I’tikaf
I’tikaf adalah niat berdiam di dalam masjid dalam keadaan puasa menurut Imam Malik bin Anas. Menurut Imam Asy Syafi’i dan Ahmad bin Hambal, puasa itu bukanlah syarat dalam i’tikaf. Dan menurut Imam Abu Hanifah, puasa itu menjadi syarat dari i’tikaf yang wajib. I’tikaf ini hukumnya ditetapkan oleh Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’.
Dalam surat Al Baqarah ayat 125, Allah swt. telah berfirman yang antara lain sebagai berikut:
. . . وَعَهِدْنَآ اِلَى اِبْرَاهِيْمَ وَاِسْمَاعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ .
“. . . Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il : “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
Dalam surat Al Baqarah ayat 187, Allah swt. juga berfirman yang antara lain sebagai berikut:
. . . وَلاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسَاجِدِ ؛ . . . الآية
“. . . janganlah kamu sekalian campuri mereka itu (para isterimu), sedang kamu sekalian beri’tikaf dalam masjid. . . . ”
I’tikaf itu ada tiga macam:
1. I’tikaf wajib, yaitu i’tikaf yang dijadikan nadzar.
2. I’tikaf sunnat, yaitu i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulanRamadlan.
3. Mustahab, yaitu i’tikaf pada waktu-waktu selain tersebut di atas.
Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar telah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan sampai wafat beliau, kemudian setelah itu, para isteri beliau melakukan i’tikaf. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘A’isyah ra. katanya:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ . (رواه الخمسة )
“Adalah Nabi saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan sehingga beliau wafat, kemudian para isteri beliau beri’tikaf setelah kemangkatan beliau”(HR Lima orang ahli hadits)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشَرَةَ اَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيْهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا . (رواه البخاري)
“Adalah Nabi saw. selalu beri’tikaf pada setiap bulan Ramadlan selama sepuluh hari. Maka tatkala pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama duapuluh hari”(HR. Bukhari)
Rasulullah saw. bersabda:
لاَ اعْتِكَافَ اِلاَّ بِصِيَامٍ . وَفِى رِوَايَةٍ : لَيْسَ عَلَى الْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ اِلاَّ اَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ .
“Tidak ada i’tikaf kecuali dengan berpuasa. Dan dalam satu riwayat: Tidak ada kewajiban berpuasa bagi orang yang beri’tikaf, kecuali apabila dia menjadikan puasa tersebut sebagai kewajiban (karena dinadzarkan) atas dirinya”.
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّ مَسْجِدٍ فِيْهِ اِمَامٌ وَمُؤَذِّنٌ فَالإِعْتِكَافُ فِيْهِ يَصِحُّ .
Setiap masjid yang mempunyai imam tetap (rawatib) dan muadz-dzin tetap, maka i`tikaf di masjid tersebut adalah sah.
I’tikaf itu menurut Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal, paling sebentar waktunya adalah cukup melebihi kadar thuma’ninah dalam shalat; dan tidak ada batas paling lama dari i’tikaf tersebut. Menurut Imam Malik bin Anas, paling sebentar adalah sehari semalam dan tidak ada batas paling lama. Menurut Imam Abu Hanifah, paling sebentar dalam i’tikaf sunnat adalah sekejap; pada i’tikaf yang wajib adalah sehari semalam, dan tidak ada batas paling lama. Dan i’tikaf itu hanya boleh dilakukan di masjid, dan tidak sah pada tempat lainnya.
Syarat-syarat i’tikaf: Islam, berakal, dan sepi dari hadats besar.
I’tikaf yang paling utama itu adalah pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan karena mengikuti pekerjaan Rasulullah saw. dan untuk mencari LAILATUL QADAR yang terbatas pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan, sebagaimana telah ditetapkan oleh Imam Asy Syafi’i ra. Di antara tanda lailatul qadar adalah malam yang cerah, udaranya tidak panas dan tidak pula dingin.
Ibnu Huzaimah telah meriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ ، تُضِيْءُ كَوَاكِبُهَا ، وَلاَ يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يُضِيْءَ فَجْرُهَا.
“Lailatul Qadar itu adalah malam yang terang ben erang, tidak panas dan tidak pula dingin, bintang-bintangnya bersinar gemerlapan, dan tidak keluar syaithan ya (tidak ada meteor) sehingga terbit fajar”.
Rasulullah saw. bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ .
“Carilah olehmu sekalian Lailatul Qadar pada tanggal ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan”.
Abu Dawud telah meriwayatkan hadits dari Mu`awiyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ
“Lailatul Qadar itu adalah malam tanggal duapuluh tujuh”.
Jumhur shahabat dan tabi’in berpendapat seperti hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas. Dan barang siapa bernadzar untuk i’tikafselama satu hari atau lebih, maka wajib dia melaksanakannya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk i`tikaf selama satu malam, maka wajib dia beri`tikaf satu hari satu malam.
Menurut Imam Abu Hanifah, wanita itu harus i’tikaf di tempat shalat dari rumahnya sendiri yang biasa dipergunakan untuk melakukan shalat setiap hari; dan tidak boleh i’tikaf di masjid tempat berjama’ah.
Menurut tiga orang imam lainnya, i’tikaf wanita itu tidak sah kecuali di masjid seperti lainnya, karena masjid itu adalah syarat bagi keabsahan i’tikaf secara mutlak tanpa makruh. Dan tidak sah i’tikaf wanita, kecuali dengan idzin suaminya menurut kesepakatan para imam madzhab. Orang yang sedang melakukan i’tikaf, tidak boleh keluar dari masjid kecuali karena ada hajat syar’iy seperti: melakukan shalat Jum’at, shalat hari raya, atau karena hajatlainnya,seperti: kencing, berak, haidl, nifas, sakit yang sulit untuk tetap tinggal di masjid, mandi andaikata mimpi keluar mani, karena tidak boleh mandi di masjid. Jika orang yang beri’tikaf itu keluar dari masjid tanpa ada alasan yang diperbolehkan oleh syara’, maka menurut kesepakatan para imam madzhab, i’tikafnya batal.
Sumber : PPSSNH
| Print article | This entry was posted by admin on August 29, 2009 at 11:08 am, and is filed under Ramadhan, Sufi. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |