RUH MERDEKA DI ALAM BARZAH
Sumber : Facebook Muhammad Luthfi Ghozali’s Notes
Berikut ini habar ghaib dari Allah dan rasul-Nya tentang keadaan RUH yg merdeka di alam barzah.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : لَقِيَنِى رَسُوْلُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقَالَ “يَا جَابِرُ . أَلاَ اُبَشِّرُكَ بِمَا لَقى اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِهِ اَبَاكَ ؟ . قُلْتُ بل يا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : إِنَّ اللهَ أَحْيَا اَبَاكَ وَ كَلَّمَهُ كفاحا. (أَىْ مُوَاجَهَةً بِدُوْنِ حِجَابٍ وَلاَ رَسُوْلٍ) . وَمَا كَلَّمَ اَحَدًا قَطُّ إِلاَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ . فَقَالَ لَهُ : يَا عَبْدَ اللهِ تَمَنِّ أُعْطِكَ. قَالَ يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ أَنْ تُرَدَّ نِى اِلَى الدُّنْيَا فَأَقْتُلُ فِيْكَ ثَانِيَّةً . فَقَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَ تَعَالى : إِنَّهُ قَدْ سَبَقَ مِنِّى أَنَّهُمْ لاَ يَرْجِعُوْنَ . قَالَ يَا رَبِّ : فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِى. فَأَنْزَلَ اللهُ ( وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا ) .صفوة التفاسير 1/244.
Dari Jabir bin Abdillah RA berkata: “Aku bertemu dengan Rasulullah SAW beliau berkata: “Hai Jabir, apakah kamu mau aku beri kabar tentang keadaan bagaimana Allah Azza wa Jalla menemui ayahmu?”. Aku menjawab: “Ya, yaa Rasulullah”. Rasul SAW bersabda: “Sungguh Allah telah menghidupkan ayahmu dan Allah berkata-kata dengan ayahmu secara langsung (Kafaafan, berhadapan langsung tanpa hijab atau utusan) dan Allah tidak pernah sekali-kali berkata-kata dengan siapapun kecuali dari belakang hijab”. Maka Allah barfirman kepadanya: “Hai Abdullah, mintalah, aku akan mengabulkan permintaanmu”. Abdullah menjawab: “Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikan aku ke dunia supaya aku gugur di jalan-Mu untuk kedua kalinya”. Maka Tuhannya Tabaaroka wa Ta’ala. berfirman: “Sesungguhnya telah terdahulu keputusan dari-Ku bahwa orang yang sudah mati tidak akan kembali hidup di dunia lagi”. Abdullah berkata : “Ya Tuhanku sampaikanlah keadaanku ini kepada orang yang di belakangku”. Maka Allah menurunkan ayat ini”.
(Ali ash Shobuni, “Shofwatut Tafaasir”; 1/244).
عَنْ مَسْرُوْقٍ. قَالَ: سَأَلَنَا عَبْدُ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ. عَنْ هذِهِ الأَيَةِ . (وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا ) . قَالَ أَمَّا أَنَا قَدْ سَأَلَنَا عَنْ ذَالِكَ . فَقَالَ : اَرْوَاحُهُمْ فِى جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيْلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ . ثُمَّ تَََأْوِىْ اِلَىَّ تِلْكَ الْقَنَادِيْلُ. فَأَطْلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ إِطِّلاَعَةً. فَقَالَ: هَلْ تَشْتَهُوْنَ شَيْئًا . قَالُوْا اَىُّ شَيْئٍ نَشْتَهِى وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا . فَفَعَلَ ذَالِكَ بِهِمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ . فَلَمَّا رَاَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوْا مِنْ أَنْ يَسْأَلُوْا . قَالُوْا يَا رَبِّ نُرِيْدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِى جَسَادِنَا حَتّى نقتل فِى سَبِيْلِكَ مَرَّةً أُخْرى . فَلَمَّا رَاى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ يُتْرَكُوْا (رواه مسلم)
Dari Masruq berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah SAW perihal ayat ini: “Wa laa tahsabannal ladziina qutiluu fii sabiilillaahi amwaatan”, Abdullah menjawab : “Bahwa sesungguhnya saya telah bertanya kepada Rasululah SAW perihal ayat tersebut, beliau menjawab : “Ruh-ruh mereka berada di dalam paruh burung hijau yang bertempat di lampu yang bergantungan di Arsy. Mereka terbang dari kebun (surga) yang satu ke kebun yang lain dengan sesuka hati, kemudian mereka kembali lagi ke sarangnya. kemudian Tuhan mereka menampakkan diri secara langsung dan berfirman: “Adakah kalian menginginkan sesuatu?”. Mereka menjawab: “Adakah kami menginginkan sesuatu lagi padahal kami sudah bebas sekehendak hati terbang dari satu kebun ke kebun yang lain”. Tuhannya berbuat yang demikian sampai tiga kali. Maka ketika mereka merasa bahwa tidak akan ditinggalkan melainkan sesudah meminta, maka mereka berkata : “Ya Tuhan kami, kami ingin agar Engkau kembalikan ruh kami ke jasad kami sehingga kami gugur lagi di jalan-Mu untuk yang kedua kali”. Ketika terlihat bahwa mereka sudah tidak mempunyai hajat lagi, maka mereka ditinggalkan. (HR. Muslim)
رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ قَالَ : إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَجِئُ قَوْمٌ لَهُمْ أَجْنَحِةٌ كَأََََََجْنِحَةِ الطَّيْرِ . فَيَطِيْرُوْنَ بِهَا (مِنَ الْمَقْبَرَةِ) عَلى حِيْطَانِ الْجَنَّةِ . فَيَقُوْلُوْنَ لَهُمْ خَازِنُ الْجَنَّةِ . مَنْ أَنْتَ. فَيَقُوْلُوْنَ نَحْنُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. فَيَقُوْلُوْنَ هَلْ رَاَيْتُمُ الْحِسَابَ .فَيَقُوْلُوْنَ لاَ.ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَلْ رَاَيْتُمُ الصِّرَاطَ فَيَقُوْلُوْنَ لاَ . بِمَ وَجَدْتُمْ هذِهِ الدَّرَجَةَ. يَقُوْلُوْنَ عَبَدْنَا اللهَ تَعَالى سِرًّا فِى الدَّارِ الدُّنْيَا وَأَدْخَلَنَا الْجَنَّةَ سِرًّا فِى الدَّارِ الأخِرَةِ
Diriwayatkan dari Nabi SAW Beliau bersabda:
“Apabila hari kiamat telah tiba, akan datang suatu kaum yang mempunyai sayap seperti sayap burung, mereka terbang dengan sayapnya dari kuburnya ke kebun-kebun surga.Maka penjaga surga bertanya kepada mereka: “Siapa kalian ?”. Mereka menjawab: “Kami dari umat Muhammad SAW”, Penjaga surga bertanya: “Apakah kalian sudah melihat hisab?”,Mereka menjawab: ”Tidak”. Penjaga surga bertanya lagi: “Apakah kalian sudah melihat Shiroth?”. Mereka menjawab: “Tidak”. Dengan apa kalian mendapat derajat ini?”. Mereka menjawab: “Kami beribadah kepada Allah dengan Rahasia di dunia, dan Allah memasukkan kami ke surga dengan rahasia pula di akherat”.
عَنِ إبْنِ عَبَّاسٍ . عَنِ النَّبِىِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيْهِ الْمُؤْمِِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ .
Dari Ibnu Abbas ra.. dari Nabi SAW : “ Barangsiapa berjalan di kubur temannya yang beriman yang ia kenal dan ia mengucapkan salam, maka temannya itu akan mengetahui dan menjawab salam” .
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ فَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلاَّ إِسْتَأْنَسَ بِهِ حَتّى يَقُوْمَ (الروح لإبن القيم
Dari A’isyah RA beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berziarah ke kubur temannya maka temannya itu akan merasa senang sampai ia berdiri”. (Ibnul Qoyim “Ar-Ruh”)
Rasulullah SAW bersabda:
أَكْثَرُ شُهَدَآءُ أُمَّتِىْ اَصْحَابُ الفَرْشِ وَرُبَّ قَتِيْلٍ بَيْنَ الصَفَّيْنِ اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ. (رواه أحمد عن أبى مسعد)
“Sebagian besar Syuhada’ umatku adalah Ashhaabul Farsy. (orang yang matinya di tempat tidur). Kadang orang yang terbunuh diantara dua barisan, Allah lebih mengetahui niatnya“. (HR. Ahmad bin Abi Mas’ud).
Dari dalil-dalil di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
- Orang-orang yang gugur di jalan Allah, (mati Syahid) ternyata mereka tidak mati. Mereka hidup, bahkan hidup dengan mendapatkan kenikmatan dan derajat yang Agung di sisi Allah. Di antara mereka, sejak di alam barzah itu ada yang mendapatkan kebebasan untuk keluar masuk surga dengan sesuka hati dan bahkan berdialog langsung dengan Allah.
- Permintaan para Syuhada’ untuk dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat gugur di jalan Allah untuk kedua kalinya—dari isi dialog antara Allah dengan orang yang mati syahid tersebut, itu menunjukkan bahwa dialog tersebut terjadi di alam yang sekarang ini (alam barzah) sebelum hari kiamat, dan menunjukkan pula bahwa antara alam barzah dan alam dunia adalah dua alam yang sangat berdekatan dan terjadi di dalam dimensi zaman yang sama.
- Ada segolongan kaum dari umat Nabi Muhammad yang bukan gugur di dalam peperangan akan tetapi mendapatkan derajat sama dengan derajat para Syuhada’.
- Seorang muslimin, apabila masuk di pekuburan muslim disyari’atkan mengucapkan salam kepada Ahli kubur. Yang demikian itu mengandung arti; Sendainya salam itu tidak terjawab oleh ahli kubur maka tidak mungkin ada syari’at agama yang memerintahkan demikian. Ternyata dari Hadits-Hadits tersebut di atas terbukti bahwa orang yang sudah mati dapat menjawab salam orang yang masih hidup. Padahal mengucapkan salam kepada orang lain berarti mendo’akan, maka artinya bahwa orang yang sudah mati dapat memberikan kemanfaatan kepada orang yang hidup dengan do’a-do’anya.
- Allahu A’lam
| Print article | This entry was posted by admin on July 13, 2009 at 3:37 pm, and is filed under Sufi. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |
No comments yet.
No trackbacks yet.
Diantara Jalan Sufi Gusdur
about 5 months ago - No comments
Oleh: KH.M. Luqman Hakim Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar
Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten
about 5 months ago - No comments
Oleh-oleh dari yangkruk di rumah Syaikhuna Abah Qamaruzzaman al-Husaini, Banten :: Tentang Pengalaman Ruhani :: Ketika kita mengalami sesuatu, dan kita hendak berbagi pengalaman itu ke orang lain yang belum mengalami pengalaman seperti yang kita alami atau rasakan, maka mau tak mau kita harus menggunakan perangkat bahasa. Sementara itu, bahasa bukanlah perangkat yang memadai untuk
Akar kata istilah Tasawuf “Tashawwuf”
about 7 months ago - No comments
1. Shafa/Shafwun = bersih Dalam hadits Nabi Muhammad menjelaskan bahwa negeri Syam (Damaskus) sebagai negeri Allah yang paling bersih diantara negeri-negeri lainya (Shafwat Allahu min bilaadihi[7]). Dalam kamus al-Nihayah Ibn al-Atsir mendefinisikan “yang sebaik-baiknya perkara, saripati atau intisarinya, dan bagian yang paling bersih”[8]. 2. Ahl Al-Shuffah (penghuni serambi), yaitu mereka yang tinggal di serambi masjid
Isyarat-Isyarat IQ,EQ dan SQ dalam Al-Qur’aI
about 7 months ago - No comments
Pendahuluan Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). IQ ialah kecerdasan
Temukan Diri Lewat Pintu Tasawuf
about 1 year ago - No comments
Oleh: Muhammad Soffa Ihsan Sumber : GusMus.net Penempatan manusia di bumi sekarang ini sama seperti udara berbau busuk, laut tercemar, penebanan hutan yang ganas, percobaan nuklir dan seterusnya. Jika manusia melakukan hal itu, mereka akan sekali lagi diusir. Namun, ke manakah mereka akan pergi? Inilah yang harus dipikirkan oleh manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk