TADARUS (Part-9) Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW -3

عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه

“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (Muttafaq ‘Alaih).

Setiap ibadah, di dalamnya berpotensi syirik, kecuali puasa. Gambaran orang-orang musyrikin sebagaimana dinyatakan Allah adalah orang-orang yang menyembah berhala, matahari, bulan maupun api. Di mana dengan bersujud kepada sesembahan itu mereka mengira dapat mendekati Tuhan. Padahal sesungguhnya mereka terjerumus dalam kesyirikan. Allah memberikan sinyalemen tentang hal tersebut dengan fimanNya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?“, niscaya mereka menjawab: “Allah“. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku“. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. az-Zumar; 38).

Dalam pelaksanaan ibadah puasa, tidak ada seorangpun berpuasa demi matahari dan bulan, melainkan hanya untuk Allah. Oleh karena itu puasa hanya disandarkan kepada-Nya:

فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ

“Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalas dengannya”.

Dengan berpuasa, sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat Rububiyah kepada orang-orang beriman, bukan rahmat Ikhtiariyah. Artinya siapapun yang sanggup melaksanakan puasa, sesungguhnya terbit atas dasar taufiq-Nya, bukan dari kemampuan pribadi. Dengan puasa itu, Allahlah yang memilih, bukan mereka memilih. Karena Allah yang berkehendak atas segala sesuatu bukan mereka yang berkehendak untuk sesuatu: “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Insan(76)30).

Jika orang ingin melihat inayah kasat mata yang diturunkan kepada orang-orang beriman (mukminin), maka lihatlah orang yang berpuasa. Bukankah ketika orang tidak berpuasa, pada jam makan siang misalnya, terlambat makan sedikit saja, sakitnya lapar rasanya tidak dapat tertahankan, bahkan badan menjadi gemetar dan perut kembung karena masuk angin. Namun di kala orang sedang berpuasa, mengapa hal seperti itu tidak terjadi? Dengan lapar di luar puasa orang menjadi potensial sakit, tapi lapar di dalam berpuasa malah menjadikan sehat.

Itulah yang dimaksud inayah (pertolongan) Allah yang kasat mata. Namun demikian orang-orang yang hatinya ingkar tidak juga mau beriman meski setiap tahun melihat keajaiban besar itu. Bahkan mereka bertanya dengan penuh keheranan: “Mengapa orang-orang beriman mampu melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh bahkan dengan hati senang?” Jika orang tersebut mampu mencerna maka tidak seharusnya mereka bertanya seperti itu. Jawabannya, karena saat itu Allah menurunkan pertolongan kepada orang beriman yang mau melaksanakan perintahNya. Bahkan tidak sekedar itu saja, namun juga, sesungguhnya tidak ada seorangpun masuk surga kecuali semata-mata karena Allah terlebih dahulu menetapkan kebaikan baginya.

Memang awal datangnya inayah tersebut harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, itulah yang dimaksud mujahadah di jalan Allah. Usaha itu adalah sebab yang harus dibangun oleh seorang hamba sedangkan inayah itu merupakan akibat yang didatangkan kepada mereka. Apabila mujahadah itu dilaksanakan dengan ‘menahan lapar’ berarti itu mujahadah emosional dan apabila dengan ‘menahan bicara’, berarti itu mujahadah rasional. Hakekat kedua mujahadah itu sejatinya sama, yakni bersungguh-sungguh manahan kehendak nafsu, dengan itu Allah akan menurunkan inayah-Nya. Sungguh benar firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad; 7)

Apabila ibadah puasa dapat diwujudkan dalam bentuk mujahadah emosional dan rasional, tidak sekedar menahan haus dan lapar, berarti orang tersebut telah mampu menyatukan tujuan amal, yaitu semata-mata menghadap kepada Allah, itulah yang dimaksud dengan Tauhidul Qosdi, sehingga ibadah puasa itu secara otomatis bersandar kepada Allah. Seandainya seluruh pelaksanaan amal ibadah mampu dilaksanakan seperti orang mengerjakan puasa, yaitu dengan niat semata-mata mengharap ridho Allah, niscaya ibadah-ibadah tersebut akan menjadi ibadah yang wushul kepada-Nya. Ibadah yang mampu membangun landasan tauhid dalam hati dan menancapkan keyakinan yang kuat sehingga setiap munajat yang ada di dalamnya segera mendapat ijabah. Semoga kita mampu menggapainya di Ramadhan tahun ini.

Sumber : Muhammad Luthfi Ghozali

[Orang yang pandai slalu bertanya apa yang akan Allah lakukan dan bukan apa yang akan ia(orang) kerjakan]

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg