan dan baru dapat dimakan hasilnya ketika saat panen tiba, dan berbagai macam tantangan hidup yang harus dihadapi. Kemampuan itu karena sejatinya Nabi Adam AS telah terlebih dulu mengenali jalan hidup yang harus ditempuh sebagai akibat dosa yang telah diperbuat sehingga manusia harus diturunkan dari kebahagiaan ke dalam jurang penderitaan. Dengan itu Nabi Adam AS menjadi tahu, apabila orang ingin dikembalikan kepada kebahagian yang abadi, surga yang telah ditinggalkan dahulu, maka tidak ada jalan lain, kecuali terlebih dahulu harus bertaubat dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat itu. Bahkan tidak cukup itu saja, Nabi Adam AS juga harus memperbaiki perilakunya, membangun diri dengan amal bakti, supaya tidak kembali terjebak tipudaya setan yang pernah menurunkan dirinya dari surga.

Tamsil yang demikian itu, agar dalam lembaran hidup yang dijalaninya, manusia tidak cukup hanya membekali diri dengan ilmu pengetahuan secara lahir saja, namun juga perjalanan hidup dan karya utama yang dapat membuahkan ILMU BATIN atau ILMU SPIRITUAL sehingga mampu menancapkan KEYAKINAN HATI yang kuat sehingga berhasil mendapatkan derajat tinggi disisi Tuhannya, karena orang beriman telah bertakwa kepada Tuhannya. Allah kemudian menurunkan pelajaran bagi Nabi Adam AS dengan apa yang telah dinyatakan firman-Nya:

فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Baqoroh; 2/37)

Lalu Nabi Adam As menindaklanjuti pelajaran itu dengan amal bakti dan taubatan nasuha dengan bermunajat melalui kalimat:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. al-A’raaf; 7/23)

Ternyata tidak cukup hanya dengan penyesalan di hati saja, namun juga, penyesalan itu harus mampu diaktualisasikan dalam bentuk amal ibadah kongkrit, yaitu berdzikir, bermunajat, memohon ampun dan bertaubat dengan taubatan nasuha serta memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sudah diperbuat, hal itu dilakukan sampai Allah benar-benar menerima taubat hamba-Nya.

Tanda-tanda penerimaan tersebut dapat dirasakan dalam hati, berupa kedamaian dan kesejukan ruhani yang meresap dalam sanubari sehingga mampu mengusir keraguan dan dapat membangkitkan gairah hidup baru untuk beramal shaleh dalam pengabdian. Seperti di atas tanah kering, ketika hujan turun, tidak hanya kesejukan yang dirasakan, namun juga, tanah yang asalnya tandus itu menjadi subur dan siap tanam. Inilah pelajaran pertama yang diturunkan Allah Pemelihara Alam Semesta kepada umat manusia. Dari peristiwa yang asalnya gaib, kemudian dimunculkan lagi dan diabadikan dalam Kitab Suci yang abadi, al-Qur’an al-Karim. Yaitu sejarah perjalanan hidup manusia pertama yang di dalamnya ada MUTIARA HIKMAH yang dapat dijadikan pelajaran dasar dan suri tauladan bagi umat selanjutnya.

Mutiara hikmah itu ialah, bahwa ternyata manusia memang selamanya tidak sepi dari kesalahan dan dosa bahkan MANUSIA PERTAMA itu telah memulai lembaran hidupnya dengan kesalahan dan dosa sehingga mengakibatkan duka dan derita. Namun demikian, apabila dengan penyesalan mendalam atas dosa dan kesalahan tersebut ternyata mampu menjadi penyebab seorang hamba melaksanakan taubatan nasuha, melaksanakan pengabdian yang diterima di sisi Allah dengan ditandai perubahan karakter sehingga yang asalnya jelek menjadi baik dan mampu membangun akhlakul karimah serta meningkatkan ketakwaan, maka di sinilah letak rahasia “mutiara hikmah” yang sangat berharga ini. Pembelajaran hidup yang bermanfaat bagi pendewasaan jiwa manusia.

Oleh karena itu, barangsiapa mampu menelaah dan meneladani peristiwa sejarah manusia pertama ini, lalu diterapkan dalam kehidupannya dengan benar dan arif, berarti akan mendapat kebahagiaan hakiki sebagaimana yang telah didapatkan pendahulunya. Dalam arti, bukan dosa dan salahnya yang diteladani, namun bagaimana cara menyikapi dosa dan salah tersebut. Namun itu dengan catatan, dosa dan salah tersebut adalah dosa dan kesalahan manusiawi yang terkadang memang suka memaksa orang untuk melakukannya, bukan dosa dan kesalahan yang sengaja dilakukan orang sebagai bentuk keingkaran hatinya kepada Allah dan rasul-Nya. Terbukti tidak selamanya kita mampu menghindari perbuatan salah dan dosa. Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya.

Sumber : Muhammad Luthfi Ghozali

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg