Politik memang tak menentu, sekarang bilang A sejurus kemudian bilang B. Bahkan Partai Islam seklaiber PKS yang mempunyai perolehan suara partai Islam terbanyak, terkesan “plin-plan” dalam menentukan koalisi dengan partai demokrat, terutama saat Budiono diusung sebagai wakil presiden.

Yang jadi pertanyaan pribadi penulis, apakah sebetulya PKS hanya memikirkan kekuasaan, untung-untungan  atau kepentingan golongan dalam tampuk pemerintahan nantinya? atau bagaimana?

Sebagai orang yang tidak tahu akan politik, penulis sangat bingung dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh partai politik. Sepertinya hanya tawar-menawar kekuasaan dan kepentingan, tanpa memikirkan kepentingan rakyat.

Contoh kecil saja, SATPOL PP yang bertugas untuk menertibkan pedagang liar sampai penggusuran. Apakah di kemudian hari orang-orang yang digusur mendapatkan perlindungan dan keamanan? Bagaimana nasip mereka kemudian? Ini adalah pertanyaan yang selalu penulis pertanyakan. Kemudian dimana pemiminpin kita, apakah mereka melihat, mendengarkan bahkan  merasakannya? Kita anti kemiskinan atau anti orang-orang miskin?

Dalam situasi yang tidak menentu dan penuh dengan ketidak pastian. Penulis ingat pesan Ibn ‘Atho’illah dalam al-Hikam “Dunia itu selalu berubah dan Allah lah yang selalu memenuhi janjinya“. Kalau PARPOL Islam hanya mementingkan golongannya, atau PARPOL lain hanya mementingkan kekuasaan, kepada siapa kita menyandarkan kepercayaan?

Dan di sela-sela keputus-asaan, penulis yakin nasib kita,  negara kita, nasib Indonesia bukan ditentukan oleh pemimpin-pemimpin yang dholim. Dengan do’a para wali, aulia, hamba-hamba Allah yang ikhlas, kita berharap hidup kita, masyarakat kita terus di beri petunjuk dan kita ada di dalam jalan yang lurus.

Share :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg